← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Twenty Four

Api Unggun di Lembang

POV: Dimas

Tiga minggu berlalu seperti teh yang diseduh tepat waktu. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lama, dan rasanya pas.

Proyek migrasi server selesai hari Kamis minggu ke-11. Clara meninggalkan ruang server untuk terakhir kalinya dengan laptop penuh stiker dan senyum lebar, lalu menempelkan sticky note biru di layar monitorku sebelum pergi.

Mas, game-nya dilanjutin, ya. Kalau udah ada demo, saya mau jadi tester pertama. P.S. Kalibrasi warnanya tetap bagus.

Kevin dan Sasha mulai makan siang bersama setiap Selasa dan Kamis. Kevin membawakan Sasha seblak level tiga dan menghitung dengan presisi berapa menit Sasha butuh untuk menghabiskannya. Sasha bilang itu menyebalkan. Sasha tetap makan siang bersamanya setiap Selasa dan Kamis.

Fajar ikut kelas menulis puisi daring. Rimanya membaik. Sedikit.

Ucup akhirnya ikut kelas yoga hari Sabtu, di studio lain. Fleksibilitasnya meningkat tiga puluh persen. Dia sangat bangga.

Om Heru membagikan resep rendang ibunya ke seluruh lantai dua belas lewat email. Subjeknya: Permintaan Maaf, Bagian Dua (Resep).

Bastian berhenti membawa hadiah ke ruang finance. Dia masih menyapa Diana setiap pagi dengan senyum ramah, masih mengajaknya rapat lintas divisi yang memang perlu. Tapi dia tidak lagi berdiri terlalu lama di depan pintu kaca. Dan suatu sore, aku melihatnya di warung Mang Udin bersama Clara, yang mampir untuk menyerahkan dokumen akhir proyek. Mereka berdebat panjang soal strategi pemasaran game indie, dan Bastian tertawa dengan cara yang tidak terlihat seperti presentasi.

Dan setiap pagi pukul tujuh tiga puluh lima, aku tetap berdiri di pantry, mengelap meja yang sudah bersih, menunggu timer bebek berbunyi.

Sekarang ada dua gelas di meja. Satu teh melati untuk Diana. Satu teh melati untukku sendiri, karena entah sejak kapan, aku mulai menyukainya.


Gathering akhir tahun PT Arunika Digital diadakan di sebuah villa besar di Lembang, Jumat sampai Minggu. Udaranya lebih dingin dari Puncak. Kabutnya lebih tebal. Dan antusiasme Bu Ratna lebih tinggi dari Gunung Tangkuban Parahu yang terlihat di kejauhan.

“KOMPETISI RESMI ANTAR DIVISI!” serunya di pengeras suara pada Sabtu pagi pukul delapan, berdiri di panggung kecil di halaman villa dengan jaket olahraga merah dan peluit di leher. “Enam divisi! Sepuluh cabang lomba! Satu piala!”

Di sampingnya, di atas meja panjang berlapis kain putih, berdiri sebuah piala. Logam berwarna perak, tingginya setengah meter, dengan ukiran di bagian bawah: Juara Umum Gathering Arunika — Piala Bukan Manusia.

Seratus dua puluh karyawan bersorak. Beberapa tertawa. Semua orang di perusahaan tahu kenapa piala itu diberi nama seperti itu.

“Juri kita,” lanjut Bu Ratna, menunjuk ke samping, “Mbak Diana dari Finance!”

Diana melambai dari kursi juri di bawah tenda putih, dengan jaket tebal krem, syal rajut, dan papan klip di pangkuan. Pipinya merah muda karena udara dingin, rambutnya tergerai di bawah topi rajut putih. Dewi Lantai 12 dalam mode juri. Senyum sopan. Punggung tegak. Separuh karyawan laki-laki dari divisi lain menoleh dua kali.

“Dan wasit kita,” Bu Ratna menunjuk ke sisi lain lapangan, “Mas Dimas dari IT!”

Aku berdiri di tengah lapangan rumput dengan rompi oranye bertuliskan WASIT, peluit di leher, dan wajah yang sangat ingin menghilang ke balik kabut.

Sorakan untukku terdengar lebih keras. Dan lebih banyak tawanya.


Lomba pertama, tarik tambang. Divisi Marketing melawan Divisi IT. Bastian di barisan depan Marketing. Kevin di barisan depan IT, menghitung sudut tarikan optimal dengan suara keras.

Aku meniup peluit. Kedua tim menarik.

Dari tenda juri, Diana menulis sesuatu di papan klipnya.

IT kalah dalam dua puluh detik karena Kevin terlalu sibuk menghitung dan lupa menarik. Sasha, di barisan tengah, menatapnya dengan wajah yang mengatakan kita akan membicarakan ini nanti.

Lomba kedua, estafet karung. Divisi Finance melawan Legal. Rara melompat dengan ganas dan memenangkan tiga dari empat babak sendirian.

Lomba ketiga, lomba memasukkan pensil ke dalam botol yang diikat di pinggang. Om Heru, mewakili Procurement, ternyata ahli. Dia memasukkan pensil dalam empat detik. Seluruh villa bersorak. Om Heru menangis haru.

Di sela-sela lomba, saat aku berjalan ke tepi lapangan untuk mengambil botol minum, Diana muncul di sampingku dengan papan klip, seolah sedang mengecek sesuatu.

“Wasit,” katanya dengan suara resmi, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. “Juri perlu konfirmasi skor babak tiga.”

“Baik, Mbak.”

Diana menyodorkan papan klipnya. Aku melihat skor yang ditulis rapi. Lalu, di bawahnya, dengan tulisan lebih kecil:

Poin tambahan: kerapian wasit +10. Rompi oranye cocok banget. Wasitnya ganteng: +100.

Aku menatap tulisan itu. Lalu menatap Diana.

Diana tersenyum sopan. Senyum Dewi Lantai 12 yang sempurna.

“Skornya sudah sesuai, Mas?”

“...Sudah, Mbak.”

“Baik.” Diana mengambil kembali papan klipnya. Lalu, saat berbalik ke tenda juri, tangannya bergerak cepat. Terlalu cepat untuk dilihat orang lain.

Dia menarik peluit dari leherku, meniupnya pelan tepat di dekat telingaku, prit, lalu mengembalikannya dengan wajah tidak bersalah.

Aku berdiri di tepi lapangan, memegang peluit, dengan kuping yang sekarang semerah rompi oranye.

Tiga meter dari sana, Bastian, yang baru selesai tarik tambang dan sedang mengatur napas, ternyata melihat semuanya. Saat mata kami bertemu, dia menggeleng pelan sambil tersenyum ke arah rumput.


Sore tiba dengan kabut tebal. Sepuluh cabang lomba selesai. Klasemen antar divisi ditempel di papan tulis putih di depan panggung, kutulis dengan spidol hitam dan huruf kapital miring ke kanan.

Finance di posisi pertama. Marketing kedua. IT ketiga. Selisih poin mereka hanya lima.

“Besok,” kata Bu Ratna di pengeras suara, saat semua orang berkumpul di depan papan, “ada satu lomba terakhir. Lomba penentuan. Nilainya lima puluh poin.”

Seratus dua puluh orang mendadak diam.

“Lomba terakhir ini lomba individu,” lanjut Bu Ratna. “Siapa saja boleh ikut. Dari divisi mana saja. Namanya...” Dia berhenti untuk efek dramatis. “Panggung Keberanian.“

Bisik-bisik menyebar.

“Aturannya sederhana. Kalian naik ke panggung. Kalian lakukan satu hal paling berani yang selama ini kalian tunda. Bisa nyanyi di depan umum padahal suaranya jelek. Bisa minta maaf ke orang yang pernah kalian sakiti. Bisa ngaku sesuatu yang selama ini kalian sembunyikan.” Bu Ratna tersenyum. “Juri yang menilai. Poin keberanian akan masuk ke divisi masing-masing.”

“Wasitnya ngapain, Bu?” tanya seseorang dari barisan belakang.

“Wasit memastikan semua peserta tertib dan tidak ada yang melanggar aturan,” kata Bu Ratna. Lalu dia menoleh padaku di samping papan klasemen. “Tapi wasit juga karyawan, kan? Wasit juga boleh ikut.”

Seluruh villa menoleh padaku.

Aku menatap papan klasemen dengan wajah datar.

Di tenda juri, Diana menunduk ke papan klipnya, menyembunyikan senyum.


Malamnya, api unggun dinyalakan di halaman villa. Besar, hangat, dengan percikan api yang terbang ke langit berkabut seperti kunang-kunang.

Ada karaoke. Ada jagung bakar. Ada Fajar yang membacakan puisi terakhirnya untuk tahun ini, tentang api unggun dan kabut dan teman-teman, dan untuk pertama kalinya, tidak ada yang tertawa karena kasihan. Puisinya bagus. Benar-benar bagus. Kevin bertepuk tangan paling keras, lalu menoleh ke Sasha di sebelahnya, yang sedang memakai jaket Kevin yang kebesaran.

Om Heru bernyanyi dangdut dengan suara bariton yang mengejutkan semua orang. Ucup mendemonstrasikan pose yoga pohon di dekat api unggun dan hampir terjatuh ke dalamnya. Rara menyelamatkannya dengan menarik kerah jaketnya.

Bastian duduk di batang kayu di sisi lain api unggun, bersama Clara yang diundang sebagai tamu vendor. Mereka berbicara pelan, sesekali tertawa. Saat Bastian menyodorkan jagung bakar ke Clara, dia memisahkan setengahnya dulu, lalu menyerahkan bagian yang lebih banyak bijinya.

Aku melihat itu dari kejauhan, dan tersenyum.


Pukul sepuluh malam, saat api unggun mulai mengecil dan sebagian besar karyawan sudah kembali ke kamar, aku duduk di sebuah batang kayu di pinggir lingkaran api, agak jauh dari yang lain, di bawah bayangan pohon pinus.

Diana datang membawa selimut tebal bermotif kotak-kotak.

Dia tidak bertanya. Dia hanya duduk di sebelahku, membuka selimut itu lebar-lebar, menyampirkannya ke bahu kami berdua, lalu bergeser masuk ke bawahnya.

Dan bersandar.

Kepalanya di dadaku. Punggungnya menempel di sisi tubuhku. Satu tangannya menyelinap di bawah selimut dan menemukan tanganku, menautkan jari-jari kami.

Aku melingkarkan lengan di bahunya di bawah selimut, menariknya lebih dekat.

Api unggun berderak pelan. Bau kayu pinus yang terbakar. Kabut Lembang turun perlahan, melingkupi kami seperti tirai.

“Hari ini aku ngasih poin wasit ganteng plus seratus,” gumam Diana di dadaku.

“Aku lihat.”

“Itu bukan korupsi. Itu objektivitas.”

“Juri nggak boleh ngasih poin ke wasit.”

“Aku Finance Lead. Aku tahu celah peraturan.” Diana tertawa kecil. Napasnya hangat menembus kausku. “Lagian, wasitnya memang ganteng. Itu fakta yang bisa diaudit.”

Aku tersenyum ke arah api.

Kami diam lama. Mendengarkan api, kabut, dan dari kejauhan, suara Om Heru yang masih bernyanyi dangdut pelan di teras villa.

“Mas,” bisik Diana.

“Iya.”

“Inget nggak, dulu kamu bilang kamu nggak ikut liga karena kamu bukan kandidat?”

“Iya.”

“Kamu bilang kamu takut. Kalau kamu ikut, kamu kalah. Kalau kamu kalah, kamu nggak bisa lagi bikinin aku teh.”

“Iya.”

Diana mengangkat kepala sedikit, menatapku dari bawah. Cahaya api memantul di matanya, membuat warna cokelat terang itu terlihat seperti teh melati yang diseduh tepat tiga menit. Di bawah topi rajut putih, dengan pipi merah karena dingin dan bibir yang sedikit pecah karena udara gunung, dia cantik dengan cara yang membuat kabut Lembang terasa tidak perlu ada.

“Besok ada Panggung Keberanian,” katanya pelan.

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak minta kamu ngapa-ngapain,” lanjut Diana. “Aku nggak mau kamu ngerasa harus. Aku udah punya kamu. Aku udah bilang ke HR. Udah ada di notulen resmi.” Dia tersenyum kecil. “Tapi kantor kita masih mikir kamu cuma wasit. Tukang IT yang pakai flanel, yang dipilih jadi wasit karena bukan ancaman.”

Jarinya mengusap punggung tanganku di bawah selimut.

“Dan kamu masih mikir gitu juga tentang dirimu sendiri,” bisiknya. “Aku tahu.”

Aku menatap api unggun. Bara merah berdenyut pelan di dasarnya.

Diana menyandarkan kepalanya kembali ke dadaku. Dia mendengarkan detak jantungku beberapa saat. Lalu, dengan suara yang hampir tenggelam oleh derak api dan kabut Lembang:

“Mas. Besok jangan cuma jadi wasit.”


Aku tidak menjawab malam itu.

Aku hanya memeluknya lebih erat di bawah selimut kotak-kotak, menempelkan pipiku di puncak kepalanya, dan memejamkan mata. Kami duduk di sana sampai api unggun tinggal bara, sampai Diana tertidur di dadaku, sampai Rara datang dengan senter dan berbisik, “Aku yang bawa dia ke kamar, kamu tidur sana.”

Tengah malam, di kamar villa yang kubagi dengan Kevin, aku duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan.

Kevin sudah tidur. Mendengkur pelan, memeluk jaket yang wanginya seperti parfum Sasha.

Aku membuka aplikasi catatan. Klasemen Pribadi Wasit. Aku menggulir ke bawah, melewati semua entri. Jari yang bersentuhan satu detik. Empat puluh tiga menit tidak bergerak. Tujuh menit tidak bisa bicara. Rooftop. Pacar: 1. Teh tiga menit: seumur hidup. Empat belas senyum. Tak terhingga, tidak bisa diaudit.

Aku mengetik satu baris baru di bagian paling bawah.

Sabtu malam, Lembang. Diana senyum hari ini: 23 kali.

Lalu aku berhenti. Jariku diam di atas layar cukup lama sampai layar meredup dan aku harus menyentuhnya lagi.

Aku menambahkan satu baris lagi.

Besok: turun ke lapangan.

Lalu aku menarik ransel dari bawah kasur dan mengambil sesuatu dari saku dalamnya. Sebuah kotak kecil berlapis kain beludru biru tua. Kotak yang sudah kubawa ke mana-mana selama dua minggu, di saku dalam ransel, tidak pernah kukeluarkan.

Aku tidak membukanya. Aku hanya menggenggamnya sebentar. Lalu memasukkannya kembali ke saku dalam ransel.

Belum. Bukan besok.

Tapi suatu hari nanti.

Aku berbaring, menatap langit-langit kamar villa yang berkayu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tertidur tanpa merasa takut.


KLASEMEN RESMI GATHERING — Hari Pertama

  • 1. Finance — 85 poin
  • 2. Marketing — 82 poin
  • 3. IT — 80 poin
  • 4. Legal — 71 poin
  • 5. Procurement — 64 poin
  • 6. HR — 50 poin

Catatan wasit: Lomba penentuan besok, “Panggung Keberanian”, bernilai 50 poin. Peserta individu, dari divisi mana saja. Wasit diperbolehkan ikut.

Catatan juri (ditulis kecil di pojok papan klip, terhapus sebagian): wasit ganteng +100.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-127. Lembang. Dingin banget. Aku tiup peluitnya di dekat kupingnya dan kupingnya langsung semerah rompi. Aku kasih poin wasit ganteng seratus. Aku nggak nyesel.

Malam ini api unggun. Aku bersandar di dadanya di bawah selimut kotak-kotak dan bilang ke dia jangan cuma jadi wasit. Dia nggak jawab. Dia cuma meluk aku lebih erat.

Aku nggak tahu dia bakal ngapain besok. Mungkin nggak ngapa-ngapain. Dan itu nggak apa-apa. Dia udah turun ke lapangan berkali-kali, cuma nggak ada yang lihat. Di ruang server. Di rooftop. Di basement. Di ruang HR.

Tapi kalau besok dia naik panggung, aku janji, aku nggak akan nangis.

Bohong. Aku pasti nangis.