Chapter Seven
Tutup Buku
POV: Dimas
Akhir bulan di ruang finance adalah perang.
Aku sudah tiga tahun menyaksikannya dari pojok IT. Selama tiga hari terakhir setiap bulan, ruang kaca itu berubah dari tempat yang tenang menjadi markas darurat. Kertas berserakan. Kalkulator berbunyi tanpa henti. Seseorang pasti menangis di toilet, dan seseorang yang lain pasti memesan martabak pukul sepuluh malam.
Dan di tengah semua itu, Diana Prameswari berdiri seperti jenderal. Rambut digelung dengan pulpen, lengan kemeja digulung, suara tenang saat memberi perintah. Rekon bank sudah? Cek ulang jurnal penyesuaian. Jangan pulang sebelum selisihnya nol.
Kamis malam, hari terakhir tutup buku, pukul tujuh, Bastian datang membawa makan malam.
Dua kantong besar dari restoran Jepang di lantai dasar mal sebelah. Bento untuk seluruh tim finance. Delapan kotak, lengkap dengan teh hijau dingin.
“Buat pahlawan-pahlawan angka,” katanya di pintu ruang kaca, dengan senyum yang membuat dua staf finance perempuan saling sikut.
Diana menerimanya dengan senyum sopan. “Makasih, Mas Bastian. Repot-repot.”
“Nggak repot. Kalian yang repot.” Bastian meletakkan kantong di meja rapat, lalu, dengan gerakan yang sangat natural, mengambil satu kotak dan meletakkannya langsung di meja Diana. “Yang ini salmon. Kamu suka salmon, kan?”
Diana berkedip. “Kok tahu?”
“Aku perhatiin.” Bastian tersenyum. “Kamu pesan salmon tiap acara kantor.”
Dari pojok IT, aku melihat semuanya. Aku tidak bisa mendengar percakapannya. Aku baru tahu isinya belakangan. Tapi aku bisa melihat Diana menatap kotak bento itu sebentar, lalu tersenyum lebih lebar dari senyum sopan biasanya.
Aku kembali menatap layar. Patch keamanan server harus dijalankan malam ini setelah semua orang selesai bekerja, dan itu berarti aku akan di kantor sampai larut. Itu bagus. Aku bisa fokus.
Aku tidak fokus.
Grup liga meledak lima menit kemudian.
Kevin: BASTIAN BAWA BENTO KE FINANCE
Kevin: DELAPAN KOTAK
Ucup: Itu curang. Itu pakai modal
Om Heru: Rendang saya juga modal
Bastian: Itu bukan curang. Itu strategi. Dan Diana ingat aku suka salmon juga. Dia bilang “kok tahu?”
Bastian: Wasit, makan bareng = +10?
Fajar: Bastian nggak makan bareng! Dia cuma nganter!
Bastian: Aku makan di ruang finance bareng mereka. Sekarang.
Aku menoleh ke ruang kaca. Benar. Bastian sedang duduk di kursi rapat, membuka kotak bentonya sendiri, tertawa bersama tim finance. Diana duduk dua kursi darinya. Tertawa juga.
Aku mengetik dengan sangat hati-hati.
Dimas: Makan bareng minimal berdua. Ini makan bersama tim. Dewan perlu memutuskan.
Kevin: Minggu lalu dewan bilang “bersama tim” tetap dihitung
Dimas: ...
Dimas: +10.
Aku meletakkan ponsel telungkup di meja dan menatapnya seperti ponsel itu baru saja mengkhianatiku.
Sasha, yang sedang memakai jaket untuk pulang, berhenti di samping mejaku.
“Lo lembur?”
“Patch server.”
“Sampai jam berapa?”
“Mungkin jam sebelas. Dua belas.”
Sasha mengangguk, menatap ruang kaca finance yang penuh tawa, lalu menatapku. Dia membuka mulut seperti mau bilang sesuatu. Lalu menutupnya lagi.
“Jangan lupa makan,” katanya akhirnya, dan pergi.
Aku tidak makan.
Pukul sembilan, Bastian pulang. Pukul sepuluh, staf finance mulai pulang satu per satu. Pukul sepuluh lewat empat puluh, lampu ruang kaca hanya menyala di satu meja.
Pukul sebelas kurang lima belas, aku sedang duduk di kursi lipat di ruang server, menatap progress bar patch yang bergerak lambat seperti siput yang sedang patah hati, saat pintu terbuka.
Diana masuk. Membawa bantal kecil berwarna kuning dan sebuah kotak bento.
“Selisihnya nol,” katanya. Suaranya serak dan lelah, tapi ada kemenangan di dalamnya. “Jam sepuluh lima puluh tiga. Nol rupiah. Nol sen.”
“Selamat, Mbak.”
“Makasih.” Diana meletakkan bantal kuning itu di atas kardus lipatnya yang masih ada di pojok, dari minggu lalu. Lalu dia duduk, dan menyodorkan kotak bento kepadaku. “Kamu belum makan.”
“Itu dari Mas Bastian.”
“Itu jatahku. Aku nggak makan.” Diana mengangkat bahu. “Aku makan pisang dari laci aja tadi.”
Aku menatap kotak itu. Salmon. “Mbak kan suka salmon.”
“Siapa bilang?”
“Mas Bastian bilang Mbak pesan salmon tiap acara kantor.”
Diana tersenyum miring. “Aku pesan salmon karena itu satu-satunya menu yang nggak bikin aku kelihatan rakus di acara kantor. Porsinya kecil, kelihatan elegan.” Dia menyandarkan kepala ke dinding. “Aku sebenarnya lebih suka ayam geprek.”
Aku tidak tahu kenapa informasi itu membuat dadaku terasa lega.
“Makan, Mas,” kata Diana. “Aku tahu kamu belum makan dari jam dua belas. Kamu kalau lapar ngetiknya pakai jari tengah semua.”
“Mbak lihat saya ngetik?”
“Dari ruang kaca, kelihatan.”
Aku membuka kotak bento itu. Lalu, setelah ragu sebentar, aku memisahkan setengah nasi dan setengah salmonnya ke tutup kotak, dan menyodorkan tutup itu ke Diana.
“Berdua,” kataku.
Diana menatap tutup kotak itu. Lalu menatapku.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “itu poin plus sepuluh.”
“Wasit nggak menerima poin, Mbak.”
“Aku bukan peserta. Aku yang ngasih poin.” Diana mengambil tutup kotak itu dan sumpit cadangan. “Dan aku ngasih plus sepuluh.”
Kami makan dalam diam. Progress bar patch bergerak dari empat puluh persen ke enam puluh. Dengung server memenuhi ruangan. Exhaust fan berputar.
Setelah makan, Diana tidak pergi. Dia tetap duduk di atas kardus dengan bantal kuningnya, lalu, perlahan, bergeser lebih dekat ke kursi lipatku.
“Mas, kursinya turunin dong.”
“Turunin gimana?”
“Duduk di lantai. Sini.” Diana menepuk kardus di sebelahnya. “Lehernya pegal ngedongak terus.”
Aku melipat kursi dan duduk di kardus. Bahu kami bersentuhan. Diana tidak bergeser menjauh.
“Patch-nya berapa lama lagi?”
“Mungkin empat puluh menit.”
“Oke.” Diana menguap, menutup mulut dengan punggung tangan. “Aku nemenin.”
“Mbak pulang aja. Udah malam. Mbak capek.”
“Aku nggak capek.”
“Mbak barusan nguap.”
“Itu bukan nguap. Itu napas panjang.” Diana menguap lagi. “Yang ini juga napas panjang.”
Aku tersenyum. Tidak bisa ditahan.
“Mas senyum.”
“Nggak.”
“Senyum. Aku lihat.” Diana menyandarkan kepala ke dinding lagi, matanya setengah terpejam. “Kamu jarang senyum. Sayang. Senyummu bagus.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap progress bar. Enam puluh tiga persen.
Diana mulai bercerita tentang tutup buku. Tentang jurnal penyesuaian yang salah ketik, tentang staf baru yang menangis di toilet, tentang selisih tiga ratus ribu yang ternyata hanya karena satu angka nol yang terselip. Suaranya makin pelan. Kalimatnya makin pendek. Jedanya makin panjang.
“Terus... angka nolnya... ternyata...”
Aku menunggu kelanjutannya.
Kelanjutannya tidak datang.
Yang datang adalah beban hangat di bahuku. Kepala Diana, yang perlahan merosot dari dinding, mendarat tepat di bahu kananku. Napasnya teratur. Panjang. Dalam.
Diana Prameswari tertidur.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak bergerak selama lima menit pertama, karena takut membangunkannya. Aku tidak bergerak selama sepuluh menit berikutnya, karena bahuku mulai kesemutan dan aku tidak mau Diana merasakan bahuku bergetar. Aku tidak bergerak selama lima belas menit setelahnya, karena aku mulai tidak ingin bergerak.
Progress bar mencapai seratus persen. Patch selesai. Laptop berbunyi pelan. Aku tidak menyentuhnya.
Diana bergumam sesuatu dalam tidurnya. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Mungkin “nol”. Mungkin “Mas”. Aku memilih tidak menebak.
AC ruang server berembus. Enam belas derajat. Diana sedikit menggigil, tubuhnya merapat ke lenganku mencari hangat.
Dengan sangat hati-hati, dengan satu tangan, aku melepas flanelku. Hanya bersisa kaus hitam di baliknya. Aku menyampirkan flanel itu ke bahu Diana, menariknya pelan sampai menutupi lengan dan punggungnya.
Diana bergumam lagi. Kali ini lebih jelas.
“...wangi...”
Lalu dia meringkuk lebih dalam ke flanel itu, pipinya menempel di bahuku, dan tersenyum dalam tidur.
Aku menatap langit-langit ruang server. Menatap rak nomor tiga. Menatap exhaust fan. Ke mana saja kecuali wajah tidur yang terlalu dekat itu.
Aku gagal. Mataku selalu kembali ke sana.
Bulu mata yang panjang. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri. Seberkas rambut yang lepas dari gelungan, jatuh menutupi pipi. Wajah tidurnya jauh lebih muda dari wajah jenderal yang tadi sore memberi perintah di ruang kaca. Lebih lembut. Lebih cantik, dengan cara yang membuat dadaku sesak.
Aku mengangkat tangan, ragu-ragu di udara selama sepuluh detik, lalu menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Diana dengan ujung jari.
Sangat pelan. Seperti menyentuh kabel yang bisa korslet.
Saat itulah aku mendengarnya. Bunyi kecil dari arah pintu, yang ternyata tidak tertutup rapat. Seperti sepatu yang bergeser di lantai.
Aku menoleh. Celah pintu itu kosong. Hanya lorong gelap dan lampu darurat hijau di ujungnya. Lalu, di kejauhan, denting lift.
Aku menatap celah pintu itu lama. Lalu aku menatap Diana yang masih tidur di bahuku, dan memutuskan bahwa siapa pun itu, malam ini aku tidak akan bergerak.
Diana bangun pukul dua belas lewat dua puluh.
Aku merasakannya lebih dulu daripada melihatnya. Napasnya berubah. Bahunya menegang sedikit. Lalu kepalanya terangkat dari bahuku dengan sangat pelan, seperti orang yang baru sadar dia sedang berada di tempat yang tidak seharusnya.
Aku menatap lurus ke depan. Aku berusaha keras menjaga wajahku tetap datar. Aku tahu kupingku tidak bisa diajak kerja sama.
“Mas,” bisik Diana.
“Iya, Mbak.”
“Aku tidur berapa lama?”
“Empat puluh tiga menit.”
“Kamu... nggak gerak?”
“Nggak, Mbak.”
Diana menatap bahuku. Ada bekas lipatan di kaus hitamku, tepat di tempat kepalanya tadi bersandar. Lalu dia menatap flanel di bahunya sendiri.
“Kamu kedinginan?”
“Nggak, Mbak.”
“Bohong. Lenganmu merinding.”
Aku diam.
Diana menatapku lama. Lalu, alih-alih mengembalikan flanel itu, dia menariknya lebih rapat ke tubuhnya sendiri, dan tersenyum dengan cara yang membuatku lupa ruangan ini bersuhu enam belas derajat.
“Aku boleh pinjam sampai rumah?”
“Boleh, Mbak.”
“Nyucinya nanti, ya.”
“Nggak perlu dicuci, Mbak.”
Diana menaikkan alis. Aku sadar apa yang baru saja kukatakan.
“Maksud saya... nggak usah repot.”
“Oke.” Diana berdiri, memeluk flanel itu, mengambil bantal kuningnya. Di pintu, dia berhenti. “Mas.”
“Iya.”
“Aku ngiler nggak tadi?”
Aku menatap bahuku sendiri. Ada satu titik kecil yang sedikit lebih gelap di kaus hitamku.
“Nggak, Mbak,” kataku.
Diana melihat titik itu. Wajahnya berubah merah dari leher ke dahi dalam waktu satu detik.
“Bohong lagi,” bisiknya, dan kabur keluar pintu sebelum aku bisa menjawab.
Aku duduk sendirian di atas kardus, dengan kaus hitam dan lengan yang merinding. Aku menatap titik kecil di bahuku.
Lalu aku tersenyum. Sendirian, di ruang server bersuhu enam belas derajat, pukul dua belas lewat dua puluh lima malam.
Dua menit kemudian, ponselku bergetar.
Diana: Udah di lobi. Taksinya udah datang.
Diana: Jangan dicuci kausnya.
Diana: BERCANDA. CUCI. CUCI SEKARANG.
Aku tidak mencucinya malam itu.
Besok paginya, charger laptop Sasha yang semalam tertinggal di mejanya sudah tidak ada.
Sasha sendiri datang pukul delapan tepat, duduk, menyalakan komputer, dan mengetik. Dia tidak bertanya kenapa aku pulang larut. Dia tidak bertanya apa-apa.
Tapi sepanjang pagi itu, ketikannya sangat pelan. Dan sekali, saat aku menoleh, aku mendapatinya sedang menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Wajah orang yang baru saja menemukan jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah dia tanyakan dengan suara keras.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 3, Kamis
- 1. Bastian — 41 poin
- 2. Kevin — 14 poin
- 3. Om Heru — 9 poin
- 4. Rendy — 6 poin
- 5. Ucup — 0 poin
- 6. Fajar — −5 poin
Catatan wasit: Bastian +10 (makan bersama tim finance, sesuai preseden dewan) dan +3 (chat). Kevin, Om Heru, Rendy masing-masing +3. Ucup masih belum bertemu Mbak Diana di kelas yoga.
Catatan wasit (tidak untuk grup): Mbak Diana tidak makan bento-nya. Lebih suka ayam geprek.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-57. Aku tidur di bahunya empat puluh tiga menit. Dia nggak gerak sama sekali. Dia kasih flanelnya. Flanelnya wangi sabun dan kopi. Aku tidur pakai flanelnya malam ini dan aku nggak akan bilang ke siapa pun, termasuk Rara. Oh, dan aku ngiler. Di bahunya. Aku mau pindah ke Kalimantan.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku reading
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi