Chapter Five
Tips dari Wasit
POV: Dimas
Jumat pagi, pukul delapan lewat lima belas, meja IT dikepung.
Fajar di kiri, memeluk buku catatan bersampul kulitnya. Ucup di kanan, berjalan agak pincang karena kelas yoga semalam. Kevin di depan, tentu saja dengan laptop terbuka.
Aku menatap ketiganya dari balik monitor. “Ada yang laptopnya rusak?”
“Nggak,” kata Kevin. “Kami butuh konsultasi.”
“Saya IT support, bukan konsultan.”
“Justru itu.” Kevin memutar laptopnya. Di layar ada grafik batang berwarna-warni dengan judul Frekuensi Interaksi Diana per Divisi, Minggu 1. Batang paling tinggi, jauh melampaui yang lain, berlabel IT. “Data menunjukkan Diana paling sering berinteraksi dengan divisi IT. Laptop dua kali, printer satu kali, kopi satu kali.”
“Itu kerjaan teknis.”
“Tetap saja,” kata Ucup, mengurut pinggangnya. “Kamu yang paling sering ngobrol sama dia, Dim. Kamu pasti tahu dia suka apa.”
Aku membuka mulut untuk bilang tidak tahu. Lalu aku teringat seblak level lima, tawa yang bergema di ruang server, film anjing yang bikin nangis, dan dangdut di kamar mandi.
Aku menutup mulutku lagi.
“Saya cuma tahu hal teknis,” kataku akhirnya.
“Hal teknis juga boleh,” kata Fajar penuh harap. “Apa saja.”
Aku menimbang. Aku wasit. Wasit harus netral. Tapi wasit juga tidak boleh membiarkan pemain melakukan pelanggaran yang membuat Diana tidak nyaman. Dan melihat kualitas strategi mereka sejauh ini, kemungkinan pelanggaran itu tinggi sekali.
“Oke,” kataku. “Tiga hal.”
Ketiga laki-laki itu mencondongkan tubuh. Kevin membuka dokumen baru.
“Satu. Jangan gombal. Mbak Diana sudah dipuji orang tiap hari. Dia capek.”
Fajar memeluk buku puisinya lebih erat, seperti melindungi anak.
“Dua. Ngobrol soal hal biasa. Kerjaan, cuaca, makan siang. Jangan bahas penampilannya.”
“Terus kalau dia cantik banget hari itu?” protes Ucup.
“Dia cantik tiap hari, Mas. Jadi nggak perlu dibahas tiap hari.”
Hening sebentar. Ketiganya menatapku.
Aku berdeham. “Maksud saya, secara statistik.”
“Secara statistik,” ulang Kevin pelan, mengetiknya.
“Tiga.” Aku buru-buru melanjutkan. “Kalau mau kasih sesuatu, teh melati. Seduh tiga menit. Jangan lebih. Dia sering lupa angkat kantong tehnya, jadi pahit.”
Kevin berhenti mengetik. “Tiga menit?”
“Tiga menit.”
“Kok kamu tahu sedetail itu?”
Aku menatap layar monitorku sendiri dengan sangat serius. “Gelasnya sering ketinggalan di wastafel pantry. Saya lihat waktu cuci tangan. Warnanya terlalu pekat. Itu teh yang diseduh lebih dari lima menit.”
Fajar, Ucup, dan Kevin saling pandang.
“Wasit kita,” kata Ucup kagum, “detektif.”
“Analis data,” koreksi Kevin, dan untuk pertama kalinya dia menatapku dengan rasa hormat profesional.
Aku tidak tahu harus lega atau merasa bersalah.
Sebelum pergi, Fajar menyodorkan buku catatannya.
“Satu lagi, Dim. Tolong review. Aku tahu kamu bilang jangan gombal, tapi aku udah nulis ini semalaman. Sayang kalau dibuang.”
Aku membaca halaman yang dibuka. Tulisan Fajar miring-miring, penuh coretan.
Kau seperti server di ruang yang dingin Tetap menyala walau tak ada yang memandang Aku ingin jadi kabel di sisimu Menghubungkan hatiku ke jaringanmu, sayang
Aku membacanya dua kali. Lalu tiga kali, karena aku tidak percaya ada orang yang bisa menulis kalimat seperti itu dengan sengaja.
“Gimana?” tanya Fajar.
“Rimanya...” Aku mencari kata yang tidak menyakitkan. “Rimanya ada.”
“Kan! Aku tahu kamu ngerti!” Fajar berbinar. “Aku sengaja pakai tema IT. Biar modern.”
“Mas Fajar, saran saya jangan dikirim.”
“Kenapa?”
“Karena itu...” Aku menyerahkan buku itu kembali. “Itu terlalu personal. Untuk server.”
Fajar mengangguk-angguk, tidak sepenuhnya paham, lalu pergi dengan wajah berpikir. Aku berharap dia memikirkan untuk membakar puisi itu.
Aku tidak sadar bahwa Pak Joko, yang sedang mengelap meja sebelah, mendengar semuanya.
Pukul dua belas lewat lima belas, ruang server sudah berbau martabak manis.
Diana sudah duduk di atas kardus lipatnya, lebih rapi hari ini, dengan kotak martabak terbuka di pangkuan. Cokelat, keju, kacang. Menteganya mengilap di bawah lampu putih pucat. Exhaust fan di dinding berputar, karena aku menyalakannya sebelum turun membeli minum.
Aku masuk dengan dua gelas teh melati hangat. Diseduh tiga menit.
Diana melihat gelas itu dan tersenyum seperti sudah tahu.
“Duduk, Mas,” katanya, menepuk lantai di sebelahnya. Bukan kursi lipat. Lantai. Di atas kardus. Di sebelahnya.
Aku melihat kursi lipatku. Lalu kardus itu. Lalu Diana.
Aku duduk di kardus.
Bahu kami hampir bersentuhan. Diana mengambil satu potong martabak, memisahkan bagian tengahnya yang paling tebal, lalu mengangkatnya ke depan mulutku.
“Aaa.”
“Mbak, saya bisa ambil sendiri.”
“Aku udah latihan semalam,” kata Diana serius. “Sayang kalau nggak dipakai.”
“Latihan sama siapa?”
“Bantal.”
Aku tidak bisa membayangkan Diana Prameswari menyuapi bantal di kamarnya. Lalu aku membayangkannya, dan itu jauh lebih berbahaya.
Aku membuka mulut. Diana menyuapiku. Jarinya menyentuh bibir bawahku sepersekian detik, meninggalkan sedikit cokelat. Diana menatap noda cokelat itu, lalu, tanpa ragu, menyekanya dengan ibu jari.
Lalu menjilat ibu jarinya sendiri.
Aku tersedak martabak.
“Ya ampun, Mas, minum.” Diana menyodorkan teh melati, menepuk-nepuk punggungku. “Kamu tuh kenapa sih tiap makan sama aku keselek terus?”
“Mbak... yang...”
“Aku kenapa?”
Aku tidak menjawab. Aku minum teh sampai setengah gelas.
Kami makan dalam diam yang nyaman selama beberapa menit. Diana menyuapiku dua potong lagi, dan aku menyerah memprotes setelah potongan kedua. Dengung server menjadi musik latar. Exhaust fan berputar pelan.
“Mas,” kata Diana tiba-tiba. “Tadi pagi meja kamu ramai, ya?”
Aku berhenti mengunyah.
“Pak Joko cerita,” lanjut Diana ringan. “Katanya anak-anak minta tips ke kamu.”
“Pak Joko...”
“Dua gorengan.” Diana tersenyum. “Aku udah langganan.”
Aku meletakkan gelas teh. “Mbak, saya cuma...”
“Kamu bilang ke mereka jangan gombal, kan?”
“...Iya.”
“Terus Fajar tetap minta kamu review puisinya.”
Aku memejamkan mata. “Pak Joko dengar semua?”
“Pak Joko dengar semua, Mas. Dia OB. Mereka itu sebenarnya intelijen kantor.” Diana membersihkan jarinya dengan tisu, lalu memutar tubuh sedikit, menghadapku sepenuhnya. Lututnya menyentuh pahaku. “Mau dengar sesuatu?”
“Apa?”
Diana berdeham. Duduk tegak. Menatap mataku dengan kesungguhan seorang pembaca puisi di panggung tujuh belasan.
“Kau seperti server di ruang yang dingin,” katanya pelan.
Aku membeku.
“Tetap menyala walau tak ada yang memandang.” Diana mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya turun, lembut. “Aku ingin jadi kabel di sisimu.”
Wajahnya semakin dekat. Dari jarak ini, bulu matanya terlihat panjang sekali, dan bibirnya masih menyisakan sedikit gula martabak.
“Menghubungkan hatiku,” bisiknya, “ke jaringanmu.”
Jeda.
“Sayang.”
Ruang server sunyi kecuali dengung mesin. Aku tidak bergerak. Tidak bernapas. Aku bisa merasakan panas naik dari leher ke pipi ke kuping, dan aku tahu, aku tahu, bahwa wajahku saat ini lebih merah daripada saat makan seblak level lima kemarin.
Diana menatap wajahku. Lalu senyumnya mengembang perlahan, penuh kemenangan.
“Berhasil,” katanya.
“Mbak...”
“Puisi paling jelek se-Jakarta. Rimanya maksa. Diksinya kacau. Kabel di sisimu itu maksudnya apa coba?” Diana tertawa kecil. “Dan tetap berhasil.”
Aku menunduk, menatap martabak di pangkuan Diana karena itu satu-satunya tempat aman untuk mataku.
“Kenapa bisa berhasil, Mas?” tanya Diana, pelan. Bukan menggoda. Benar-benar bertanya.
Aku diam lama. Kemudian, sangat pelan, nyaris tenggelam dalam dengung server:
“Karena yang bacain Mbak.”
Kali ini giliran Diana yang membeku.
Senyum kemenangannya hilang. Matanya melebar sedikit. Dan untuk pertama kalinya sejak Senin, aku melihat warna merah naik ke pipi Diana Prameswari, bukan karena cabai, bukan karena tertawa, tapi karena sesuatu yang kukatakan.
Diana memalingkan wajah ke rak server nomor empat.
“Curang,” gumamnya.
“Saya cuma jawab pertanyaan, Mbak.”
“Wasit nggak boleh curang.”
“Saya nggak ikut lomba.”
Diana menoleh lagi. Pipinya masih merah. Tapi matanya berbinar dengan cara yang membuatku merasa baru saja melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.
“Belum,” kata Diana.
Rapat evaluasi Jumat sore di warung Mang Udin berlangsung kacau.
Kevin melaporkan bahwa dia memberikan teh melati seduh tiga menit kepada Diana pukul tiga sore. Diana menerimanya dengan senyum dan berkata terima kasih.
“Poin!” seru Kevin. “Itu lebih dari satu kata! Plus dia senyum!”
“Plus tiga,” kataku, mencatat.
“Tapi,” lanjut Kevin, wajahnya berubah, “setelah itu dia nanya, ‘Kok Mas Kevin tahu tiga menit?’”
“Terus kamu jawab apa?” tanya Bastian.
Kevin menelan ludah. “Aku panik. Aku jawab, ‘Kata wasit.’”
Seluruh meja menoleh kepadaku.
“Terus Diana bilang apa?” tanya Ucup.
Kevin menatapku dengan tatapan curiga yang baru lahir. “Dia ketawa. Terus dia bilang, ‘Bilang ke wasitnya, makasih. Tapi lain kali bikinin sendiri aja.’”
Hening.
Om Heru berhenti mengunyah rendang. Fajar menutup buku puisinya. Rendy berhenti menggambar di tisu.
“Dim,” kata Bastian perlahan. “Diana tahu soal wasit?”
“Saya nggak tahu,” jawabku. Itu bukan sepenuhnya bohong. Aku tidak tahu seberapa banyak Diana tahu.
“Dan kenapa,” lanjut Bastian, matanya menyipit, “Diana minta wasitnya bikinin teh sendiri?”
Aku meminum kopi tubrukku. Kopi gratis. Hasil patungan enam orang yang sekarang semuanya menatapku.
“Mungkin karena teh Mas Kevin,” kataku akhirnya, “kurang tiga detik.”
Kevin memukul meja. Fajar tertawa. Ucup bilang itu masuk akal. Om Heru melanjutkan makan rendang.
Hanya Bastian yang tidak tertawa. Dia menatapku lama, dengan senyum orang marketing yang sedang menghitung ulang strategi kompetitor.
“Lo netral kan, Dim?”
“Netral, Mas.”
“Oke.” Bastian bersandar. “Gue percaya.”
Tapi nadanya mengatakan sebaliknya.
Pukul enam sore, saat aku berjalan ke parkiran motor di basement, aku melihat sesuatu di jok motorku.
Kotak martabak. Yang tadi siang. Diikat rapi dengan karet gelang, dan di atasnya ada sticky note kuning yang ditempel miring.
Sisanya buat Nisa. Bilangin dari kakak cantik di kantor kakaknya.
Aku berdiri lama di samping motor. Aku tidak ingat pernah bercerita soal Nisa ke Diana. Lalu aku ingat: aku pernah. Di ruang server, saat Diana bertanya kenapa aku selalu pulang tepat waktu setiap Minggu. Satu kalimat. Adik saya telepon tiap Minggu malam. Hanya itu.
Diana mengingat satu kalimat itu.
Aku memotret kotak martabak itu dan mengirimnya ke Nisa.
Dimas: Ada kiriman martabak. Dari teman kantor.
Nisa: KAKAK PUNYA TEMAN??
Nisa: Cewek?? Ini tulisan cewek. Bulet-bulet.
Nisa: “kakak cantik” katanya. KAK. SIAPA DIA.
Dimas: Teman kantor.
Nisa: Kirim ke kosku besok. Aku mau kenalan sama martabaknya dulu.
Aku memasukkan ponsel ke saku, mengikat kotak martabak di jok belakang dengan hati-hati, dan menyadari aku tersenyum sendirian di basement parkiran.
Malam itu, saat aku baru selesai mandi, ponselku bergetar.
Diana: Teh dari Kevin enak.
Diana: Tapi kurang tiga detik.
Dimas: Mbak tahu dari mana saya bilang gitu?
Diana: Aku nggak tahu. Aku cuma ngerasa.
Diana: Yang kemarin lebih enak.
Diana: Yang dibikin wasit.
Diana: Senin bikinin lagi ya, Mas.
Diana: Kalau nggak, aku bacain puisi Fajar lagi. Di depan semua orang.
Aku menatap pesan terakhir itu dengan horor yang tulus.
Dimas: Baik, Mbak. Akan saya tindak lanjuti.
Diana: Hahahaha
Diana: Selamat malam, kabel di sisiku.
Aku melempar ponsel ke kasur dan menutup wajah dengan bantal.
Bantalnya, sayangnya, tidak membantu sama sekali.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 1, Jumat
- 1. Bastian — 13 poin
- 2. Kevin — 8 poin
- 3. Om Heru — 3 poin
- 4. Ucup — 0 poin
- 4. Rendy — 0 poin
- 6. Fajar — −5 poin
Catatan wasit: Kevin +3 (teh melati, balasan lebih dari satu kata). Ucup belum mendapat poin; Mbak Diana tidak hadir di kelas yoga Kamis. Fajar tidak mengirim puisi minggu ini (keputusan bijak, tidak ada poin).
Catatan wasit (dihapus dari papan, ditulis ulang di HP): puisi Fajar ternyata berhasil. Tergantung siapa yang bacain.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-45. “Karena yang bacain Mbak.” Dia ngomong itu sambil nunduk, kupingnya merah, dan aku yang kalah. Aku. Diana Prameswari. Kalah sama tukang IT yang pakai flanel lima hari berturut-turut. Rara bilang ini namanya karma. Aku bilang ini namanya rezeki.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit reading
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi