← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Nineteen

Biar Nggak Jatuh

POV: Dimas

Kencan pertama yang tertunda akhirnya terjadi hari Selasa, pukul enam lewat dua puluh sore, di basement parkiran motor.

Diana turun dari lift dengan blazer krem tersampir di lengan dan sepatu kets putih yang dia simpan di laci kantor khusus untuk hari ini. Rambutnya dikuncir kuda, miring ke kiri, dengan ikat rambut hitam yang kemarin kuikatkan. Dia tidak membetulkannya. Dia berjalan cepat di antara deretan motor, menengok kanan kiri seperti agen rahasia di film murahan, lalu berhenti di depan motor bebek hitam tahun 2015 dengan stiker kecil bergambar kucing di spakbor belakang.

Aku sudah duduk di atasnya, helm terpasang. Aku menyodorkan helm kedua.

Helm itu berwarna merah muda. Ada stiker bunga matahari di sampingnya, dan tulisan spidol yang sudah pudar: NISA PUNYA. JANGAN DIPINJEM.

Diana menatap helm itu. Lalu menatapku.

“Helm cadangan cuma ini,” kataku. “Punya Nisa waktu SMA.”

Diana memakai helm itu tanpa protes sedikit pun. Lalu dia naik ke jok belakang, menyamping dulu, ragu, lalu membetulkan posisi duduknya menghadap depan karena jalanan Jakarta tidak ramah untuk orang yang duduk menyamping.

“Pegangan,” kataku.

“Ke mana?”

“Ke besi di belakang jok.”

Diana melihat besi di belakang jok. Lalu, tanpa ragu sedikit pun, dia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku dan menempelkan pipinya di punggungku.

“Besinya dingin,” katanya.

Aku tidak protes. Aku hanya menyalakan motor.

Saat kami melewati ujung basement, dari sudut mata aku melihat lampu sebuah sedan hitam menyala di balik pilar beton, lalu padam lagi. Mesinnya tidak bergerak.

Aku tidak memikirkannya. Ada lengan yang memeluk pinggangku terlalu erat, dan itu menghabiskan seluruh kapasitas otakku.


Jalanan Jakarta di jam pulang kantor adalah kekacauan. Motor saling serobot. Klakson bersahutan. Asap knalpot dan bau hujan yang belum turun.

Diana tidak peduli. Dia memeluk pinggangku dengan kedua lengan, dagunya di bahuku. Di kaca spion, aku bisa melihatnya menatap lampu-lampu kota yang lewat seperti anak kecil yang baru pertama kali naik bianglala, matanya berbinar di balik helm merah muda.

“Aku nggak pernah naik motor kayak gini,” katanya di dekat telingaku.

“Kayak gimana?”

“Dibonceng pacar. Kuliah aku naik angkot. Kerja aku naik ojol. Ojol nggak boleh dipeluk.”

“Jangan peluk ojol.”

“Nggak pernah!” Diana tertawa, napasnya hangat di leherku. “Aku duduk di ujung jok sambil pegangan ke tas sendiri.”

Lampu merah di perempatan Kuningan. Motor berhenti. Puluhan motor lain berhenti di sekitar kami, mesin menderu pelan.

Pelukan Diana di pinggangku tidak mengendur. Justru mengencang.

“Diana,” kataku. “Motornya berhenti.”

“Terus?”

“Kamu boleh lepas sedikit. Nggak akan jatuh.”

“Biar nggak jatuh,” kata Diana, mengencangkan pelukannya lagi.

“Motornya berhenti.”

“Siapa tahu nanti jatuh.”

“Jatuh ke mana? Ini lampu merah.”

Diana menempelkan dagunya lebih dalam ke bahuku. Suaranya turun, pelan, langsung ke telingaku.

“Ke hatimu.”

Aku menatap lampu merah dengan wajah datar. Di balik helm, kupingku pasti sudah seterang lampu itu.

Bapak-bapak ojol di motor sebelah, yang mendengar semuanya, menoleh, menatap kami, lalu menggeleng-geleng sambil tersenyum ke arah lampu lalu lintas.

Lampu hijau. Aku memacu motor sedikit lebih kencang dari biasanya.

Diana tertawa sepanjang jalan.


Warung seblak itu ada di gang sempit dekat kosku di Kebon Jeruk. Tidak ada nama di depannya, hanya terpal oranye dan papan kecil bertuliskan SEBLAK BU NENG — LEVEL 0 S/D 10. Mejanya tiga. Kursinya plastik. Bu Neng sendiri yang memasak, dengan kipas sate di tangan kiri dan sendok besar di tangan kanan.

“Mas Dimas!” Bu Neng melambai. “Tumben bawa temen. Cewek lagi!”

“Sore, Bu.”

Bu Neng menatap Diana dari ujung kepala sampai sepatu kets. Lalu ke helm merah muda di tangannya. Lalu padaku. Lalu tersenyum lebar dengan cara yang membuatku ingin menggali lubang dan masuk ke dalamnya.

“Pacarnya, Mas?”

Aku membuka mulut. Diana lebih cepat.

“Iya, Bu,” katanya ceria. “Pacarnya.”

Itu pertama kalinya Diana mengatakannya ke orang lain. Tidak di kantor. Tidak di ruang server. Di warung seblak, ke Bu Neng, di depan terpal oranye.

Aku menatapnya. Diana menatap balik dengan senyum kemenangan.

“Wah, wah.” Bu Neng mengaduk kuah seblak dengan semangat baru. “Akhirnya Mas Dimas punya pacar. Tiga tahun makan seblak di sini sendirian, level satu terus. Mbaknya mau level berapa?”

“Lima, Bu.”

Bu Neng berhenti mengaduk. “Lima? Mbaknya kuat?”

“Kuat, Bu. Dia yang lemah.” Diana menunjukku dengan dagunya.

Bu Neng tertawa sampai kipas satenya jatuh.


Kami duduk berhadapan di meja plastik paling pojok. Dua mangkuk seblak datang mengepul. Satu merah menyala seperti lava. Satu merah muda pucat seperti teh stroberi.

Diana makan seblak level limanya dengan kecepatan dan keanggunan yang mengerikan. Dia tidak berkeringat sampai suapan kesepuluh. Hidungnya baru merah di suapan kelima belas. Di bawah lampu bohlam kuning warung Bu Neng, dengan kuncir miring dan pipi yang mulai merona karena pedas, dia lebih cantik daripada di bawah lampu ruang rapat direksi mana pun.

Aku sudah berkeringat di suapan ketiga. Level satu.

“Mas.” Diana menatapku dari balik uap mangkuk. “Kamu keringetan.”

“Panas.”

“Ini level satu.”

“Kuahnya panas. Suhunya.”

“Iya, iya.” Diana tersenyum, mengambil tisu dari kotak di meja, lalu mencondongkan tubuh dan menyeka dahiku dengan tisu itu. Pelan. Hati-hati. Dari pelipis kiri ke pelipis kanan. Lalu ke ujung hidungku.

“Hidungmu merah,” katanya lembut. “Kayak tomat yang lagi malu.”

“Kamu juga.”

“Aku level lima. Kamu level satu. Itu beda kelas, Mas.”

Bu Neng, yang menonton dari balik panci, menyikut tetangga warung yang kebetulan lewat dan berbisik keras, “Lihat, lihat. Mas Dimas akhirnya ada yang ngelapin.”

Aku menunduk ke mangkuk dan makan lebih cepat. Itu kesalahan. Aku tersedak kuah, terbatuk keras, dan mataku berair.

“Ya ampun, Mas!” Diana menyodorkan es teh manis, tertawa sambil menepuk-nepuk punggungku. “Jangan dicepetin! Aduh, aduh.”

“Saya... nggak... apa-apa...”

“Mata kamu berair.”

“Kepedesan.”

“Level satu?”

“...Iya.”

Diana menatapku seperti sedang membaca laporan keuangan yang angkanya tidak masuk akal. Laki-laki dua puluh delapan tahun, yang bisa mengonfigurasi ulang jaringan seluruh lantai dalam empat jam, menangis karena seblak level satu di warung terpal oranye.

Lalu dia tertawa sampai harus memegang meja. Tawa yang jelek. Keras. Sama sekali tidak seperti Dewi Lantai 12. Dua anak kecil yang sedang beli es di warung sebelah menoleh dengan penasaran.

Aku, dengan mata berair dan hidung merah, menatap tawa itu.

Dan aku tersenyum. Karena aku tahu, ini yang kumau. Bukan Kemang. Bukan meetup developer. Bukan restoran di Senopati.

Ini. Kepedesan di depan Diana, dan membuatnya tertawa sejelek itu.


Rabu pagi, pukul tujuh lewat lima puluh, aku sedang mengunci motor di basement saat sebuah suara terdengar di belakangku.

“Helm merah muda. Stiker bunga matahari.”

Aku berbalik.

Bastian bersandar di pilar beton, kedua tangan di saku celana. Kemejanya licin seperti biasa. Wajahnya tenang. Tapi matanya tidak tersenyum sama sekali.

“Gue lihat semalam,” kata Bastian. “Jam enam lewat dua puluh. Dari mobil. Dia meluk lo dari belakang. Kenceng banget.” Dia mengangguk ke arah pilar di ujung basement. “Gue duduk di mobil sepuluh menit setelah kalian keluar. Lampunya gue matiin. Nggak tahu kenapa.”

Sedan hitam itu. Lampu yang menyala lalu padam.

Aku tidak menjawab. Aku hanya meletakkan helm di atas jok dan berdiri tegak.

Basement sepi. Hanya ada kami berdua dan deretan motor. Suara generator berdengung dari ruangan sebelah.

“Sejak kapan?” tanya Bastian.

Aku bisa berbohong. Aku sudah berbohong berkali-kali. Adik. Tes resolusi layar. Keselek angin. Tapi menatap Bastian sekarang, aku tidak mau berbohong lagi.

“Rooftop,” kataku. “Malam setelah Mas makan malam sama dia. Hujan.”

Bastian memejamkan mata sebentar. Lalu tertawa. Pendek, kering, tanpa humor.

“Ketinggalan charger,” katanya pelan. “Dia minta gue antar balik ke kantor karena ketinggalan charger.”

“Iya.”

“Dan lo di atas.”

“Iya.”

Bastian membuka mata. Menatapku lama, seolah sedang membaca ulang laporan yang selama ini dia salah pahami.

“Lo wasit, Dim,” katanya. Suaranya tidak keras. Justru terlalu tenang. “Lo yang nyatet poin gue. Tiap minggu. Lo nulis angka gue di papan itu. Enam puluh satu. Enam puluh delapan. Lo baca keras-keras di warung Mang Udin. Dan selama itu, lo...”

Dia berhenti. Menarik napas.

“Lo tahu rasanya jadi orang yang nggak tahu dia udah kalah?”

Aku menunduk. “Maaf, Mas.”

“Gue nggak butuh maaf lo.”

“Saya tahu. Tapi saya tetap minta maaf.” Aku mengangkat kepala. “Saya nggak pernah niat ngebohongin Mas. Saya cuma nggak tahu cara ngomongnya. Dan Diana nggak mau Mas sakit hati, jadi kami...”

“Diana nggak mau gue sakit hati,” ulang Bastian. Senyumnya miring. “Dia baik banget, ya. Makanya gue suka dia.”

Hening. Generator berdengung. Seseorang di lantai atas menyalakan motor, suaranya menggema di basement.

“Gue nggak bakal bocorin,” kata Bastian akhirnya.

Aku menatapnya.

“Bukan buat lo. Buat dia.” Bastian melepaskan diri dari pilar, berdiri tegak. “Dia nggak pantas jadi gosip satu lantai karena enam cowok bodoh bikin liga di grup WA. Termasuk gue.”

“Makasih, Mas.”

“Tapi.” Bastian melangkah mendekat. Satu langkah. Dua. Sampai dia berdiri tepat di depanku, sedikit lebih tinggi, dengan kemeja licin dan bau parfum mahal. “Gue juga belum nyerah.”

Aku tidak mundur.

“Gue nggak kalah dari orang yang nggak berani main,” lanjut Bastian pelan. “Lo sembunyi di balik papan klasemen, di balik peluit wasit, di balik ruang server. Lo pacaran sama dia diam-diam, sementara gue bawa bento dan set teh dan parsel buah di depan semua orang. Gue mungkin norak. Tapi gue berani.”

Aku menatapnya. Kalimat itu menusuk karena benar.

“Kalau lo serius sama dia,” kata Bastian, “turun ke lapangan. Ikut liga. Di depan semua orang. Bilang ke enam orang di grup itu bahwa wasitnya ternyata pemain.” Dia mengangkat bahu. “Kalau nggak berani, ya, berarti lo nggak lebih baik dari gue.”

Bastian berbalik, berjalan ke lift.

Di depan pintu lift, dia berhenti dan menoleh sekali.

“Satu lagi, Dim.”

“Iya, Mas.”

“Kalau lo bikin dia nangis,” katanya, “gue yang maju. Bukan sebagai peserta. Sebagai orang yang lebih dulu suka dia.”

Pintu lift terbuka. Bastian masuk. Pintu menutup.

Aku berdiri sendirian di basement di samping motor bebek hitam, dengan helm merah muda bergambar bunga matahari tersampir di setang.


Dimas: Mas Bastian tahu.

Diana: APA

Diana: Gimana??

Dimas: Dia lihat kita di basement semalam. Helm Nisa.

Diana: Ya ampun. Dia marah?

Dimas: Nggak marah. Lebih buruk dari marah. Dia sopan.

Diana: ...

Diana: Dia bakal bocorin?

Dimas: Nggak. Katanya demi kamu.

Diana: Oh.

Diana: Kamu nggak apa-apa?

Dimas: Dia bilang aku pengecut.

Dimas: Dia benar.

Diana: Kamu bukan pengecut, Mas.

Diana: Kamu cuma orang yang selalu mikirin orang lain duluan sebelum dirimu sendiri.

Diana: Itu beda.

Diana: Tapi kadang bedanya tipis, ya.

Aku menatap pesan terakhir itu lama.

Diana: Nanti siang ruang server. Aku bawa martabak. Kita ngecas bareng.

Diana: Tok, tok.


UPDATE KLASEMEN — Minggu 9, Rabu

  • 1. Bastian — 71 poin
  • 2. Kevin — 29 poin
  • 3. Om Heru — 21 poin
  • 4. Rendy — 12 poin
  • 5. Fajar — 2 poin
  • 6. Ucup — 0 poin

Catatan wasit: Bastian, Kevin, Om Heru, Rendy masing-masing +3. Ucup akhirnya diberi tahu kelas yoga Mbak Diana hari Sabtu, bukan Kamis (sumber: anonim). Ucup syok.

Investigasi pria misterius: Kevin melaporkan pelanggan warung bubur ayam kaldu bening berjumlah 47 orang per hari. Penyelidikan dihentikan karena “datanya terlalu besar”.

Catatan wasit (pribadi): Bastian bilang saya pengecut. Saya mencatat itu juga.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-97. Kencan pertama di warung seblak terpal oranye. Aku pakai helm merah muda punya Nisa yang ada tulisan “jangan dipinjem”. Aku peluk dia di lampu merah, bilang biar nggak jatuh ke hatinya, dan bapak ojol di sebelah geleng-geleng. Aku bilang ke Bu Neng aku pacarnya. Pertama kali aku bilang ke orang lain. Dia nangis kepedesan level satu dan aku ketawa jelek banget.

Hari ini Bastian tahu. Dia bilang pacarku pengecut. Pacarku bilang dia benar.

Aku nggak setuju. Tapi aku takut, kalau dia terus mikir begitu, suatu hari dia bakal ngelakuin sesuatu yang bodoh demi buktiin dia berani.