Chapter Fourteen
Kamu Boleh Capek
Merawat Rafa Elvano ternyata pekerjaan tersulit yang pernah kuambil, dan aku pernah bekerja dua shift sambil kuliah penuh.
Bukan karena dia menolak. Dia terlalu sopan untuk menolak. Masalahnya justru sebaliknya: dia tidak tahu cara diterima. Setiap kali aku melakukan sesuatu untuknya, aku bisa melihat sistem di dalam dirinya panik mencari cara membalas—seolah kebaikan adalah utang yang harus segera dilunasi sebelum berbunga, seolah menerima tanpa membayar balik adalah bahasa asing yang tidak pernah dia pelajari.
Kubawakan makan siang; keesokan harinya dia “kebetulan” sudah memperbaiki charger-ku yang memang agak longgar. Kukencangkan kursinya; dia diam-diam mengisi ulang saldo transport-ku. Kubuatkan teh; dia menghabiskan satu jam mengajari Mas Yudi trik baru untuk kedai supaya, katanya, “gajimu naik.” Dia tidak bisa berhenti membayar. Dia memperlakukan setiap perawatan seolah itu tagihan.
“Kamu sadar nggak,” kataku suatu sore di lab, meletakkan kotak makan di sebelah soldernya, “tiap aku ngasih kamu sesuatu, kamu langsung nyari cara buat balikin?”
Dia berhenti menyolder. Berpikir. “...Enggak sadar.”
“Sekarang sadar.” Aku duduk di kursi yang sudah kubetulkan. “Rafa. Kamu boleh nerima sesuatu tanpa ngerasa harus bayar. Itu diizinkan. Itu—” aku mencari kata yang tepat, “—itu yang normal orang lakuin sama orang yang mereka sayang.”
Dia menatap kotak makan seperti benda yang tidak dia percayai. “Aku nggak tahu caranya.”
Dan itu—diucapkan sepolos itu, oleh cowok yang telah memberi ke seluruh kampus selama bertahun-tahun—hampir membuatku menangis di kursi yang baru kubetulkan.
Karena aku mengerti. Aku mengerti persis. Kami dua orang yang sama-sama tidak pernah belajar cara diterima untuk diri sendiri—dia karena dia yakin cuma berharga saat berguna, aku karena aku yakin cuma aman saat tidak menginginkan apa-apa. Kami cocok dalam kerusakan kami. Itu bukan hal romantis untuk disadari. Itu hal yang menyayat.
Kesempatanku datang hari Kamis, saat aku menemukannya di lab jam sembilan malam, masih di sana, matanya merah, tangannya sedikit gemetar karena kafein dan kurang tidur, memperbaiki server fakultas yang error menjelang pengumpulan nilai—untuk dosen yang bahkan tidak tahu namanya.
“Rafa. Kamu udah di sini dari pagi.”
“Bentar lagi. Tinggal migrasi database.”
“Kamu belum makan malam.”
“Nanti.”
“Kamu udah bilang ‘nanti’ tiga kali menurut Oskar.”
Dia tidak menjawab, cuma mengetik lebih cepat, punggung membungkuk seperti hari pertama aku melihatnya. Dan aku merasakan sesuatu di dadaku mengeras jadi tekad.
Aku menutup laptopnya. Pelan. Menahannya dengan telapak tanganku.
“Zea—database—”
“Server-nya bisa nunggu lima menit,” kataku. “Kamu enggak.”
Dia mendongak, dan untuk sesaat aku melihat ketakutan yang sama seperti di Bab—seperti waktu dia bilang dia takut berharap. Ketakutan seseorang yang seluruh nilainya terikat pada terus bergerak, terus memberi, terus berguna, dan tidak tahu siapa dia kalau dia berhenti.
Jadi aku memberitahunya. Kalimat yang, kelak, akan kuucapkan berulang kali sampai dia percaya, kalimat yang menjadi milik kami:
“Kamu boleh capek, Rafa.”
Dia berkedip.
“Kamu nggak harus benerin apa-apa buat pantes istirahat. Kamu nggak harus berguna buat pantes dirawat. Kamu boleh capek, dan kamu boleh berhenti, dan dunia nggak akan runtuh, dan aku—” suaraku menipis, “—aku nggak akan pergi cuma karena buat sekali ini kamu yang butuh dipegang, bukan yang megang.”
Lab itu senyap. Server berdengung. Di suatu tempat di gedung, lampu neon berkedip.
Dan Rafa Elvano—cowok paling baik yang pernah kukenal, yang menyelamatkan seisi kampus tanpa tanda tangan, yang tidak pernah sekali pun meminta apa pun untuk dirinya sendiri—menunduk, menutup matanya, dan menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti sesuatu yang sudah dia tahan bertahun-tahun.
“Aku capek banget, Zea,” bisiknya. Nyaris tak terdengar. Seperti pengakuan dosa.
“Aku tahu.” Aku menariknya pelan dari kursi, dari server, dari kabel. “Sini. Makan dulu. Sini.”
Dan dia mengizinkanku.
Untuk pertama kalinya, dia mengizinkanku merawatnya tanpa mencari cara membayar balik. Dia makan nasi yang kubawa, di lantai lab, bersandar ke dinding, matanya setengah tertutup karena lelah, dan aku duduk di sebelahnya dan tidak melakukan apa-apa selain ada—dan itu, ternyata, adalah hal paling intim yang pernah kubagi dengan siapa pun. Lebih intim dari ciuman. Membiarkan seseorang yang selalu kuat menjadi lelah di dekatmu, dan menjaganya sementara dia lelah.
“Ini aneh,” gumamnya, setengah tidur, kepala mulai miring ke arah bahuku. “Aku nggak ngerti kenapa kamu di sini.”
“Aku tahu.”
“Aku terus nunggu kamu sadar aku nggak—”
“Rafa.” Aku memiringkan kepalaku sampai menyentuh puncak kepalanya, dan aku merasakan dia menegang, lalu, perlahan, tidak. “Diem. Tidur bentar. Aku jagain server-mu. Aku pernah lihat kamu ngerjainnya, aku bisa neken ‘enter’ pas prosesnya selesai.” Aku merasakan tawa kecil bergetar di bahuku. “Aku nggak akan biarin kerjaanmu gagal. Aku juga nggak akan biarin kamu gagal. Dua-duanya.”
Dia tertidur di bahuku di lantai lab, di antara kabel dan bau solder, cowok yang menjaga seluruh dunia akhirnya membiarkan seseorang menjaganya.
Aku menekan “enter” saat migrasi database selesai, jam sepuluh lewat, persis seperti yang kujanjikan. Server-nya selamat. Dan aku duduk di lantai dingin itu dengan berat kepalanya di bahuku sampai kakiku kesemutan dan aku tidak berani bergerak, karena aku tahu—dengan keyakinan yang tenang dan mengerikan dan indah—bahwa aku sedang jatuh cinta lebih dalam pada seseorang yang tertidur daripada yang pernah kurasakan pada siapa pun yang terjaga.
Aku mengagumi kebaikannya sejak awal. Tapi malam itu, di lantai lab, aku menyayangi kelelahannya. Aku menyayangi bagian dirinya yang dia pikir harus disembunyikan supaya layak dicintai.
Dan aku bersyukur—benar-benar bersyukur, dengan syukur yang membuat mataku panas di lab yang gelap—bahwa dari semua orang yang bisa mengejar Rafa Elvano, akulah yang tahu persis apa yang dia butuhkan.
Bukan seseorang yang dia selamatkan.
Seseorang yang menyelamatkannya balik.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek reading
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua