← 5 Confessions

Chapter Twenty Two

Tanpa Nanya

Aku melakukannya dengan cara yang selalu kulakukan segalanya: diam-diam, rapi, tanpa tanda tangan.

Setelah malam Zea tumbang, aku mencari tahu. Tidak sulit—aku tahu cara mencari informasi, dan aku punya sepupu yang bekerja di rumah sakit rujukan. TB Bunda tidak membaik seperti seharusnya; obatnya butuh disesuaikan, butuh pemeriksaan lanjutan yang tidak ditanggung, butuh dokter spesialis yang antreannya berbulan-bulan di jalur gratis. Semua itu butuh uang yang Zea hitung tiap malam di buku catatan kecil yang dia kira tidak kutahu keberadaannya.

Jadi aku mengurusnya. Aku menghubungi sepupuku, mengatur slot dengan dokter spesialis yang bagus, membayar selisih pemeriksaan dari tabungan yang kukumpulkan dari servis-servis sampingan selama bertahun-tahun—uang yang memang tidak pernah kupakai untuk apa pun, karena aku tidak pernah tahu untuk apa aku mengumpulkannya sampai sekarang. Aku menelepon Bunda langsung, memperkenalkan diri lebih formal, dan mengatur semuanya dengan Bunda dan Dema, dan aku meminta mereka—dengan sopan, dengan yakin bahwa aku benar—untuk tidak memberi tahu Zea dulu. “Biar dia nggak khawatir. Biar dia fokus kuliah. Aku yang urus.”

Aku pikir aku sedang mencintainya dengan cara terbaik yang kutahu. Aku pikir aku sedang meringankan bahunya.

Aku belajar, hari Sabtu, betapa aku salah.


Zea pulang ke rumah untuk kejutan yang tidak kuduga: Bunda, membaik, cerah, bercerita dengan bangga pada tetangga bahwa “menantu”-nya—dia benar-benar memakai kata itu—sudah mengatur dokter spesialis, sudah membayar ini itu, “anak baik, Zea, kamu beruntung banget.”

Zea meneleponku dari rumah. Suaranya rata. Terlalu rata. Aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu suara rata Zea adalah suara paling berbahaya di dunia.

“Kamu ngatur dokter buat Bunda,” katanya. “Kamu bayar pemeriksaannya. Kamu suruh Bunda sama Dema nggak cerita ke aku.”

“Zea, aku—”

“Berapa lama?” Rata. Dingin. “Berapa lama kamu ngurus hidup keluargaku di belakang aku?”

Dan aku, yang sudah menyiapkan diri untuk terima kasih, mendengar sesuatu di suaranya yang membuatku dingin—bukan marah biasa. Terluka. Terluka dalam.

“Aku cuma mau bantu,” kataku, dan aku bisa mendengar betapa lemahnya itu bahkan saat kuucapkan. “Bunda sakit. Kamu tumbang karena mikul semuanya. Aku punya cara, aku punya sedikit tabungan, aku—aku nggak mau kamu nanggung sendirian—”

“Jadi kamu ngambil alih.” Suaranya pecah sekar, dan pecahnya jauh lebih buruk dari ratanya. “Tanpa nanya aku, Rafa. Kamu masuk ke keluargaku, ke satu-satunya hal yang aku pegang, yang aku bangun sendiri dari sen ke sen selama bertahun-tahun, dan kamu ambil alih, dan kamu suruh mereka rahasiain dari aku. Kamu tahu gimana rasanya? Pulang ke rumah dan nemuin hidupku udah diurus sama orang lain, kayak aku nggak sanggup, kayak aku anak kecil yang perlu diselametin?”

“Itu bukan—aku nggak mikir kamu nggak sanggup—”

“Terus kenapa nggak nanya?” teriaknya, dan Zea tidak pernah berteriak, dan itu menghancurkanku. “Kenapa nggak dateng ke aku dan bilang ‘Zea, aku pengin bantu Bunda, boleh?’ Kenapa harus diam-diam? Kenapa harus rahasia?”

Dan aku tidak punya jawaban, karena jawabannya adalah sesuatu yang baru kupahami saat itu juga, berdiri di lab dengan telepon menempel di telinga dan seluruh perutku jatuh.

Karena bertanya berarti dia bisa bilang tidak. Dan aku tidak tahu cara memberi dengan risiko ditolak. Sepanjang hidupku aku memberi diam-diam, tanpa tanda tangan, tanpa bertanya—bukan cuma karena rendah hati. Karena kalau aku tidak pernah bertanya, aku tidak pernah bisa ditolak. Aku bisa terus jadi berguna tanpa pernah menghadapi kemungkinan bahwa kebaikanku tidak diinginkan.

Aku melakukan pada Zea persis hal yang paling kubenci saat dilakukan padaku.

Aku memperlakukannya seperti masalah yang harus kuselesaikan, bukan orang yang harus kuajak bicara. Aku mengambil kendalinya—hal yang paling dia takuti kehilangan, dia yang menghabiskan hidup memastikan hidupnya ada di tangannya sendiri—dan aku menyebutnya cinta.

“Zea,” kataku, dan suaraku hancur. “Aku minta maaf.”

Hening di ujung sana.

“Aku minta maaf,” ulangku. “Kamu bener. Aku nggak nanya karena aku takut kamu bilang tidak. Karena aku nggak tahu cara ngasih tanpa jaminan diterima. Aku—aku ngelakuin ke kamu persis yang aku benci pas orang lakuin ke aku, dan aku bahkan nggak sadar sampe kamu bilang barusan.” Aku menutup mata. “Aku pengin ringanin bahumu. Tapi aku malah ngerampas tanganmu dari kemudi hidupmu sendiri. Itu bukan meringankan. Itu ngambil alih. Dan aku minta maaf.”

Aku mendengar Zea menarik napas, gemetar, di ujung telepon.

“Aku tahu kamu bermaksud baik,” katanya akhirnya, pelan, lelah. “Itu yang bikin susah, Rafa. Kalau kamu jahat, aku bisa marah bersih. Tapi kamu baik. Kamu baik dengan cara yang salah, dan aku nggak tahu gimana marah sama kebaikan tanpa ngerasa aku orang jahat.”

“Kamu bukan orang jahat. Kamu bener.” Aku menelan. “Boleh aku benerin? Bukan diam-diam. Bukan ngambil alih. Boleh aku... boleh aku pulang bareng kamu minggu depan, dan kita duduk sama Bunda, bertiga, berempat sama Dema, dan kita omongin ini bareng? Sebagai orang yang kamu ajak, bukan orang yang ngambil alih? Aku bakal balikin kendalinya ke kamu. Aku janji. Aku cuma... aku pengin ikut megang. Kalau kamu izinin. Bukan gantiin. Ikut.”

Hening lagi. Panjang.

“Aku perlu waktu,” kata Zea. “Aku nggak marah lagi. Aku cuma... aku perlu waktu buat nge-reset. Ini nyentuh sesuatu yang lama banget di aku, Fa. Lebih lama dari kamu. Lebih lama dari kita.”

“Aku tahu.” Dan aku memang tahu—janji yang dia ceritakan di atap, ketakutan sepuluh tahun untuk tidak pernah menaruh hidupnya di tangan orang lain. Aku baru saja, tanpa sengaja, menaruh tanganku persis di tempat yang paling dia takuti disentuh. “Ambil waktumu. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku janji buat hari ini. Terus besok aku janji lagi yang sama.”

Aku mendengar sesuatu yang hampir seperti tawa kecil di ujung sana—basah, lelah, tapi tawa. “Kamu pake janjiku sendiri ke aku.”

“Kamu ngajarin aku yang bagus-bagus,” kataku. “Aku nyimpen semuanya.”

Setelah dia menutup telepon, aku duduk sendirian di lab, di antara benda-benda yang bisa kuperbaiki tanpa bertanya, dan aku menyadari sesuatu yang menakutkan.

Ini baru versi kecilnya. Bunda masih sakit. Uang masih tidak cukup. Krisis yang lebih besar masih mendekat, aku bisa merasakannya. Dan kalau kami tidak belajar ini sekarang—kalau aku tidak belajar berhenti mengambil alih, kalau Zea tidak belajar berhenti mendorong pergi—maka saat krisis besar itu datang, kami akan menghadapinya dengan luka yang sama persis, meledak dalam ukuran yang tidak akan semudah ini dimaafkan.

Aku baru saja lulus dari gladi resik.

Aku belum tahu betapa dekat pertunjukan sesungguhnya.