Chapter Twenty One
Papan yang Dihapus
POV: Dimas
Senin pagi, pukul tujuh lewat lima puluh dua, Fajar mengirim puisi ke grup yang salah.
Itu bukan kesalahan yang rumit. Grup Liga Diana (Resmi) dan grup Arunika — All Staff sama-sama memiliki foto profil logo perusahaan, karena Kevin pernah iseng menggantinya supaya grup liga terlihat seperti grup kerja kalau ada yang mengintip ponsel kami. Fajar baru bangun, belum minum kopi, dan jempolnya menekan grup yang posisinya paling atas.
Grup Arunika — All Staff. Seratus dua puluh tiga anggota. Termasuk direktur utama. Termasuk Bu Ratna dari HR.
Isi pesannya:
Fajar: Selamat pagi rekan-rekan liga. Puisi pembuka minggu ke-10:
Wahai Dewi Lantai Dua Belas
Hatiku kau buat malas
Klasemen boleh berbalas
Tapi cintaku tak akan lepasFajar: [tangkapan layar papan klasemen minggu 9]
Fajar: Semangat kawan2. Bastian masih di puncak, tapi kita belum kalah. Wasit Dimas tolong update papan pantry pagi ini ya.
Pesan itu terkirim pukul tujuh lima puluh dua.
Pukul tujuh lima puluh empat, Fajar mengirim pesan ke grup liga yang asli: HPKU GETAR DUA PULUH TIGA KALI. ITU BUKAN KALIAN.
Pukul tujuh lima puluh lima, pesan di grup All Staff berubah menjadi Pesan ini telah dihapus.
Sudah terlambat. Sebelum dihapus, info pesan itu menunjukkan sembilan puluh satu orang sudah membacanya. Satu jam kemudian, Kevin melaporkan setidaknya empat puluh dua tangkapan layar sudah beredar.
Aku membaca semuanya di pantry, sambil berdiri dengan gelas teh melati di tangan. Timer di ponselku baru saja berbunyi seperti bebek.
Aku meletakkan gelas itu di meja. Menatap tangkapan layar papan klasemen yang sekarang beredar di seratus dua puluh tiga ponsel. Tulisan tanganku sendiri. Huruf kapital miring ke kanan. LIGA DIANA — MUSIM 1.
Dan di bawahnya, dalam pesan Fajar, namaku sendiri. Wasit Dimas.
Pukul tujuh lima puluh tujuh, langkah kaki di pintu pantry.
Diana. Wajahnya pucat. Ponsel di tangan. Bahkan pucat begitu, dengan rambut digelung terburu-buru dan bibir tanpa lipstik, dia tetap membuat pantry terasa terlalu kecil.
Kami saling menatap. Tidak ada yang bicara.
Lalu Diana melihat gelas teh di meja, masih mengepul, dan sesuatu di wajahnya hampir runtuh.
“Mas,” bisiknya.
“Kamu jangan ke mana-mana dulu,” kataku pelan. “Duduk di ruang kaca. Jangan komentar apa-apa di grup. Jangan bales siapa-siapa.”
“Tapi...”
“Diana.” Aku menatapnya. “Tolong.”
Pukul delapan tepat, email masuk ke tujuh orang.
Subjek: Undangan Pertemuan — Klarifikasi Konten Grup All Staff
Kepada: Bastian W., Kevin, Fajar, Ucup, Rendy, Heru S., Dimas A.
Pukul 10.00. Ruang Rapat HR, Lantai 5. Kehadiran wajib.
— Ratna, HR Manager
Ruang rapat HR di lantai lima dingin dan terlalu terang. Meja panjang. Tujuh kursi di satu sisi. Di sisi lain, Bu Ratna, kepala HR yang biasanya ceria saat mengumumkan lomba kaki tiga, sekarang duduk dengan wajah sedatar papan tulis. Di sebelahnya, mencatat dengan laptop, duduk staf legal yang ditugaskan sebagai notulen.
Rara.
Rara tidak menatap siapa pun. Tapi saat aku masuk, jari-jarinya di atas keyboard berhenti sepersekian detik.
“Silakan duduk,” kata Bu Ratna.
Tujuh laki-laki duduk berjejer. Fajar paling ujung, wajahnya pucat seperti kertas fotokopi. Kevin memeluk laptopnya. Ucup memegangi pinggangnya. Rendy menunduk. Om Heru, tanpa rantang untuk pertama kalinya, meremas tangannya sendiri. Bastian duduk tegak, kemeja licin, wajah tenang, tapi rahangnya mengeras.
Aku duduk di tengah.
“Saya sudah membaca pesan Mas Fajar,” kata Bu Ratna. “Saya sudah melihat tangkapan layarnya. Saya juga sudah ke pantry lantai dua belas.” Dia meletakkan ponselnya di meja. Di layarnya, foto papan tulis kecil di balik kalender Danau Toba. “Ini apa?”
Hening.
“Ini liga,” kata Kevin pelan. “Bu. Kompetisi... persahabatan.”
“Kompetisi untuk mendapatkan perhatian rekan kerja perempuan.” Bu Ratna mengetuk layar. “Dengan sistem poin. Untuk makan siang bareng. Untuk ditertawakan. Untuk dibalas chatnya. Ada pengurangan poin untuk ‘ditolak halus’.” Dia menatap kami satu per satu. “Apa kalian tahu kenapa ini masalah?”
Tidak ada yang menjawab.
“Karena perempuan itu bukan piala,” kata Bu Ratna. Suaranya tidak keras, tapi setiap kata terasa seperti dipukulkan ke meja. “Dia rekan kerja. Dia kepala divisi. Dan sekarang, seratus dua puluh tiga orang di perusahaan ini tahu bahwa ada tujuh laki-laki yang selama dua bulan menghitung poin tentang dia. Bayangkan bagaimana rasanya dia masuk kantor hari ini.”
Fajar menunduk sampai dahinya hampir menyentuh meja.
“Saya perlu tahu,” lanjut Bu Ratna, “siapa yang memulai ini. Siapa yang membuat papan. Siapa yang mengatur sistemnya.”
Hening lagi. Lebih lama.
Kevin membuka mulut. Bastian juga. Kami bertujuh tahu jawabannya: Kevin yang membuat spreadsheet, Bastian yang mengusulkan liga di warung Mang Udin.
Tapi sebelum salah satu dari mereka bicara, aku berdiri.
“Saya, Bu.”
Enam kepala menoleh padaku.
“Papan di pantry itu tulisan saya,” kataku. Suaraku datar. Tenang. Seperti melaporkan status server. “Saya yang menulis klasemennya setiap Senin. Saya yang mencatat poin. Saya yang memimpin rapat evaluasi tiap Jumat. Saya yang memutuskan sengketa poin.”
“Dim,” desis Kevin.
“Saya wasitnya, Bu.” Aku menatap Bu Ratna. “Tanpa wasit, liga ini cuma obrolan di warung kopi. Saya yang membuatnya jadi sistem. Kalau ada yang harus bertanggung jawab, itu saya.”
“Itu nggak bener,” kata Fajar tiba-tiba, mengangkat kepala. “Bu, yang ngusulin...”
“Mas Fajar.” Aku tidak menoleh. “Duduk.”
Fajar terdiam.
Bastian menatapku dari samping. Matanya menyipit.
Bu Ratna menatapku lama. “Mas Dimas. Kamu yang mengusulkan liga ini?”
Aku diam sepersekian detik. “Saya yang menjalankannya, Bu. Setiap minggu. Dua bulan.”
Itu bukan jawaban atas pertanyaan itu. Bu Ratna menyadarinya. Rara, yang mengetik notulen, menyadarinya juga. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.
“Apakah Mbak Diana tahu soal ini?” tanya Bu Ratna.
Ini pertanyaan yang kutakutkan.
Kalau aku bilang iya, Diana akan terseret. Klasemen tandingan. Tulisan Wasit ganteng: ? di pojok papan. Cokelat kecil di bibir saat makan martabak di ruang server. Semua itu akan menjadi bagian dari pemeriksaan HR. Dewi Lantai 12, yang selama ini menjaga reputasi dengan susah payah, akan menjadi perempuan yang ikut bermain dalam liga yang merendahkannya sendiri. Dan hubungan kami, yang masih rahasia, akan terbongkar di ruang HR dengan notulen resmi.
“Mbak Diana tidak terlibat, Bu,” kataku. “Beliau korban.”
Rara berhenti mengetik sepenuhnya.
Bu Ratna mencatat sesuatu di bukunya sendiri. Lalu dia menutup buku itu.
“Baik,” katanya. “Keputusan sementara. Satu: liga ini dibubarkan, berlaku hari ini. Papan di pantry dihapus. Grup WhatsApp dibubarkan. Dua: kalian bertujuh akan menyampaikan permintaan maaf tertulis kepada Mbak Diana. Tiga...”
Dia menatapku.
“Mas Dimas, karena kamu mengakui sebagai penyelenggara, kamu akan menerima Surat Peringatan Pertama. Proses resminya setelah klarifikasi dengan Mbak Diana hari Jumat. SP1 akan tercatat di berkas kepegawaianmu selama enam bulan, dan akan dipertimbangkan dalam evaluasi perpanjangan kontrak.”
Kontrak.
Aku mendengar kata itu, dan untuk sesaat, suara di ruangan itu menjauh. Kontrak kerjaku habis empat bulan lagi. Nisa masih empat semester. Uang kos, uang kuliah, uang makan.
“Saya mengerti, Bu,” kataku.
“Ada yang mau ditambahkan?”
Enam laki-laki di sebelahku diam. Fajar menangis tanpa suara. Kevin menatap meja. Om Heru meremas tangannya lebih keras.
Bastian menatapku. Lama. Lalu dia membuka mulut.
“Tidak ada, Bu,” katanya akhirnya.
Tapi saat kami keluar dari ruangan itu, Bastian berjalan di sampingku dan berbisik tanpa menoleh:
“Itu bukan berani, Dim. Itu bodoh.”
Pukul satu siang, Pak Joko menghapus papan klasemen.
Aku melihatnya dari pintu pantry. Pak Joko mengangkat kalender Danau Toba, meletakkannya di meja, lalu mengambil kain basah dan mulai menghapus. Tabel. Enam nama. Angka-angka. Bastian 71. Kevin 29. Fajar 2. Catatan-catatan kecil di bawahnya. Kopi di meja wasit tidak dihitung.
Dan di pojok kanan bawah, bayangan samar tulisan bulat yang sudah dihapus berkali-kali tapi tidak pernah benar-benar hilang. Wasit ganteng: masih dihitung. Dan gambar hati kecil yang dicoret, lalu digambar ulang lebih besar.
Pak Joko berhenti di bagian itu. Dia menatap bayangan tulisan itu lama. Lalu dia menoleh ke pintu, padaku.
“Yang ini juga, Mas?”
Aku menatap gambar hati itu.
“Iya, Pak,” kataku. “Semuanya.”
Pak Joko menghapusnya pelan. Sangat pelan. Seperti menghapus sesuatu yang dia sendiri tidak ingin hapus.
Papan itu kembali putih. Hanya tersisa jadwal piket bersih-bersih di sisi kiri, dengan tulisan tangan Pak Joko yang besar dan berantakan.
Aku tidak melihat Diana sepanjang siang.
Ruang kaca finance tertutup tirai untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Staf finance keluar masuk dengan wajah tegang. Seseorang bilang Mbak Diana sedang rapat dengan direktur keuangan. Seseorang lagi bilang Mbak Diana sedang di ruang legal bersama Rara.
Tidak ada pesan. Tidak ada tiket laptop rusak.
Pukul enam lewat lima belas, aku turun ke basement parkiran. Kepalaku terasa penuh dan kosong di saat yang sama, seperti hard disk yang korup.
Aku berjalan ke motor.
Diana berdiri di sana.
Bersandar di pilar beton di samping motor bebek hitam itu. Blazer krem. Tas di bahu. Helm merah muda bergambar bunga matahari di pelukannya. Wajahnya menghadap ke arah lain, ke dinding basement yang kusam.
Aku berhenti tiga langkah darinya.
“Diana...”
Diana tidak menoleh. Dia hanya meletakkan helm merah muda di jok motor, lalu berjalan ke belakangku, dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.
Erat. Sangat erat. Lebih erat dari di dapur villa. Lebih erat dari di ruang server saat dia bilang punyaku. Seerat orang yang memegang sesuatu yang hampir jatuh dari tebing.
Pipinya menempel di punggungku. Dan kali ini, aku bisa merasakan kausku basah.
“Kamu bodoh,” gumam Diana di punggungku. Suaranya pecah.
“Diana...”
“Rara cerita semuanya.” Pelukannya mengencang. “Kamu berdiri. Kamu bilang kamu yang nulis papan. Kamu bilang kamu yang jalanin semuanya. Kamu bilang aku nggak terlibat. Kamu bilang aku korban.”
“Kamu memang...”
“AKU BUKAN KORBAN!” Diana membenturkan dahinya ke punggungku. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku tersentak. “Aku yang nulis ‘wasit ganteng’ di papan itu! Aku yang bikin klasemen tandingan! Aku yang ngejar kamu dari hari pertama! Aku yang bayar Pak Joko tiga gorengan buat kunci ruang server! Aku nggak pernah jadi korban di liga itu, Mas! Aku yang menang!”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan kamu,” lanjut Diana, isaknya sekarang tidak bisa ditahan lagi, “kamu ambil semua salahnya sendiri. Kamu ambil SP1. Kamu taruh kontrakmu di meja HR. Kontrak yang kamu butuhin buat kuliah Nisa. Demi apa? Demi nggak ada yang tahu aku pacaran sama wasitnya?”
“Demi reputasimu,” bisikku.
“Aku nggak butuh reputasi yang dibeli pakai kontrakmu!”
Hening di basement. Hanya suara generator dan isak Diana di punggungku.
“Kamu selalu kayak gini,” bisik Diana, lebih pelan sekarang. “Ngelindungin aku diem-diem. Dari malam audit. Roti cokelat, terus kamu pergi. Teh tiga menit, terus kamu ngelap meja pura-pura sibuk. Ayam geprek, terus kamu balik ke meja kayak nggak ada apa-apa. Sekarang SP1, terus kamu pulang naik motor sendirian.”
Tangannya mencengkeram flanelku.
“Aku bukan piala yang harus dijaga di lemari kaca, Mas. Aku pacarmu. Pacar itu berdiri di sebelah. Bukan di belakang, dilindungin dari jauh.”
Aku memejamkan mata.
Aku meletakkan tangan di atas tangan Diana yang terkait di perutku. Menggenggamnya. Merasakan jari-jari itu gemetar.
“Maaf,” kataku.
“Jangan minta maaf. Jangan sendirian lagi.”
Aku tidak menjawab.
Diana menunggu. Detik demi detik. Pelukannya tidak mengendur.
“Mas?”
Aku menatap dinding basement yang kusam. Aku memikirkan kata kontrak. Aku memikirkan Nisa di food court, dia nggak pernah punya apa-apa buat dirinya sendiri. Aku memikirkan klarifikasi hari Jumat, saat Diana akan dipanggil ke ruang HR dan ditanya tentang liga ini, dengan notulen resmi.
Kalau kami terlihat bersama sekarang, semuanya akan runtuh. Diana akan terseret. Dewi Lantai 12 yang ternyata pacaran dengan wasit liga yang merendahkannya. Gosip itu akan mengikutinya bertahun-tahun.
“Diana,” kataku pelan.
“Hm.”
“Mungkin kita...” Aku menelan ludah. Kalimat itu terasa seperti pisau di tenggorokan. “Mungkin kita jaga jarak dulu. Sampai urusan HR selesai. Biar kamu nggak kena.”
Pelukan di pinggangku membeku.
Tidak mengencang. Tidak mengendur. Membeku. Seperti layar komputer yang tiba-tiba berhenti merespons.
Lima detik. Sepuluh detik.
Lalu, perlahan, Diana melepaskan pelukannya.
Aku berbalik.
Diana berdiri di depanku. Mata merah. Pipi basah. Bibir bergetar. Dan di wajahnya, ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan marah. Bukan sedih.
Tidak percaya.
“Kamu,” kata Diana pelan, “barusan bilang apa?”
UPDATE KLASEMEN
Liga Diana resmi dibubarkan oleh HR, Senin minggu ke-10, pukul 10.47.
Papan dihapus pukul 13.05.
Grup WhatsApp dibubarkan pukul 13.30. Pesan terakhir di grup, dari Kevin: “Maaf, semuanya. Maaf, Dim.”
Tidak ada klasemen akhir.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-102. Hari ini liganya bubar. Papannya dihapus, termasuk gambar hati yang aku coret terus aku gambar ulang lebih besar. Rara bilang Pak Joko ngapusnya pelan banget.
Pacarku berdiri di ruang HR dan bilang dia yang salah semuanya. Dia bilang aku korban. Dia ambil SP1. Dia taruh kontraknya.
Terus di parkiran, waktu aku peluk dia dan bilang jangan sendirian lagi, dia bilang kita jaga jarak dulu.
Aku nggak tahu harus nulis apa lagi.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus reading
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi