← 5 Confessions

Chapter Four

Jangan Jatuh

Masalah dengan seseorang yang baik luar biasa adalah dia tidak pergi setelah ditolak. Dia cuma... tetap di sana, dengan cara yang sopan dan tak bisa kau salahkan, sampai kau mulai lupa kenapa kau menolaknya.

Minggu berikutnya, tanpa aku pernah memintanya, hidup Rafa dan hidupku mulai beririsan di tempat-tempat kecil.

Dia jadi pelanggan kedai kopi tempatku kerja—selalu memesan yang paling murah, selalu duduk di pojok yang paling tidak enak, selalu membawa laptop dan sekantong komponen yang dia bongkar-pasang sambil menunggu entah apa. Dia tidak pernah menggodaku. Tidak pernah memanggilku ke mejanya. Kalau kedai ramai dan tanganku penuh, dia yang menggeser gelas kotor ke tepi meja supaya aku lebih gampang mengangkatnya, lalu pura-pura sibuk dengan kabelnya seolah itu bukan apa-apa.

Dia juga—ini yang membuatku gila—tahu hal-hal.

Dia tahu mesin espresso tua kami akan mati kalau dinyalakan bareng pemanas air, jadi dia diam-diam mengajari Mas Yudi urutan menyalakannya, dan tiba-tiba mesin itu berhenti mati, dan Mas Yudi mengira itu keajaiban. Dia tahu jam berapa aku biasa kehabisan tenaga di shift sore, dan pada jam itu, entah bagaimana, selalu ada satu roti sisa “yang mau kadaluarsa, sayang kalau dibuang” tersisa di dekat kasir. Aku tidak pernah melihatnya menaruhnya. Tapi aku tahu.

“Kamu ngerawat semua orang kayak gini,” kataku suatu sore, tak tahan lagi, “atau cuma yang nolak kamu?”

Dia mendongak dari kabelnya. Untuk sesaat ada sesuatu di wajahnya yang tidak sempat kubaca—sesuatu yang hampir seperti tertangkap basah. Lalu hilang.

“Semua orang,” katanya. Jujur. “Kamu nggak spesial.”

Dan entah kenapa, dari semua rayuan yang pernah dilemparkan orang padaku, “kamu nggak spesial” adalah kalimat pertama dalam bertahun-tahun yang membuatku ingin tertawa sungguhan—tawa yang tidak kupasang, tidak kulatih, yang keluar sebelum aku sempat mengeceknya di depan cermin batinku.

Aku menutup mulut. Terlambat. Dia sudah melihatnya. Dan yang paling buruk, dia tidak menang-menangan soal itu; dia cuma kembali ke kabelnya, sudut bibirnya naik sedikit, membiarkan tawa itu jadi milikku sendiri.

Malam itu aku pulang dan sadar aku menunggu-nunggu shift sore. Bukan takut. Menunggu.

Itu membuatku ngeri sampai ke tulang.


Sabtu, aku pulang ke rumah.

Rumah kami di gang sempit di pinggir kota, satu petak yang catnya sudah lama menyerah, tempat Bunda tinggal bersama Dema, adikku yang kelas dua SMA dan tumbuh terlalu cepat karena keadaan tidak memberi izin untuk lambat. Aku pulang dua minggu sekali, membawa uang yang kukumpulkan sen demi sen, dan setiap kali aku pulang, aku menghitung ada berapa hal baru yang Bunda sembunyikan dariku.

Kali ini: botol obat baru di rak dapur. Dan batuk yang tidak mau berhenti, yang Bunda tepis dengan “cuma masuk angin, Ze, jangan lebay.”

“Bunda ke dokter, ya,” kataku.

“Mahal, Nak. Nanti. Kalau uang jahitan bulan ini lebih.” Bunda tersenyum, senyum yang kukenal karena aku mewarisinya—senyum yang dipasang supaya orang yang kau sayangi tidak khawatir. “Kamu gimana? Beasiswanya aman? IPK?”

“Aman, Bun.”

“Kerjanya jangan dua-duanya. Kamu kurusan.”

“Aman, Bun.”

Kami duduk di lantai dapur, mengupas bawang untuk stok jualan Bunda minggu depan, dan aku memandang tangannya—tangan yang sudah tiga puluh tahun bekerja untuk dua anak yang ditinggalkan seorang laki-laki yang tidak pernah menoleh ke belakang—dan aku merasakan lagi hal yang selalu kurasakan di dapur ini. Bukan sedih. Lebih keras dari sedih. Semacam sumpah.

Karena aku ingat. Aku masih sepuluh tahun malam itu, di dapur yang sama, saat Bunda akhirnya patah setelah berbulan-bulan berpura-pura kuat. Aku ingat suaranya, serak, di lantai ini juga: “Jangan pernah taruh hidupmu di tangan orang lain, Zea. Jangan pernah.”

Aku menyimpan kalimat itu seperti orang lain menyimpan ayat. Aku membangun seluruh diriku di atasnya. Aku memutuskan, dengan logika keras seorang anak yang ketakutan, apa artinya: jangan jatuh cinta. Jangan biarkan seorang pun jadi hal yang bisa menghancurkanmu. Tidak sampai kau aman. Tidak sampai Bunda aman, Dema aman, sampai tidak ada lagi botol obat yang disembunyikan dan receh yang dihitung dua kali. Cinta adalah kemewahan untuk perempuan yang mampu membayar kalau nanti rugi, dan aku belum, belum, belum mampu.

“Ze.” Bunda menyenggol lututku. “Kamu ngelamun. Ada apa?”

“Nggak ada, Bun.” Senyum-seragam. “Cuma capek.”

Bunda menatapku agak lama, cara ibu-ibu menatap saat mereka tahu kau bohong tapi memilih membiarkanmu. “Kamu tahu,” katanya pelan, kembali ke bawangnya, “Bunda nggak mau kamu jadi Bunda. Kerja terus, nggak pernah... hidup.”

“Aku hidup, kok.”

“Hidup itu bukan cuma nggak mati, Nak.”

Aku tidak menjawab. Aku mengupas bawang sampai mataku perih, dan aku berpura-pura itu bawang.


Aku kembali ke kos hari Minggu malam, dan jaket abu itu masih tergantung di gagang pintu, sudah kering sejak lama, sudah seharusnya kukembalikan sejak lama.

Aku mengambilnya. Aku bermaksud melipatnya, memasukkannya ke tas, mengembalikannya besok dengan sopan dan tegas dan mengakhiri apa pun ini sebelum jadi apa-apa.

Aku malah memakainya.

Cuma sebentar, kataku pada diriku sendiri. Cuma untuk merasakan bau solder dan hujan itu satu kali lagi. Cuma untuk mengizinkan diriku, selama tiga puluh detik di dalam kamar kos tempat tidak ada yang melihat, membayangkan sebuah versi hidupku di mana aku boleh menunggu-nunggu shift sore tanpa merasa itu pengkhianatan. Di mana seseorang yang baik luar biasa menyisihkan roti sisa untukku dan aku boleh, boleh sekali saja, membiarkannya.

Lalu aku melepas jaket itu, melipatnya rapi, dan berkata pada diriku sendiri hal yang sudah kukatakan sejak umur sepuluh tahun, hal yang kupikir sudah kupahat cukup dalam untuk tak bisa dicabut siapa pun:

Jangan jatuh.

Aku belum tahu bahwa aku sudah, sudah, sudah mulai.

Aku cuma belum berani menghitungnya—seperti receh yang kutakut menghitungnya, karena aku tahu hasilnya tidak akan cukup, atau justru akan terlalu banyak, dan aku tidak siap untuk keduanya.

Rabu depan, dia akan bilang “percobaan ketiga.”

Dan Rabu depan, untuk pertama kalinya, aku takut pada jawabanku sendiri.