← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Twenty Six

Juara Abadi

POV: Dimas

Enam bulan kemudian.

Pukul tujuh tiga puluh lima, pantry lantai dua belas sudah wangi teh melati.

Aku berdiri di depan meja pantry, mengelap meja yang sudah bersih, menunggu timer bebek berbunyi. Aku memakai flanel biru tua kotak-kotak. Masih. Beberapa hal tidak perlu berubah.

Tapi beberapa hal sudah berubah.

Di dada kiri flanelku, tersemat ID card baru dengan tulisan Dimas Aditya — IT Infrastructure Lead. Kontrakku diperpanjang tiga bulan lalu, dengan status karyawan tetap dan kenaikan gaji yang membuat Nisa menelepon sambil menjerit selama empat menit penuh. Proyek migrasi server yang kupimpin bersama Clara mendapat penghargaan dari direksi, dan direktur utama, yang dulu menertawakan slide yang melompat, sekarang menyapaku di lift dengan nama.

Di lemari pantry, kotak teh melati supermarket dengan stiker Diana — jangan diambil, plis masih ada. Tapi di sebelahnya sekarang ada kotak kedua, dengan stiker tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan: Dimas — punya Diana juga.

Timer berbunyi. Aku mengangkat kantong teh. Dua gelas.

Pukul tujuh empat puluh, langkah kaki di pintu.

“Pagi, Mas.”

Diana berdiri di ambang pintu dengan blazer biru muda, rambut digerai, dan jepit bintang kecil di sisi kiri. Cahaya pagi dari jendela pantry jatuh di pipinya, dan setelah sembilan bulan, aku masih harus mengingatkan diri sendiri untuk bernapas. Dia sudah berdiri di sana sepuluh detik, aku tahu, menontonku mengelap meja yang sudah bersih. Itu masih bagian favoritnya.

“Pagi,” kataku.

Tidak ada Mbak lagi. Bahkan di kantor. Sejak Lembang, satu lantai sudah tahu, dan setelah dua minggu gosip yang intens, satu lantai berhenti peduli dan mulai menganggapnya biasa. Staf junior finance sekarang menyebut kami Pasangan Pantry. Kevin membuat stiker WhatsApp dari foto Rendy di Lembang, aku mengangkat Diana di panggung, dan stiker itu menjadi stiker paling sering dipakai di grup All Staff.

Diana masuk, mengambil gelas teh, menyesapnya. Lalu dia berjinjit dan mengecup pipiku. Cepat. Di pantry. Dengan pintu terbuka.

Staf marketing yang lewat tidak menoleh.

“Tiga menit,” kata Diana.

“Tiga menit.”


Enam bulan bukan waktu yang panjang. Tapi cukup untuk banyak hal.

Fajar membuka warung soto di dekat kantor bulan lalu. Namanya Soto Rima. Menu andalannya soto ayam kuah bening, dan di setiap meja ada kartu kecil berisi puisi pendek. Rimanya masih buruk. Sotonya luar biasa. Antreannya mengular sampai tempat fotokopi.

Om Heru pulang ke Padang dan memeluk ibunya di bandara. Fotonya di grup All Staff mendapat dua ratus reaksi hati.

Kevin dan Sasha lulus masa QA tiga bulan. Mereka sekarang makan siang bersama setiap hari.

Rendy ikut pameran ilustrasi di Kemang. Karyanya yang paling banyak difoto adalah lukisan cat air seorang laki-laki dengan rompi oranye mengangkat seorang perempuan di atas panggung, dengan kabut di belakang mereka. Judulnya: Wasit yang Turun ke Lapangan.

Bastian dan Clara mulai berkencan dua bulan setelah Lembang. Bastian tidak membawa set teh atau bento. Dia menemani Clara ke meetup developer game indie di Kemang dan duduk tiga jam mencatat istilah yang tidak dia mengerti. Clara bilang itu hal paling romantis yang pernah dilakukan siapa pun untuknya.

Dan Nisa lulus satu semester lebih cepat, dengan nilai tertinggi di angkatannya, lalu mengirim pesan ke Diana duluan, bukan ke kakaknya. Aku tahu, karena dia meneruskan tangkapan layarnya padaku semenit kemudian.

Nisa: KAK DIANA AKU LULUS

Nisa: Jangan bilang kakak dulu, aku mau bikin dia nangis di telepon

Nisa: Btw kak, kapan nih? Aku udah siapin baju bridesmaid dari Lembang lho

Di bawah tangkapan layar itu, Nisa menambahkan satu pesan untukku: Kak Diana nggak bales yang terakhir. Tapi nggak dihapus juga. Itu kode, Kak. KODE.


Pukul sebelas, aku melakukan sesuatu yang sudah kurencanakan selama tujuh bulan.

Aku mengirim tiket IT. Bukan menerima. Mengirim.

Pelapor: Dimas Aditya, IT Infrastructure. Keluhan: Laptop milik Diana Prameswari (Finance) perlu pemeliharaan rutin. Mohon diserahkan ke ruang server. Pemilik laptop diharapkan hadir.

Di ruang kaca finance, Diana membaca tiket itu. Lalu membacanya lagi. Lalu menoleh ke pojok IT, tempat aku sedang menatap layar komputer dengan wajah sangat datar dan kuping yang sangat merah.

Dia mengirim pesan.

Diana: Kamu kirim tiket ke aku?

Dimas: Laptopmu perlu pemeliharaan.

Diana: Laptopku sehat. Kemarin baru di-update.

Dimas: Perlu dicek ulang.

Diana: Mas. Ini kebalik. Harusnya aku yang ngirim tiket “laptop rusak”.

Dimas: Hari ini kebalik.

Dimas: Tolong bawa laptopnya ke ruang server. Jam dua belas.

Dari balik dinding kaca, aku melihatnya menatap ponsel lama.

Diana: Bawa bantal kuning?

Dimas: Bawa bantal kuning.


Pukul dua belas, ruang server tetap dingin. Enam belas derajat. Dengung mesin. Exhaust fan berputar.

Tapi hari itu ada yang berbeda.

Kardus di pojok sudah diganti. Bukan kardus lagi, tapi karpet kecil bermotif kotak-kotak biru tua, yang mirip sekali dengan motif flanel tertentu. Di atasnya, dua bantal kuning. Satu yang lama, yang sudah sedikit pudar. Satu yang baru, dengan sulaman kecil di sudutnya: Kardus Kita.

Di antara kedua bantal, dua gelas teh melati. Uapnya masih naik.

Diana berdiri di ambang pintu dengan laptop di pelukan dan bantal kuning cadangan di bawah lengan. Dia menatap karpet itu. Bantal bersulam itu. Teh itu.

Lalu dia menatapku, yang berdiri di samping rak server nomor empat dengan flanel biru tua dan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana.

“Mas,” katanya pelan. “Ini apa?”

“Pemeliharaan rutin,” kataku.

“Kamu bikin karpet?”

“Beli. Di Tanah Abang.” Aku menelan ludah. “Aku nawar. Dapat diskon lima belas persen. Kurang lima dari rekormu.”

Diana tertawa. Kecil, kaget, sedikit gemetar. Dia menutup pintu di belakangnya dan duduk di karpet, di atas bantal kuning bersulam. Aku duduk di sebelahnya. Bahu menempel. Lutut menempel. Seperti dulu, di atas kardus.

“Laptopnya,” kataku.

Diana menyerahkan laptopnya. Aku meletakkannya di atas karpet, di depannya, tidak membukanya.

“Kamu yang buka,” kataku.

“Kenapa aku?”

“Itu laptopmu.”

Diana menatapku. Lalu menatap laptop itu. Lalu, perlahan, seolah sesuatu di dalam dirinya mulai mengerti, jari-jarinya gemetar saat menyentuh tepi tutup laptop.

Dia membukanya.


Layar laptop tidak menyala. Laptop itu dalam keadaan mati.

Tapi di atas keyboard, tepat di tengah, di antara huruf G dan H, terselip sebuah sticky note kuning. Dan di atas sticky note itu, ada sebuah cincin.

Cincin perak sederhana, dengan satu batu kecil berwarna bening di tengahnya. Tidak besar. Tidak mencolok. Tapi saat lampu putih pucat ruang server menyentuhnya, batu itu berkilau seperti tetesan teh melati yang diseduh tepat tiga menit.

Di sticky note di bawahnya, dengan tulisan tanganku yang rapi dan miring ke kanan, tulisan yang dia hafal dari delapan sticky note di pintu kulkasnya:

TIKET #002 — PRIORITAS SEUMUR HIDUP

Pelapor: teknisi yang dulu bilang “akan saya tindak lanjuti.”

Keluhan: Mau menikah.

Penanganan: Menunggu persetujuan.


Diana tidak bergerak.

Dia menatap cincin itu. Menatap sticky note itu. Tangannya masih memegang tutup laptop yang terbuka, membeku di udara.

Aku tidak bicara. Aku sudah menyiapkan kalimat. Dua halaman, ditulis tangan, terlipat empat di saku dada flanel. Aku sudah menghafalnya selama dua minggu.

Aku tidak mengeluarkannya. Aku tahu aku akan lupa semuanya. Aku selalu lupa semuanya di depan Diana.

Jadi aku hanya mengatakan yang kuingat.

“Aku bawa cincin itu dari Lembang,” kataku pelan. “Di ransel. Aku udah beli dari dua minggu sebelum gathering. Aku mau ngasih waktu Panggung Keberanian. Tapi aku pikir, aku baru turun ke lapangan. Aku belum boleh langsung minta piala.”

Diana menoleh perlahan. Matanya sudah basah.

“Enam bulan ini,” lanjutku, “aku belajar berdiri di sebelah kamu. Bukan di belakang. Bukan di pinggir lapangan. Aku belajar bilang takut. Aku belajar nggak nanggung sendirian.” Aku tersenyum kecil. “Aku masih panik kalau ngomong sama kamu. Aku masih bilang ‘akan saya tindak lanjuti’. Kupingku masih merah.”

Diana tertawa basah.

“Tapi teh tiga menit,” kataku, “masih seumur hidup. Itu janji pertamaku di ruangan ini. Dan aku mau janji itu ada tanda tangannya.”

Aku mengambil cincin itu dari atas keyboard. Lalu, dengan tangan yang gemetar, aku menghadapnya sepenuhnya di atas karpet kotak-kotak, dan mengangkat cincin itu di antara kami.

“Diana Prameswari,” kataku. “Mau nikah sama aku?”


Hening di ruang server.

Dengung mesin. Exhaust fan. Uap teh melati yang naik pelan.

Diana menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bahunya bergetar. Air matanya jatuh ke pipi, ke dagu, ke tutup laptop yang masih terbuka di pangkuannya.

Lalu dia menurunkan tangannya. Menarik napas yang gemetar. Dan menjawab dengan suara paling formal yang bisa dia kumpulkan, sama persis seperti tujuh bulan lalu, di atas kardus, di ruangan yang sama:

“Tiket diterima.”

Aku menahan napas.

“Status,” lanjut Diana, suaranya pecah di tengah, lalu tertawa, lalu menangis lagi, “seumur hidup.”

Dan dia mengulurkan tangan kirinya.

Aku memasangkan cincin itu dengan jari yang tidak stabil. Butuh dua kali percobaan, karena tangan kami berdua sama-sama gemetar. Cincin itu pas. Tentu saja pas. Aku mengukurnya diam-diam tiga bulan lalu dengan benang wol, saat dia tertidur di bahuku di ruang server.

Diana menatap cincin di jarinya. Lalu menatapku.

Lalu dia menghambur ke pelukanku begitu keras sampai kami berdua jatuh ke belakang, ke atas bantal kuning bersulam Kardus Kita, dan gelas teh melati di sebelahnya bergoyang tapi tidak tumpah.

“Kamu ngukur jariku diem-diem,” isak Diana di leherku.

“Pakai benang wol.”

“Kapan?”

“Waktu kamu tidur di bahuku. Kamu ngiler lagi.”

Diana mengangkat kepala, menatapku dengan wajah merah padam dan mata basah, lalu memukul dadaku pelan. Sekali. Dua kali. Lalu menciumku.

Panjang. Dalam. Asin karena air mata. Hangat di ruangan yang dinginnya enam belas derajat.

Saat kami akhirnya berpisah, dahi menempel, napas terengah, Diana berbisik:

“Undangan pertama buat Pak Joko.”

“Aku tahu.”

“Yang kedua buat Nisa. Dia udah siapin baju dari Lembang.”

“Aku tahu.”

“Yang ketiga...” Diana tersenyum, kecil dan basah dan sangat bahagia. “Yang ketiga buat Mang Udin. Kopi gratis sebulan itu. Kalau bukan karena itu, kamu nggak bakal jadi wasit.”

Aku tertawa. Pelan, rendah, lega. Tawa yang dulu jarang sekali keluar dariku, dan sekarang keluar setiap hari.


Pukul satu siang, Pak Joko masuk ke ruang server membawa ember dan pel, sesuai jadwal piket hari Senin.

Dia berhenti di ambang pintu.

Kami duduk di atas karpet kotak-kotak, bersandar ke rak server nomor empat, berdampingan, minum teh melati yang sudah dingin. Tangan kiri Diana di pangkuanku. Dan di jari manisnya, sesuatu berkilau di bawah lampu putih pucat.

Pak Joko menatap cincin itu. Lalu menatap kami berdua.

Lalu, sangat lambat, dia meletakkan embernya di lantai, menyandarkan pel ke dinding, dan menatap langit-langit.

“Saya,” katanya, “tidak melihat apa-apa.”

“Pak,” kata Diana, tertawa. “Lihat aja. Nggak apa-apa.”

Pak Joko menurunkan pandangannya. Matanya berkaca-kaca.

“Undangannya, Mbak?”

Aku mengeluarkan sesuatu dari saku dada flanel. Bukan kertas pengakuan dua halaman yang terlipat empat. Sebuah amplop kecil berwarna krem, belum ada tulisannya, belum ada tanggalnya. Hanya satu kalimat yang ditulis tangan di bagian depan.

Untuk Pak Joko. Yang pertama. Sesuai perjanjian.

Pak Joko menerimanya dengan dua tangan.

“Isinya belum ada, Pak,” kataku. “Tanggalnya belum ditentukan. Tapi Bapak yang pertama.”

Pak Joko mengangguk, lalu menyeka matanya dengan saputangan, sangat tidak diam-diam.

“Gorengan gratis,” katanya dengan suara serak, “sebulan. Dari saya.”


Sore itu, pukul lima, saat lantai dua belas mulai kosong, aku menemukan Diana berdiri di depan papan tulis kecil di pantry.

Papan itu masih ada. Jadwal piket bersih-bersih Pak Joko di sisi kiri, dengan tulisan besar dan berantakan. Sisi kanan kosong sejak enam bulan lalu, sejak Pak Joko menghapusnya pelan-pelan.

Aku berhenti di ambang pintu, dengan ransel di bahu dan helm merah muda bergambar bunga matahari di tangan. Sudah enam bulan helm itu menjadi milik Diana. Nisa merelakannya dengan syarat Diana mengirim foto setiap kali memakainya.

Diana mengambil spidol hitam. Membuka tutupnya.

Lalu, di sisi kanan papan, di tempat yang dulu berisi tabel klasemen, dia menulis dengan tulisan bulatnya, dengan lengkungan kecil di ujung huruf g:

KLASEMEN AKHIR

Juara Abadi: Mas Wasit.

Poin: tak terhingga.

Tidak bisa diaudit.

Di bawahnya, dia menggambar hati kecil. Tidak dicoret. Tidak digambar ulang. Hanya satu hati, utuh, sejak goresan pertama.

Kalender meja bergambar Danau Toba masih tersandar di pojok pantry. Dia tidak mengambilnya. Dengan sengaja, dia tidak menutup papan itu.

“Kalendernya nggak ditutup?” tanyaku.

“Nggak.” Diana menutup spidol, berbalik, dan tersenyum. Cincin di jarinya berkilau di bawah lampu pantry. “Biar semua orang lihat.”

Aku mengulurkan tangan. Diana menggenggamnya.

Kami berjalan ke lift bersama, bergandengan tangan, melewati meja-meja kosong di lantai dua belas, melewati ruang kaca finance, melewati pojok IT.

Di depan lift, Diana mengetuk punggung tanganku. Dua kali.

Tok. Tok.

Aku mengetuk balik. Dua kali.

Pintu lift terbuka. Kami masuk. Dan kali ini, tidak ada yang kelewatan lantai.


Klasemen Pribadi Wasit — Entri Terakhir

Senin. Ruang server, 12.14.

Tiket #002: diterima.

Status: seumur hidup.

Diana senyum hari ini: tidak terhitung. Aku berhenti menghitung jam 12.15. Tanganku sibuk. (Wasit sudah pensiun. Mulai sekarang pakai “aku”.)

Teh tiga menit: seumur hidup. Sekarang ada tanda tangannya.


Catatan Rahasia Diana — Halaman Terakhir

Hari ke-312. Atau hari pertama. Tergantung dihitung dari mana.

Dia kirim tiket ke aku. Kebalik. Dia beli karpet di Tanah Abang dan nawar dapat lima belas persen. Kurang lima dari rekorku, katanya. Dia taruh cincin di keyboard laptopku, di antara G dan H. Dia ngukur jariku pakai benang wol waktu aku ngiler di bahunya.

Aku jawab “tiket diterima, status seumur hidup.” Dia nggak bilang “akan saya tindak lanjuti.” Dia bilang “nikah sama aku.” Pakai aku. Terus dia pasang cincinnya. Dua kali percobaan. Tangannya gemetar. Tanganku juga.

Dulu ada enam cowok yang bikin liga buat ngerebut aku. Mereka nyari wasit yang bukan ancaman.

Mereka salah pilih.

Atau mereka pilih yang paling tepat.

Tok, tok.

— TAMAT —