Chapter Six
Menghitung
Bunda didiagnosis TB paru. Bukan yang terburuk, kata dokter—ketahuan belum terlalu telat, bisa diobati, enam bulan minum obat rutin dan tidak boleh putus. Aku menangis di kamar mandi klinik selama tiga menit, mencuci muka, lalu keluar dengan senyum yang benar dan bertanya soal jadwal obat seperti orang yang sanggup.
Obatnya gratis dari puskesmas. Yang tidak gratis adalah semuanya yang lain—makanan bergizi yang harus Bunda makan, ongkos kontrol, Dema yang butuh diawasi supaya tidak tertular, dan aku yang sekarang harus pulang lebih sering, yang artinya lebih banyak ongkos, yang artinya lebih banyak shift, yang artinya lebih sedikit tidur.
Aku menghitung semuanya di buku catatan kecil yang kusembunyikan dari semua orang. Aku pandai menghitung. Aku selalu tahu persis di mana setiap rupiah berada.
Yang tidak berani kuhitung cuma satu hal.
“Kamu suka dia,” kata Nadia.
Kami di kamar kosku, Sabtu malam, dia datang bawa gorengan dan gosip seperti biasa. Aku tidak menjawab. Aku menata buku catatan menjadi tumpukan yang sangat rapi.
“Zea.” Nadia menaruh gorengannya. Itu tanda serius; Nadia tidak pernah menaruh gorengan. “Aku kenal kamu dari maba. Aku pernah lihat kamu nolak Bram—senior paling tajir, paling ganteng, yang ngasih kamu bunga tiap Senin—tanpa kedip. Aku pernah lihat kamu nolak anak dubes. Kamu nolak orang kayak orang matiin lampu. Klik. Selesai. Nggak ada yang nyangkut.”
Dia menunjuk ke gagang pintu. Ke jaket abu yang masih tergantung di sana, sudah berminggu-minggu, sudah kering sejak lama, sudah seharusnya kembali sejak lama.
“Tapi jaket anak TI itu udah sebulan di pintu kamu.”
Aku membuka mulut untuk membela diri. Untuk bilang aku cuma lupa. Untuk memasang suara rata dan mengakhiri percakapan ini seperti aku mengakhiri semua percakapan yang mendekati tempat-tempat berbahaya.
Yang keluar malah, “Dia misahin cintanya dari kebaikannya, Nad. Biar aku bisa nolak dia tanpa kehilangan pertolongannya. Siapa yang mikir sampai ke situ? Siapa yang sebaik itu?”
Nadia diam.
“Dia tahu jam aku capek. Dia sisihin roti buatku pas dia sendiri makan yang paling murah. Dia nolongin Bunda lewat jalan yang bikin aku nggak malu. Dia—” Suaraku, sialan, mulai tidak rata lagi. “Dia nembak aku pas nggak ada yang lihat, Nad. Tiga kali. Yang nggak ada untungnya buat dia sama sekali. Dan tiap kali aku bilang tidak, dia bilang nggak apa-apa, kayak aku ini... kayak aku layak ditunggu.”
“Ze—”
“Dan aku benci itu.” Air mata itu jatuh sekarang, dan aku tidak menghentikannya, karena cuma Nadia yang ada. “Aku benci betapa aku nunggu-nunggu shift sore. Aku benci aku tahu bunyi langkahnya. Aku benci jaket itu masih di pintu karena tiap kali aku mau ngembaliin, aku nyium baunya dan aku nggak sanggup. Aku benci bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupku aku pengin sesuatu yang bukan uang, dan itu justru hal yang paling nggak boleh aku pengin.”
Aku berhenti. Kamar itu hening. Di luar, motor lewat, anjing menggonggong, dunia berputar seolah aku tidak baru saja mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya.
Aku mencintainya.
Aku sudah menghitungnya. Angka yang selama ini kutakut kubaca. Dan seperti yang selalu kutakutkan, hasilnya bukan tidak cukup.
Hasilnya terlalu banyak.
“Jadi bilang iya,” kata Nadia lembut. “Ze. Dia baik. Dia beneran suka kamu. Kamu suka dia. Kenapa ini susah?”
Bagaimana aku menjelaskan? Bagaimana aku menjelaskan bahwa cinta, dari tempat aku berasal, bukan hadiah tapi utang? Bahwa aku sudah melihat perempuan paling kuat yang kukenal dihancurkan olehnya? Bahwa Bunda sekarang batuk darah di rumah petak sambil membesarkan dua anak sendirian karena dua puluh tahun lalu dia mengizinkan seseorang masuk? Bahwa aku punya janji—pada diriku, pada Bunda yang bahkan tak tahu aku membuatnya—untuk tidak pernah, tidak pernah menaruh hidupku di tangan orang lain sampai semua orang yang kucintai aman?
Dan tak seorang pun di keluargaku pernah benar-benar aman. Jadi antreanku tidak pernah berakhir. Jadi giliranku untuk hidup tidak pernah datang.
“Karena kalau aku bilang iya,” kataku pelan, “dan aku hancur seperti Bunda hancur, nggak cuma aku yang jatuh, Nad. Dema jatuh. Bunda jatuh. Semua yang gantung di aku ikut jatuh. Aku nggak boleh jatuh. Aku satu-satunya yang megang.”
Nadia menatapku lama, dengan mata yang tiba-tiba basah, lalu memelukku, gorengan terlupakan di antara kami, dan tidak mencoba membetulkan apa yang dia tahu tidak bisa dibetulkan dengan kata-kata.
Sebelum dia pulang malam itu, Nadia berhenti di pintu. Tangannya menyentuh jaket abu.
“Kamu harus balikin ini, Ze,” katanya. “Dan kamu harus bikin dia berhenti. Bukan karena kamu nggak suka dia. Justru karena kamu suka.” Dia menoleh. “Selama kamu bilang ‘tidak’ dengan lembut, dia bakal denger ‘nanti’. Dia bakal antre selamanya. Dan kamu bakal nyiksa dia—dan diri kamu sendiri—pelan-pelan sampai salah satu dari kalian nggak tahan.”
Aku tahu dia benar. Itu bagian terburuknya.
Selama ini “tidak”-ku terlalu lembut. Terlalu penuh sesuatu yang tak kusembunyikan dengan baik. Dan seseorang yang perseptif seperti Rafa mendengar apa yang ada di bawahnya, dan dia antre karena dia dengar itu, dan dia benar untuk mendengarnya, karena itu ada di sana.
Jadi kalau aku ingin dia berhenti—demi dia, demi Bunda, demi semua yang kupegang—aku harus melakukan hal yang paling tidak kuinginkan di dunia.
Aku harus dingin. Aku harus membuat “tidak”-ku terdengar seperti tidak. Aku harus mengambil satu-satunya hal baik yang datang ke hidupku dalam bertahun-tahun dan membuatnya percaya aku tidak menginginkannya, supaya dia pergi ke tempat di mana dia layak dicintai oleh seseorang yang tangannya tidak gemetar.
Rabu depan, dia akan bilang “percobaan keempat.”
Dan Rabu depan, aku akan mematikan lampu. Klik. Selesai.
Aku sudah pandai berpura-pura. Aku cuma tidak pernah harus berpura-pura pada seseorang yang benar-benar bisa melihatku.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung reading
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua