Chapter Four
Seblak di Ruang Server
POV: Dimas
Ruang server PT Arunika Digital adalah tempat paling dingin, paling bising, dan paling sepi di lantai dua belas.
AC-nya disetel enam belas derajat sepanjang tahun. Rak-rak hitam berdengung pelan seperti kawanan lebah yang sedang tidur. Lampunya putih pucat, dan satu-satunya kursi di dalamnya adalah kursi lipat plastik yang kubawa dari rumah dua tahun lalu.
Tidak ada yang mau masuk ke sana kecuali terpaksa. Karena itulah aku menyukainya.
Kamis siang, pukul dua belas lewat dua puluh, aku mendorong pintu ruang server dengan bahu sambil membawa laptop untuk mengecek backup mingguan. Aku berharap mendengar dengung server, seperti biasa.
Yang kudengar adalah suara seruputan.
Aku berhenti di ambang pintu.
Di pojok ruangan, duduk bersila di atas kardus bekas yang dilipat jadi alas, di antara rak server nomor tiga dan empat, ada Diana Prameswari.
Blazernya digantung di gagang rak. Rambutnya digelung tinggi dengan pulpen, memperlihatkan leher yang jenjang. Dan di pangkuannya ada mangkuk styrofoam berisi sesuatu yang merah menyala, berasap, dan baunya langsung menyerang hidungku dari jarak tiga meter.
Seblak.
Diana membeku dengan sendok di depan mulut. Kerupuk basah menggantung dari sendok itu. Bibirnya merah, entah karena lipstik atau karena cabai. Matanya berair.
Kami saling menatap.
“Ini,” kata Diana pelan, “bukan seperti yang kelihatannya.”
“Mbak lagi makan seblak di ruang server.”
“Oke. Ini persis seperti yang kelihatannya.”
Aku menutup pintu di belakangku, karena satu-satunya hal yang lebih buruk daripada seblak di ruang server adalah bau seblak yang keluar dari ruang server dan membuat orang bertanya-tanya.
“Mbak,” kataku, “server ini sensitif sama kelembapan.”
“Aku duduk jauh, kok. Dua meter.” Diana menunjuk jarak antara dirinya dan rak terdekat. “Aku ukur pakai langkah.”
“Kenapa makan di sini?”
Diana menatap mangkuknya sebentar, lalu menghela napas.
“Karena kalau aku makan seblak level lima di pantry, besok satu kantor tahu Mbak Diana makan seblak level lima sambil keringetan dan ingusan.” Dia mengusap hidung dengan tisu. “Dewi Lantai 12 nggak boleh ingusan, Mas. Itu aturan nggak tertulis.”
“Siapa yang bikin aturannya?”
“Semua orang.” Diana tersenyum kecil, tapi senyumnya miring. “Mereka nggak pernah bilang. Tapi setiap kali aku makan di pantry, ada yang ngelirik. Setiap kali aku ketawa kenceng, ada yang kaget. Lama-lama aku capek dilihatin. Jadi aku cari tempat yang nggak ada yang lihat.”
Dia mengangkat bahu.
“Ternyata ruang server. Dingin, sepi, dan cuma satu orang yang punya kunci.” Matanya naik ke arahku. “Dan orang itu nggak pernah ke sini jam makan siang. Biasanya.”
“Saya ngecek backup tiap Kamis.”
“Oh.” Diana berkedip. “Aku cuma riset hari Senin sampai Rabu.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau khawatir bahwa Diana melakukan riset.
“Mbak dapat kunci dari mana?”
“Pak Joko.” Diana menyeruput kuah seblaknya. “Tiga gorengan.”
Tentu saja.
Aku seharusnya mengusirnya. Itu prosedur. Ada stiker di pintu bertuliskan DILARANG MASUK SELAIN PETUGAS IT dan DILARANG MAKAN DAN MINUM, dan dua-duanya aku sendiri yang tempel.
Tapi Diana terlihat begitu nyaman di atas kardus itu, dengan kaki bersila, kemeja yang lengannya digulung sampai siku, dan mata yang berair karena pedas. Dia terlihat seperti orang yang akhirnya bisa bernapas.
Aku membuka kursi lipatku, meletakkannya dua meter dari rak, dan duduk.
“Lima belas menit,” kataku. “Habis itu buang mangkuknya di luar.”
Diana menatapku seperti aku baru saja menawarkan liburan ke Bali.
“Serius?”
“Lima belas menit, Mbak.”
“Kamu nggak lapor?”
“Lapor ke siapa? Saya kepala ruangan ini.”
Diana tertawa, dan karena tidak ada siapa pun di sana, dia tertawa sepenuhnya. Kepalanya terdongak, bahunya terguncang, dan suara tawanya bergema di antara rak-rak server yang berdengung. Itu suara yang sama sekali berbeda dari tawa sopan Dewi Lantai 12. Lebih keras. Lebih jelek. Jauh lebih indah.
Aku membuka laptop, pura-pura mengecek backup. Mataku tidak membaca apa pun.
“Mas mau?” Diana menyodorkan mangkuknya.
“Saya nggak kuat pedas.”
“Ini level lima, sih.”
“Saya kuat level satu.”
Diana menatapku dengan rasa kasihan yang tulus. “Level satu itu bukan seblak, Mas. Itu sup.”
“Saya suka sup.”
“Coba sesendok. Satu aja.” Diana menyendok kerupuk basah, meniupnya dua kali, lalu mengulurkan sendok itu ke arahku. Lengannya terentang penuh, karena dia masih menjaga jarak dua meternya dari rak, dan aku duduk tepat di batas itu.
Aku menatap sendok itu.
Itu sendok yang sama yang barusan masuk ke mulut Diana.
“Mbak, itu sendoknya...”
“Iya, sendokku. Cuma satu.” Diana menaikkan alis. “Kenapa? Jijik?”
“Bukan...”
“Terus?”
Aku tidak bisa menjelaskan bahwa masalahnya justru sebaliknya. Jadi aku mencondongkan tubuh, membuka mulut, dan memakan suapan itu sebelum otakku sempat memproses implikasinya.
Satu detik. Rasanya gurih, kenyal, sedikit manis.
Dua detik. Hangat.
Tiga detik. Api.
Mataku langsung berair. Telingaku berdenging. Lidahku terasa seperti baru saja menjilat knalpot motor. Aku menutup mulut dengan punggung tangan, terbatuk, dan wajahku memerah dari leher sampai ubun-ubun.
“Ya ampun, Mas!” Diana meletakkan mangkuk, panik sungguhan kali ini. “Ini, ini, minum!”
Dia menyodorkan botol air mineralnya. Aku meneguknya. Itu kesalahan. Air dingin hanya menyebarkan pedasnya ke seluruh mulut.
“Jangan air! Aduh, aku lupa!” Diana melihat sekeliling, mencari sesuatu, lalu menyambar map biru dari tasnya dan mulai mengipasi wajahku dengan cepat. “Napas, Mas. Napas lewat mulut. Hah hah hah. Ikutin aku.”
“Hah... hah...”
“Pinter. Terus.”
Diana berlutut di depan kursi lipat sekarang, melupakan aturan dua meternya sepenuhnya, mengipasiku dengan map berisi laporan pajak kuartal tiga. Rambutnya yang tergelung mulai lepas, beberapa helai jatuh ke pipinya. Dan di tengah kepanikannya, dia mulai tertawa lagi, tidak bisa menahan diri.
“Maaf. Maaf, Mas. Aku nggak ketawa. Ini nggak lucu.”
“Mbak... ketawa...”
“Mukamu merah banget! Kayak tomat yang lagi malu!”
Aku ingin protes, tapi aku hanya bisa terengah-engah. Dan di tengah semua itu, dengan lidah terbakar dan mata berair, aku memperhatikan sesuatu yang membuat dadaku terasa lebih panas daripada mulutku.
Diana sedang menyeka air mata di sudut mataku dengan ujung ibu jarinya.
Pelan. Hati-hati. Seperti menyeka debu dari sesuatu yang berharga.
Map biru berhenti bergerak. Tawa Diana mereda. Dengung server terdengar lebih keras di keheningan yang tiba-tiba.
Kami sangat dekat. Diana berlutut, aku duduk, wajah kami hanya terpisah sejengkal. Aku bisa melihat sisa cabai di sudut bibirnya, dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, dan bayanganku sendiri di mata cokelat terang itu.
“Udah mendingan?” bisik Diana.
“...Belum,” jawabku jujur, dan aku tidak sedang membicarakan pedasnya.
Diana menatapku. Lalu, perlahan, ujung bibirnya naik.
“Kalau gitu aku kipasin lagi,” katanya, dan mengangkat map birunya, kali ini dengan gerakan yang jauh lebih lambat, jauh lebih lembut, dan sama sekali tidak efektif untuk mendinginkan apa pun.
Lima belas menit menjadi dua puluh lima menit.
Aku tidak memperhatikan waktu. Aku sibuk mendengarkan Diana bercerita bahwa seblak level lima adalah satu-satunya kebiasaan yang dia bawa dari kosan zaman kuliah di Bandung. Bahwa dia sebenarnya suka nyanyi dangdut di kamar mandi. Bahwa dia pernah menangis karena film kartun tentang anjing yang menunggu pemiliknya, dan menolak menonton film anjing apa pun sejak itu.
“Jangan bilang siapa-siapa,” katanya setiap habis satu cerita.
“Saya nggak punya siapa-siapa buat dibilangin, Mbak.”
“Ada Sasha.”
“Mbak Sasha cuma peduli bug.”
Diana tersenyum, lalu memandangiku lama, seperti sedang menghitung sesuatu.
“Kamu tahu nggak, Mas,” katanya akhirnya. “Di kantor ini cuma kamu yang lihat aku ingusan makan seblak, dan kamu nggak kelihatan ilfil sama sekali.”
“Kenapa harus ilfil?”
“Itu dia.” Diana menyandarkan kepala ke dinding. “Kamu selalu nanya ‘kenapa harus’. Kayak hal-hal yang orang lain anggap aneh, buat kamu biasa aja.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku menutup laptop.
“Besok Mbak boleh makan di sini lagi,” kataku.
Diana menoleh cepat. “Hah?”
“Tapi bukan seblak. Bau. Server saya nggak suka.”
“Terus apa?”
“Apa aja yang nggak berkuah.”
Diana memikirkannya. “Martabak?”
“Boleh.”
“Martabak telor atau manis?”
“...Manis.”
Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa terlihat secantik itu dengan hidung merah dan mata sembab karena cabai. Tapi Diana bisa. Mungkin justru karena itu. Mungkin karena tidak ada orang lain yang pernah melihatnya begini.
Diana berdiri, menepuk-nepuk roknya, mengambil blazer dari gagang rak, lalu memakainya. Dalam hitungan detik, dia kembali menjadi Dewi Lantai 12, anggun dan rapi, kecuali satu helai rambut yang masih jatuh di pipi dan bibir yang masih merah karena cabai.
Di depan pintu, dia berhenti.
“Mas.”
“Iya, Mbak.”
“Besok aku bawa martabak manis. Tapi satu sendok, ya.” Dia menoleh, matanya berbinar penuh perhitungan. “Kita berbagi lagi.”
“Martabak nggak pakai sendok, Mbak.”
“Aku tahu.” Diana membuka pintu. “Makanya aku suapin pakai tangan.”
Pintu menutup.
Aku duduk di kursi lipat dalam dengung server, dengan lidah yang masih terbakar dan jantung yang berdetak terlalu cepat untuk ruangan bersuhu enam belas derajat.
Aku membuka laptop lagi. Backup mingguan masih belum dicek.
Aku mengeceknya tiga kali, karena dua kali pertama aku tidak membaca apa-apa.
Saat akhirnya berdiri untuk keluar, aku melihat sesuatu menempel di sandaran kursi lipatku. Sticky note kuning. Pasti ditempel Diana saat berlutut mengipasiku tadi, dan aku sama sekali tidak menyadarinya.
Kursi lipatnya keras. Besok aku bawa bantal kecil. Biar kamu betah, nggak kabur ke meja IT pas aku masih makan.
Di bawahnya, ditulis lebih kecil:
P.S. Kamu lucu kalau kepedesan. Tapi jangan dicoba lagi. Aku panik beneran.
Aku membaca sticky note itu tiga kali, sama seperti backup-nya. Lalu, alih-alih membuangnya, aku melepasnya pelan-pelan, melipatnya dua, dan menyelipkannya ke saku dada flanel. Tepat di atas jantung, meski aku sendiri tidak memilih tempat itu dengan sengaja.
Aku baru menyadarinya setelah sampai di meja, saat saku itu terasa hangat setiap kali aku menunduk.
Aku tidak memindahkannya.
Pukul empat sore, Sasha meletakkan sebotol susu cokelat dingin di mejaku tanpa berkata apa-apa.
Aku menatapnya. “Ini apa?”
“Susu. Buat lidah lo.” Sasha kembali ke kursinya. “Lo ngomong kayak orang habis kumur pakai cabe sejak jam satu.”
“Saya nggak...”
“Dim.” Sasha tidak menoleh dari layar. “Ruang server bau seblak. Gue lewat tadi.”
Aku diam.
“Gue nggak nanya,” lanjut Sasha datar. “Gue cuma bilang. Kalau lo mau bawa orang makan di ruang server, minimal buka exhaust fan-nya. Server lo bisa trauma.”
Aku membuka botol susu itu dan meminumnya. Dinginnya langsung meredakan sisa api di lidahku.
“Makasih, Mbak.”
Sasha tidak menjawab. Dia hanya mengetik, dan kali ini ketikannya tidak keras. Justru terlalu pelan, seperti orang yang sedang berpikir terlalu banyak.
Aku menyesap susu cokelat itu lagi, lalu tanpa sadar menyentuh saku dada flanel. Sticky note kuning itu masih di sana, terlipat dua. Aku bisa merasakan sudut kertasnya yang sedikit tajam di balik kain.
Di ruang kaca finance, Diana sedang menelepon klien dengan wajah serius. Tapi saat aku melirik ke sana, Diana sedang melirikku juga. Dia mengangkat jari telunjuk ke bibir, sst, lalu tersenyum, lalu kembali ke teleponnya.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 1, Kamis
- 1. Bastian — 13 poin
- 2. Kevin — 5 poin
- 3. Om Heru — 3 poin
- 4. Ucup — 0 poin
- 4. Rendy — 0 poin
- 6. Fajar — −5 poin
Catatan wasit: Bastian +10, makan siang bareng Mbak Diana di kantin bersama tim finance dan marketing (dewan memutuskan “bersama tim” tetap dihitung, 4–2). Catatan tambahan: Mbak Diana terlihat meninggalkan kantin setelah 10 menit. Lokasi selanjutnya tidak diketahui.
Catatan pribadi wasit (tidak untuk grup): lokasi selanjutnya diketahui.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-44. Dia makan dari sendokku. Pipinya merah, kupingnya merah, matanya berair, dan dia tetap bilang “belum” waktu aku tanya udah mendingan. Aku tahu dia nggak lagi ngomongin pedas. Aku juga nggak. Besok martabak manis. Aku udah latihan nyuapin bantal tiga kali.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server reading
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi