Chapter Sixteen
Punyaku
POV: Dimas
Clara Wijaya datang hari Senin pukul delapan tepat, membawa dua gelas kopi tubruk dari warung Mang Udin dan satu senyum yang bisa menyalakan lampu satu lantai.
“Mas Dimas, ya?” Dia menyodorkan satu gelas sebelum aku sempat berdiri. “Clara. Dari vendor. Saya dengar dari Mang Udin Mas minum kopi tubruk tanpa gula, dua kali sehari. Jadi saya beliin.”
Aku menerima gelas itu dengan bingung. “Mbak tanya ke Mang Udin?”
“Riset lapangan.” Clara tertawa. Tawanya keras, lepas, tanpa ditahan. Tidak ada yang pernah tertawa seperti itu di lantai dua belas jam delapan pagi. “Saya selalu riset dulu sebelum kerja sama orang baru. Dan Mang Udin bilang, dan saya kutip, Mas Dimas itu orang paling baik di gedung ini, tapi ngomongnya kayak mesin ATM.“
Sasha, di meja sebelah, tersedak air minumnya.
Aku tidak tahu harus tersinggung atau tidak. Clara sudah duduk di kursi kosong di samping mejaku, membuka laptop yang penuh stiker game indie, dan mulai membahas arsitektur migrasi server dengan kecepatan dan antusiasme yang membuat kepalaku berputar.
Tapi dalam tiga puluh menit, kami sudah mengerjakan diagram jaringan bersama di papan tulis kecil di pojok IT. Dalam satu jam, Clara sudah tahu letak semua rak server dan nama panggilan yang kuberikan pada masing-masing. Dalam dua jam, kami berdebat soal sistem pertarungan di sebuah game indie yang sama-sama kami mainkan, dan Clara menang debat itu dengan argumen yang sangat bagus.
“Mas ternyata main juga!” Clara menepuk lenganku dengan gembira. “Saya kira orang IT kantor kayak gini cuma main solitaire.”
“Saya dulu pengen bikin game.”
“Serius? Mas pernah bikin?”
“Satu. Waktu kuliah. Nggak selesai.”
“Ceritain! Genre apa?”
Aku mengangkat kepala sebentar. Di seberang lantai, di balik dinding kaca finance, Diana sedang menatap ke arah kami. Wajahnya tanpa ekspresi. Blazer biru muda, rambut digelung, cantik dan dingin seperti foto di majalah bisnis.
Saat mata kami bertemu, dia menunduk ke laptopnya. Pelan. Terlalu pelan untuk kebetulan.
Pukul dua belas, tiket IT masuk. Laptop rusak. Ruang server.
Masalahnya, Clara sudah lebih dulu di ruang server. Dia membawa dua bungkus nasi Padang, dan bilang di sini sepi dan saya bisa fokus.
Jadi saat pintu terbuka sepuluh menit kemudian, Clara sedang duduk bersila di pojok ruangan, di atas kardus kami. Dengan bantal kuning cadangan yang Diana tinggalkan minggu lalu di belakang punggungnya. Laptop di pangkuan. Nasi Padang terbuka di depannya. Aku duduk di kursi lipat dengan bungkusku sendiri.
Kami sedang tertawa. Clara menunjuk sesuatu di layar laptop, salah satu level game yang lucu, dan aku tersenyum.
Kami menoleh ke pintu.
Diana berdiri di ambang pintu dengan map di dada. Dari balik map itu, menyembul sudut kain kuning.
“Oh,” kata Diana.
Hanya itu. Satu kata.
Lalu wajahnya berubah. Bukan marah. Bukan sedih. Wajah Dewi Lantai 12 dalam mode paling sempurna. Senyum sopan yang tidak sampai ke mata. Punggung tegak. Suara tenang.
“Maaf, lagi ramai ternyata. Laptopku nanti aja, Mas Dimas. Nggak urgent.”
“Mbak, laptopnya...”
“Nggak urgent,” ulang Diana, masih tersenyum. Lalu dia menatap Clara. “Selamat datang di Arunika, Mbak. Semoga betah.”
“Makasih, Mbak!” Clara melambai ramah dengan sendok di tangan. “Mbak dari finance, ya? Mau gabung makan? Nasi Padangnya banyak!”
“Makasih, saya udah makan.”
Pintu menutup.
Aku menatap pintu itu. Clara menatapku.
“Mbak finance tadi bawa bantal,” kata Clara pelan. “Di balik mapnya. Warnanya sama kayak bantal ini.”
Aku tidak menjawab.
Clara menatap bantal kuning di belakang punggungnya, lalu menatapku lagi. Matanya menyipit di balik kacamata berbingkai tipis. Tapi dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menggeser bantal itu ke samping, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang bukan miliknya.
Selasa, Clara membawa kopi tubruk lagi. Lalu mengajakku mengecek rak server tiga dan empat, berdua, sambil membahas level desain game platformer yang dulu ingin kubuat. Lalu makan siang lagi di ruang server.
Pukul tiga sore, di depan meja IT, dengan suara yang cukup keras untuk didengar sampai pantry, Clara bertanya:
“Mas Dimas, Sabtu ini ada meetup developer game indie di Kemang. Mau ikut? Saya bisa kenalin ke beberapa studio. Siapa tahu game Mas yang nggak selesai itu bisa dilanjut.”
Seluruh deretan meja IT berhenti mengetik. Sasha membeku. Kevin, yang kebetulan lewat dengan cangkir teh, berhenti di tengah jalan.
Aku menatap Clara. Ajakan itu tulus. Aku bisa melihatnya. Tidak ada modus, tidak ada presentasi. Clara sungguh ingin aku datang ke meetup.
“Sabtu saya ada urusan, Mbak,” kataku.
“Urusan apa?” Clara memiringkan kepala dengan penasaran. “Pacar?”
Hening.
Di seberang lantai, di balik dinding kaca finance, Diana sedang menelepon. Dia tidak menoleh. Tapi tangannya, yang memegang pulpen, berhenti bergerak.
“Adik,” kataku. “Adik saya ke Jakarta.”
Itu bohong. Nisa tidak ke Jakarta. Sabtu ini aku berencana mengajak Diana makan seblak di dekat kosku, kencan pertama kami di luar kantor, yang sudah kami rencanakan dengan kode-kode rahasia sejak Kamis lalu.
“Oh, oke!” Clara tersenyum, tidak curiga. “Lain kali ya, Mas.”
Pukul tiga lewat sepuluh, Pak Joko lewat di depan ruang kaca finance membawa ember, dan berhenti cukup lama di depan pintunya.
Pukul tiga lewat lima belas, ponselku bergetar.
Diana: Adik?
Dimas: Saya nggak bisa bilang pacar. Kita backstreet.
Diana: Aku tahu.
Diana: Aku tahu, Mas.
Diana: Aku yang bikin aturannya.
Diana: Tetap aja.
Aku menatap dua kata terakhir itu sampai layarnya meredup.
Rabu pagi, aku datang ke meja pukul delapan lewat dua, menyalakan laptop, dan mengetik password.
Layar desktop terbuka.
Wallpaper-nya bukan lagi gambar galaksi standar dari sistem operasi.
Wallpaper-nya adalah foto selfie Diana. Memakai hoodie abu-abu dengan tudung terpasang, pipi digembungkan, satu tangan membentuk tanda damai di samping wajah, mata menyipit karena tersenyum terlalu lebar. Latar belakangnya ruang server. Bantal kuning terlihat di pojok bawah.
Aku menatap layar itu selama lima detik.
Lalu aku ingat. Kemarin sore, pukul lima lewat tiga puluh, aku meninggalkan laptop di ruang server dalam keadaan tidak terkunci, karena aku hanya keluar dua menit untuk mengambil kabel dari gudang. Saat aku kembali, Diana sedang duduk di kardus, memeluk bantal kuning, dan tersenyum terlalu polos.
“Mas Dimas, pagi!”
Clara muncul di samping mejaku dengan dua gelas kopi tubruk. Matanya otomatis jatuh ke layar laptop.
Dia berhenti.
“Lho.” Clara mencondongkan tubuh, membetulkan kacamata. “Ini... Mbak Finance yang kemarin, kan? Yang bawa bantal?”
Aku menutup laptop dengan kecepatan yang belum pernah kucapai dalam tiga tahun karier IT-ku.
“Itu...” kataku. “Itu tes resolusi layar.”
Clara menatapku. Menatap laptop yang tertutup. Menatapku lagi.
“Tes resolusi layar,” ulangnya pelan.
“Iya. Untuk... warna. Kalibrasi warna.”
“Pakai foto Mbak Finance pakai hoodie, pipinya digembungin, di ruang server?”
“...Iya.”
Clara diam tiga detik penuh. Lalu tertawa. Keras, lepas, seperti kemarin. Tapi kali ini ada sesuatu di dalam tawa itu yang sedikit berbeda. Sedikit lebih kecil di ujungnya.
“Oke, Mas,” katanya, meletakkan kopi di mejaku. “Kalibrasi warnanya bagus. Merahnya keluar banget.”
Dia tidak menjelaskan merah yang mana. Dia hanya menunjuk kupingku dengan dagunya, lalu berjalan ke ruang server sendirian.
Pukul sebelas, tiket IT masuk.
Laptop rusak. Ruang server. SEKARANG.
Clara sedang di lantai sembilan, mengecek kabel jaringan bersama Sasha. Ruang server kosong saat aku masuk.
Aku baru menutup pintu ketika dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang.
Erat. Sangat erat. Lebih erat dari di dapur villa. Seperti seseorang yang sedang memegang tas di tengah keramaian dan takut dicopet.
Dan pipi yang menempel di punggungku, di antara tulang belikat, terasa panas.
“Punyaku,” gumam Diana di punggungku.
Aku berdiri diam. “Diana...”
“Punyaku.” Pelukannya mengencang. “Bilang ke dia.”
“Bilang apa?”
“Bilang kamu punyaku.” Suara Diana teredam dan bergetar, setengah merajuk setengah sungguhan. “Bilang ke Mbak Clara yang pinter, lucu, suka game, bawain kopi tubruk dua kali sehari, ngajak kamu ke meetup di Kemang, terus duduk di kardus KITA pakai bantal KITA.”
“Itu bantal cadangan.”
“ITU BANTAL CADANGAN KITA.”
Aku menahan tawa. Aku tidak berhasil sepenuhnya. Bahuku bergetar sedikit.
“Jangan ketawa.” Diana membenturkan dahinya pelan ke punggungku. “Aku lagi cemburu, Mas. Aku nggak pernah cemburu. Aku Dewi Lantai 12. Dewi nggak cemburu sama konsultan vendor.”
“Tapi kamu ganti wallpaper laptop saya.”
“Itu bukan cemburu. Itu tindakan pencegahan.” Diana menarik napas panjang di punggungku. “Biar semua orang yang lihat laptopmu tahu, laptop ini ada yang punya.”
“Kita backstreet.”
“Aku tahu! Makanya aku nggak bisa bilang langsung!” Diana menggeram kecil, frustrasi. “Kemarin dia nanya kamu punya pacar, dan kamu bilang adik. ADIK. Aku tahu kamu harus bilang gitu. Aku yang bikin aturannya. Tapi rasanya kayak...” Suaranya mengecil. “Kayak aku nggak ada.”
Aku berhenti tertawa.
Aku meletakkan kedua tangan di atas tangan Diana yang terkait di perutku. Menggenggamnya. Lalu, perlahan, aku melepaskan pelukan itu, berbalik, dan menatapnya.
Wajah Diana merah. Matanya sedikit basah. Bibirnya cemberut seperti anak kecil yang mainannya diambil, dan entah bagaimana itu membuatnya terlihat lebih cantik daripada senyum Dewi mana pun. Dia mengenakan blazer biru muda, tapi di baliknya, aku bisa melihat kerah hoodie abu-abu yang dipakai seperti lapisan dalam.
Dia memakai hoodie itu lagi. Di balik blazer. Hari ketiga.
“Diana,” kataku pelan.
“Apa.” Diana tidak mau menatapku.
“Kemarin waktu Mbak Clara ngajak aku ke meetup, kamu tahu yang aku pikirin?”
Aku mengucapkannya pelan, hati-hati, seperti mengetik password baru untuk pertama kali.
“Apa,” kata Diana. Tapi matanya sudah melebar.
“Aku mikir, Sabtu ini aku mau ngajak kamu makan seblak di dekat kosku. Level lima buat kamu, level satu buat aku. Terus kamu ketawain aku karena kepedesan di level satu.” Aku menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Aku nggak pengen ke Kemang. Aku pengen kepedesan di depan kamu.”
Diana menatapku. Bibirnya masih cemberut, tapi mulai bergetar di ujungnya.
“Dan soal wallpaper,” lanjutku, “aku nggak akan ganti.”
“Beneran?”
“Beneran. Kalibrasi warnanya bagus.”
Diana tertawa. Kecil, basah, tidak sengaja. Lalu dia memukul dadaku pelan dengan kepalan tangannya.
“Kamu bilang ‘aku’ sembilan kali,” gumamnya. “Aku hitung.”
“Saya latihan semalam.”
“Tuh, balik lagi.”
“Kamu masih harus bilang ke dia,” katanya. “Nggak usah bilang aku. Tapi bilang kamu udah punya seseorang. Biar dia nggak ngajak kamu ke Kemang lagi.”
“Oke.”
“Janji?”
“Janji.”
Diana menatapku dengan mata yang masih basah dan pipi yang masih merah. Lalu dia mengangkat dagu sedikit, menyipitkan mata, dan berkata dengan nada paling formal yang bisa dia kumpulkan:
“Janji lisan nggak sah di bagian finance, Mas. Butuh tanda tangan.”
“Tanda tangan?”
“Kontrak.” Diana menunjuk bibirnya sendiri dengan ujung jari. “Di sini.”
Aku menatapnya. Kupingku mulai panas. Lalu aku tersenyum, kecil, dan menunduk.
Ciumannya pelan dan lama. Bukan seperti kemarin lusa di atas kardus, yang dalam dan terengah. Ini lebih seperti stempel. Seperti cap basah di atas dokumen resmi. Hangat, yakin, dan tidak terburu-buru.
Saat aku menarik diri, Diana masih memejamkan mata.
“Sah?” tanyaku.
Diana membuka mata perlahan. Pipinya merah sampai ke telinga.
“Satu lagi,” bisiknya. “Buat salinan arsip.”
Aku tertawa pelan, dan memberinya salinan arsip.
Pukul tiga sore, aku dan Clara berdiri berdua di depan rak server nomor lima, menyusun label kabel untuk migrasi minggu depan.
“Mbak Clara,” kataku, tanpa mengalihkan mata dari label.
“Ya, Mas?”
“Soal kemarin. Saya bilang Sabtu ada urusan sama adik.”
“Iya?”
“Itu bohong.” Aku menempelkan satu label. “Saya ada urusan sama seseorang. Seseorang yang... penting.”
Clara berhenti menempel label. Dia menatapku dari samping selama beberapa detik. Lalu dia tersenyum. Senyum yang lebih tenang dari biasanya. Tidak terlalu lebar. Tidak terlalu keras.
“Yang kalibrasi warnanya bagus itu, ya?”
Aku tidak menjawab. Kupingku yang menjawab.
Clara tertawa pelan dan kembali menempel label. “Aman, Mas. Saya vendor. Kami profesional. Data klien dijaga kerahasiaannya.”
“Makasih, Mbak.”
“Tapi, Mas.” Clara menempelkan label terakhir di kabel biru, lalu menepuknya pelan. “Game yang nggak selesai itu. Lanjutin, ya. Itu bagus. Sayang kalau berhenti.”
Aku menatapnya. Clara tersenyum sekali lagi, lalu mengambil laptopnya dan keluar dari ruang server, meninggalkan bantal kuning cadangan di pojok kardus, tersandar rapi, tidak tersentuh.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 8, Rabu
- 1. Bastian — 73 poin
- 2. Kevin — 26 poin
- 3. Om Heru — 18 poin
- 4. Rendy — 9 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: Bastian, Kevin, Om Heru masing-masing +3. Mbak Diana terlihat memakai hoodie abu-abu di balik blazer (hari ketiga). Investigasi pria misterius: tidak ada kemajuan.
Catatan Kevin di grup: “Konsultan vendor baru ngajak wasit ke meetup. Wasit nolak. Wasit punya urusan sama adik. Wasit sayang adik. Terharu.”
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-90. Aku cemburu. Aku, Diana Prameswari, cemburu sama konsultan vendor yang pinter, lucu, dan jujur banget. Dan yang paling nyebelin, dia baik. Aku nggak bisa benci dia. Aku cuma bisa ganti wallpaper laptop pacarku pakai foto selfie pipi digembungin, terus meluk dia dari belakang di ruang server sambil bilang “punyaku” kayak anak TK. Dia ketawa. Terus dia bilang dia lebih pengen kepedesan di depan aku daripada ke Kemang. Terus dia tanda tangan kontrak. Dua kali. Salinan arsip.
Sabtu kencan pertama. Seblak. Aku udah nyiapin baju dari sekarang.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku reading
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi