Chapter Nine
Nggak Ada Percobaan Keenam
[ Zea ]
Aku datang ke taman hari itu untuk sesuatu yang bodoh: untuk memastikan aku menang.
Seminggu penuh sunyi. Rafa tidak muncul di kedai. Tidak ada roti sisa di dekat kasir. Tidak ada langkah yang kukenal. Aku bilang pada diriku ini yang kuinginkan—dia berhenti, dia bebas, aku berhasil—dan aku hampir mempercayainya sampai kaki-kakiku, tanpa izin dari kepalaku, membawaku ke bangku ketapang Rabu sore itu. Cuma untuk lewat. Cuma untuk melihat bangku kosong dan membuktikan pada diriku bahwa aku lega.
Tapi bangku itu tidak kosong.
Rafa di sana. Dan begitu aku melihatnya, aku tahu ada yang berbeda, dengan cara yang sama seperti aku selalu tahu suhu kerumunan. Tidak ada Gilang. Tidak ada penonton. Tidak ada ponsel terangkat. Dia sendirian, berdiri, dan begitu matanya menemukan mataku, dia tidak tersenyum dengan senyum yang butuh usaha itu.
Dia tidak tersenyum sama sekali.
“Zea,” katanya.
Dan aku menunggu nomornya. Percobaan kelima. Aku sudah menyiapkan diri untuk nomornya, untuk candaannya, untuk “antre lagi”—untuk semua tameng yang membuatku bisa menolaknya sambil tetap bernapas.
Nomornya tidak datang.
“Aku suka kamu,” katanya. Pelan. Telanjang. Tanpa satu pun kata yang biasa dia pakai untuk membungkusnya. “Bukan ‘percobaan’. Bukan main-main. Aku nggak lagi hitung-hitungan, Zea, aku udah capek pura-pura ini permainan. Aku beneran suka kamu. Aku suka cara kamu ngitung receh dua kali biar nggak salah. Aku suka kamu nyisihin makanan buat kucing pas kamu sendiri lapar. Aku suka kamu yang capek dan tetap baik, yang takut dan tetap kuat. Bukan wajahmu. Kamu.” Dia menarik napas, dan tangannya, kusadari, gemetar. “Ini aku. Yang beneran. Tanpa apa-apa buat sembunyi.”
Taman itu diam. Dunia diam.
Dan aku panik.
Karena selama ini aku menolak lelucon, dan lelucon aman untuk ditolak. Tapi ini bukan lelucon. Ini dia—seluruhnya, tanpa tameng, berdiri di sana dan menyerahkan dirinya padaku seperti sesuatu yang tak bisa ditarik kembali—dan aku merasakan “iya” itu naik lagi, lebih kuat dari di percobaan ketiga, begitu kuat sampai aku takut, karena kalau aku bilang iya sekarang, dengan Bunda sakit dan Dema bergantung dan seluruh hidupku sudah dijanjikan pada orang lain, aku akan menghancurkan kami berdua.
Aku harus membuatnya berhenti. Bukan lembut. Lembut tidak pernah berhasil. Aku harus membuatnya berhenti sekar, permanen, dengan cara yang tidak menyisakan celah untuk “nanti”.
Jadi aku meraih satu-satunya hal yang kutahu akan membunuhnya.
Aku tidak tahu dari mana aku tahu. Mungkin dari memperhatikannya sepanjang minggu-minggu ini sama telitinya seperti dia memperhatikanku. Mungkin karena luka mengenali luka. Tapi aku tahu, entah bagaimana, di mana tempat paling tipis di dirinya—orang yang selalu memberi, yang takut hanya berharga saat berguna, yang diam-diam yakin dia tak akan pernah dipilih.
Dan aku menikamnya tepat di sana.
“Berhenti, Rafa.” Suaraku rata. Dingin. Kejam dengan presisi yang membuatku jijik pada diriku sendiri bahkan saat kuucapkan. “Capek, kan, ngejar orang yang nggak akan pernah milih kamu?”
[ Rafa ]
Ada momen, saat kau memperbaiki sesuatu terlalu lama, di mana kau berhenti berharap dan mulai menerima. Aku mengenali momen itu. Aku hidup di dalamnya seumur hidup.
Kalimatnya menemukan tempat itu di dalam diriku dengan akurasi yang tidak masuk akal.
Orang yang nggak akan pernah milih kamu.
Bukan “aku nggak suka kamu”. Bukan “kamu nggak menarik”. Dia bisa mengucapkan seribu hal yang akan memantul dari permukaanku. Tapi dia memilih justru yang satu itu—nggak akan pernah milih kamu—dan itu bukan menolak cintaku. Itu mengonfirmasi kalimat yang sudah kubawa sejak kecil, kalimat yang kupikir sudah kusembunyikan dari semua orang, kalimat yang berbunyi: kamu bisa jadi paling berguna di dunia, Rafa, dan tetap tidak akan dipilih.
Dia tidak sekadar menolakku. Dia setuju dengan bagian terburuk dari diriku.
Dan aku, yang menghabiskan hidup memperhatikan, yang bangga bisa membaca yang tak terbaca—aku percaya padanya. Karena kenapa tidak? Itu yang selalu kutakutkan benar. Tentu saja itu benar. Router tidak meninggalkanmu; orang, beda cerita. Aku cuma lupa sebentar, selama beberapa minggu yang bodoh dan penuh harap, betapa itu benar.
Sesuatu di dalam dadaku—sesuatu yang sudah lelah bertahun-tahun—akhirnya, dengan pelan, berhenti.
Aku menatapnya. Dan inilah bagian yang tidak akan pernah kulupakan, bagian yang akan kuputar ulang berminggu-minggu setelahnya: wajahnya tidak terlihat menang. Wajahnya, saat mengucapkan kalimat sekejam itu, terlihat seperti wajahku sendiri saat aku memperbaiki hal-hal yang kutahu tidak bisa kuperbaiki. Terlihat seperti seseorang yang menghancurkan sesuatu justru karena dia tidak sanggup memilikinya.
Tapi aku terlalu hancur untuk membaca itu dengan benar saat itu. Aku baru bisa membacanya nanti. Saat itu, aku cuma tahu satu hal.
Aku sudah berjanji pada diriku, di lab gelap itu: kalau dia menolak yang sebenarnya, aku berhenti. Sungguh berhenti.
Dan dia baru saja menolak yang sebenarnya.
“Oke,” kataku.
Suaraku, entah bagaimana, keluar tenang. Aku tidak tahu dari mana ketenangan itu datang. Mungkin dari tempat yang sama dengan senyum-senyum yang selama ini kupasang untuk menutupi betapa aku ingin dibutuhkan.
“Kamu bener,” kataku. “Aku capek.” Aku memungut tas ranselku dari bangku. Kacamataku melorot; aku tidak membetulkannya. “Makasih udah jujur, akhirnya. Ini yang aku butuh sebenernya. Kejujuran.” Aku menelan sesuatu yang tajam. “Nggak ada percobaan keenam, Zea. Nggak ada percobaan kelima juga, ternyata. Yang tadi bukan percobaan. Itu cuma... perpisahan yang aku nggak tahu perpisahan pas aku nyusunnya.”
Aku berbalik.
Aku ingin bilang aku berjalan pergi dengan bermartabat. Aku tidak. Aku cuma berjalan, satu kaki di depan kaki lain, ke arah halte yang salah, ke arah mana pun asal menjauh dari bangku ketapang tempat aku baru saja menyerahkan seluruh diriku dan menerimanya kembali—patah, ditandatangani, ditolak.
Di belakangku, sangat pelan, begitu pelan sampai aku tidak yakin apakah aku benar-benar mendengarnya atau cuma menciptakannya dari harapan yang belum sempat mati, aku pikir aku mendengar Zea berbisik sesuatu.
Sesuatu yang terdengar seperti namaku.
Tapi aku sudah berjanji. Tidak ada percobaan keenam. Dan orang yang menghabiskan hidupnya memperhatikan tahu bahwa kadang hal paling berani yang bisa kau lakukan adalah tidak menoleh ke belakang untuk memeriksa apakah harapan itu nyata—karena kalau nyata, dan kau tetap harus pergi, itu akan menghancurkanmu dengan cara yang tidak bisa diperbaiki router mana pun.
Jadi aku tidak menoleh.
Aku terus berjalan, ke sore yang keemasan, menjauh dari satu-satunya orang yang pernah kuminta, sambil membawa jaket yang dia kembalikan dan hati yang tidak dia tahu baru saja dia patahkan dengan tepat—
—dan di belakangku, di bangku ketapang, perempuan yang baru saja bilang tidak akan pernah memilihku duduk sendirian dengan tangan menutup mulut, menyadari, terlambat, bahwa dia telah menang.
Dan bahwa menang, ternyata, adalah kata paling kesepian dalam bahasa mana pun.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam reading
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua