Chapter Nineteen
Rumah
Aku menunda membawa Rafa ke rumah selama tiga minggu, dan aku tahu persis kenapa.
Bukan karena aku malu pada Rafa. Karena aku malu pada rumah.
Petak sempit di gang yang catnya menyerah, atap yang bocor di satu titik yang kami tampung pakai ember, satu kamar yang kubagi dengan Dema tiap kali pulang. Aku menghabiskan hidup memastikan tidak ada yang di kampus tahu dari mana aku berasal—senyum-seragam, jalan cepat, tidak pernah mengundang siapa pun. Dan sekarang aku harus membawa orang yang kucintai ke tempat yang paling menunjukkan betapa sedikit yang kupunya.
“Kamu tegang,” kata Rafa di angkot, menautkan jarinya dengan jariku. “Dari tadi kamu ngeremes tanganku kayak stress ball.”
“Rumahku kecil,” kataku. Cepat. Rata. Armor lama, refleks. “Sempit. Bocor. Nggak ada—”
“Zea.” Dia menghentikanku dengan pelan. “Aku benerin router di rumah orang tiap minggu. Aku pernah ke rumah gedong yang dingin banget sampe aku menggigil—bukan karena AC, karena nggak ada cinta di dalemnya. Aku nggak peduli rumahmu kecil. Aku peduli itu rumah yang ngebesarin kamu jadi orang yang nyisihin risoles buat kucing pincang.” Dia mencium punggung tanganku. “Aku pengin lihat tanahnya. Yang numbuhin kamu.”
Dan begitulah caranya membuat rasa maluku larut—bukan dengan menyangkalnya, tapi dengan membingkai ulang seluruhnya sampai hal yang kukira kelemahan jadi terlihat seperti akar.
Dema membukakan pintu dengan wajah adik laki-laki paling protektif se-Asia Tenggara.
“Jadi ini,” katanya, melipat tangan, tujuh belas tahun dan sok dewasa, “cowok yang bikin Kakak nangis lima kali.”
“Dema—”
“Enggak apa-apa,” kata Rafa tenang. Dia berjongkok sedikit supaya sejajar dengan tatapan Dema—bukan merendahkan, menghormati. “Kamu bener. Aku emang bikin kakakmu nangis. Dan kakakmu bikin aku nangis juga. Kita impas.” Dia mengulurkan tangan. “Rafa. Aku bakal jaga dia. Tapi aku tahu kamu yang jaga dia dari kecil, jadi aku minta izin kamu dulu, bukan minta kamu percaya. Percaya itu nanti, kalau aku udah buktiin.”
Dema menatap tangan itu lama. Aku menahan napas.
“...Kakak nyebut kamu ‘anak IT yang benerin printer’ pas cerita,” kata Dema akhirnya, menjabat. “Wifi rumah kita error mulu. Bisa benerin nggak?”
“Bisa.”
“Ya udah masuk.” Dema berbalik, lalu menoleh, mata menyipit. “Tapi kalau Kakak nangis lagi gara-gara kamu, aku tahu di mana lab kamu.”
“Fair,” kata Rafa, dan aku melihat sudut bibirnya naik, dan aku melihat Dema—adikku yang tidak pernah suka siapa pun—diam-diam memutuskan dia suka cowok ini.
Rafa memperbaiki wifi dalam sepuluh menit. Lalu, tanpa diminta, dia memperbaiki engsel pintu kamar mandi yang sudah setahun miring, dan menunjukkan Dema cara membetulkannya sendiri lain kali “biar nggak usah panggil tukang”. Dan aku berdiri di dapur kecil kami, memandang cowok yang kucintai mengajari adikku hal-hal yang seharusnya diajarkan seorang ayah, dan aku harus berbalik supaya tidak ada yang melihat wajahku.
Bunda jatuh cinta pada Rafa lebih cepat dari aku.
“Nak,” katanya, menepuk tempat di sebelahnya di lantai—kami selalu duduk di lantai, tidak pernah punya cukup kursi—“makan yang banyak. Kamu kurus. Zea juga kurus. Kalian ini kenapa kurus semua.” Dia menyendokkan lebih banyak nasi ke piring Rafa tanpa bertanya, cara ibu-ibu menunjukkan sayang. “Zea nggak pernah bawa siapa-siapa ke sini. Sepuluh tahun. Kamu yang pertama.”
“Bunda,” aku memperingatkan.
“Apa? Bunda seneng.” Bunda tersenyum, dan senyum itu—senyum yang kuwarisi—terlihat lelah dengan cara yang membuat dadaku dingin. “Bunda kira Zea nggak bakal pernah bawa siapa-siapa. Anak ini, dari kecil, kayak nutup pintu. Bunda sampe khawatir dia bakal sendirian terus, kerja terus, nggak pernah—”
Bunda berhenti. Batuk. Batuk yang lebih panjang dari yang seharusnya, batuk yang dia tutup dengan tangan lalu tepis dengan “cuma tersedak”. Tapi aku melihat Rafa memperhatikan—memperhatikan dengan mata yang sama yang dulu melihat aku memegang formulir seperti mau diselamatkan—dan aku melihat sesuatu terlintas di wajahnya. Perhatian. Kalkulasi diam-diam yang biasa dia lakukan sebelum memperbaiki hal yang rusak.
“Bunda udah kontrol bulan ini?” tanyaku, menjaga suaraku ringan.
“Udah, udah. Jangan lebay.” Bunda mengibaskan tangan. “Kamu urus hidupmu. Bunda urus Bunda.”
Tapi obat di rak dapur bertambah satu botol lagi sejak terakhir aku pulang. Dan Bunda lebih kurus. Dan batuknya, walau dia menyembunyikannya di balik tawa, tidak sebaik yang seharusnya untuk seseorang yang katanya minum obat rutin.
Aku menyimpan kekhawatiran itu di tempat yang sama aku menyimpan semua kekhawatiranku—di dalam, di bawah senyum, di tempat yang tidak kubagi dengan siapa pun. Bahkan tidak dengan Rafa. Terutama tidak dengan Rafa. Karena Rafa sudah punya cukup yang dia pikul, dan aku tidak akan menambahkan beratku ke bahunya. Aku yang megang. Aku selalu yang megang.
Saat kami pulang, di gang gelap menuju jalan besar, Rafa menggenggam tanganku dan tidak melepasnya.
“Rumahmu bagus,” katanya.
“Rumahku bocor.”
“Rumahmu penuh cinta.” Dia menoleh. “Ember di bawah bocoran itu—posisinya udah pas banget, udah dihafalin bertahun-tahun. Itu bukan tanda rumah yang rusak, Zea. Itu tanda keluarga yang belajar hidup baik-baik di tengah yang rusak. Itu... ” dia mencari kata, “...itu keahlian. Keahlian yang cuma dimiliki orang yang nggak pernah punya banyak tapi tetap milih baik.”
Aku berhenti berjalan. Di gang gelap itu, aku memeluknya—tiba-tiba, keras, wajahku di dadanya—karena tidak ada satu pun orang dalam hidupku yang pernah melihat kemiskinanku dan menyebutnya keahlian alih-alih aib.
“Aku cinta kamu,” kataku ke dadanya. “Aku cinta kamu banget sampe kadang aku takut.”
“Takut kenapa?”
Aku hampir memberitahunya. Tentang Bunda. Tentang botol obat yang bertambah. Tentang beban yang kupikul yang mulai terlalu berat bahkan untuk bahu yang kulatih seumur hidup. Kalimatnya sudah di ujung lidahku.
Lalu aku menelannya, dan menggantinya dengan yang lebih aman.
“Takut sebahagia ini,” kataku. Setengah bohong. Setengah benar. “Aku nggak biasa. Aku terus nunggu ada yang salah.”
Rafa memelukku lebih erat, tidak tahu bahwa ada yang memang sedang salah, tumbuh pelan di dapur rumah petak, di dalam paru-paru perempuan yang mengajariku bahwa cinta adalah jebakan—dan tidak tahu bahwa aku, yang baru saja bersumpah tidak akan pernah menaruh hidupku di tangan orang lain, sekarang mencintai seseorang cukup dalam untuk suatu hari melanggar sumpah itu.
Aku belum tahu betapa cepat “suatu hari” itu akan datang.
Aku cuma tahu, di gang gelap itu, dipeluk oleh cowok yang menyebut kemiskinanku keahlian, bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ingin membiarkan seseorang ikut memegang—
—dan bahwa aku masih terlalu takut untuk mengizinkannya.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah reading
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua