Chapter Twenty
Jatuh
Zea Lovatta menghabiskan bertahun-tahun mengajari dirinya sendiri untuk tidak jatuh.
Jangan jatuh cinta. Jangan jatuh miskin lebih dalam. Jangan jatuh sakit karena sakit itu mahal. Jangan jatuh, titik—karena dia satu-satunya yang memegang, dan yang memegang tidak boleh jatuh.
Dia jatuh hari Kamis, jam sebelas malam, di lantai kedai kopi, di tengah shift kedua.
Mas Yudi yang meneleponku, panik. Aku sampai dalam dua belas menit—entah bagaimana, aku tidak ingat perjalanannya—dan menemukan Zea duduk bersandar di dinding belakang kedai, pucat, keringat dingin, mencoba berdiri dan gagal, mencoba tersenyum dan gagal juga.
“Aku baik,” katanya, saat aku berlutut di depannya. Bibirnya nyaris tak berwarna. “Cuma pusing. Bentar lagi aku lanjut shift—”
“Enggak.” Aku menyentuh dahinya. Panas. Demam, dan yang jenis yang datang dari tubuh yang sudah lama diperas melewati batasnya. “Kamu nggak lanjut shift. Kamu ikut aku.”
“Mas Yudi butuh—”
“Mas Yudi udah aku bilangin,” kataku, lebih tegas dari yang pernah kupakai padanya. “Zea. Buat sekali. Berhenti mikirin siapa yang butuh kamu. Sekarang giliran kamu yang butuh.”
Dia menatapku, dan aku melihat pertarungan di matanya—dorongan seumur hidup untuk terus berdiri, untuk terus memegang, melawan tubuh yang akhirnya menolak dipaksa. Tubuhnya menang. Dia menyerah, sedikit, cukup untuk membiarkanku menyelipkan lengan di bawah lututnya dan mengangkatnya.
“Aku berat,” protesnya lemah, kepala jatuh ke bahuku.
“Kamu ringan banget,” kataku, dan suaraku hampir pecah, karena dia memang ringan—terlalu ringan, tubuh yang menghemat makan supaya orang lain bisa makan. “Itu masalahnya, Zea. Kamu ringan banget.”
Aku merawatnya di kosnya malam itu, dan dia adalah pasien terburuk yang pernah ada.
“Aku bisa sendiri,” katanya, saat aku menyeka keringatnya dengan handuk dingin.
“Aku tahu kamu bisa sendiri.” Aku memerasnya lagi. “Kamu bisa segalanya sendiri. Itu bukan alasan buat sendiri.”
“Kamu harusnya pulang. Besok kamu ada—”
“Zea.” Aku meletakkan handuk itu, mengambil tangannya, dan mengulang kalimat yang pernah dia berikan padaku di lantai lab, kalimat yang menyembuhkanku, sekarang kubalikkan untuknya. “Kamu boleh capek.”
Dia terdiam.
“Kamu bilang itu ke aku,” kataku pelan. “Di lab. Kamu bilang aku nggak harus berguna buat pantes dirawat. Sekarang aku bilang ke kamu. Kamu boleh capek, Zea. Kamu boleh berhenti megang, sebentar aja, dan dunia nggak akan runtuh. Aku pegangin. Aku janji. Cuma buat malam ini—kamu inget janji hari ini? Aku janji buat malam ini aku pegangin semuanya. Kamu tidur.”
Dan Zea Lovatta—perempuan yang tidak pernah, dalam ingatan siapa pun, membiarkan seseorang menanggung beratnya—menangis. Bukan tangis dramatis. Tangis lelah, pelan, tangis seseorang yang sudah terlalu lama kuat dan akhirnya, untuk beberapa menit, diizinkan tidak.
“Aku capek banget, Fa,” bisiknya, dan itu kata-kata yang sama yang pernah kuucapkan padanya, dan aku mengerti sekarang betapa mahalnya kata-kata itu, betapa banyak yang harus runtuh sebelum kau bisa mengucapkannya. “Aku capek megang semuanya sendiri. Bunda sakit dan makin parah dan dia sembunyiin dari aku, dan aku sembunyiin dari kamu, dan uangnya nggak pernah cukup, dan aku terus ngitung dan ngitung dan nggak pernah—”
Dia berhenti, sadar dia sudah mengatakan terlalu banyak, refleks lama menutup pintu.
Tapi sudah keluar. Bunda makin parah. Uangnya tidak cukup. Beban yang dia pikul sendirian, yang dia sembunyikan bahkan dariku di balik tujuh emoji dan kata “sayang”.
“Kenapa kamu nggak cerita,” kataku, selembut yang bisa. “Soal Bunda. Soal uang. Zea, aku pacarmu. Beban kamu itu beban aku juga.”
“Karena kamu udah mikul banyak,” bisiknya, mata setengah tertutup, demam menariknya ke tidur. “Kamu ngasih ke semua orang sampe habis. Aku nggak mau jadi satu beban lagi di bahumu. Aku mau jadi orang yang ngeringanin kamu, bukan yang nambahin.”
Dan di situ aku mengerti sesuatu tentang perempuan yang kucintai yang membuatku ingin memeluknya sampai dunia lupa cara menyakitinya.
Kami sama. Kami persis sama. Aku memberi ke semua orang karena aku takut hanya berharga saat berguna. Dia menolak menerima dari siapa pun karena dia takut jadi beban yang membuat orang pergi. Dua sisi dari ketakutan yang sama: bahwa kami hanya layak dicintai selama kami tidak meminta apa-apa.
Kami menghabiskan berbulan-bulan menyembuhkan luka itu di diriku.
Aku baru sadar malam itu bahwa luka yang sama, persis, tumbuh di dirinya—dan bahwa menyembuhkannya di dia akan jauh lebih sulit, karena Zea Lovatta lebih keras kepala daripada aku, dan karena beban yang dia sembunyikan bukan cuma ketakutan.
Beban yang dia sembunyikan adalah seorang ibu yang sakitnya makin parah, dan sebuah rumah yang bergantung sepenuhnya di bahunya, dan sebuah krisis yang—aku bisa merasakannya, dengan naluri orang yang selalu bisa membaca kerusakan sebelum terjadi—sedang mendekat.
Aku menjaganya sepanjang malam. Aku menyeka demamnya, mengganti kompres, memastikan dia minum. Aku menekan tombol yang benar saat alarm obatnya bunyi, seperti dia menekan “enter” untuk server-ku dulu. Dan menjelang subuh, saat demamnya turun dan napasnya melembut dan dia tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama, aku duduk di lantai di sebelah kasurnya, memegang tangannya, dan membuat keputusan diam-diam.
Aku akan mencari tahu seberapa parah keadaan Bunda. Aku akan mencari jalan—bukan sedekah, jalan, seperti yang kulakukan dengan klinik dulu—supaya Zea tidak harus memikul semuanya sendirian. Aku akan melakukannya diam-diam, seperti aku melakukan segalanya, supaya harga dirinya utuh.
Aku tidak tahu, saat itu, bahwa kebiasaan lamaku—memberi diam-diam, menyelesaikan masalah orang tanpa memberitahu mereka—akan berbenturan langsung dengan kebutuhan Zea untuk memegang kendali atas hidupnya sendiri.
Aku tidak tahu bahwa kebaikanku, yang selama ini menyembuhkan, bisa juga melukai.
Aku cuma tahu, subuh itu, memandang wajah tidur perempuan yang mengajariku bahwa dicintai itu diizinkan, bahwa aku akan melakukan apa pun untuk meringankan bebannya.
Bahkan hal-hal yang, ternyata, tidak seharusnya kulakukan tanpa bertanya dulu.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh reading
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua