Chapter Six
Lift Macet
POV: Dimas
Senin pagi, pukul tujuh lewat lima puluh, aku berdiri di pantry dengan timer ponsel di tangan.
Tiga menit.
Aku mengangkat kantong teh melati tepat saat angka di layar berubah menjadi nol, lalu membuangnya ke tempat sampah. Warnanya kuning keemasan. Wanginya lembut. Sempurna.
Lalu aku sadar aku tidak punya rencana untuk tahap berikutnya.
Mengantar teh ke ruang kaca finance di jam delapan kurang sepuluh, saat semua staf finance sedang datang dan menaruh tas, sama saja dengan mengumumkan sesuatu lewat pengeras suara. Menitipkan ke Pak Joko berarti biaya gorengan dan risiko Pak Joko bercerita ke seluruh lantai sebelas. Meninggalkannya di pantry berarti tehnya akan dingin, dan seseorang mungkin meminumnya.
Aku berdiri dengan gelas teh di tangan selama hampir satu menit, menimbang semua opsi seperti sedang merencanakan migrasi server.
“Itu buat aku?”
Aku berbalik. Diana berdiri di ambang pintu pantry, tas masih di bahu, rambut tergerai, pipinya sedikit merah karena dinginnya AC lobi. Rambut tergerai itu jatuh sampai pinggang, dan untuk sepersekian detik aku lupa aku sedang memegang gelas panas.
“Mbak datang lebih awal.”
“Aku selalu datang jam segini, Mas.” Diana melangkah masuk dan mengambil gelas itu dari tanganku. Jari kami bersentuhan, dan kali ini tidak ada yang pura-pura itu tidak terjadi. “Kamu yang nggak pernah datang jam segini. Biasanya kamu jam delapan lewat dua.”
“Mbak ngitung jam datang saya juga?”
“Aku ngitung banyak hal.” Diana menghirup wangi teh itu, memejamkan mata sebentar. “Tiga menit?”
“Tiga menit.”
Diana menyesapnya. Lalu tersenyum dengan cara yang membuatku lupa bahwa aku berdiri di pantry yang bisa dimasuki siapa saja kapan saja.
“Lebih enak dari punya Kevin,” katanya.
“Mbak belum nyobain punya Kevin hari ini.”
“Nggak perlu.” Diana berbalik, membawa tehnya. Di pintu, dia menoleh. “Mas, besok juga, ya.”
“Itu bukan bagian dari perjanjian, Mbak.”
“Perjanjiannya kan aku yang bikin.” Dia mengedipkan mata. “Kalau nggak, puisi Fajar.”
Aku menghela napas. Aku sudah tahu aku akan datang lebih awal besok.
Pukul sembilan pagi, dari mejaku di pojok IT, aku bisa melihat ruang kaca finance di seberang lantai. Biasanya aku tidak pernah memperhatikan ruangan itu. Pagi ini, mataku terus ke sana tanpa izin.
Diana duduk di mejanya, menatap layar, menelepon seseorang dengan wajah serius. Dewi Lantai 12 dalam mode kerja penuh. Gelas teh melati ada di samping keyboard-nya.
Lalu, di tengah telepon, Diana mengangkat gelas itu. Bukan untuk diminum. Dia mengangkatnya sedikit ke arah meja IT, menoleh, dan menatap tepat kepadaku melintasi seluruh lantai.
Seperti bersulang.
Lalu dia menyesapnya, meletakkan gelas, dan kembali ke telepon tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
Aku menunduk ke keyboard secepat mungkin.
“Lo ngetik apa?” tanya Sasha dari meja sebelah.
Aku melihat layar. Di kolom tiket keluhan, aku baru saja mengetik tehnya tiga menit tehnya tiga menit tehnya.
Aku menghapusnya. “Catatan.”
“Catatan apa?”
“Prosedur.”
Sasha menatap layarku, lalu ke ruang kaca finance, lalu kembali kepadaku. Dia tidak bertanya lagi.
Minggu kedua liga dimulai dengan agresif.
Bastian memimpin klasemen dengan tiga belas poin, dan dia bermain seperti orang yang terbiasa menang. Dia mengirim bunga ke ruang finance dengan kartu bertuliskan Untuk tim finance yang luar biasa, jadi Diana tidak bisa menolaknya tanpa terlihat tidak sopan. Dia mengajak Diana ke rapat lintas divisi yang sebenarnya tidak perlu dihadiri Finance Lead. Dia tertawa di saat yang tepat, memuji di saat yang tepat, dan berjalan di sisi Diana di lorong dengan jarak yang tepat.
Aku mencatat semuanya dengan tangan yang stabil.
Bastian +5, diajak ngobrol duluan oleh Diana di rapat. Bastian +7, Diana tertawa karena leluconnya soal printer lantai sembilan. Bastian +3, balasan chat.
Dua puluh delapan poin pada Selasa siang.
“Lo nulisnya kenceng banget,” kata Sasha, yang kebetulan lewat pantry saat aku mengupdate papan. Dia tidak tahu apa isi papan itu. Aku buru-buru menutupnya dengan kalender. “Spidolnya hampir patah.”
“Spidolnya memang jelek.”
“Spidolnya baru kemarin gue beliin buat lo.”
Aku tidak menjawab. Sasha menatapku sebentar, lalu pergi.
Aku menatap angka dua puluh delapan di papan, lalu menyadari bahwa aku memang menulisnya terlalu tebal. Hampir menembus papan.
Aku tidak tahu kenapa.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Selasa malam, pukul tujuh lewat dua puluh, gedung sudah hampir kosong.
Aku lembur karena salah satu switch jaringan di lantai sepuluh mati mendadak sore tadi. Diana lembur karena laporan pajak bulanan harus masuk besok pagi. Kami bertemu di depan lift lantai dua belas, masing-masing membawa tas, masing-masing terlihat lelah.
“Lembur juga, Mas?”
“Switch lantai sepuluh.”
“Aku nggak ngerti itu apa, tapi kedengarannya menyedihkan.”
“Memang menyedihkan, Mbak.”
Lift datang. Kami masuk. Diana menekan tombol lobi, lalu bersandar ke dinding lift dengan mata setengah terpejam. Rambutnya mulai lepas dari ikatan. Blazernya tersampir di lengan.
Lantai sebelas. Sepuluh.
Di antara lantai sembilan dan delapan, lift berguncang.
Lampu berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu padam.
Lift berhenti dengan sentakan yang membuat Diana tersandung ke depan. Aku menangkap lengannya secara refleks. Dalam gelap total, satu-satunya cahaya adalah titik hijau kecil di panel tombol.
Lalu lampu darurat menyala. Kuning pucat, redup, dari satu bohlam kecil di sudut langit-langit. Cukup untuk melihat bentuk, tidak cukup untuk melihat wajah.
“Mas.” Suara Diana pelan. “Ini kenapa?”
“Kayaknya listrik gedung trip. Ada genset, nanti nyala lagi.” Aku menekan tombol darurat. Interkom berbunyi, lalu suara satpam yang terputus-putus menyahut. Iya, Pak, listrik padam satu gedung. Genset sedang dinyalakan. Mohon tunggu sepuluh sampai lima belas menit. Tetap tenang.
“Sepuluh sampai lima belas menit,” ulangku. “Nggak apa-apa, Mbak. Aman.”
Tidak ada jawaban.
Aku menoleh. Dalam cahaya kuning pucat, aku melihat Diana masih berdiri di tempat aku menangkapnya. Tangannya masih memegang lengan flanelku. Erat.
“Mbak?”
“Aku...” Diana menelan ludah. “Aku agak takut gelap, Mas.”
Aku tidak tahu itu. Itu tidak ada di daftar cerita Diana di ruang server. Seblak, dangdut, film anjing. Tidak ada gelap.
“Lampu daruratnya nyala, Mbak.”
“Ini bukan terang. Ini setengah gelap. Setengah gelap lebih serem dari gelap total.”
Aku tidak bisa membantah logika itu.
“Mau duduk?”
Diana mengangguk. Kami duduk di lantai lift, bersandar ke dinding belakang. Diana tidak melepaskan lenganku. Justru, saat kami duduk, dia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai bahunya menempel di lenganku, dan kedua tangannya kini memeluk lengan itu seperti memeluk guling.
Aku menatap lurus ke pintu lift. Aku bisa merasakan napas Diana di bahuku. Hangat. Sedikit terburu-buru.
“Ngobrol, Mas,” bisik Diana. “Biar aku nggak mikirin gelapnya.”
“Ngobrol apa?”
“Apa aja. Cerita sesuatu. Kamu hampir nggak pernah cerita soal dirimu.”
Aku diam sebentar. Lalu, karena gelap, karena hanya ada kami berdua, karena tangan Diana sedikit gemetar di lenganku, aku bercerita.
Aku bercerita tentang Nisa. Adikku, sembilan belas tahun, kuliah semester tiga jurusan desain di Bandung. Anak yang terlalu pintar dan terlalu cerewet, yang menelepon setiap Minggu malam untuk melaporkan semua hal, dari nilai ujian sampai kucing tetangga kosnya yang melahirkan.
Aku bercerita bahwa orang tua kami meninggal saat aku kuliah semester lima. Bahwa sejak itu, aku yang membiayai Nisa. Bahwa aku mengambil pekerjaan IT support karena gajinya stabil, bukan karena itu impianku.
“Impian Mas apa?”
“Dulu pengen bikin game.” Aku tersenyum kecil di kegelapan. “Sekarang... pengen Nisa lulus aja dulu.”
Diana tidak bilang apa-apa. Tapi pelukannya di lenganku sedikit mengencang.
“Jadi,” kata Diana setelah beberapa saat, suaranya lebih tenang sekarang, “kopi gratis sebulan itu...”
Aku menoleh. “Mbak tahu soal itu?”
“Aku dengar dari tempat fotokopi. Dindingnya triplek.” Diana mendongak, dan dalam cahaya kuning pucat, aku bisa melihat senyumnya. “Kopi Mang Udin, sebulan, buat uang kos adikmu?”
“...Kira-kira setengah juta.”
“Jadi aku,” kata Diana pelan, “dihargai setengah juta.”
“Bukan Mbak yang dihargai. Jasa wasitnya.”
“Tetap aja.” Diana menyandarkan kepala ke bahuku. Sepenuhnya, kali ini. Pipinya menempel di flanel biru tua. “Wasit termurah se-Jakarta.”
“Mbak...”
“Tapi wasit terbaik.”
Rambutnya yang lepas dari ikatan jatuh ke lenganku, wangi melati, halus seperti benang yang tidak boleh kusut. Aku tidak berani menyentuhnya. Aku bahkan tidak berani bernapas terlalu dalam.
Aku tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Kepala Diana di bahuku terasa lebih berat dari kenyataannya, dan sekaligus lebih ringan dari apa pun yang pernah kupikul.
Lift sunyi. Hanya ada suara napas kami dan dengung samar genset dari bawah gedung yang mulai menyala.
“Mas,” bisik Diana.
“Iya, Mbak.”
“Detak jantungmu kencang banget.”
“Itu... karena lift macet. Adrenalin.”
“Hmm.” Diana tidak mengangkat kepalanya. “Punyaku juga kencang.”
“Karena takut gelap.”
“Iya,” kata Diana, dan aku bisa mendengar senyumnya. “Karena takut gelap.”
Lampu menyala pukul tujuh lewat tiga puluh enam.
Terang, putih, tiba-tiba. Aku menyipitkan mata. Lift bergetar, lalu mulai bergerak turun dengan pelan.
Aku menunggu Diana melepaskan lenganku. Lampu sudah terang. Tidak ada lagi gelap. Tidak ada lagi setengah gelap.
Diana tidak melepaskan lenganku.
Dia tetap duduk di sana, kepala di bahuku, kedua tangan memeluk lengan flanel, mata terpejam seolah sedang tidur siang.
“Mbak,” kataku pelan. “Lampunya udah nyala.”
“Aku tahu.”
“Mbak nggak takut lagi?”
“Takut.”
“Takut apa? Udah terang.”
Diana membuka satu mata, mendongak sedikit untuk menatapku dari jarak yang sangat dekat.
“Takut kalau aku lepas,” katanya pelan, “kamu balik jadi wasit lagi.”
Aku tidak bisa menjawab. Lift terus turun. Lantai tujuh. Enam. Lima.
Di lantai empat, Diana akhirnya melepaskan lenganku. Pelan-pelan, jari demi jari, seperti orang yang enggan meletakkan sesuatu yang baru saja dia temukan. Dia berdiri, merapikan rambut, memakai blazernya, dan saat lift berhenti di lobi, dia kembali menjadi Dewi Lantai 12. Tegak. Anggun. Rapi.
Kecuali satu hal.
Saat pintu terbuka, dia tidak berjalan keluar lebih dulu seperti biasa. Dia menungguku berdiri, lalu keluar berdampingan denganku, bahu kami hampir bersentuhan.
Pintu lift terbuka sepenuhnya.
Di lobi, di depan meja satpam, berdiri Bastian Wiryawan. Ponsel di tangan, kunci mobil di tangan lain, rupanya juga menunggu lift setelah listrik padam.
Matanya bergerak dari Diana kepadaku. Dari rambut Diana yang sedikit berantakan ke lengan flanelku yang kusut di bagian yang tadi dipeluk erat. Dari wajah Diana yang sedikit merah ke kupingku, yang aku tahu tanpa perlu melihat, pasti merah menyala.
“Malam, Diana,” kata Bastian dengan senyum ramahnya yang biasa. “Kejebak lift, ya? Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Mas Bastian. Untung ada Mas Dimas.”
“Untung,” ulang Bastian. Senyumnya tidak berubah. Tapi matanya, saat beralih kepadaku, tidak ikut tersenyum. “Untung ada wasit kita.”
Diana pamit dan berjalan ke pintu keluar. Bastian dan aku berdiri berdua di lobi yang sunyi.
“Dim,” kata Bastian, masih dengan senyum itu. “Lengan kemeja lo kusut.”
Aku menunduk melihat lenganku.
“Jangan lupa disetrika,” lanjut Bastian, lalu masuk ke lift yang baru saja kami tinggalkan. “Biar netral lagi.”
Pintu lift menutup.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 2, Selasa
- 1. Bastian — 28 poin
- 2. Kevin — 11 poin
- 3. Om Heru — 6 poin
- 4. Rendy — 3 poin
- 5. Ucup — 0 poin
- 6. Fajar — −5 poin
Catatan wasit: Bastian +15 minggu ini (rapat, lelucon printer, chat). Kevin +3 (teh melati, lagi). Om Heru +3 (rendang edisi kedua). Rendy +3 (Mbak Diana membalas poster ucapan pagi: “Lucu, Mas Rendy”).
Insiden lift Selasa malam: tidak dihitung. Wasit tidak menerima poin.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-48. Aku nggak takut gelap. Aku bohong. Tapi aku takut beneran pas lampunya nyala, karena aku pikir dia bakal geser. Dia nggak geser. Dia cerita soal Nisa, soal orang tuanya, soal mimpi bikin game. Aku dengerin detak jantungnya lima belas menit. Kencang. Sama kayak punyaku. Oh, dan Bastian lihat. Biarin. Aku nggak pernah ikut lombanya dia.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet reading
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi