← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Two

Utang Jam Sebelas Malam

POV: Dimas

Selasa pagi, pukul delapan lewat dua menit, ada dua gelas kopi di mejaku.

Bukan kopi sachet dari pantry. Kopi dari kedai mahal di lobi, yang gelasnya berembun dan tutupnya berwarna hijau tua, yang harganya cukup untuk membeli tiga piring nasi padang.

Dan di samping kopi itu, duduk di kursi Sasha lagi, ada Diana Prameswari.

“Pagi, Mas.”

Aku berdiri mematung dengan tas ransel masih tergantung di satu bahu. “Pagi, Mbak. Laptopnya rusak lagi?”

“Nggak.” Diana menggeser salah satu gelas ke arahku. “Aku mau bayar utang.”

“Utang?”

“Malam audit.” Diana menopang dagu dengan satu tangan, menatapku dari bawah. “Kamu lupa, ya?”

Aku tidak lupa.


Tiga bulan lalu, malam sebelum audit tahunan, aku masih di kantor pukul sepuluh malam. Bukan karena rajin. Server cadangan sedang diperbarui, dan prosesnya harus dipantau sampai selesai.

Pukul sepuluh lewat empat puluh, telepon helpdesk IT berbunyi. Tidak ada yang pernah menelepon nomor itu lewat jam enam sore.

“Halo, IT. Dengan Dimas.”

Yang terdengar pertama adalah napas. Napas cepat, tidak beraturan. Lalu suara perempuan, berusaha terdengar tenang dan gagal.

“Maaf. Maaf ganggu. Ini Diana, finance. Laptopku... layarnya biru. Dan file rekonsiliasi buat audit besok... belum ke-save. Aku... aku nggak tahu harus telepon siapa.”

Aku sampai di ruang finance tiga menit kemudian. Ruangan kaca itu gelap, kecuali satu meja di sudut, tempat Diana duduk memeluk lututnya di kursi kerja, menatap layar biru yang penuh tulisan putih.

Dia tidak terlihat seperti Dewi Lantai 12 malam itu. Rambutnya digelung asal dengan pensil. Blazernya tersampir di sandaran kursi. Matanya merah, dan di meja ada tiga kaleng kopi kosong.

Anehnya, justru malam itu dia terlihat paling cantik. Aku ingat berpikir begitu, lalu cepat-cepat membuang pikiran itu karena tidak ada hubungannya dengan driver yang rusak.

Aku tidak bertanya apa-apa. Aku hanya menarik kursi, duduk, dan bekerja.

Butuh empat puluh lima menit. Masuk safe mode, memeriksa driver yang bermasalah, lalu menggali folder sementara aplikasi spreadsheet untuk mencari file autosave. Di menit ke-tiga puluh delapan, aku menemukannya: Rekon_Q3_FINAL_final_REVISI3.xlsx, tersimpan otomatis dua belas menit sebelum laptop mati.

Saat file itu terbuka di layar, Diana menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan perempuan yang menangis. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aku tahu. Aku turun ke minimarket di lantai dasar yang buka dua puluh empat jam, membeli roti cokelat dan teh botol, lalu kembali dan meletakkannya di samping laptop.

Di atas roti, aku menempelkan sticky note kuning yang kuambil dari meja sebelah.

Jangan lupa makan, Mbak.

Lalu aku kembali ke ruang server untuk memantau pembaruan yang belum selesai, dan tidak memikirkannya lagi.

Setidaknya, aku pikir aku tidak memikirkannya lagi.


“Itu tugas saya, Mbak,” kataku sekarang, akhirnya meletakkan tas di bawah meja. “Nggak ada utang.”

“Benerin laptop memang tugas kamu.” Diana mengangguk. “Tapi roti cokelat sama teh botol jam sebelas malam? Itu bukan tugas kamu.”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Kamu juga nggak minta nomor HP-ku,” lanjut Diana, nadanya ringan, seperti sedang membahas cuaca. “Nggak ngajak makan. Nggak nge-chat besoknya nanya ‘gimana auditnya, Mbak?’. Nggak ada.”

“Kenapa saya harus...”

“Itu dia.” Diana tersenyum. Bukan senyum sopan. Senyum yang membuat matanya menyipit. “Kamu bahkan nggak kepikiran.”

Aku tidak paham kenapa itu membuatnya terdengar senang.

Aku duduk di kursiku sendiri, memandangi gelas kopi berembun itu. “Terima kasih, Mbak. Tapi seharusnya nggak perlu repot.”

“Diminum dulu, Mas, baru protes.” Diana mendorong gelas itu lebih dekat dengan satu jari. “Atau mau aku tiupin dulu?”

“Itu kopi dingin, Mbak.”

“Oh, iya.” Diana tidak terdengar menyesal sedikit pun. “Ya udah, aku pegangin aja.”

Dan sebelum aku bisa bereaksi, Diana mengambil gelas itu, mencolokkan sedotannya, lalu menyodorkannya tepat di depan mulutku.

Aku menatap sedotan. Menatap Diana. Menatap sedotan lagi.

Di seberang lantai, seseorang menjatuhkan stapler.

“Mbak,” kataku sangat pelan, “orang-orang lihat.”

“Terus?”

“Mbak kan... Mbak.”

Diana memiringkan kepala. “Aku kenapa?”

Aku tidak bisa mengatakan Mbak itu Dewi Lantai 12 dan ada enam laki-laki yang sedang menghitung poin untuk sekadar diajak ngobrol. Jadi aku mengambil gelas itu dari tangan Diana, dengan hati-hati agar jariku tidak menyentuh jarinya, lalu meminumnya sendiri.

Gagal. Ujung jari kami bersentuhan sepersekian detik.

Diana menarik tangannya perlahan, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi aku melihatnya menggosok ujung jarinya dengan ibu jari, satu kali, sebelum memasukkan tangan ke saku blazer.

“Enak?” tanya Diana.

“...Enak, Mbak.”

“Cuma enak?”

“Enak sekali, Mbak.”

Diana tertawa, kali ini tidak ditahan. Suaranya renyah dan pendek, dan beberapa kepala di lantai dua belas ikut menoleh, karena tidak ada yang pernah mendengar Diana tertawa sekeras itu di kantor.

“Aku kerja dulu, ya,” katanya sambil berdiri, merapikan blazer. “Gelas satunya buat Mbak Sasha. Biar nggak ngamuk kursinya aku pakai terus.”

Dia berjalan pergi. Di tengah jalan, dia menoleh sekali.

“Mas.”

“Iya, Mbak.”

“Sticky note-nya masih aku simpan.”

Lalu dia pergi, meninggalkanku dengan kopi mahal, kuping yang panas, dan pertanyaan yang tidak mau kupikirkan: kenapa orang menyimpan sticky note?


Ponselku meledak dalam waktu kurang dari satu menit.

Kevin: DIANA BAWA KOPI KE MEJA WASIT

Kevin: DUA GELAS

Kevin: DARI KEDAI LOBI. YANG 58 RIBU

Ucup: Dia ketawa ya? Aku dengar dari pantry

Fajar: Diana tertawa = +7 kan??? Itu buat siapa

Rendy: wasit ga boleh dapet poin kan

Bastian: Dim. Penjelasan?

Aku mengetik dengan satu tangan, karena tangan satunya masih memegang kopi.

Dimas: Pembayaran jasa teknis atas perbaikan laptop saat audit 3 bulan lalu. Wasit tidak menerima poin. Tidak dihitung.

Bastian: Oke. Tapi ingat ya Dim, wasit harus netral.

Dimas: Saya netral.

Om Heru: Kalau gitu besok laptop saya juga mau rusak

Sasha datang lima menit kemudian, melihat gelas kopi berembun di mejanya, lalu menatapku dengan curiga yang sudah dilatih sejak masa kuliah.

“Ini dari siapa?”

“Mbak Diana.”

“Buat gue?”

“Katanya biar Mbak nggak ngamuk kursinya dipakai terus.”

Sasha mengangkat gelas itu, memutarnya, membaca tulisan di samping gelas. Ada nama yang ditulis barista dengan spidol: SASHA. Lalu dia melihat gelas di tanganku. Di sana tertulis: MAS WASIT.

Sasha menatap tulisan itu lama.

Aku mengikuti arah tatapannya, lalu melihat gelasku sendiri, dan untuk pertama kalinya hari itu, darahku terasa turun semua ke kaki.

Mas Wasit.

“Dim,” kata Sasha pelan. “Kenapa barista lobi tahu lo wasit?”

“Saya... nggak tahu.”

“Wasit apa?”

“Bukan apa-apa.”

Sasha meletakkan gelasnya, menyalakan komputernya, dan tidak bertanya lagi. Tapi aku tahu dari cara dia mengetik, sedikit lebih keras dari biasanya, bahwa pertanyaan itu hanya ditunda, bukan dibatalkan.

Aku menatap tulisan di gelasku sekali lagi. Mungkin kebetulan. Mungkin barista salah dengar. Mungkin Diana bilang “Mas Wawan” dan baristanya menulis “Mas Wasit”.

Aku memutar gelas itu agar tulisannya menghadap ke dinding, lalu meminum kopinya sampai habis.

Kopinya memang enak sekali.


Jam makan siang, aku makan di pantry seperti biasa.

Aku tidak suka kantin lantai dasar yang penuh dan berisik. Aku lebih suka duduk di kursi pojok pantry, membuka kotak bekal biru yang tutupnya sudah agak retak, dan makan dalam damai sambil membaca dokumentasi server di ponsel.

Hari ini isinya nasi, tumis kangkung, dan telur dadar gulung yang kupotong rapi menjadi enam bagian. Aku memasaknya sendiri tadi pagi, sambil menelepon adikku Nisa untuk memastikan anak itu sudah bayar uang praktikum.

Aku baru menyuap potongan kedua ketika ada bayangan jatuh di atas kotak bekalku.

“Itu kamu masak sendiri?”

Aku tersedak sedikit.

Diana berdiri di sampingku, memegang mug teh melati, membungkuk untuk melihat isi kotak bekal itu dengan minat yang sangat serius, seperti sedang mengaudit laporan arus kas.

“Iya, Mbak.”

“Telurnya digulung.”

“Iya, Mbak.”

“Rapi banget.” Diana menarik kursi di seberangku dan duduk, tanpa diundang, seolah pantry ini ruang rapat pribadinya. “Aku kalau bikin telur dadar, hasilnya kayak peta Indonesia. Sobek di mana-mana.”

“Apinya kegedean, Mbak. Harus kecil. Sabar.”

“Aku nggak sabaran.” Diana menopang dagu. Matanya masih menempel di telur gulung itu. Lama. Sangat lama.

Aku menatap telurku. Menatap Diana. Menatap telurku lagi.

“Mbak mau?”

“Boleh?”

Sebelum aku bisa menyodorkan kotak bekal, Diana sudah membuka mulut sedikit, menunggu. Matanya berbinar. Tangannya tetap di dagu, sama sekali tidak bergerak untuk mengambil sendok.

Aku membeku untuk kedua kalinya hari itu.

“Mbak, ada sendok di laci.”

“Aku nggak tahu laci yang mana.”

“Laci kedua dari kiri.”

“Jauh, Mas.”

Laci itu berjarak satu setengah meter.

Aku menatap pintu pantry. Kosong. Aku mendengarkan langkah kaki di lorong. Tidak ada. Lalu, dengan gerakan secepat mungkin, seperti sedang memasang kabel di bawah meja direktur, aku mengambil satu potong telur dengan garpu dan menyodorkannya.

Diana memakannya. Pelan. Mengunyah dengan mata terpejam.

“Enak,” katanya.

“Cuma enak?” Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum sempat kutahan.

Diana membuka mata. Menatapku. Lalu senyumnya melebar, pelan-pelan, seperti matahari yang naik di laporan cuaca.

“Enak sekali, Mas.”

Aku langsung menunduk ke kotak bekal, menyuap nasi terlalu banyak, dan berpura-pura sangat tertarik pada tumis kangkung.

Diana berdiri, mengambil mug tehnya. Di pintu pantry dia berhenti.

“Mas.”

“Iya, Mbak.”

“Payungmu masih aku sandera, ya.” Dia mengedip. “Tebusannya telur gulung. Tiap hari.”

Lalu dia pergi, dan aku sadar aku baru saja memotong telur untuk besok di kepalaku. Tujuh potong. Satu ekstra.

Aku tidak sempat menghabiskan sisa bekalku. Lima menit kemudian, server email lantai sembilan bermasalah, dan aku menghabiskan dua jam menatap log yang isinya hanya angka dan pesan error berbahasa Inggris patah-patah.

Pukul dua lewat sepuluh, perutku berbunyi cukup keras untuk membuat Sasha menoleh.

“Lo belum makan?”

“Udah. Setengah.”

“Setengah itu belum, Dim.” Sasha menggeleng dan kembali ke layarnya.

Lima menit kemudian, sebuah tangan meletakkan kotak bekal biru muda di samping keyboard-ku.

Aku mendongak. Diana berdiri di sana, tapi kali ini dia tidak duduk, tidak menggoda, tidak berkata apa-apa. Dia hanya menempelkan sticky note kuning di tutup kotak bekal itu, mengetuknya dua kali dengan ujung jari, lalu berjalan kembali ke ruang kaca seolah baru saja mengantar dokumen pajak.

Aku membaca sticky note itu.

Jangan lupa makan, Mas.

Tulisannya bulat. Ada lengkungan kecil di ujung huruf g pada kata “jangan”.

Aku membuka kotak bekal itu. Nasi putih, telur dadar, tumis buncis, dan tiga potong ayam goreng. Di pojok, ada sambal dalam wadah kecil terpisah, seolah pembuatnya tahu tidak semua orang tahan pedas, tapi tetap ingin memberi pilihan.

Telur dadarnya digulung. Tidak rapi. Sedikit sobek di satu ujung dan gosong di satu sisi, seperti peta Indonesia yang dipaksa jadi gulungan. Aku menatap bagian gosong itu lebih lama dari yang perlu.

Ini bukan beli. Ini dimasak. Oleh seseorang yang tidak sabaran, apinya kegedean, dan entah bagaimana sudah berlatih menggulung telur sejak jam makan siang.

“Dim.” Sasha sedang menatap kotak bekal itu, lalu aku, lalu kotak bekal itu lagi. “Itu dari Mbak Diana?”

“Iya.”

“Dia masak?”

“Kayaknya.”

Sasha diam cukup lama. “Gue kenal lo enam tahun, gue nggak pernah masakin lo apa-apa.”

“Mbak pernah bikinin saya mi instan pas begadang skripsi.”

“Itu mi instan, Dim. Ini telur dadar digulung.” Sasha memalingkan wajah ke layar. “Itu beda kelas.”

Aku makan pelan-pelan. Ayamnya enak. Sambalnya pedas tapi tidak kejam. Telur dadarnya, termasuk bagian yang gosong, adalah telur dadar terbaik yang kumakan bulan ini.

Setelah selesai, aku mencuci kotak bekal itu di pantry, mengeringkannya dengan tisu, lalu ragu lama di depan mejaku sendiri. Akhirnya aku mengambil satu sticky note kuning dari laci, menulis sesuatu, menempelkannya di tutup kotak, dan menitipkannya ke Pak Joko untuk diantar ke ruang finance.

Ongkosnya satu gorengan.

Dari mejaku, aku melihat Diana menerima kotak itu, membaca sticky note-nya, lalu menunduk ke balik monitor terlalu cepat. Bahunya bergetar.

Sticky note itu hanya berisi tiga kata.

Telurnya enak, Mbak.

Dan di bawahnya, lebih kecil, kutulis setelah berpikir lama:

Gosongnya juga.


Pukul sebelas malam, saat aku sedang menyetrika flanel untuk besok, ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal.

+62 812-xxxx: Kopinya beneran enak sekali?

Aku menatap layar. Setrikaan masih menempel di lengan flanel.

Dimas: Maaf, ini siapa?

+62 812-xxxx: Yang nyimpen sticky note.

Bau kain hangus samar-samar naik dari meja setrika. Aku buru-buru mengangkat setrikaan, mendapati bekas cokelat kecil di lengan flanel biru tua kesayanganku, lalu kembali ke ponsel dengan perasaan seperti baru saja kalah dua kali sekaligus.

Dimas: Mbak dapat nomor saya dari mana?

Diana: Daftar kontak helpdesk IT. Ada di intranet. Kamu sendiri yang upload, Mas.

Dimas: Itu untuk keperluan teknis, Mbak.

Diana: Ini keperluan teknis kok.

Diana: Aku lagi ngecek apakah jaringan hatiku masih tersambung ke server yang sama

Diana: Bercanda.

Diana: Setengah.

Aku meletakkan ponsel di kasur, telungkup. Mengambilnya lagi. Meletakkannya lagi.

Dimas: Mbak, sudah malam. Besok kerja.

Diana: Kamu juga belum tidur.

Dimas: Saya lagi nyetrika.

Diana: Flanel?

Dimas: ...

Diana: Aku tahu banget. Besok Rabu flanel juga ya, Mas. Aku hitung.

Diana: Selamat tidur, Mas Wasit.

Aku membaca dua kata terakhir itu sampai layarnya meredup sendiri.

Jadi bukan kebetulan. Bukan barista salah dengar.

Dia tahu.

Tapi kalau dia tahu, kenapa dia tidak marah? Kenapa dia malah membawakan kopi?

Aku tidur pukul satu malam dengan pertanyaan itu, dan flanel dengan bekas setrikaan berbentuk segitiga di lengan kiri.


UPDATE KLASEMEN — Minggu 1, Selasa

  • 1. Om Heru — 3 poin
  • 2. Bastian — 3 poin
  • 3. Kevin — 0 poin
  • 3. Ucup — 0 poin
  • 3. Rendy — 0 poin
  • 6. Fajar — −5 poin

Catatan wasit: Om Heru mendapat +3 karena Mbak Diana membalas “Terima kasih, Om, rendangnya enak” (lebih dari satu kata). Bastian +3 untuk balasan chat. Fajar −5: puisi dibalas “Hehe, makasih, Mas Fajar” (dikategorikan ditolak halus oleh dewan). Kopi di meja wasit tidak dihitung.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-42. Jari kami nyentuh. Satu detik. Aku pura-pura biasa, padahal sampai sekarang masih kerasa. Sticky note kuning itu aku tempel di dalam casing HP. Rara bilang aku norak. Biarin.