Chapter Eighteen
Salah Tingkah
Aku menghabiskan tujuh minggu mengumpulkan keberanian untuk menembak Zea Lovatta lima kali di depan seluruh kampus.
Ternyata itu bagian yang mudah.
Bagian yang sulit adalah hari kedua kami pacaran, saat Zea muncul di lab, duduk di pangkuanku tanpa peringatan, melingkarkan lengan ke leherku, dan berkata di dekat telingaku dengan suara yang dibuat semanja mungkin, “Sayaaang, aku kangen. Baru enam jam nggak ketemu.”
Aku menjatuhkan obeng. Obeng itu jatuh ke kakiku. Aku bahkan tidak merasakannya.
“Zea—Oskar—orang—lab—” Otakku, yang biasanya bisa memigrasikan database sambil tidur, tiba-tiba cuma bisa menghasilkan kata benda tunggal.
“Oskar udah keluar.” Dia menyeringai, hidungnya menyentuh pipiku. “Dan aku nggak peduli sama orang. Aku peduli sama pacarku yang mukanya merah banget sekarang.” Dia mencubit pipiku yang, benar, terbakar. “Ya ampun. Cowok yang berani nembak lima kali, tapi dipeluk dikit langsung error. Lucu banget.”
Inilah yang tidak ada yang ceritakan padaku tentang Zea Lovatta: bahwa di balik senyum-seragam dan suara rata yang dia latih bertahun-tahun, ada seseorang yang, begitu dibebaskan, ternyata ugal-ugalan. Perempuan yang selama berbulan-bulan menolakku dengan wajah datar sekarang memperlakukanku seperti mainan favoritnya—menempel, menggoda, mencium pipiku di antrean fotokopi sampai maba-maba berbisik, memanggilku dengan nama-nama yang membuatku ingin menghilang ke dalam kabel: Fa. Vano. Sayang. Cah IT kesayangan.
Dan aku—yang menghabiskan hidup jadi orang yang memberi, yang tidak pernah tahu cara diterima—ternyata sama sekali tidak siap untuk dicintai sekeras ini, seterang ini, di depan semua orang.
“Kamu nikmatin banget bikin aku salah tingkah,” kataku, berusaha memungut sisa-sisa harga diriku bersama obeng.
“Iya.” Tidak ada penyangkalan sama sekali. Dia menyandarkan dagu ke bahuku. “Karena kamu tuh, Rafa Elvano, selama ini terlalu sibuk ngurus semua orang sampai lupa ada yang mau ngurus kamu juga. Jadi sekarang aku bakal manjain kamu sampai kamu kebiasa. Sampai kamu berhenti kaget tiap kali ada yang sayang kamu.” Dia menoleh, dan matanya, dari sedekat itu, tidak menggoda lagi. Lembut. “Boleh, kan?”
Dan begitulah caranya. Dia membungkus hal-hal paling menyembuhkan dalam kemasan paling nakal, supaya aku bisa menerimanya tanpa merasa dikasihani. Dia tahu aku tidak bisa menerima “aku mau sembuhin luka kamu”. Tapi aku bisa menerima “aku mau manjain kamu sampai kamu kebiasa”.
“Boleh,” kataku pelan.
Dia mencium sudut bibirku, ringan, lalu turun dari pangkuanku seolah tidak baru saja meruntuhkan seluruh sistem operasiku. “Nah. Sekarang benerin obengmu, aku bawain makan siang. Dan Fa—” dia berhenti di pintu, “—jangan lupa makan. Kalau kamu lupa lagi, aku suapin di depan Gilang. Aku berani. Kamu tahu aku berani.”
Aku tahu dia berani. Itu masalahnya.
Kencan pertama kami “resmi” adalah hal paling mewah yang pernah kualami, dan biayanya total tiga puluh dua ribu rupiah.
Kami berdua sama-sama tidak punya uang, dan kami berdua terlalu jujur untuk berpura-pura. Jadi kencan kami adalah martabak manis setengah porsi dibagi dua, duduk di trotoar depan tukang martabak, kaki menjuntai ke selokan, sementara Zea bersikeras membayar bagiannya (“aku nggak dibiayain, ya, aku ngedate sama kamu bukan sama dompetmu”) dan aku membiarkannya, karena aku sudah belajar bahwa mengizinkan Zea mandiri adalah bentuk lain dari mencintainya.
“Kamu tahu nggak,” katanya, mulut penuh martabak, sama sekali tidak anggun, dan aku jatuh cinta lebih dalam justru karena ketidak-anggunannya, “ini kencan pertamaku. Beneran pertama. Umur dua puluh. Aku selalu nolak semua orang, jadi aku nggak pernah—” dia mengunyah, “—duduk di selokan makan martabak sama cowok. Ternyata enak.”
“Selokannya atau martabaknya?”
“Cowoknya.” Dia menyandarkan kepala ke bahuku, dan aku merasakan seluruh berat hari yang dia bawa—dua shift, kuliah, Bunda—melonggar sedikit di bahuku. “Cowoknya enak banget.”
Aku mencium puncak kepalanya. Bau kopi dari shift-nya, dan sedikit martabak. “Bidadari kok makannya kayak orang kelaperan tiga hari.”
“Bidadari kamu ini emang laper tiga hari, cah IT. Manja dikit napa.” Dia menengadah, dan sebelum aku sempat bersiap, dia menciumku—di trotoar, di depan tukang martabak, di depan siapa pun yang lewat—dan kali ini bukan ciuman ringan. Kali ini dalam, lambat, tangannya di kerah bajuku, martabak terlupakan, dan aku lupa kami di selokan, lupa kami tidak punya uang, lupa segalanya kecuali bahwa perempuan ini memilih untuk menciumku seperti ini di tempat paling tidak romantis di kota dan itu membuatnya jadi tempat paling romantis di dunia.
Saat kami melepas, tukang martabak bertepuk tangan. Zea membungkuk seperti aktris. Aku ingin mati, dengan cara yang paling bahagia.
Malam itu, sebelum pulang, Zea berhenti di depan kosku dan mengulurkan tangan. “Jaketmu.”
“Hah?”
“Jaket abu. Yang parasut. Yang kamu pinjemin pas hujan terus aku simpen sebulan terus aku balikin di percobaan keempat pas aku lagi jahat.” Dia menggoyangkan tangannya. “Aku mau balik. Sekarang punyaku.”
“Itu jaketku—”
“Salah.” Dia menyeringai. “Itu jaket pacarku. Dan pacarku milik aku. Jadi transitif, jaketnya juga milik aku. Aku anak akuntansi, aku ngerti logika kepemilikan.”
Aku memberikannya. Tentu saja aku memberikannya. Dan Zea memakainya saat itu juga—kebesaran di bahunya, lengannya ketekuk, dia tenggelam di dalamnya—dan dia menghirup kerahnya dengan mata tertutup, cara yang sama seperti yang, kelak dia akui, dia lakukan diam-diam selama sebulan penuh saat jaket itu tergantung di gagang pintunya.
“Bau solder sama hujan,” gumamnya, puas. “Sekarang aku bisa nyium ini tiap malem tanpa harus pura-pura kedinginan.”
Dia berjalan pulang mengenakan jaketku, menoleh dua kali untuk melambai, tenggelam dalam abu-abu yang kebesaran, dan aku berdiri di depan kos memandanginya sampai dia hilang di tikungan, dengan dada yang penuh sampai sakit.
Aku tidak menghitung apa yang harus kuberikan sebagai balasan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku cuma menerima kebahagiaan tanpa mengira itu tagihan.
Baru kemudian—saat aku mengecek ponsel dan melihat Zea sudah mengirim pesan, udah sampe kos, sayang, mimpiin aku ya, jangan begadang benerin barang orang diikuti tujuh emoji—aku memperhatikan sesuatu kecil. Sebelum pesan manjanya, ada pesan yang dia ketik lalu hapus; aplikasinya sempat menunjukkan “sedang mengetik” cukup lama untuk sesuatu yang panjang, lalu tidak ada apa-apa, lalu baru pesan manja itu.
Aku tidak memikirkannya saat itu. Aku terlalu bahagia untuk memikirkannya.
Aku baru mengerti, berminggu-minggu kemudian, bahwa itu malam pertama Zea menyembunyikan sesuatu dariku—sesuatu tentang Bunda, tentang uang, tentang beban yang dia pikul—di balik tujuh emoji dan kata “sayang”.
Karena ternyata, bahkan orang yang paling berani mencintai pun masih bisa terlalu takut untuk membiarkan orang yang dia cintai ikut menanggung beratnya.
Aku sudah belajar itu tentang diriku sendiri.
Aku belum tahu Zea sedang mengajariku itu tentang dirinya.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah reading
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua