Chapter Twenty Two
Laptop Rusak Tiap Jam
POV: Dimas
Diana tidak menjawab pertanyaan itu di basement.
Dia hanya menatapku lama, dengan mata merah dan pipi basah. Lalu dia mengambil helm merah muda dari jok motor, menatapnya sebentar, dan meletakkannya kembali dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bukan miliknya lagi.
“Oke,” katanya. Suaranya datar. Datar seperti suaraku saat melaporkan status server. “Kalau itu maumu.”
Dia berjalan ke pintu keluar basement, memesan taksi online sambil berjalan, dan tidak menoleh sekali pun.
Aku berdiri di samping motor sampai lampu basement berkedip-kedip dan satpam mengetuk bahuku, bertanya apakah aku baik-baik saja.
Selasa pagi, pukul tujuh tiga puluh lima, aku berdiri di pantry dan menyeduh teh melati.
Aku tidak tahu kenapa. Kami sedang jaga jarak. Itu ideku sendiri. Tapi tanganku mengambil kantong teh dari kotak bertuliskan Diana — jangan diambil, plis, menuang air panas, menyalakan timer, dan menunggu tiga menit, seolah tubuhku tidak menerima memo dari kepalaku.
Timer berbunyi seperti bebek. Aku mengangkat kantong teh. Meletakkan gelas di meja.
Tidak ada sticky note.
Pukul tujuh empat puluh, langkah kaki di pintu. Aku tidak menoleh. Aku mengelap meja yang sudah bersih, menghitung sampai sepuluh di kepala.
Saat aku menoleh, pintu pantry sudah kosong. Gelas teh di meja juga sudah tidak ada.
Diana mengambilnya. Tanpa satu kata pun.
Pukul sembilan tepat, tiket pertama masuk.
Pelapor: Diana Prameswari. Keluhan: Laptop rusak. Keyboard-nya kangen. Lokasi: ruang kaca finance. Prioritas: tinggi.
Aku menatap tiket itu. Lalu, dengan jari yang tidak terlalu stabil, aku mengalihkannya ke Sasha.
Tiga detik kemudian, tiket itu kembali ke antreanku. Dengan catatan dari Sasha: Ini tiket lo. Gue nggak handle keyboard yang kangen.
Pukul sepuluh tepat, tiket kedua.
Keluhan: Laptop rusak. Mouse-nya ngambek. Nggak mau diklik sama siapa-siapa kecuali teknisi tertentu.
Aku mengalihkannya ke Clara, yang sedang duduk di sampingku mengerjakan dokumentasi migrasi di hari terakhir proyeknya.
Clara membaca tiket itu, menatapku lewat kacamata tipisnya, lalu mengembalikan tiket itu dengan satu klik dan catatan: Saya vendor, Mas. Saya handle server. Saya nggak handle hati.
Pukul sebelas tepat.
Keluhan: Laptop rusak. Layarnya nangis. Ada air di pojok kanan bawah. Bukan air minum.
Aku menatap kalimat terakhir itu sangat lama.
Pukul dua belas tepat.
Keluhan: Laptop rusak. Baterainya habis. Nggak ada yang ngecas.
Pukul satu tepat.
Keluhan: Laptop rusak. Udah lima tiket. Teknisinya nggak dateng-dateng. Pelapor mempertimbangkan eskalasi ke manajemen.
Sasha memutar kursinya dan menatapku dengan wajah orang yang kesabarannya sudah mencapai batas atas.
“Dim,” katanya. “Satu lantai bisa lihat ruang kaca. Satu lantai bisa lihat Mbak Diana ngetik tiket tiap jam tepat sambil cemberut. Staf junior finance udah taruhan, tiket keberapa lo bakal dateng.”
“Saya nggak bisa dateng.”
“Kenapa?”
“Kami lagi jaga jarak.”
Sasha menatapku. Lalu Clara menatapku. Dua perempuan itu saling pandang di atas kepalaku, lalu menghela napas bersamaan dengan suara yang sama persis.
“Jaga jarak,” ulang Sasha datar. “Dari orang yang ngirim tiket ‘layarnya nangis’.”
“Ini demi dia.”
“Demi dia,” kata Clara, mengangguk pelan. “Mas, saya cuma tiga minggu di sini. Tapi saya bisa lihat dari meja ini, orang yang paling menderita gara-gara ‘demi dia’ itu ya dia.”
Pukul dua siang, enam surat permintaan maaf tiba di meja Diana.
Kevin mengirimnya lewat email dengan lampiran spreadsheet berjudul Analisis Akar Masalah Liga Diana: Kesalahan Sistemik dan Rekomendasi Perbaikan. Tujuh belas halaman. Ada grafik. Aku tahu karena dia mengirim tembusannya padaku.
Fajar menulisnya dengan tangan, di kertas folio bergaris, dalam bentuk puisi. Kali ini rimanya hampir benar. Maafkan kami yang bodoh dan lancang / Menjadikanmu hadiah dalam sebuah tantang.
Ucup menulis satu paragraf pendek dan menambahkan catatan kaki bahwa dia sudah mendaftar kelas yoga hari Sabtu, tapi akan pindah ke studio lain supaya Diana tidak merasa tidak nyaman.
Rendy menggambar poster. Bukan ikan duyung kali ini. Gambar tujuh laki-laki kecil sedang membungkuk minta maaf di depan sebuah meja kerja, dengan tulisan MAAF, MBAK DIANA dalam huruf besar.
Om Heru datang langsung ke ruang kaca membawa rantang rendang dan surat yang ditulis di belakang struk belanja. Mbak, maaf. Saya sudah tua, harusnya lebih tahu. Ini rendang ibu saya, bukan sogokan. Ibu saya bilang minta maaf harus pakai makanan.
Bastian tidak mengirim surat.
Aku melihat semua itu dari pojok IT. Aku melihat Diana membaca surat-surat itu satu per satu. Aku melihatnya tersenyum kecil pada poster Rendy. Tertawa pelan pada catatan kaki Ucup. Menerima rantang Om Heru dengan dua tangan dan mengatakan sesuatu yang membuat Om Heru menyeka matanya dengan ujung lengan.
Tiga senyum. Aku menghitungnya, walaupun bukan untukku.
Aku tidak melihat Diana menoleh ke pojok IT sekali pun.
Pukul dua tepat, tiket keenam masuk.
Keluhan: Laptop rusak. Udah dapat enam surat maaf. Kurang satu. Dari orang yang paling bodoh.
Pukul tiga, aku naik ke rooftop.
Hari itu tidak hujan. Matahari sore terlalu terang, membuat lampu-lampu kota belum menyala. Aku duduk di bangku kayu reyot di bawah kanopi seng, siku di lutut, menatap gedung-gedung yang berkilauan dalam panas.
Di sinilah semuanya dimulai. Hujan. Tangan dingin yang menangkup wajahku. Aku nggak pernah ikut lombanya mereka.
Pintu tangga darurat terbuka.
“Gue tahu lo bakal di sini.”
Bastian berjalan masuk ke bawah kanopi, tanpa jas, lengan kemeja digulung. Dia membawa dua kaleng kopi dingin dari minimarket. Dia menyodorkan satu padaku, lalu duduk di ujung bangku yang lain.
Kami minum dalam diam selama beberapa saat.
“Satu lantai ngomongin tiket laptop,” kata Bastian akhirnya. “Kevin bikin spreadsheet taruhan. Tiket ke berapa lo bakal turun. Taruhan terbanyak di tiket ketujuh.”
Aku tidak menjawab.
“Lo jaga jarak sama dia.” Bastian menyesap kopinya. “Biar dia aman dari gosip. Biar dia nggak keseret HR. Biar reputasinya utuh.”
“Iya.”
“Itu bukan ngelindungin, Dim.” Bastian meletakkan kaleng kopinya di bangku. “Itu ninggalin. Pakai alasan yang bagus.”
Aku menoleh.
“Gue tahu bedanya,” lanjut Bastian, menatap gedung-gedung di kejauhan. “Gue pernah ditinggalin pakai alasan bagus. Mantan gue di Singapura. ‘Aku nggak mau jadi beban karier kamu.’ Kedengarannya mulia. Rasanya kayak dibuang.”
Angin sore berembus pelan di bawah kanopi.
“Diana nggak butuh dilindungin dari jauh,” kata Bastian. “Gue udah perhatiin dia dua bulan. Gue tahu dia suka salmon karena elegan, padahal dia sebenarnya suka ayam geprek. Gue tahu dia senyum sopan ke semua orang. Gue juga tahu senyum itu palsu.” Dia tertawa pendek. “Dan gue tahu satu-satunya orang di gedung ini yang bisa bikin dia ketawa jelek itu lo.”
Aku menatap kaleng kopi di tanganku.
“Gue kalah dari lo, Dim,” kata Bastian. “Bukan karena lo wasit. Bukan karena lo curang. Karena dia milih lo. Dari awal. Dari sebelum liga.” Dia menoleh, menatapku tepat di mata. “Jangan bikin pilihan dia sia-sia. Gue kalah dari lo. Jangan bikin gue kalah dari orang yang nyerah.”
“Saya punya SP1, Mas,” kataku pelan. “Kontrak saya habis empat bulan lagi. Adik saya masih kuliah dua tahun. Kalau saya kehilangan kerjaan...”
“Lo nggak bakal kehilangan kerjaan.”
“Mas nggak tahu itu.”
“Gue tahu.” Bastian berdiri, menepuk-nepuk celananya. “Karena Jumat nanti, di klarifikasi HR, gue bakal bilang yang sebenarnya. Gue yang ngusulin liga itu di warung Mang Udin. Kevin yang bikin sistem poin. Lo cuma orang yang kami paksa jadi wasit pakai kopi gratis.”
Aku berdiri juga. “Mas, jangan...”
“Gue nggak mau menang karena lo nyerah, Dim.” Bastian mengambil kaleng kopinya. “Dan gue juga nggak mau kalah karena lo pura-pura berani di ruang HR, terus jadi pengecut lagi di basement.”
Dia berjalan ke pintu tangga darurat. Di sana, dia berhenti, menoleh.
“Jangan jadi pengecut dua kali, Dim.”
Pintu menutup.
Pukul empat tepat, ponselku bergetar. Tiket ketujuh.
Aku tidak membukanya. Saat tiket itu masuk ke sistem, aku sedang berdiri di warung seblak di gang belakang gedung, dengan napas terengah karena berlari menuruni tangga darurat dua belas lantai, mengatakan kepada abang warung:
“Satu level lima. Satu level satu. Bungkus. Cepet, Bang.”
Belakangan Sasha bilang, Kevin berdiri dari kursinya tepat pukul empat dengan wajah berbinar, siap menagih taruhan, lalu duduk lagi dengan bingung karena kursi wasit kosong.
Pukul empat lewat dua puluh, saat aku menaiki tangga darurat dengan dua bungkus seblak, ponselku bergetar lagi. Tiket kedelapan.
Pratinjau notifikasinya hanya menampilkan satu kata.
Mas.
Lokasi pelapor: ruang server.
Aku membuka pintu ruang server dengan bahu, karena kedua tanganku membawa kantong plastik berisi dua bungkus seblak yang masih mengepul.
Diana duduk di atas kardus. Memeluk bantal kuning. Laptop di samping lututnya, layarnya masih menampilkan formulir tiket IT. Dia memakai hoodie abu-abu di balik blazer, dan tudungnya ditarik sampai menutupi setengah wajahnya.
Dia tidak menoleh saat pintu terbuka. Tapi bahunya menegang.
Aku menutup pintu. Meletakkan kantong seblak di lantai. Lalu aku duduk di kardus, di sampingnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Saya bawa seblak,” kataku.
Diana tidak menjawab.
“Level lima buat kamu. Level satu buat saya.”
Diana masih tidak menjawab. Tapi dari balik tudung hoodie, aku bisa melihat ujung hidungnya yang merah.
“Diana.”
“Aku nggak ngomong sama orang yang mau jaga jarak,” gumam Diana dari balik tudung.
“Saya nggak mau jaga jarak.”
“Kamu yang bilang.”
“Saya salah ngomong.”
“Kamu nggak salah ngomong. Kamu udah mikirin itu. Aku kenal mukamu kalau lagi mikir.” Diana menarik tudungnya lebih dalam. “Kamu mikirin itu di basement, terus kamu ngomong, terus kamu biarin aku pulang naik taksi.”
Aku menunduk. “Iya.”
“Terus tadi pagi kamu tetep bikinin aku teh.”
“...Iya.”
“Kamu tuh maunya apa sih, Mas?” Suara Diana pecah. “Jaga jarak tapi bikinin teh? Ninggalin tapi tiga menit pas?”
Aku menarik napas panjang.
“Aku takut,” kataku.
Bukan saya. Aku sengaja. Saya untuk Bu Ratna, untuk tiket, untuk wasit. Kalimat ini bukan milik wasit.
Diana diam.
“Aku takut kamu keseret. Takut orang ngomongin kamu. Takut kontrakku nggak diperpanjang dan Nisa nggak bisa lulus. Takut kalau kita kelihatan bareng sekarang, semua yang kamu jaga bertahun-tahun bakal hancur gara-gara aku.” Suaraku mengecil. “Dari kecil aku biasa nanggung sendiri. Ayah Ibu meninggal, aku nanggung sendiri. Nisa kuliah, aku nanggung sendiri. Aku nggak tahu cara lain.”
Hening di ruang server. Dengung mesin. Exhaust fan.
“Tapi Mas Bastian bilang,” lanjutku pelan, “aku bukan ngelindungin. Aku ninggalin. Pakai alasan yang bagus.”
Diana perlahan menurunkan tudung hoodie-nya. Wajahnya sembab. Matanya merah. Dan bibirnya cemberut seperti anak kecil yang sudah lama menunggu dijemput. Bahkan sembab begitu, dia membuat dadaku sakit karena terlalu cantik.
“Kamu bilang ‘aku’,” bisiknya. “Dari tadi.”
“Iya.”
“Sengaja?”
“Sengaja.”
Diana menggigit bibir. “Bastian bilang gitu?”
“Dia juga bilang jangan jadi pengecut dua kali.”
“Bastian,” gumam Diana, “kadang-kadang ngeselin karena dia bener.”
Aku mengulurkan tangan. Pelan. Ragu sepersekian detik, seperti dulu. Lalu aku mengetuk punggung tangannya yang memeluk bantal kuning.
Tok. Tok.
Diana menatap tangannya. Bibirnya bergetar.
“Aku nggak mau jaga jarak,” kataku. “Aku takut. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan kontrak.”
Diana menatapku lama. Lalu dia melempar bantal kuning ke samping dan menghambur ke pelukanku, begitu keras sampai kami berdua hampir jatuh dari kardus.
“Takutnya bareng-bareng,” isaknya di bahuku. “Kalau takut, takutnya bareng. Jangan sendirian. Kamu dengar?”
“Dengar.”
“Janji?”
“Janji.”
“Janji lisan nggak sah.”
Aku tertawa pelan di rambutnya, basah dan lega. Lalu aku menarik diri sedikit, menangkup wajahnya, dan menandatangani kontrak itu dengan ciuman yang pelan dan lama dan sedikit asin karena air mata.
Seblaknya sudah tidak terlalu panas saat kami akhirnya memakannya. Diana tetap merajuk. Dia menolak memegang sendok dan menuntut disuapi, satu suapan untuk setiap tiket yang tidak dibalas.
“Delapan tiket,” katanya. “Delapan suapan.”
“Itu level lima. Aku bisa kepedesan cuma dari nyium baunya.”
“Itu hukumanmu.”
Aku menyuapinya delapan kali. Pada suapan keempat, mataku sudah berair hanya karena uap seblak. Pada suapan ketujuh, Diana sudah tertawa lagi. Tawa yang jelek. Tawa yang sejak kemarin malam belum terdengar.
“Mas,” kata Diana setelah suapan kedelapan, bersandar ke bahuku.
“Iya.”
“Jumat nanti, klarifikasi HR. Aku yang ngomong.”
“Kamu mau ngomong apa?”
“Rahasia.” Diana menautkan jari-jarinya ke jariku. “Pokoknya kamu duduk aja. Jangan berdiri lagi. Nggak boleh pasang badan sendirian.”
“Kalau Bu Ratna nanya?”
“Kamu jawab jujur.” Diana menatapku dari bawah, matanya berbinar dengan cara yang sudah lama tidak kulihat. “Kali ini kita yang menang bareng.”
Aku menatap tangan kami yang bertaut. Lalu aku mengangguk.
“Dan satu lagi,” kata Diana.
“Apa?”
“Senyumku hari ini. Kamu harus ngitung dari nol lagi. Kemarin sama tadi pagi nggak dihitung.”
“Sekarang berapa?”
Diana tersenyum. Lebar. Mata menyipit. Hidung masih merah.
“Satu,” bisikku.
UPDATE
Spreadsheet taruhan Kevin, tiket ke berapa wasit turun: tidak ada pemenang. Wasit tidak pernah membuka tiket. Wasit datang membawa seblak.
Dewan (yang sudah dibubarkan) memutuskan secara informal di grup baru bernama “Grup Penyesalan”: taruhan dibatalkan, uang dikembalikan, semua pihak sepakat wasit itu bodoh tapi romantis.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-103. Delapan tiket. Keyboard kangen. Mouse ngambek. Layar nangis. Baterai habis. Satu kata terakhir cuma “Mas”. Dia nggak buka satu pun. Dia malah lari turun dua belas lantai buat beli seblak.
Dia bilang dia takut. Pertama kali dia bilang dia takut. Dan dia bilang dia lebih takut kehilangan aku daripada kehilangan kontrak.
Aku nggak akan biarin dia kehilangan dua-duanya.
Jumat nanti aku punya presentasi. Bukan anggaran. Lebih penting.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam reading
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi