Chapter One
Wasit yang Bukan Ancaman
POV: Dimas
Jumat sore, pukul lima lewat sepuluh, aku diculik.
Tidak secara harfiah. Kevin hanya muncul di samping mejaku, menutup laptopku setengah, lalu berbisik dengan wajah seperti agen rahasia yang terlalu banyak nonton film.
“Rapat penting. Warung Mang Udin. Sekarang.”
“Saya lagi update antivirus.”
“Antivirus bisa nunggu. Masa depan nggak.”
Aku menatap Kevin. Kevin menatap balik. Lima detik kemudian aku menyerah, karena tiga tahun bekerja di PT Arunika Digital mengajariku satu hal: kalau Kevin sudah memakai kata “masa depan”, obrolannya tidak akan selesai sebelum aku ikut.
Warung kopi Mang Udin berada di lantai dasar gedung, terjepit di antara minimarket dan tempat fotokopi. Mejanya plastik, kursinya plastik, tapi kopi tubruknya jujur.
Di meja paling pojok, lima laki-laki sudah duduk melingkar.
Bastian Wiryawan, Head of Marketing, duduk paling tegak dengan kemeja yang masih licin di jam lima sore, seolah setrikaan ikut lembur di dalamnya. Fajar dari Sales memegang buku catatan kecil bersampul kulit. Ucup dari HRD sedang mengurut betisnya sendiri sambil meringis. Rendy, desainer grafis, menggambar sesuatu di tisu. Dan Om Heru dari Procurement, satu-satunya yang berumur di atas empat puluh, membawa rantang.
“Duduk, Dim,” kata Bastian.
Aku duduk. Kevin duduk di sebelahku, lalu mengeluarkan laptop. Tentu saja Kevin membawa laptop.
“Oke,” Bastian menepuk meja pelan. “Kita semua tahu kenapa kita di sini.”
“Saya nggak tahu,” kataku.
Semua kepala menoleh kepadaku dengan tatapan kasihan.
“Diana,” kata Fajar, pelan dan khidmat, seperti menyebut nama tempat suci.
“Diana Prameswari,” tambah Ucup. “Finance Lead. Lantai dua belas. Ruang kaca.”
“Dewi Lantai 12,” kata Rendy sambil menunjukkan gambarnya di tisu. Ternyata wajah perempuan dengan lingkaran cahaya di atas kepala. Gambarnya bagus. Itu yang paling mengkhawatirkan.
Aku tentu tahu siapa Diana. Seluruh kantor tahu. Perempuan yang berjalan dari lift ke ruang finance setiap pagi pukul delapan kurang lima, dengan rambut panjang yang selalu rapi, blazer warna lembut, dan senyum sopan yang dibagikan rata ke semua orang. Senyum yang sama untuk direktur, untuk satpam, dan untuk Pak Joko yang sedang mengepel.
Dan, kalau aku mau jujur pada diriku sendiri, yang jarang sekali aku lakukan, dia cantik dengan cara yang membuat orang lupa sedang membawa apa. Aku pernah melihat staf marketing menabrak pintu kaca karena menoleh terlalu lama.
Senyum itu, menurut legenda kantor, sudah menolak dua belas ajakan makan malam dalam satu tahun.
“Masalahnya begini,” kata Bastian. “Kita semua tertarik. Kita semua dewasa. Daripada saling sikut diam-diam, saling jegal, dan suasana kantor jadi nggak sehat, lebih baik kita bersaing secara sportif.”
“Dengan sistem,” tambah Kevin, memutar laptopnya. Di layar ada spreadsheet berwarna-warni dengan judul LIGA DIANA — MUSIM 1.
Aku membaca kolom-kolomnya. Chat dibalas lebih dari satu kata: +3. Diajak ngobrol duluan oleh Diana: +5. Makan siang bareng: +10. Diana tertawa karena leluconmu: +7. Ditolak halus: −5.
“Ini...” Aku mencari kata yang sopan. “Ini kalian serius?”
“Sangat serius,” kata Om Heru, membuka rantangnya. Bau rendang langsung memenuhi warung. “Ini strategi saya. Masakan ibu saya. Perempuan zaman sekarang menghargai laki-laki yang dekat dengan ibunya.”
“Om, Om umur empat puluh satu,” kata Kevin.
“Justru itu. Matang. Kayak rendang.”
Tidak ada yang bisa membantah logika itu, jadi tidak ada yang mencoba.
“Ada satu aturan tambahan,” kata Bastian, suaranya berubah lebih serius. “Melanggar privasi Diana, langsung diskualifikasi. Nggak boleh nguntit, nggak boleh kepo ke keluarganya, nggak boleh bikin dia nggak nyaman. Kita bersaing, bukan meneror.”
Aku mengangguk pelan. Setidaknya ada satu hal waras di meja ini.
“Terus saya di sini buat apa?”
Enam pasang mata menatapku. Lalu, perlahan, enam senyum muncul.
“Kita butuh wasit,” kata Kevin.
“Orang yang netral,” kata Fajar.
“Yang nggak punya kepentingan,” kata Ucup.
“Yang,” Bastian mencari kata yang halus, “bukan ancaman.”
Aku berkedip. “Maaf?”
“Bukan maksud jelek, Dim,” kata Rendy cepat. “Tapi kamu kan... kamu.”
“Saya kenapa?”
Kevin menunjuk kemejaku. “Flanel kotak-kotak. Senin lalu flanel kotak-kotak. Senin sebelumnya juga.”
“Hari ini Jumat.”
“Dan kamu tetap pakai flanel,” kata Ucup, seolah itu bukti akhir di persidangan.
Aku menunduk melihat kemejaku sendiri. Flanel biru tua, kotak-kotak hitam. Nyaman. Tahan AC ruang server. Aku tidak melihat masalahnya.
“Saya keberatan dengan diksi ‘bukan ancaman’,” kataku datar.
“Dicatat,” kata Kevin, tidak mencatat apa pun.
“Tugas wasit gampang,” lanjut Bastian. “Catat poin. Update klasemen tiap Senin. Pimpin rapat evaluasi tiap Jumat di sini. Selesaikan sengketa kalau ada yang klaim poin nggak jelas.”
“Dan saya dapat apa?”
Bastian tersenyum seperti orang marketing yang baru saja menemukan titik lemah klien. “Kopi Mang Udin. Gratis. Sebulan penuh. Kami patungan.”
Aku memikirkannya. Kopi tubruk Mang Udin, dua kali sehari, tiga puluh hari. Itu kira-kira setengah juta rupiah yang bisa kusisihkan untuk uang kos adikku.
Dan lagi pula, tugas ini sederhana. Aku hanya perlu mencatat. Aku tidak perlu ikut. Aku tidak tertarik ikut.
Aku tidak pernah tertarik pada hal-hal yang jelas bukan untukku.
“Oke,” kataku.
Enam laki-laki bersorak pelan. Om Heru menyodorkan rendang sebagai tanda syukur. Mang Udin, yang mendengar semuanya dari balik etalase, menggeleng-gelengkan kepala.
Senin pagi, grup WhatsApp bernama Liga Diana (Resmi) sudah berisi tujuh anggota dan dua ratus empat belas pesan. Aku membacanya sambil menunggu lift.
Kevin: Musim resmi dimulai hari ini 08.00. Wasit, mohon siapkan papan.
Fajar: Aku sudah siapkan puisi pembuka musim.
Ucup: Jar jangan.
Fajar: “Wahai Diana yang jelita / Kau bagai lampu di kala gulita / Hatiku untukmu saja / Seperti...” belum selesai
Rendy: udah bagus sampai situ, berhenti
Bastian: Semangat semua. Main bersih.
Papan yang dimaksud adalah papan tulis kecil di pantry, tempat biasanya Pak Joko menulis jadwal piket bersih-bersih. Aku membersihkan sudut kanannya, menggambar tabel sederhana dengan spidol hitam, menulis enam nama, lalu menutupnya dengan kalender meja bergambar pemandangan Danau Toba.
Saat aku berbalik, Pak Joko sudah berdiri di ambang pintu pantry, memegang pel.
Kami saling menatap.
“Bapak tidak melihat apa-apa,” kataku.
“Saya nggak lihat apa-apa,” Pak Joko setuju. Lalu, setelah jeda yang terlalu panjang: “Gorengan bakwan di bawah enak, lho, Mas. Tiga ribu dua.”
Aku mengeluarkan uang lima ribu dari dompet. Pak Joko menerimanya dengan anggukan penuh pengertian, dan begitulah liga itu mendapat pegawai negeri pertamanya.
Pukul empat sore, saat lantai dua belas mulai lesu dan bau kopi sachet bercampur dengan suara printer, seseorang berhenti di depan meja IT.
Aku sedang mengetik tiket keluhan nomor 47 hari itu: mouse lantai 12 bagian sales tidak bisa klik kanan. Aku tidak langsung mengangkat kepala.
“Mas Dimas.”
Suaranya lembut, sedikit serak, dan sangat, sangat dikenal oleh setiap laki-laki yang semalam mengirim dua ratus empat belas pesan di grup.
Aku mengangkat kepala.
Diana Prameswari berdiri di depan mejaku, memeluk laptop perak di dada. Blazer krem. Rambut diikat setengah. Dari jarak ini, aku bisa melihat ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, sesuatu yang tidak terlihat dari jauh. Kulitnya bersih seperti iklan sabun yang tidak pernah kupercaya. Aku langsung merasa telah melihat sesuatu yang tidak boleh kulihat.
“Iya, Mbak.”
“Laptopku nggak mau nyala.” Diana meletakkan laptop di meja, lalu, alih-alih berdiri menunggu seperti karyawan lain, dia menarik kursi kosong Sasha dan duduk. Dekat. Lututnya hampir menyentuh lututku. “Dari tadi siang. Aku panik.”
Wajahnya sama sekali tidak terlihat panik.
Aku membuka laptop itu. Layarnya gelap. Aku menekan tombol power. Tidak ada respons. Aku melihat sisi kiri laptop. Lampu indikator baterai berkedip oranye.
“Mbak, ini baterainya habis.”
“Oh, ya?”
“Chargernya dibawa?”
Diana membuka tas kecilnya, mengeluarkan charger, dan menyerahkannya. Aku mencolokkannya ke stopkontak di bawah meja. Sepuluh detik kemudian, laptop menyala dengan logo yang ceria.
“Sudah, Mbak.”
“Wah.” Diana mencondongkan tubuh, menatap layar, lalu menatapku. Matanya cokelat terang, dan saat ini matanya jelas tertawa. “Ternyata dia cuma butuh disentuh orang yang tepat, ya.”
Aku membeku.
Otakku, yang mampu mengonfigurasi ulang jaringan seluruh lantai dalam empat jam, tiba-tiba hanya menampilkan layar biru.
“Baik, Mbak,” kataku. “Akan saya tindak lanjuti.”
Diana menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bahunya bergetar sedikit. Dia sedang menahan tawa, dan entah kenapa itu membuatku merasa lebih malu daripada kalau dia tertawa terang-terangan.
“Ditindaklanjuti gimana, Mas?”
“Maksud saya... chargernya. Mbak harus... rutin dicas.”
“Laptopnya atau aku?”
“Laptopnya, Mbak.”
“Oke.” Diana mengangguk serius, lalu matanya turun ke kemejaku. “Flanel lagi, Mas?”
“...Iya.”
“Ini Senin ketiga berturut-turut, lho.”
Aku menatapnya. “Mbak menghitung?”
“Aku menghitung banyak hal.” Diana berdiri, mengambil laptopnya, dan memeluknya lagi di dada. “Kerjaanku kan angka, Mas.”
Lalu dia mengedipkan satu mata. Cepat sekali, sampai aku tidak yakin itu benar terjadi.
Diana berjalan kembali ke ruang kaca finance dengan langkah yang sama anggunnya seperti setiap pagi. Saat dia membuka pintu, seorang staf finance menyapanya, dan Diana tersenyum sopan, senyum yang sama seperti biasa, senyum Dewi Lantai 12.
Tapi senyum yang tadi, yang di balik punggung tangan, bukan senyum itu.
Aku masih menatap pintu kaca itu saat suara datar terdengar dari meja sebelah.
“Kuping lo.”
Sasha Kirana, QA Engineer, sahabatku sejak semester dua, baru kembali dari toilet. Dia berdiri sambil memegang botol minum dan menatapku seperti melihat bug langka di sistem produksi.
“Kenapa kuping saya?”
“Merah. Kayak lampu indikator error.”
“AC-nya dingin.”
“AC bikin kuping biru, Dim, bukan merah.” Sasha duduk di kursinya, lalu mengerutkan dahi. “Kenapa kursi gue anget?”
Aku tidak menjawab. Ponselku bergetar di meja.
Fajar: WASIT. LAPORAN. Diana barusan ke meja IT??
Kevin: Konfirmasi, aku lihat dari pantry. Durasi 3 menit 40 detik.
Ucup: Dia senyum nggak?
Bastian: Dim, ini dihitung poin?
Aku menatap layar lama. Kemudian aku mengetik.
Dimas: Kendala teknis. Baterai laptop habis. Tidak ada poin.
Aku meletakkan ponsel, membuka lagi tiket nomor 47 tentang mouse yang tidak bisa klik kanan, dan berusaha keras tidak memikirkan kalimat ternyata dia cuma butuh disentuh orang yang tepat.
Aku gagal. Tapi setidaknya mouse sales itu berhasil diperbaiki.
Pukul enam lewat lima belas, lantai dua belas sudah hampir kosong. Aku menekan tombol lift sambil menyampirkan ransel, dan pintu terbuka dengan bunyi denting yang terlalu riang untuk jam pulang kantor.
Di dalam lift, sendirian, berdiri Diana.
Aku ragu sepersekian detik. Lift berikutnya mungkin datang dalam dua menit. Dua menit itu terasa jauh lebih aman.
“Masuk, Mas,” kata Diana. “Aku nggak gigit.”
Aku masuk. Aku berdiri di sudut paling jauh, menatap angka lantai di atas pintu seolah itu laporan server yang sangat penting. Dua belas. Sebelas. Sepuluh.
“Mas.”
“Iya, Mbak.”
“Kancingmu salah.”
Aku menunduk. Benar. Kancing ketiga flanelku masuk ke lubang keempat, dan seluruh kemejaku miring sedikit ke kiri, seperti grafik penjualan yang sedang turun. Aku sudah berjalan seperti ini sejak pagi. Ke rapat. Ke warung. Ke depan Diana.
Tidak ada yang memberitahuku. Tidak Kevin, tidak Sasha, tidak Pak Joko.
“Dari pagi, ya?” tanyaku pelan.
“Dari pagi.” Diana mengangguk, dan aku bisa mendengar senyumnya. “Aku nunggu ada yang bilang ke kamu. Ternyata nggak ada. Ya udah, aku aja.”
Sebelum aku sempat membetulkan sendiri, Diana sudah melangkah ke depanku. Jarinya yang ramping membuka kancing yang salah itu, lalu yang di bawahnya, lalu memasangnya kembali satu per satu dengan teliti, seperti sedang mencocokkan angka di laporan rekonsiliasi.
Aku berhenti bernapas. Aku bisa mencium wangi melati. Aku bisa melihat bulu mata Diana yang menunduk, panjang dan lentik, dan jepit rambut kecil berbentuk bintang yang menahan rambutnya di sisi kiri.
Lantai tujuh. Enam. Lima.
“Nah.” Diana menepuk dada flanelku dua kali, pelan, lalu mundur selangkah. “Udah lurus. Sekarang kamu kelihatan kayak orang yang tahu dia ganteng.”
“Mbak...”
Pintu lift terbuka di lobi. Diana keluar lebih dulu, berjalan dengan langkah anggun Dewi Lantai 12, lalu menoleh dari balik bahu.
“Besok kancingnya aku cek lagi, ya, Mas Wasit.”
Aku berdiri di dalam lift sampai pintunya menutup lagi dan membawaku naik ke lantai empat, tanpa kusadari.
Saat lift akhirnya membawaku turun lagi ke lobi, hujan sudah turun tanpa permisi.
Bukan gerimis yang sopan. Hujan Jakarta yang langsung deras, yang membuat lobi gedung penuh orang menatap layar ponsel dengan wajah putus asa karena tarif ojek online naik tiga kali lipat.
Aku keluar dari lift dengan ransel di punggung dan payung lipat hitam di tangan. Aku selalu membawa payung. Aku juga selalu membawa charger cadangan, obeng kecil, dan tisu basah. Sasha menyebutnya “tas emak-emak”. Aku menyebutnya “mitigasi risiko”.
Di dekat pintu putar, berdiri sendirian dengan laptop dipeluk di dada, ada Diana.
Dia sedang menatap hujan dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di kantor. Bukan senyum dewi. Bibirnya sedikit mengerucut, seperti anak kecil yang kesal karena tidak boleh main di luar.
Aku berhenti. Menimbang. Lalu, sebelum otakku selesai menimbang, kakiku sudah berjalan.
“Mbak.”
Diana menoleh. Wajahnya langsung berubah cerah. “Mas Wasit... eh, Mas Dimas.”
Aku pura-pura tidak mendengar kata pertama. Aku menyodorkan payung lipat itu.
“Pakai ini, Mbak. Laptopnya jangan sampai kena air.”
“Terus kamu?”
“Saya naik motor. Parkirannya dekat.”
“Parkiran motor kan di belakang gedung, Mas. Itu jauh.”
“Flanel cepat kering, Mbak.”
Diana menatap payung itu, lalu menatapku, lalu tertawa kecil, tawa yang pendek dan tidak percaya. “Kamu tuh ya.”
“Saya kenapa, Mbak?”
“Nggak.” Diana mengambil payung itu. Jarinya menyentuh punggung tanganku, sebentar, dan kali ini aku yakin itu bukan kebetulan, karena jari itu sempat diam di sana sepersekian detik lebih lama dari yang perlu. “Makasih, Mas. Besok aku balikin.”
“Nggak usah buru-buru.”
Aku berlari keluar menembus hujan sebelum kupingku mengkhianatiku lagi. Dalam sepuluh langkah, flanelku sudah basah kuyup. Dalam dua puluh langkah, aku sadar aku tersenyum sendiri seperti orang bodoh di tengah hujan.
Di tikungan gedung, aku menoleh sekali.
Diana masih berdiri di bawah payung hitam yang terlalu besar untuknya, di depan pintu putar. Dia tidak sedang memesan ojek. Dia memegang gagang payung itu dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang tidak boleh jatuh, dan menatap ke arah tikunganku.
Aku buru-buru berbalik dan berlari lebih kencang.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 1, Senin
- 1. Bastian — 0 poin
- 1. Kevin — 0 poin
- 1. Fajar — 0 poin
- 1. Ucup — 0 poin
- 1. Rendy — 0 poin
- 1. Om Heru — 0 poin
Catatan wasit: belum ada pertandingan. Kunjungan Mbak Diana ke meja IT tidak dihitung (kendala teknis).
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-41 naksir tukang IT. Laptopku sebenarnya nggak rusak, aku sendiri yang cabut chargernya dari jam sebelas. Kupingnya merah. Lucu banget. Terus dia kasih payungnya dan lari hujan-hujanan pakai flanel. Payungnya aku bawa pulang. Bilangnya besok aku balikin. Bohong. Besok aku bawa kopi aja.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman reading
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi