Chapter Eight
Klasemen Tandingan
POV: Diana
Senin siang, ruang rapat kecil divisi legal berubah menjadi markas rahasia.
Ruangan itu hanya muat empat kursi dan satu meja bundar. Tidak ada jendela, tidak ada dinding kaca, dan pintunya bisa dikunci dari dalam. Rara memesannya atas nama Review Kontrak Vendor — Rahasia, dan tidak ada yang berani mengganggu rapat legal yang berlabel rahasia.
Di atas meja ada dua kotak nasi padang, satu laptop, dan satu spreadsheet kosong.
“Oke,” kataku, memutar laptop agar Rara bisa melihat. “Mulai.”
Judul di bagian atas spreadsheet itu kuketik dengan huruf tebal: KLASEMEN TANDINGAN — PENILAIAN PESERTA OLEH PIALA.
Rara menatapnya lama. “Na, kamu sadar ini kekanak-kanakan, kan?”
“Sadar.” Aku membuka tutup kotak nasi. “Mereka bikin klasemen tentang aku. Aku bikin klasemen tentang mereka. Ini namanya keadilan.”
“Ini namanya balas dendam.”
“Balas dendam yang adil.” Aku menggigit rendang. “Kamu notulennya. Tulis.”
Rara menghela napas, menarik laptop, dan mulai mengetik. Dia sudah kalah sejak aku menunjukkan papan pantry dua minggu lalu, dan dia tahu itu.
Kami mulai dari bawah.
“Fajar,” kataku. “Keberanian, sepuluh. Rima, dua. Puisi tentang kabel, tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.”
“Itu pujian atau hinaan?”
“Dua-duanya.” Aku berpikir. “Tambahin: jangan pernah berhenti nulis puisi, tapi tolong jangan kirim ke aku.”
Rara mengetik.
“Ucup. Kasihan pinggangnya. Aku nggak pernah ikut kelas yoga Kamis, dari dulu aku ikutnya Sabtu. Tolong siapa pun kasih tahu dia.”
“Kenapa kamu nggak kasih tahu sendiri?”
“Karena aku Dewi Lantai 12, Ra. Dewi nggak ngurusin jadwal yoga orang.” Aku tersenyum. “Lagian, katanya fleksibilitasnya naik. Itu bagus buat dia.”
“Rendy.”
“Posternya lucu. Tapi poster hari Rabu kemarin gambar aku jadi ikan duyung yang lagi ngitung uang.” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu harus tersanjung atau takut. Skor: menakutkan tapi berbakat.”
“Om Heru.”
Aku tersenyum tulus untuk pertama kalinya siang itu. “Rendangnya juara. Ibunya jago masak. Tolong salamin ke ibunya, aku mau minta resep. Om Heru sendiri...” Aku berhenti. “Om Heru kayak paman yang baik. Skor: aku mau dia jadi paman.”
“Kevin.”
“Datanya akurat. Spreadsheet-nya lebih rapi dari punyaku. Tehnya enak.” Aku mengangkat jari. “Tapi kurang tiga detik.”
“Kamu tahu teh dikasih Kevin kurang tiga detik?”
“Aku nggak tahu. Aku ngerasa.” Aku menyuap nasi. “Tulis aja.”
Rara mengetik, lalu berhenti di nama berikutnya. Nama yang memimpin klasemen asli dengan empat puluh satu poin.
“Bastian.”
Aku diam sebentar. Aku meletakkan sendok.
“Bastian itu baik,” kataku akhirnya. “Dia perhatian. Dia ingat aku pesan salmon. Dia bawain bento buat seluruh tim, bukan cuma aku, jadi aku nggak bisa nolak tanpa kelihatan jahat.” Aku memutar-mutar sendok di kotak nasi. “Dia pintar. Dia ganteng. Kalau aku ngisi formulir ‘cowok ideal’ yang dibikin orang lain, dia pasti lolos semua kolom.”
“Terus?”
“Terus setiap kali dia ngobrol sama aku, aku ngerasa kayak lagi dipresentasiin.” Aku tersenyum, tapi senyumku lelah. “Dia jualan, Ra. Dia jualan dirinya. Dan dia jago jualan. Tapi aku bukan klien. Aku nggak butuh dibujuk beli.”
Rara mengetik pelan-pelan. Presentasinya bagus. Tapi Diana bukan klien.
Lalu dia menggulir ke baris terakhir. Baris yang kutambahkan sendiri pagi tadi sebelum Rara datang.
Dimas Aditya.
Kolom skor di sebelahnya sudah terisi. Bukan angka.
Tidak bisa dinilai. Bukan peserta.
Rara menatap baris itu, lalu menatapku. “Kenapa wasitnya masuk daftar?”
“Biar lengkap.”
“Na.”
“Hm?”
“Flanelnya mana?”
Aku berhenti mengunyah.
Rara menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan tangan. “Kamis malam aku lihat kamu turun dari lift jam setengah satu. Pakai flanel biru kotak-kotak, kebesaran dua nomor, lengannya kamu gulung tiga kali. Kamu pikir aku nggak lihat? Aku nunggu taksi di lobi.”
Aku menatap Rara. Rara menatapku.
“Masih aku pinjam,” kataku akhirnya, sangat pelan.
“Sudah dicuci?”
“...Belum.”
“Kenapa belum?”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. “Karena wanginya masih ada, Ra.”
Rara menatapku selama lima detik penuh. Lalu dia mengetik sesuatu di kolom skor baris terakhir, di bawah tulisan Tidak bisa dinilai. Bukan peserta.
Aku mengintip dari balik jari. Lalu membacanya.
Catatan notulen: Juara. Pialanya belum ngaku.
“Ra!”
“Aku cuma notulen. Aku nyatet fakta.”
Aku mengambil laptop itu, hendak menghapus. Jariku berhenti di atas tombol hapus selama tiga detik. Lalu aku mengubah satu kata saja.
Catatan notulen: Juara. Pialanya Wasitnya belum tahu.
Lalu aku menutup laptop dan kembali makan rendang dengan wajah yang terasa panas sampai telinga.
Pukul dua siang, perang dimulai di ruang kaca finance.
Sistem pembayaran vendor error. Dua puluh tiga transfer ke supplier yang seharusnya keluar hari ini tertahan semua, karena aplikasi yang kami pakai tiba-tiba menolak memproses dan hanya menampilkan pesan Kesalahan 502 dengan ikon wajah sedih yang sama sekali tidak membantu.
Lalu vendor pertama menelepon. Lalu yang kedua. Lalu yang ketiga, yang bicara dengan nada tinggi dan mengancam akan menghentikan pasokan.
Aku berdiri di tengah ruang kaca dengan telepon di telinga, satu tangan di pinggang. Aku bisa merasakan rahangku mengeras. Aku menjaga suaraku tetap tenang, tapi aku tahu setiap kata yang keluar terdengar seperti dipotong pakai pisau. Staf finance menunduk ke meja masing-masing. Tidak ada yang berani bicara.
Aku melihat pantulan wajahku sendiri di dinding kaca. Dan untuk sesaat, aku tidak mengenalinya. Bukan Dewi Lantai 12 yang tersenyum sopan. Bukan perempuan yang tertawa jelek di ruang server. Ini perempuan yang marah, lelah, dan lupa makan.
Staf junior mengirim tiket ke IT pukul dua lewat tujuh. Aku melihatnya mengetik URGENT tiga kali dengan tangan gemetar.
Tiga menit kemudian, pintu kaca terbuka. Dimas masuk dengan laptop di bawah lengan dan tas laptop di bahu. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menunjuk komputerku dengan dagu, dan aku mengangguk sambil tetap menelepon vendor keempat.
Masalahnya ternyata sederhana. Sertifikat keamanan server aplikasi pembayaran kedaluwarsa tadi pagi, dan tidak ada yang memperbaruinya karena pengingat otomatisnya masuk ke email yang sudah tidak dipakai.
Dimas memperbaikinya dalam delapan belas menit. Dia duduk di mejaku, karena hanya komputerku yang punya akses admin ke aplikasi itu, sementara aku berdiri di belakangnya. Aku bisa melihat tengkuknya, dan kerah flanel yang sedikit terlipat ke dalam. Tanganku gatal ingin merapikannya. Aku tidak melakukannya. Ada empat vendor dan tujuh staf di ruangan ini.
Pukul dua lewat dua puluh lima, aplikasi kembali normal. Dua puluh tiga transfer keluar sekaligus.
Aku menutup telepon. Lalu aku menatap layar yang menampilkan dua puluh tiga baris berwarna hijau bertuliskan Berhasil. Bahuku turun. Napasku keluar panjang, seperti balon yang dilepas.
Seluruh ruang kaca bertepuk tangan pelan. Staf finance junior hampir menangis lega.
Aku menjatuhkan diri ke kursi rapat di sebelah meja, memijat pelipis.
“Makasih, Mas,” kataku. Suaraku masih tajam di ujung-ujungnya. “Maaf ya tadi aku galak.”
“Mbak nggak galak ke saya.”
“Galak ke semua orang.” Aku memejamkan mata. “Aku tahu. Aku lihat mukaku di pantulan kaca tadi. Jelek banget. Kayak nenek sihir.”
Staf finance pura-pura sibuk. Tapi aku tahu semua telinga di ruangan ini sedang mendengarkan.
Lalu aku mendengar bunyi plastik. Dan bau sambal bawang langsung memenuhi ruangan.
Aku membuka satu mata. Lalu dua.
Di meja, di depanku, ada kotak styrofoam yang masih hangat.
“Ini...”
“Ayam geprek, Mbak. Level tiga.” Dimas berdiri, menutup laptopnya. “Mbak belum makan dari pagi. Saya lihat Mbak cuma minum kopi.”
“Aku makan nasi padang tadi siang sama Rara.”
“Mbak cuma makan setengah. Sisanya Mbak bungkus. Ada di kulkas pantry.”
Aku menatapnya. “Kamu buka kulkas pantry?”
“Saya ambil susu.” Dimas menyelipkan laptop ke bawah lengan. “Kotaknya ada nama Mbak.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menatap kotak ayam geprek itu, lalu menatapnya. Kamis malam. Ruang server. Aku sebenarnya lebih suka ayam geprek. Satu kalimat, diucapkan setengah mengantuk. Dan dia mengingatnya.
“Aku jelek, ya, Mas, kalau marah?” tanyaku pelan. Aku tidak sedang menggoda. Aku benar-benar ingin tahu.
Dimas berhenti di samping kursiku. Dia menatapku. Aku tahu apa yang dia lihat. Wajah lelah, rambut yang lepas dari gelungan, pelipis yang memerah karena kupijat, sisa amarah yang belum sepenuhnya hilang.
Dia menjawab dengan nada yang sama datarnya seperti saat melaporkan status server.
“Mbak cantik kalau lagi marah.”
Aku berkedip.
“Tapi,” lanjutnya, mengetuk tutup kotak ayam geprek dua kali dengan ujung jari, persis seperti yang kulakukan pada kotak bekal biru muda dua minggu lalu, “lebih cantik kalau udah makan.”
Lalu dia berjalan keluar dari ruang kaca finance, kembali ke pojok IT, duduk di kursinya, dan membuka tiket berikutnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Di ruang kaca finance, tidak ada yang bergerak.
Staf finance junior menutup mulutnya dengan dua tangan. Staf senior di meja sebelah menjatuhkan pulpen. Seseorang di pojok berbisik “ya ampun” terlalu keras.
Dan aku duduk membeku di kursi rapat dengan mulut sedikit terbuka.
Aku bisa merasakan panas itu naik. Bukan merah malu-malu yang manis. Merah total. Dari leher sampai dahi. Sampai telinga. Seperti seseorang baru saja menyalakan pemanas di bawah kulitku.
Aku sudah menolak dua belas ajakan makan malam dalam setahun tanpa kehilangan senyum sopan. Aku sudah menghadapi auditor, direksi, dan vendor yang berteriak. Aku tidak pernah, tidak sekali pun, kehilangan kata-kata di ruangan ini.
Aku menatap kotak ayam geprek di depanku.
Aku menatap pintu kaca.
Aku menatap pojok IT di seberang lantai, tempat dia sedang mengetik dengan wajah datar, kecuali kupingnya, yang dari jarak sejauh ini pun terlihat menyala.
Aku mengambil ponsel dengan tangan sedikit gemetar.
Diana: KAMU NGGAK BOLEH GITU
Dimas: Gitu gimana, Mbak?
Diana: NGOMONG GITU. DI DEPAN ORANG. DATAR GITU.
Diana: satu ruangan liat aku merah kayak tomat
Diana: aku Finance Lead mas. aku punya reputasi
Dimas: Maaf, Mbak. Saya cuma jawab pertanyaan.
Diana: jangan pake kalimat itu lagi
Diana: itu kalimat curang
Dimas: Baik, Mbak.
Diana: ....
Diana: ayamnya enak
Diana: levelnya pas
Diana: kok kamu tau aku suka level tiga??
Dimas: Mbak makan seblak level lima. Tapi itu kalau lagi senang. Kalau lagi capek, mungkin turun dua level.
Diana: ......
Diana: kamu ngitung juga ya ternyata
Dimas: Saya cuma ngikutin Mbak.
Aku meletakkan ponsel telungkup di meja. Lalu menyandarkan dahiku di atas ponsel itu. Lalu menggeram pelan, seperti kucing yang kalah main.
Dari balik rambutku, aku mendengar pintu kaca terbuka. Langkah sepatu yang kukenal. Rara, mengantar dokumen kontrak.
“Kenapa dia?” bisik Rara ke staf junior.
Staf junior itu berbisik penuh kekaguman, dan aku mendengar setiap katanya:
“Mas IT-nya bilang Mbak Diana cantik kalau marah, Mbak.”
Hening sebentar. Lalu bunyi ketukan cepat di layar ponsel.
Aku tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu Rara sedang membuka spreadsheet kami di Google Drive. Malamnya, saat aku membukanya sendiri, ada satu baris baru di bawah Catatan notulen.
Update hari Senin, 14.31: Wasitnya mulai tahu.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 4, Senin
- 1. Bastian — 44 poin
- 2. Kevin — 14 poin
- 3. Om Heru — 9 poin
- 4. Rendy — 6 poin
- 5. Ucup — 0 poin
- 6. Fajar — −5 poin
Catatan wasit: Bastian +3 (chat). Insiden aplikasi pembayaran vendor: perbaikan teknis, tidak dihitung.
Catatan Kevin di grup (dicatat wasit sesuai aturan transparansi): “Satu kantor bilang Diana merah banget jam 14.30. Ada yang tahu kenapa?” Tidak ada jawaban dari wasit.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-61. Klasemen tandinganku selesai. Semua peserta dapat nilai. Wasitnya nggak, karena dia bukan peserta. Lalu jam dua siang dia bilang aku cantik kalau marah, dengan muka kayak lagi baca laporan server, dan aku nggak bisa ngomong apa-apa selama tujuh menit. Tujuh menit. Rara ngitung. Aku yang selama ini menyerang. Hari ini aku diserang balik. Dan rasanya, ya Tuhan, rasanya enak banget kalah.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan reading
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi