Chapter Twenty Four
Yang Nggak Pernah Diurus
Aku baru sadar, dua bulan pacaran, bahwa aku tahu segalanya tentang cara Rafa mencintai dan hampir tidak apa-apa tentang dari mana dia belajar mencintai seperti itu.
Dia tahu ayahku pergi. Dia tahu Bunda di lantai dapur, janji sepuluh tahun, buku catatan uang. Aku sudah menyerahkan seluruh sejarahku padanya di atap gedung parkir.
Dia tidak pernah menyerahkan sejarahnya balik.
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil. Dia tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya, walau rumahnya cuma dua jam dari kampus. Teleponnya dari “Mama” selalu singkat, praktis, tentang uang atau kabar adik-adiknya, tidak pernah tentang dia. Saat aku bercerita tentang Bunda menyendokkan nasi ke piringnya tanpa diminta, matanya berubah—bukan iri, sesuatu yang lebih pelan, seperti orang yang mendengar tentang makanan yang belum pernah dia coba.
Jadi aku melakukan untuknya apa yang dia lakukan untukku: aku bertanya.
“Rafa,” kataku suatu malam, kepala di dadanya di kasur sempit kosnya. “Aku nggak pernah denger kamu cerita soal keluargamu.”
Dia menegang, sedikit. “Nggak ada yang menarik.”
“Aku nggak nanya yang menarik. Aku nanya keluargamu.”
“Zea—”
“Kamu ngorek seluruh sejarahku sampai ke lantai dapur,” kataku lembut, mengangkat kepala untuk menatapnya. “Kamu duduk sabar sampai aku ngeluarin semuanya. Sekarang giliranku. Aku nggak akan maksa. Tapi aku bakal di sini, sabar, sampai kamu siap. Belajar dari yang terbaik.”
Dia diam lama. Aku menunggu, seperti dia mengajariku menunggu.
“Aku anak tengah dari lima,” katanya akhirnya, menatap langit-langit. “Keluarga besar, uang pas-pasan. Bapak kerja di luar kota, pulang sebulan sekali. Mama ngurus lima anak sendirian. Dan di keluarga sebesar itu, dengan uang sesedikit itu, ada dua jenis anak: yang butuh diurus, dan yang bisa diandelin buat ngurus.”
Dia berhenti.
“Aku yang bisa diandelin. Dari kecil. Aku yang benerin genteng, yang jagain adik, yang ngajarin mereka PR, yang mastiin semua jalan pas Mama kerja. Dan itu—” dia mencari kata, dan aku bisa mendengar betapa hati-hati dia memilihnya, “—itu bikin aku dicintai dengan cara tertentu. Cinta yang bentuknya ‘Rafa bisa diandelin’. ‘Rafa nggak pernah bikin susah’. ‘Untung ada Rafa’. Aku dicintai sebagai fungsi, Ze. Bukan sebagai... anak.”
Aku tidak bergerak. Aku takut kalau aku bergerak dia akan berhenti.
“Ada satu hal yang aku inget,” katanya, dan suaranya sangat datar, terlalu datar, cara orang bercerita tentang luka yang sudah lama mereka yakini bukan luka. “Aku sakit. Umur sembilan, kayaknya. Demam tinggi, tiga hari. Dan aku inget aku baringan di kasur, dan aku denger rumah jalan terus di luar—Mama masak, adik-adik berantem, semua butuh sesuatu—dan aku nunggu. Aku nunggu ada yang masuk dan naruh tangan di dahiku. Kayak yang aku lakuin ke adik-adik pas mereka sakit.”
Dadaku mulai sakit.
“Nggak ada yang masuk,” katanya, masih datar, masih tersenyum tipis seolah ini lucu. “Bukan karena mereka jahat. Karena aku ‘anak yang nggak pernah bikin susah’. Aku yang selalu ngurus. Jadi pas aku yang sakit, nggak ada yang kepikiran, karena dalam kepala semua orang, Rafa itu yang ngurus, bukan yang diurus. Aku sembuh sendiri. Aku minum sendiri, kompres sendiri. Umur sembilan.” Dia mengangkat bahu, gerakan kecil yang menghancurkanku. “Dan aku inget aku mutusin sesuatu di kasur itu. Aku mutusin: oke. Kalau caranya dicintai adalah dengan berguna, aku bakal jadi paling berguna. Aku bakal ngasih ke semua orang sampai nggak ada yang bisa ninggalin aku, karena mereka bakal selalu butuh aku. Umur sembilan, Zea. Aku mutusin itu umur sembilan.”
Dia akhirnya menoleh padaku, dan senyum tipisnya goyah.
“Jadi pas kamu tumbang di kedai, dan aku gendong kamu pulang, dan kamu bilang ‘aku bisa sendiri’—” suaranya pecah, akhirnya, setelah semua kedataran itu, “—aku ngerti banget. Karena aku juga bisa sendiri. Aku udah bisa sendiri dari umur sembilan. Kita berdua ahli banget bisa sendiri, Ze. Itu bukan kekuatan. Itu luka yang kita panggil kepribadian.”
Dan aku, yang tidak menangis lagi karena aku sudah lelah menangis, menangis.
Bukan karena kasihan. Rafa akan membenci kasihan. Aku menangis karena aku melihatnya sekarang—benar-benar melihatnya—anak sembilan tahun yang berbaring demam menunggu tangan yang tidak pernah datang, lalu tumbuh menjadi tangan yang datang untuk semua orang di dunia kecuali dirinya sendiri.
Aku menariknya ke dadaku—membalik posisi, kepalanya sekarang di dadaku, aku yang memegang—dan aku meletakkan tanganku di dahinya, di tempat yang sudah menunggu tangan itu selama lebih dari sepuluh tahun.
“Kalau kamu sakit,” bisikku ke rambutnya, “aku yang masuk. Aku janji. Kamu nggak akan pernah nunggu sendirian lagi. Nggak akan pernah lagi, Rafa. Aku janji buat hari ini—” suaraku pecah, “—terus besok aku janji lagi yang sama. Selamanya, satu hari setiap kali.”
Aku merasakannya gemetar di dadaku. Cowok paling baik yang pernah kukenal, yang menyelamatkan seisi kampus, yang tidak pernah sekali pun diselamatkan balik, akhirnya membiarkan seseorang memegang kepalanya saat dia hancur.
“Kamu tahu yang paling gila?” bisiknya, setelah lama. “Aku dulu kira aku nembak kamu karena kamu baik ke kucing pincang. Sekarang aku ngerti. Aku nembak kamu karena aku ngeliat seseorang yang ngasih tanpa dilihat—dan sebagian dari aku, bagian yang umur sembilan, mikir: mungkin dia bakal ngerti aku. Mungkin dia bakal jadi orang pertama yang masuk kamar pas aku demam.”
“Aku udah masuk,” kataku. “Aku di sini. Aku nggak akan keluar.”
Kami tidur seperti itu—aku memegangnya, untuk pertama kalinya, alih-alih dipegang—dan aku menyadari sesuatu yang membuat seluruh kisah kami masuk akal dengan cara yang menyayat:
Kami jatuh cinta bukan karena kami berbeda dan saling melengkapi. Kami jatuh cinta karena kami luka yang sama persis, dari dua arah. Dia memberi supaya tidak ditinggalkan. Aku menolak menerima supaya tidak jadi beban yang ditinggalkan. Dua anak kecil yang memutuskan, di kamar yang berbeda di kota yang berbeda, bahwa mereka hanya layak dicintai selama mereka tidak meminta apa-apa.
Dan sekarang kami saling meminta. Setiap hari. Sedikit demi sedikit.
Itu, aku mulai mengerti, adalah satu-satunya penyembuhan yang pernah ada untuk luka seperti kami.
Aku belum tahu betapa keras penyembuhan itu akan diuji.
Aku cuma tahu, malam itu, dengan kepala cowok yang kucintai di dadaku dan tanganku di dahinya, bahwa aku bersyukur—dengan syukur yang terasa seperti doa—bahwa dari semua kamar demam di dunia, aku yang akhirnya masuk ke kamarnya.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus reading
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua