Chapter Ten
Hujan di Rooftop
POV: Dimas
Bastian Wiryawan tidak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah.
Senin pagi, pukul delapan kurang lima, saat Diana keluar dari lift dengan gelas teh melati di tangan, Bastian sudah menunggu di depan pintu kaca finance. Kemeja biru muda yang licin. Senyum yang sudah dilatih. Satu tangan di saku celana, satu lagi memegang ponsel yang layarnya menampilkan halaman reservasi restoran.
Aku melihat semuanya dari pojok IT. Aku baru saja menyerahkan teh itu ke Diana di pantry dua menit sebelumnya. Diseduh tiga menit, seperti biasa.
“Pagi, Diana,” kata Bastian. Suaranya tidak keras, tapi lantai dua belas di jam delapan kurang lima cukup sepi untuk membuat suara itu terdengar sampai deretan meja IT.
“Pagi, Mas Bastian.”
“Jumat malam kamu ada acara?”
Diana berhenti. Gelas teh di tangannya tidak bergerak.
“Aku mau ngajak kamu makan malam,” lanjut Bastian dengan tenang. “Berdua. Bukan acara kantor, bukan rapat. Ada restoran di Senopati yang aku pikir kamu bakal suka. Jam tujuh.”
Seluruh lantai dua belas mendadak sangat sibuk menatap layar komputer. Sasha berhenti mengetik. Kevin, yang baru keluar dari pantry, membeku dengan cangkir di tangan.
Diana menatap Bastian. Lalu, sangat sebentar, matanya bergerak ke pojok IT.
Aku menunduk ke keyboard.
“Boleh, Mas,” kata Diana akhirnya.
Kevin menjatuhkan cangkirnya. Untung kosong.
“Tapi,” lanjut Diana, suaranya tetap sopan dan tenang, “ada yang mau aku omongin juga. Jadi pas, sih.”
Bastian tersenyum lebar. “Oke. Jumat, jam tujuh. Aku jemput di lobi.”
Diana mengangguk, masuk ke ruang kaca, dan menutup pintu.
Ponselku bergetar sebelum pintu itu benar-benar tertutup.
Kevin: DITERIMA
Kevin: DIANA BILANG BOLEH
Fajar: Ini akhir dari segalanya
Ucup: Aku belum sempat ketemu dia di yoga
Om Heru: Rendang saya kalah sama restoran Senopati
Rendy: gue bikin poster ucapan selamat buat bastian atau poster duka buat kita
Bastian: Wasit, makan malam berdua, diterima. Berapa?
Aku menatap layar lama. Jariku diam di atas keyboard ponsel.
Lalu aku mengetik dua kata.
Dimas: Plus sepuluh.
Pukul sepuluh, aku berdiri di depan papan klasemen di pantry dengan spidol di tangan.
Bastian: 51.
Aku mencoret angka itu. Lalu menulis angka baru di sampingnya.
Tanganku gemetar.
Bukan gemetar besar. Hanya getaran kecil di ujung spidol, membuat angka enam di 61 sedikit bergelombang, seperti ditulis oleh orang yang baru saja turun dari motor setelah perjalanan jauh.
Aku mencoba menulisnya ulang dua kali. Sama.
Aku menutup papan dengan kalender Danau Toba dan berdiri di pantry yang sepi sampai tanganku berhenti gemetar.
Selasa pagi, aku datang pukul delapan lewat dua. Seperti dulu, sebelum ada perjanjian teh.
Aku tidak melewati pantry. Aku langsung ke meja, menyalakan komputer, dan membuka tiket. Aku tidak perlu melihat untuk tahu apa yang terjadi di sana. Pak Joko memberitahuku pukul sembilan, gratis, sambil mengelap meja sebelah, yang membuatku tahu situasinya pasti benar-benar buruk.
“Mbak Diana berdiri di pantry dari jam tujuh empat puluh sampai jam delapan lewat lima, Mas,” katanya pelan. “Nggak bikin teh. Cuma berdiri.”
Pak Joko tidak meminta gorengan. Dia menggeleng, lalu pergi.
Rabu, aku datang pukul delapan lewat dua lagi. Kamis, sama.
Aku tidak menghindari Diana secara terang-terangan. Aku tetap membalas chat, dengan kalimat sopan yang pendek. Aku tetap datang saat laptopnya “rusak” pada Rabu siang, membetulkannya dalam dua menit, dan pergi sebelum dia sempat bicara. Aku tetap bilang “Iya, Mbak,” dan “Baik, Mbak,” dengan wajah datar yang sama.
Tapi tidak ada teh. Tidak ada makan siang di ruang server, karena pintunya kukunci dan aku bilang ada maintenance. Tidak ada lirikan dari pojok IT ke ruang kaca.
Aku pikir itu yang paling masuk akal. Bastian sudah melangkah. Diana sudah bilang boleh. Wasit tidak boleh berdiri di tengah lapangan saat pertandingan berjalan.
Kamis malam, Diana mengirim pesan.
Diana: Mas, besok teh lagi ya?
Dimas: Besok saya mungkin datang siang, Mbak. Ada kerjaan di lantai sembilan.
Diana: Oh.
Diana: Oke.
Diana: Kamu marah?
Dimas: Nggak, Mbak.
Diana: Kamu bilang “nggak, Mbak” kayak lagi lapor server down.
Dimas: Saya cuma sibuk, Mbak. Selamat malam.
Tanda dia sedang mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.
Tidak ada balasan.
Aku menatap layar itu sampai meredup sendiri.
Jumat malam, pukul tujuh kurang sepuluh, Diana turun ke lobi dengan gaun hijau zamrud selutut dan blazer krem. Rambutnya tergerai.
Aku melihatnya dari jendela lantai dua belas. Tidak sengaja. Jendela itu kebetulan ada di jalurku.
Bahkan dari dua belas lantai, dia terlihat seperti seseorang yang keluar dari majalah. Gaun hijau itu membuat kulitnya terlihat bercahaya di bawah lampu lobi. Bastian sudah menunggu di depan pintu putar, memegang kunci mobil, dan tersenyum saat melihatnya.
Mereka terlihat serasi. Itu yang paling menyakitkan.
Aku berdiri di sana sampai mobil Bastian keluar dari lobi dan hilang di tikungan.
Lalu aku kembali ke meja dan membuka tiket yang sudah selesai. Pukul delapan, lantai dua belas sudah kosong. Pukul delapan lewat tiga puluh, hujan mulai turun di luar jendela.
Pukul sembilan, aku naik ke rooftop.
Rooftop gedung itu bukan tempat yang indah. Ada tangki air raksasa, unit AC sentral yang berdengung, dan sebuah kanopi seng kecil di dekat pintu tangga darurat dengan satu bangku kayu reyot di bawahnya. Tapi dari sana, Jakarta terlihat seperti lautan lampu yang tidak pernah tidur.
Aku selalu naik ke sana kalau kepalaku terlalu penuh, sejak tahun pertama bekerja, waktu Nisa masih SMA dan uang selalu kurang.
Malam ini hujan turun deras di luar kanopi. Aku duduk di bangku dengan siku di lutut, menatap air yang menetes dari pinggiran seng.
Aku memikirkan restoran di Senopati. Lampu temaram. Lilin di meja. Bastian yang pandai bicara. Diana yang tertawa sopan. Atau mungkin tertawa sungguhan.
Aku memikirkan angka enam yang bergelombang di papan pantry.
Pintu tangga darurat terbuka di belakangku.
Aku tidak menoleh. Mungkin satpam. Mungkin Pak Joko.
“Jadi di sini kamu sembunyi.”
Aku menoleh.
Diana berdiri di ambang pintu. Gaun hijau zamrud. Blazer krem yang basah di bahu. Rambut yang tadi tergerai rapi sekarang lepek di ujung-ujungnya. Sepatu hak tingginya dia tenteng di satu tangan, dan dia berdiri bertelanjang kaki di lantai beton yang basah.
“Mbak...” Aku berdiri. “Mbak ngapain di sini? Mbak kan...”
“Makan malam?” Diana melangkah masuk ke bawah kanopi. “Selesai jam delapan lewat empat puluh. Aku minta Bastian antar aku balik ke kantor. Katanya aku ketinggalan charger.”
“Mbak ketinggalan charger?”
“Nggak.” Diana meletakkan sepatunya di bangku. “Aku bohong.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Aku telepon kamu tiga kali,” kata Diana. “Nggak diangkat. Aku ke meja IT, kosong. Ruang server dikunci. Aku nanya satpam, katanya kamu belum turun.” Dia menyeka air hujan dari pipinya. “Terus aku ingat, kamu pernah bilang waktu di lift. Kalau kepalamu penuh, kamu naik ke rooftop.”
Aku tidak ingat pernah mengatakannya. Lalu aku ingat. Lift macet. Lima belas menit dalam setengah gelap. Aku cerita banyak hal yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun.
Diana mengingat semuanya.
“Mbak basah,” kataku. Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku mengambil jaket dari bangku, jaket parasut abu-abu yang kubawa sejak outing, dan menyampirkannya ke bahu Diana di atas blazer basah itu.
Diana tidak menolak. Dia menarik jaket itu lebih rapat, lalu menatapku dari jarak satu langkah.
“Mas,” katanya. “Aku mau nanya sesuatu. Dan kamu harus jawab jujur. Bukan jawaban wasit.”
“...Iya, Mbak.”
“Kenapa kamu nggak ikut liga?”
Hujan menderu di atas kanopi seng. Unit AC sentral berdengung. Jakarta berkilauan di kejauhan, kabur oleh tirai air.
Aku diam lama.
“Karena saya bukan kandidat, Mbak,” kataku akhirnya.
“Siapa yang bilang?”
“Semua orang.” Aku menatap genangan air di lantai. “Mereka pilih saya jadi wasit karena saya bukan ancaman. Mereka benar. Mbak itu... Mbak. Dewi Lantai 12. Saya cuma tukang IT yang pakai flanel tiap Senin. Yang gajinya habis buat kuliah adik. Yang nggak bisa ngajak orang makan di Senopati.”
“Aku nggak nanya kenapa mereka milih kamu jadi wasit.” Diana melangkah lebih dekat. “Aku nanya kenapa kamu nggak ikut.”
Aku mengangkat kepala.
“Kamu nyatet Bastian plus sepuluh hari Senin,” lanjut Diana pelan. “Aku lihat papannya hari Selasa. Angka enamnya gelombang. Kamu nulis tiga kali, kelihatan bekasnya.”
Aku tidak menjawab.
“Tanganmu gemetar, Mas?”
Hening.
“Iya,” bisikku.
Diana menatapku. Air hujan menetes dari ujung rambutnya ke pipi, dan aku tidak bisa membedakan mana yang hujan dan mana yang bukan.
“Kenapa?”
Aku menarik napas panjang. Aku memikirkan semua jawaban aman. Jawaban wasit. Jawaban tukang IT. Karena spidolnya jelek. Karena pantry dingin. Karena kurang tidur.
Lalu aku memikirkan kotak bekal biru muda. Telur dadar yang gosong satu sisi. Seblak satu sendok. Kepala yang tertidur di bahuku empat puluh tiga menit. Pipi yang menempel di punggungku di dapur villa. Bukan flanelnya yang hangat.
“Karena saya nggak mau Mbak pergi sama dia,” kataku.
Suaraku pelan. Tapi di bawah kanopi seng itu, di antara deru hujan, kalimat itu terdengar sangat jelas.
“Karena tiap pagi saya bikin teh tiga menit, dan itu bagian paling enak dari hari saya. Karena saya hafal Mbak suka ayam geprek level tiga kalau capek dan seblak level lima kalau senang. Karena saya simpan sticky note Mbak di saku flanel dan nggak pernah saya pindahin.” Aku menelan ludah. “Karena saya suka Mbak. Dari sebelum liga. Dari malam audit. Dari Mbak nangis di depan file rekonsiliasi dan saya nggak tahu harus ngapain selain beli roti.”
Diana tidak bergerak.
“Saya nggak ikut liga,” lanjutku, “karena saya takut. Kalau saya ikut, saya bakal kalah. Dan kalau saya kalah, saya nggak bisa lagi jadi orang yang bikinin Mbak teh.”
Hujan terus turun.
Diana menatapku. Lama. Matanya basah, entah karena hujan atau bukan. Bibirnya bergetar sedikit.
Lalu dia tersenyum.
“Bodoh,” bisiknya.
“...Iya, Mbak.”
“Kamu wasit paling bodoh se-Jakarta.” Diana melangkah satu langkah terakhir. Jaraknya sekarang tidak ada lagi. “Kamu nyatet poin semua orang, tapi nggak pernah ngecek klasemenku.”
“Klasemen Mbak?”
“Aku nggak pernah ikut lombanya mereka, Mas.” Diana mengangkat kedua tangannya, menangkup wajahku. Telapak tangannya dingin dan basah. “Dari awal, aku cuma lari ke pinggir lapangan.”
Dan dia menciumku.
Pelan. Ragu sepersekian detik, seperti orang yang mengetuk pintu dulu sebelum masuk. Bibirnya dingin karena hujan, dan sedikit gemetar.
Aku membeku.
Satu detik. Dua detik.
Lalu sesuatu di dalam diriku, sesuatu yang sudah terlalu lama kukunci di ruang server bersuhu enam belas derajat, akhirnya terlepas.
Aku membalas ciuman itu.
Tanganku, yang biasanya ragu di udara selama sepuluh detik sebelum menyentuh apa pun, kali ini tidak ragu. Satu tangan di pinggangnya, menariknya lebih dekat. Satu lagi di belakang kepalanya, di rambut basah yang wangi melati dan hujan. Jaket parasut abu-abu itu merosot dari bahunya, jatuh ke bangku kayu, dan tidak ada yang peduli.
Diana mengeluarkan suara kecil, setengah tawa setengah isak, di antara ciuman kami. Jarinya mencengkeram kerah kausku. Bibirnya tidak lagi dingin.
Hujan menderu di atas kanopi seng. Jakarta berkilauan di kejauhan. Dan untuk beberapa saat yang terasa seperti selamanya, tidak ada liga, tidak ada klasemen, tidak ada wasit.
Hanya dua orang di bawah kanopi seng di atap gedung, berbagi napas di tengah hujan.
Saat akhirnya kami berpisah, dahinya menempel di dahiku. Napas kami sama-sama terengah. Matanya masih terpejam.
“Mas,” bisiknya.
“Iya.”
“Bastian tadi nanya, aku mau ngomong apa.”
Aku menunggu.
“Aku bilang dia orang baik. Tapi aku cuma bisa jadi temannya.” Diana membuka mata. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, dan bayanganku sendiri di mata cokelat terang itu. “Dia tanya, ada orang lain? Aku bilang ada.”
“Mbak bilang siapa?”
“Nggak.” Diana tersenyum, kecil dan basah. “Itu urusanku sama wasitnya.”
Aku tertawa. Pelan, tidak percaya, lega. Itu tawa paling keras yang pernah keluar dariku di gedung ini.
Diana menatap tawa itu seperti menatap sesuatu yang langka.
“Ketawa lagi,” bisiknya.
“Mbak...”
“Ketawa lagi. Aku mau dengar.”
Tapi aku tidak tertawa. Aku mengangkat tangan, menyeka air hujan dari pipinya dengan ibu jari. Pelan. Hati-hati. Seperti dia menyeka air mataku di ruang server dulu.
“Mbak kedinginan,” kataku.
“Nggak.”
“Bibir Mbak biru.”
“Itu lipstik.”
“Lipstik Mbak tadi merah.”
Diana tertawa, menyerah. Aku mengambil jaket parasut dari bangku, mengibaskannya, lalu memakaikannya ke Diana dengan benar kali ini. Menarik ritsletingnya sampai ke dagu. Menaikkan tudungnya ke atas kepala yang basah.
Diana menatapku dari balik tudung kebesaran itu. Pipinya merah. Matanya berbinar.
“Mas Wasit,” katanya.
“Iya, Mbak.”
“Poinnya berapa?”
Aku menatapnya. Lalu, untuk pertama kalinya, aku tersenyum lebar. Senyum yang sampai ke mata.
“Tidak dihitung, Mbak,” kataku. “Wasit nggak menerima poin.”
“Curang.”
“Iya.”
Aku mengambil sepatu hak tingginya dari bangku, lalu mengulurkan tanganku yang lain. Diana menatap tangan itu sebentar, lalu menggenggamnya. Jari-jari kami mengait, seperti di dapur villa.
Kami berlari menuruni tangga darurat bersama. Basah, tertawa, bertelanjang kaki dan bersepatu, meninggalkan jejak air di setiap anak tangga dari lantai tiga belas sampai dua belas.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 5, Jumat
- 1. Bastian — 61 poin
- 2. Kevin — 17 poin
- 3. Om Heru — 12 poin
- 4. Rendy — 9 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: Bastian +10 (makan malam berdua, diterima). Rendy +3 (poster ucapan pagi dibalas). Hasil makan malam: belum dilaporkan.
Catatan wasit (ditulis di HP, bukan di papan): Rooftop, 21.14. Hujan. Tidak dihitung. Tidak akan pernah dihitung.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-71. Aku cium dia duluan. Di rooftop. Di bawah hujan. Pakai gaun yang aku beli khusus buat makan malam sama orang lain, dan itu ironi yang akan aku tertawakan seumur hidup. Dia bilang dia suka aku dari malam audit. Malam audit! Aku pikir aku yang naksir duluan. Ternyata kami sama-sama bodoh selama tiga bulan. Dia membalas. Ya Tuhan, dia membalas. Kakiku masih gemetar waktu nulis ini. Bukan karena dingin.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop reading
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi