Chapter Eleven
Akan Saya Tindak Lanjuti
POV: Dimas
Akhir pekan setelah rooftop adalah akhir pekan terpanjang dalam hidupku.
Sabtu pagi, pukul enam lewat empat, ponselku bergetar.
Diana: [stiker kucing melambai]
Diana: Pagi.
Aku menatap dua pesan itu selama tujuh menit. Aku mengetik Pagi juga, sayang, lalu menghapusnya secepat orang menarik tangan dari kompor panas. Aku mengetik Pagi, Diana, lalu menghapusnya juga, karena menyebut namanya tanpa “Mbak” terasa seperti melepas sabuk pengaman di jalan tol.
Akhirnya aku mengirim:
Dimas: Pagi, Mbak.
Tiga menit kemudian:
Diana: Masih Mbak?
Diana: Kemarin kamu cium aku di rooftop, dan hari ini aku masih Mbak?
Dimas: Mbak yang cium saya duluan.
Diana: DETAIL.
Diana: Kamu balas. Itu sah.
Aku menutup wajah dengan bantal. Bantal itu sekarang lebih sering jadi tempatku menutup wajah daripada tempat tidur.
Sisa Sabtu berlalu dengan pesan-pesan pendek. Diana mengirim foto sarapan, roti bakar dengan selai stroberi. Aku mengirim foto laptopku yang sedang memperbarui sistem. Diana mengirim stiker kucing tertawa. Aku mengirim Hehe. Lalu aku menatap kata Hehe itu dan merasa ingin menghapus diriku sendiri dari internet.
Pukul sebelas malam, satu pesan terakhir masuk.
Diana: Jaket abu-abumu masih di aku. Wangi kamu. Nggak aku balikin.
Dimas: Iya, Mbak. Simpan aja.
Aku mematikan lampu dan tidak tidur sampai pukul dua.
Tidak ada yang menyebut rooftop lagi. Tidak ada yang bertanya jadi kita apa?
Minggu malam, Nisa menelepon seperti biasa.
“Kak, kamu kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Suaramu aneh. Kayak orang habis menang lotre tapi takut tiketnya hilang.”
Aku terdiam. Adikku terlalu pintar untuk kebaikannya sendiri.
“Kak. Ini soal kakak cantik yang kirim martabak, ya?”
“...Nggak.”
“KAK.”
“Nis, jangan teriak, ini udah malam.”
“KAKAK PACARAN?”
“Nggak. Belum. Nggak tahu.” Aku memijat pelipis. “Kemarin... ada kejadian. Tapi belum diomongin.”
Nisa diam tiga detik. Lalu suaranya berubah, pelan dan serius, dengan cara yang membuatnya terdengar seperti ibu kami.
“Kak. Kamu tuh dari dulu selalu nunggu. Nunggu Nisa lulus SMA. Nunggu Nisa masuk kuliah. Nunggu gaji naik. Nunggu waktu yang tepat.” Jeda. “Kali ini jangan nunggu, Kak. Nanti dia capek nunggu kamu.”
Aku menatap langit-langit kamar lama setelah telepon ditutup.
Senin pagi, pukul tujuh tiga puluh lima, aku sudah di pantry.
Aku menyeduh teh melati. Timer tiga menit. Lalu, untuk pertama kalinya, aku menyeduh satu gelas lagi untuk diriku sendiri. Aku tidak suka teh. Tapi aku butuh sesuatu untuk dipegang.
Pukul tujuh empat puluh, Diana masuk.
Rambut digerai. Blazer biru muda. Dan, aku menyadarinya dengan jantung yang tersandung, jepit rambut kecil berbentuk bintang yang sama seperti hari pertama di lift. Pagi itu dia cantik dengan cara yang membuat pantry terasa terlalu kecil.
Kami saling menatap di pantry yang sepi.
Lima detik. Sepuluh detik.
Diana yang pertama bicara. “Pagi.”
“Pagi, Mb...” Aku menelan sisa kata itu. “Pagi.”
Diana menaikkan alis, senyumnya mulai muncul di ujung bibir. Dia melangkah mendekat, mengambil gelas teh dari tanganku, dan menghirup wanginya.
“Tiga menit?”
“Tiga menit.”
“Yang satunya buat siapa?”
“Buat saya.”
“Kamu nggak suka teh.”
“Saya... lagi belajar.”
Diana menatapku. Lalu dia meletakkan gelas tehnya di meja pantry, berdiri tepat di depanku, dan menatapku dari bawah dengan wajah yang tiba-tiba sangat serius.
“Mas,” katanya. “Jadi kita gimana?”
Ini dia. Pertanyaan yang tidak ada yang berani tanyakan sepanjang akhir pekan. Aku sudah menyiapkan jawabannya. Aku sudah menyusunnya di kepala sejak pukul tiga pagi, kalimat demi kalimat, seperti menyusun dokumentasi sistem.
Saya suka Mbak. Saya mau serius. Saya tahu saya bukan siapa-siapa, tapi saya mau mencoba.
Aku membuka mulut.
Yang keluar adalah:
“Baik, Mbak. Akan saya tindak lanjuti.”
Hening total di pantry.
Diana menatapku. Aku menatap balik dengan wajah datar dan kuping yang perlahan berubah dari merah muda ke merah menyala, karena otakku baru saja menyadari apa yang dikatakan mulutku.
Lalu bahu Diana mulai bergetar.
Dia menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya menyipit. Bahunya terguncang semakin keras. Dia membungkuk, satu tangan berpegangan ke meja pantry, tubuhnya gemetar oleh tawa yang dia tahan sekuat tenaga supaya tidak terdengar sampai ke lorong.
“Mbak...”
“Jangan,” Diana mengangkat satu tangan, masih membungkuk, suaranya tercekik tawa. “Jangan ngomong. Tolong. Aku... aku nggak bisa napas.”
“Maksud saya...”
“Akan saya tindak lanjuti!“ Diana menirukan nadaku, persis, datar dan formal, lalu tawanya meledak lagi. Kali ini air mata keluar dari sudut matanya. “Aku nanya status hubungan, kamu jawab kayak lagi nerima tiket keluhan!”
“Saya panik.”
“Aku tahu!” Diana menyeka air matanya, masih tertawa. “Aku tahu kamu panik. Kupingmu udah kayak lampu rem.”
Aku berdiri di sana, menerima nasibku. Aku menatap perempuan yang tertawa sampai menangis di depanku, rambut tergerai, jepit bintang, blazer biru muda, dan aku berpikir bahwa mungkin aku baru saja menghancurkan momen paling penting dalam hidupku.
Lalu aku berpikir bahwa aku tidak pernah melihat Diana tertawa sebahagia ini.
Diana akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya merah, maskaranya sedikit luntur di satu sisi. Dia menatapku, menarik napas dalam, dan berkata dengan nada paling serius yang bisa dia kumpulkan:
“Oke, Mas Wasit. Tiketnya aku terima. Prioritas tinggi.”
“...Baik.”
“Tenggat waktunya?”
Aku menatapnya. Lalu, perlahan, aku menyadari bahwa Diana sedang memberiku jalan keluar. Jalan keluar yang lucu, aman, dan sangat Diana.
“Besok,” kataku. “Besok saya selesaikan.”
Diana tersenyum. Bukan senyum menggoda. Senyum yang pelan, hangat, dan sedikit gemetar di ujungnya.
“Aku tunggu,” katanya. Lalu dia mengambil gelas tehnya dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia menoleh. “Jangan sampai lewat SLA, ya, Mas.”
Aku berdiri sendirian di pantry. Aku menatap gelas teh kedua, yang kuseduh untuk diriku sendiri, lalu meminumnya dalam satu tegukan karena tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.
Rasanya pahit. Aku lupa mengangkat kantong tehnya.
Aku tersenyum juga, sedikit, ke arah gelas kosong itu.
Rapat evaluasi darurat liga diadakan pukul dua belas siang, di warung Mang Udin, karena Bastian sendiri yang memintanya.
Semua anggota hadir. Bastian duduk di ujung meja dengan wajah yang tidak setenang biasanya. Kemejanya tetap licin. Tapi dia tidak tersenyum.
“Laporan makan malam Jumat,” katanya. “Aku jujur aja. Dia bilang aku orang baik. Tapi dia cuma bisa jadi teman.”
Keheningan yang menyusul terasa seperti upacara pemakaman.
Om Heru menepuk bahu Bastian dan menyodorkan rantang rendang tanpa kata.
“Ditolak halus,” kata Kevin pelan, membuka spreadsheet. “Minus lima.”
“Tunggu.” Bastian mengangkat tangan. “Ada lagi. Aku tanya, ada orang lain? Dia bilang ada.”
Seluruh meja menegang.
“Siapa?” tanya Fajar.
“Dia nggak bilang.”
“Orang kantor?” tanya Ucup.
“Nggak tahu. Tapi...” Bastian menatap ke tengah meja, rahangnya mengeras. “Dia minta aku antar balik ke kantor jam sembilan malam. Katanya ketinggalan charger. Siapa yang ketinggalan charger terus balik ke kantor jam sembilan malam di hari Jumat?”
Aku meminum kopi tubrukku dengan sangat, sangat pelan.
“Kesimpulannya,” kata Kevin, matanya berbinar dengan semangat ilmuwan data yang baru menemukan anomali, “ada peserta tersembunyi. Pria misterius. Orang dalam.”
“Kita harus cari tahu,” kata Rendy.
“Investigasi resmi,” kata Ucup.
“Dan yang memimpin investigasinya,” Bastian menoleh perlahan ke ujung meja, “harus orang yang netral.”
Enam pasang mata menatapku.
Aku meletakkan cangkir kopi.
“Saya?”
“Kamu wasit,” kata Kevin. “Kamu punya akses ke semua sistem IT. Log lift, log kartu akses, CCTV lobi...”
“Itu pelanggaran privasi. Diskualifikasi. Aturan nomor satu.”
“Oke, oke, nggak pakai sistem.” Kevin mengalah. “Tapi kamu yang paling sering lihat dia. Kamu pasti bisa cari tahu.”
Aku menatap keenam wajah penuh harap itu. Lalu aku menatap Bastian, yang menatapku kembali dengan senyum tipis dan mata yang tidak ikut tersenyum.
“Gimana, Dim?” tanya Bastian pelan. “Bisa kamu cari tahu siapa orangnya?”
Aku diam lama. Aku memikirkan rooftop. Hujan. Tangan dingin yang menangkup wajahku.
“Baik,” kataku akhirnya. “Akan saya tindak lanjuti.”
Kevin bersorak. Fajar mencatat di buku puisinya. Om Heru menambah rendang di piring Bastian.
Dan Bastian, satu-satunya yang tidak ikut senang, menyesap kopinya sambil menatap kupingku.
Aku tahu, tanpa perlu melihat, kupingku sedang merah.
Pukul empat sore, aku berada di lift bersama empat staf finance dan Diana.
Kami turun dari lantai dua belas ke lantai tiga, ke ruang rapat besar untuk presentasi anggaran kuartal. Aku ikut karena proyektor di ruang rapat itu sering bermasalah. Diana ikut karena dia yang presentasi.
Lift penuh. Aku berdiri di sudut belakang. Diana berdiri di depanku, punggungnya hampir menyentuh dadaku, wajahnya menghadap pintu dengan ekspresi Finance Lead yang tenang dan profesional. Wangi melati dari rambutnya memenuhi ruang sempit itu.
Lantai sepuluh. Sembilan. Delapan.
Pintu terbuka di lantai tujuh. Empat staf finance keluar, karena salah satu dari mereka lupa membawa dokumen dan mereka memutuskan mengambilnya dari arsip lantai tujuh dulu. “Mbak Diana duluan aja, kami nyusul!”
Pintu menutup.
Hanya ada kami berdua di dalam lift.
Lantai enam.
Diana tidak bergerak. Dia tetap menghadap pintu.
Lantai lima.
“Mas,” katanya tanpa menoleh.
“Iya.”
“Tadi di warung Mang Udin, kamu diangkat jadi ketua investigasi pria misterius, ya?”
Aku menatap punggungnya. “Mbak tahu dari mana?”
“Pak Joko.” Bahu Diana mulai bergetar lagi. “Tiga gorengan. Harganya naik, katanya situasinya genting.”
Lantai empat.
“Kamu bakal nyelidikin dirimu sendiri?”
“...Iya.”
Diana menoleh. Menatapku dari jarak yang sangat dekat, dengan mata yang berbinar penuh tawa yang ditahan.
“Wasit paling curang se-Jakarta,” bisiknya.
Lalu, sebelum aku sempat menjawab, dia berjinjit dan mencium pipiku.
Cepat. Ringan. Hangat. Seperti sticky note yang ditempel lalu dilepas.
Lantai tiga. Denting. Pintu terbuka.
Diana melangkah keluar dengan wajah Dewi Lantai 12 yang sempurna. Tegak. Anggun. Profesional. Dia menyapa direktur keuangan yang sudah menunggu di depan ruang rapat dengan senyum sopan yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa tiga detik lalu dia baru saja mencium pipi tukang IT di dalam lift.
Aku tetap berdiri di sudut lift.
Pintu menutup lagi.
Lift membawaku naik ke lantai dua belas, tanpa kusadari. Untuk kedua kalinya dalam lima minggu.
Saat pintu terbuka di lantai dua belas, Sasha berdiri di depanku, memegang laptop.
“Dim? Lo bukannya harus di lantai tiga? Proyektor ruang rapat error, Mbak Diana nungguin.”
Aku menatap Sasha. Lalu menyentuh pipiku sendiri.
“Iya,” kataku. “Saya... kelewatan.”
Sasha menatap pipi yang kusentuh itu. Lalu menatap kupingku. Lalu menghela napas yang sangat panjang dan sangat lelah.
“Pencet tombol tiga, Dim,” katanya, dan menekannya sendiri untukku sebelum pintu menutup. “Dan jangan lupa napas.”
Malam itu, pukul sepuluh, aku duduk di depan laptop di kamar kos.
Aku tidak membuka game. Tidak membuka tiket. Aku membuka dokumentasi kebijakan login sistem operasi kantor, dan membaca bagian tentang legal notice: pesan teks yang muncul di layar sebelum pengguna bisa masuk ke komputer, yang biasanya berisi peringatan keamanan membosankan.
Pesan itu bisa diatur per perangkat.
Aku membuka editor teks kosong.
Aku menatap kursor yang berkedip selama dua puluh menit.
Lalu aku mulai mengetik.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 6, Senin
- 1. Bastian — 56 poin
- 2. Kevin — 17 poin
- 3. Om Heru — 12 poin
- 4. Rendy — 9 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: Bastian −5 (ditolak halus saat makan malam, berdasarkan laporan pribadi). Investigasi “pria misterius” resmi dibuka. Penanggung jawab: wasit.
Status investigasi: tersangka diketahui. Belum dilaporkan.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-74. “Baik, Mbak. Akan saya tindak lanjuti.” Itu jawaban dia waktu aku tanya kita gimana. Aku ketawa sampai maskaraku luntur. Lalu aku sadar, aku nggak pernah sebahagia ini dibikin ketawa sama orang. Tenggatnya besok, katanya. Aku cium pipinya di lift karena nggak tahan. Dia kelewatan lantai lagi. Dia selalu kelewatan lantai kalau habis aku apa-apain. Aku harus hati-hati, nanti dia nyasar ke rooftop terus.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti reading
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi