Chapter Eight
Retak
Router yang sudah kuperbaiki tidak pernah menanyakan kabarku. Itu selalu jadi bagian yang kusuka.
Minggu setelah percobaan keempat, aku menghabiskan lebih banyak waktu dari biasanya dengan benda-benda yang rusak. Aku memperbaiki tiga laptop, dua proyektor, satu mesin fotokopi yang secara medis seharusnya sudah dimakamkan. Aku tidak ke kedai kopi di seberang gerbang. Aku bilang pada diriku sendiri itu karena espresso di lab lebih murah, yang benar, tapi bukan alasannya.
Alasannya adalah kata “berhenti” yang diucapkan tanpa “maaf”.
Aku sudah ditolak empat kali. Aku bisa menanggung ditolak. Yang tidak kutahu cara menanggungnya adalah ditolak tanpa celah itu—celah kecil yang selalu ada di “tidak”-nya sebelumnya, yang membuatku, mungkin dengan bodoh, terus antre. Kali ini celahnya ditutup. Rapat. Dan dia mengembalikan jaketku, dan aku menerimanya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku memberikan sesuatu terasa seperti kekalahan justru karena dikembalikan.
“Lu keliatan kayak file yang corrupt,” kata Oskar suatu sore. “Kebuka, tapi isinya berantakan.”
“Aku baik.”
“Lu udah lima hari nggak ke kedai.”
“Espresso lab lebih murah.”
Oskar menatapku dengan tatapan yang tidak percaya sama sekali, lalu kembali ke layarnya, karena Oskar tahu kapan mendorong dan kapan cuma duduk di dekat orang supaya orang itu tidak sendirian. Dia memilih yang kedua. Aku bersyukur.
Gilang tidak sehalus itu.
“BUNG.” Dia menggeret kursi ke sebelahku, wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak ada meme di sana. “Aku mau tutup taruhannya.”
Aku mendongak. “Kenapa?”
“Karena udah nggak lucu.” Dia menggaruk tengkuk. “Awalnya lucu, kan. Anak TI nembak bidadari, odds-nya kayak beli tiket ke bulan, semua ketawa. Tapi terus...” Dia menghela napas. “Kemarin ada anak semester atas masang gede-gedean buat ‘nyerah minggu ini’. Terus dia nyeletuk, ‘kasian ya, udah jelas ditolak masih ngarep, mending sadar diri.’ Dan aku pengin nonjok dia, Bung, padahal gue yang bikin taruhannya.” Gilang menunduk. “Gue nggak niat bikin lu jadi bahan ketawaan. Gue kira lu bakal ketawa juga.”
“Aku ketawa, kok, awalnya.”
“Sekarang?”
Aku tidak menjawab. Itu jawaban.
Gilang menepuk bahuku, canggung, cara cowok menyentuh cowok yang dia sayangi tapi tak punya kata untuknya. “Ze—maksudku, dia—dia nggak jahat, kayaknya. Cuma... mungkin dia beneran nggak mau, Bung. Dan itu nggak apa-apa. Lu boleh berhenti. Nggak ada yang bakal mikir lu kalah.”
Masalahnya, aku mikir aku kalah. Dan lebih dari itu—lebih dalam dari itu, di tempat yang tidak kutunjukkan ke Gilang atau Oskar atau siapa pun—aku mikir mereka semua benar. Anak semester atas itu benar. Sadar diri. Aku menghabiskan berminggu-minggu memberi seseorang yang mengembalikan semuanya, persis seperti yang selalu kutakutkan sejak kecil: bahwa memberi tidak membuatku dipertahankan, bahwa aku bisa menjadi paling berguna di dunia dan tetap tidak dipilih, bahwa cinta bukan sesuatu yang bisa kau menangkan dengan menjadi berguna, dan aku tidak tahu cara mencintai dengan cara lain.
Malam itu aku duduk di lab yang gelap—tempat yang sama dengan malam sebelum percobaan pertama—dan aku hampir memutuskan untuk berhenti. Benar-benar hampir. Aku bahkan sudah menyusun kalimatnya di kepala: Zea, aku minta maaf udah bikin kamu nggak nyaman. Aku berhenti. Beneran. Sopan. Bersih. Mundur dengan bermartabat.
Tapi lalu aku ingat sesuatu.
Aku ingat wajahnya di bangku ketapang saat percobaan ketiga—saat “iya” hampir keluar dari mulutnya sebelum dia menariknya kembali. Aku tidak membayangkannya. Aku melihatnya. Aku menghabiskan hidupku memperhatikan detail yang orang lain lewatkan, dan aku tahu perbedaan antara perempuan yang tidak menginginkanku dan perempuan yang memaksa dirinya sendiri tidak menginginkanku, dan Zea Lovatta adalah yang kedua.
Empat kali aku menembaknya dengan tameng. Dengan nomor, dengan candaan, dengan nada ringan yang membuat penolakan lebih mudah ditanggung untuk kami berdua. Aku bersembunyi di balik “percobaan”—kata yang membuat semuanya terasa seperti permainan, yang memberiku pintu keluar tiap kali dia bilang tidak.
Aku tidak pernah, sekali pun, menembaknya sebagai diriku yang sebenarnya. Tanpa lelucon. Tanpa jaring pengaman.
Jadi ini yang kuputuskan, sendirian di lab gelap, dengan ketenangan aneh seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura:
Sekali lagi. Yang terakhir. Tapi kali ini tanpa tameng.
Aku akan berdiri di depannya sebagai diriku yang telanjang—bukan si tukang servis yang lucu, bukan anak TI yang berani, cuma Rafa yang benar-benar mencintainya—dan aku akan mengucapkannya tanpa nomor, tanpa “antre lagi”, tanpa satu pun pintu keluar. Dan kalau dia menolak itu—menolak yang sebenarnya, bukan versi lelucon—maka aku akan tahu. Bukan tahu bahwa aku kalah. Tahu bahwa aku salah baca. Dan aku akan berhenti, sungguh berhenti, karena orang yang menghabiskan hidupnya memperhatikan tidak boleh mengkhianati satu-satunya hal yang dia lihat jelas.
Tidak ada percobaan keenam. Aku memutuskannya malam itu, jauh sebelum aku mengucapkannya. Yang kelima adalah akhirnya, dengan cara apa pun.
Aku cuma tidak tahu—duduk di lab gelap itu, hampir lega karena akhirnya punya rencana—bahwa dengan melepas tameng, aku bukan cuma membuat diriku lebih mudah ditolak.
Aku juga membuatnya lebih mudah takut.
Karena selama ini, tameng itu bukan cuma melindungiku. Tameng itu juga memberi Zea sesuatu yang aman untuk ditolak. Selama aku bercanda, dia bisa menolak lelucon. Begitu aku jujur, aku memaksanya menghadapi hal yang sebenarnya—dan orang yang seluruh hidupnya dibangun di atas ketakutan pada hal yang sebenarnya tidak menolak dengan lembut saat kau merampas tamengnya.
Mereka menyerang.
Tapi aku belum tahu itu. Aku pulang malam itu hampir tenang, hampir berharap, menyusun kalimat paling jujur yang pernah kususun dalam hidupku untuk Rabu sore di bangku ketapang.
Kalimat yang, ternyata, tidak akan pernah kuselesaikan cara aku merencanakannya.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak reading
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua