← 5 Confessions

Chapter Twelve

Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu

Kalau kamu mau mengejar seseorang dengan benar, kamu harus tahu dulu siapa yang kamu kejar.

Dan aku menyadari, dengan malu yang membakar, bahwa aku nyaris tidak tahu apa-apa tentang Rafa Elvano. Aku tahu bau jaketnya. Aku tahu caranya menyelamatkan formulir dan menggeser gelas kotor dan memisahkan cinta dari kebaikan. Tapi selebihnya, aku sadar, aku sama saja dengan seluruh kampus: aku melihat permukaannya dan mengira aku mengenalnya.

Jadi aku melakukan hal yang belum pernah kulakukan untuk siapa pun. Aku bertanya.

Aku mulai dari Mas Yudi, di kedai kopi, di sela shift.

“Rafa?” Mas Yudi mengelap konter, tersenyum. “Anak baik itu. Kamu tahu mesin espresso kita nggak pernah mati lagi setahun ini? Dulu tiap hari mati, Ze. Aku kira udah waktunya beli baru—tiga belas juta, mana ada. Terus si Rafa dateng, ngoprek sebentar, terus ngajarin aku urutan nyalainnya. Nggak minta apa-apa. Malah bilang jangan cerita ke bos, nanti bos-nya mikir mesinnya masih bagus, nggak mau naikin gajiku.” Mas Yudi tertawa. “Dia yang mikirin gajiku, Ze. Padahal dia cuma numpang ngopi.”

Aku berdiri di balik konter dengan lap di tangan dan sesuatu yang aneh tumbuh di dadaku.

Aku bertanya ke Bu Sari, petugas perpustakaan. Ternyata Rafa yang diam-diam memperbaiki sistem katalog yang rusak berbulan-bulan, lembur tiga malam, lalu membiarkan staf IT resmi mengambil pujiannya karena “mereka yang butuh nilai bagus di depan atasan, aku enggak.”

Aku bertanya ke anak-anak UKM. Ternyata Rafa yang menyelamatkan seluruh dokumentasi acara mereka dari flashdisk yang mati sehari sebelum laporan pertanggungjawaban. Ternyata Rafa yang mengajari maba jurusan lain cara memperbaiki laptop mereka sendiri, “biar nggak usah bayar tukang servis, mahal katanya,” sampai ada sekelompok anak yang tidak pernah dia sadari menganggapnya semacam kakak.

Ternyata di seluruh kampus ini ada jejak-jejak kebaikan yang tak bertanda tangan, dan kalau kau tahu cara membacanya, semuanya mengarah ke satu orang yang tidak pernah mengaku.

Nadia benar, dulu, di hari pertama. Kalau kampus ini punya malaikat, ya dia—cuma malaikatnya nggak pernah ngasih tahu dia yang benerin.

Aku dulu terlalu sibuk berjalan cepat untuk memperhatikan.


Yang paling menghancurkanku datang dari Oskar.

Aku memberanikan diri menghampirinya—teman sekamar Rafa, deadpan, yang menatapku seperti soal matematika yang jawabannya sudah dia tahu tapi malas dia tuliskan.

“Kamu mau tahu tentang Rafa,” katanya sebelum aku sempat bertanya. “Biar aku hemat waktumu. Dia bakal ngasih ke siapa aja yang butuh, sampai habis, tanpa nyimpen buat dirinya sendiri. Dan dia bakal ngelakuin itu sambil yakin, jauh di dalem, kalau dia berhenti ngasih, semua orang bakal pergi.” Oskar menutup laptopnya. “Kamu tahu kenapa dia nembak kamu, dari semua orang?”

Aku menggeleng.

“Karena kamu satu-satunya yang dia lihat ngasih tanpa dilihat siapa-siapa. Risoles ke kucing pincang, katanya, jam setengah enam pagi. Dia cerita itu ke aku kayak nemu spesies langka.” Oskar menatapku, dan untuk sekali suaranya tidak deadpan. “Dia pikir dia nemu orang yang kayak dia. Orang yang ngasih tanpa nuntut balik. Dia pikir, mungkin, orang kayak gitu bakal ngerti dia—bakal milih dia balik. Bukan karena dia berguna. Karena dia dia.”

Oskar berdiri, memasukkan laptop ke tas.

“Terus di bangku itu, kamu bilang dia nggak akan pernah dipilih.” Dia mengangkat bahu, tapi ada sesuatu yang tajam di baliknya. “Kamu ngambil satu-satunya harapan yang dia berani punya—bahwa ada orang yang bisa milih dia buat dirinya sendiri—dan kamu bilang harapan itu bohong. Pake mulut orang yang paling dia percaya buat jujur.” Dia menyampirkan tas. “Aku nggak bilang ini biar kamu ngerasa jelek, Zea. Aku bilang ini karena kalau kamu mau benerin, kamu harus ngerti apa yang kamu patahin. Kamu nggak cuma nolak dia. Kamu ngonfirmasi mimpi buruknya.”

Dia pergi, meninggalkanku di koridor sayap timur, dekat lab tempat Rafa membenarkan hal-hal yang rusak untuk orang-orang yang tak tahu namanya.

Aku bersandar ke dinding. Aku tidak menangis—aku sudah lelah menangis—tapi sesuatu di dalamku menata ulang dirinya, permanen, seperti ruangan yang perabotnya digeser dan tak akan pernah kembali ke posisi lama.

Aku pikir aku mengagumi Rafa karena dia baik padaku. Aku salah. Kebaikannya padaku cuma satu tetes dari lautan yang dia tumpahkan ke seluruh dunia, diam-diam, tiap hari, tanpa mencatat, tanpa menuntut, sambil diam-diam yakin bahwa itu satu-satunya alasan dia layak ada.

Orang seperti itu tidak butuh dikejar dengan gestur besar. Dia sudah muak jadi pusat perhatian yang tak pernah dia minta. Orang seperti itu butuh satu hal yang tidak pernah dia terima seumur hidupnya:

Seseorang yang merawatnya balik. Tanpa dia harus mengerjakan apa pun untuk pantas mendapatkannya.

Dan aku—yang seumur hidup dilihat wajahku bukan diriku, yang tahu persis rasanya diinginkan untuk hal yang salah—mungkin satu-satunya orang di kampus ini yang mengerti persis apa artinya itu.

Aku mendorong diriku dari dinding.

Rafa membangun tembok, dan temboknya bagus, dan dia berhak atas temboknya. Aku tidak akan merobohkannya dengan teriakan atau bunga atau pengumuman di depan seluruh kampus. Aku akan melakukan hal yang jauh lebih sabar, jauh lebih sulit, jauh lebih menakutkan untuk perempuan yang tidak pernah memberi apa pun tanpa menghitung dulu apakah dia mampu:

Aku akan muncul. Diam-diam. Berulang-ulang. Untuk dia, bukan untuk penonton. Aku akan memperbaiki hal-hal kecil dalam hidupnya sebelum dia sadar hal-hal itu rusak—persis seperti yang dia lakukan untuk semua orang selama ini. Aku akan menjadi, untuk sekali dalam hidupnya, orang yang memperhatikan si tukang perhatian.

Dan aku akan melakukannya selama yang dibutuhkan, dengan antrean sepanjang apa pun, sampai Rafa Elvano akhirnya percaya pada satu hal yang paling dia takut percayai:

Bahwa dia layak dipilih bahkan saat tangannya kosong.

Bab pertama antreanku dimulai besok.

Dan kali ini, tidak seperti seumur hidupku sebelumnya, aku tidak takut menghitung berapa lama.