← 5 Confessions

Chapter Twenty Six

Berdua

Telepon jam tiga pagi tidak pernah membawa kabar baik. Kau tahu itu bahkan sebelum kau menjawab. Getarannya saja terdengar berbeda—lebih keras di kesunyian, lebih tajam, seolah alat itu sendiri tahu apa yang dibawanya.

Aku menjawab di dering pertama karena aku tidak pernah benar-benar tidur nyenyak; sepuluh tahun jadi orang yang memegang mengajariku tidur dengan satu telinga terbuka.

“Kak.” Dema. Dan dari satu kata itu, dari cara suaranya pecah, aku sudah tahu. “Bunda—Kak, Bunda batuk darah banyak banget, nggak berhenti, aku udah panggil tetangga, kita mau ke IGD—Kak, darahnya banyak banget—”

Aku sudah berdiri. Aku tidak ingat berdiri. Tubuhku bergerak sebelum kepalaku, mengumpulkan tas, kunci, uang—selalu menghitung uang, bahkan pada jam tiga pagi, bahkan dengan tangan gemetar—dan aku sudah setengah berpakaian saat aku merasakan tangan Rafa di bahuku.

Dia sudah bangun. Tentu saja dia sudah bangun; dia menginap, dan dia selalu bangun saat aku bangun.

“Bunda?” tanyanya, sudah mengambil kaus, sudah mencari kunci motornya.

Dan di sini, dalam kepanikan jam tiga pagi, refleks lama menyerangku dengan kekuatan penuh. Aku bisa sendiri. Ini urusanku. Jangan seret dia ke ini. Dia udah mikul banyak. Aku nggak boleh jadi beban. Kalimat-kalimat yang telah membentukku selama sepuluh tahun berbaris di lidahku, siap diucapkan: Kamu tidur aja, Fa. Aku urus sendiri. Aku bisa.

Aku membuka mulut untuk mengucapkannya.

Dan lalu aku ingat lab. Aku ingat “ikut megang”. Aku ingat cowok yang berbaring demam sendirian umur sembilan tahun dan bersumpah tidak akan pernah membiarkan orang lain menunggu sendirian. Aku ingat bahwa mendorong Rafa pergi sekarang, “demi kebaikannya”, adalah persis luka lamaku memakai topeng cinta.

Jadi aku menutup mulut. Dan aku mengucapkan hal tersulit yang bisa diucapkan perempuan yang menghabiskan hidup memastikan dia tidak butuh siapa pun:

“Ikut aku. Please. Aku nggak mau sendirian.”

Sesuatu di wajah Rafa—di tengah kepanikan, di jam tiga pagi—melembut, karena dia tahu persis berapa harga kalimat itu untukku.

“Selalu,” katanya, dan menyerahkan helm kedua.


IGD jam empat pagi adalah tempat di mana waktu berhenti punya arti.

Kami sampai bersamaan dengan ambulans desa yang membawa Bunda. Aku melihat wajah Bunda—pucat, bibir tak berwarna, oksigen sudah dipasang—dan seluruh dunia menyempit jadi satu titik. Dema di sampingnya, tujuh belas tahun, menangis dengan cara anak-anak yang berusaha tidak terlihat menangis. Aku memeluknya, dan aku menjadi apa yang selalu kujadi: yang tenang, yang mengurus, yang menandatangani formulir dan menjawab pertanyaan perawat dengan suara rata sementara di dalam aku hancur berkeping.

Tapi kali ini, aku tidak melakukannya sendirian.

Rafa mengambil hal-hal yang bisa dia ambil—bukan mengambil alih, mengambil beban. Dia yang mengurus administrasi saat aku memeluk Dema. Dia yang menemukan dokter jaga dan menanyakan pertanyaan yang tepat karena dia selalu tahu pertanyaan yang tepat. Dia yang, saat aku akhirnya duduk di kursi plastik IGD dan tubuhku mulai gemetar tak terkendali setelah berjam-jam menahannya, tidak berkata apa-apa—cuma duduk di sebelahku, menarik kepalaku ke bahunya, dan membiarkanku gemetar di sana tanpa menyuruhku berhenti, tanpa menyuruhku kuat.

“Kamu nggak harus tenang di sini,” bisiknya ke rambutku. “Nggak ada yang nonton. Bunda aman buat sekarang. Kamu boleh hancur bentar. Aku pegangin.”

Dan aku hancur. Di IGD, jam lima pagi, di bahu Rafa, aku membiarkan sepuluh tahun ketenangan yang dipaksakan runtuh, dan dia memegangku sepanjang itu, dan langit tidak jatuh, dan aku tidak lenyap.

Aku selalu mengira, kalau aku berhenti kuat sebentar saja, semuanya akan runtuh. Ternyata tidak. Ternyata ada orang yang memegang bagian yang kulepas.


Bunda selamat malam itu.

Tapi dokter memanggilku pagi harinya—aku, dan Rafa, karena aku memintanya ikut, karena aku sedang belajar tidak mendengar kabar buruk sendirian—dan kabar yang dia sampaikan mengubah bentuk masa depanku.

Paru-paru Bunda rusak lebih parah dari dugaan. TB yang terlambat ditangani, ditambah tiga puluh tahun kerja keras, ditambah tubuh yang tidak pernah cukup istirahat. Dia bisa pulih, kata dokter, tapi hanya kalau dia benar-benar berhenti—berhenti bekerja, berhenti diforsir, istirahat total berbulan-bulan dengan gizi yang baik dan kontrol rutin dan lingkungan yang bersih. “Kalau dia terus kerja,” kata dokter, hati-hati, “ini akan berulang. Dan lain kali mungkin—” Dia tidak menyelesaikannya. Dia tidak perlu.

Aku duduk di lorong rumah sakit dan melakukan hal yang selalu kulakukan: menghitung.

Bunda berhenti kerja berarti kehilangan pemasukan jahitannya. Istirahat total dengan gizi baik berarti biaya yang lebih besar, bukan lebih kecil. Kontrol rutin, obat tambahan, mungkin perawat. Dema masih sekolah. Dan aku—aku dengan beasiswa yang menuntut IPK sempurna, dua kerja sambilan yang sudah memerasku sampai tumbang, kuliah yang tidak bisa kutinggalkan tanpa kehilangan beasiswa yang jadi tumpuan segalanya.

Angka-angkanya tidak bertemu. Berapa kali pun kuhitung, tidak bertemu. Ada lubang, dan lubang itu melebar, dan di dasarnya ada pertanyaan yang belum berani kutanyakan pada diriku sendiri:

Bagaimana kalau aku harus berhenti kuliah?

Bagaimana kalau satu-satunya cara memegang keluargaku adalah dengan melepaskan satu-satunya hal yang kubangun untuk diriku sendiri?

“Zea.” Rafa berlutut di depanku di lorong itu, mengambil kedua tanganku, dan aku sadar aku sudah menghitung dengan suara yang cukup keras untuk dia dengar. “Apa pun yang kamu pikirin sekarang, kita pikirin bareng. Berdua. Aku janji buat hari ini, kita—”

“Nggak semuanya bisa dibagi, Fa.” Suaraku keluar lebih dingin dari yang kumau. Refleks lama, merayap balik, dibangunkan oleh ketakutan. “Ini keluargaku. Ini beban aku. Kamu nggak bisa—”

Aku berhenti. Aku melihat sesuatu berkedip di wajah Rafa—luka, sekilas, luka anak yang selalu didorong keluar dari kamar—dan aku sadar apa yang baru saja mulai kulakukan.

Aku mulai mendorongnya pergi. Lagi. Di bawah tekanan, di bawah ketakutan, sepuluh tahun armorku merayap kembali ke tempatnya, dan tangan pertama yang mereka dorong keluar adalah tangan yang paling kucintai.

“Maaf,” bisikku cepat, menggenggam tangannya lebih erat, takut pada diriku sendiri. “Maaf, aku—aku ketakutan, Fa, dan pas aku ketakutan aku jadi—aku jadi yang lama. Yang dingin. Yang ngedorong. Tolong jangan biarin aku.”

“Aku nggak akan ke mana-mana,” katanya. Tapi aku mendengar sesuatu yang hati-hati di suaranya sekar, sesuatu yang berjaga. “Tapi Zea—kamu harus lawan itu. Yang lama itu. Karena aku bisa nolak pergi seratus kali, tapi kalau kamu terus ngedorong, suatu saat aku bakal—” Dia tidak menyelesaikannya juga.

Dua kalimat yang tidak diselesaikan, dalam satu pagi. Dokter, dan Rafa. Dan aku mengerti bahwa keduanya menunjuk ke arah yang sama: ke tepi jurang yang sedang kudekati.

Kami pulang dari rumah sakit saat matahari sudah tinggi, lelah sampai ke tulang, dengan Bunda stabil tapi masa depan yang retak. Rafa memegang tanganku sepanjang perjalanan pulang, dan aku membiarkannya, dan aku bersyukur—bersyukur sampai sakit—bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tidak menghadapi jam tiga pagi sendirian.

Tapi jauh di dalam, di tempat yang tidak kubagi bahkan dengan Rafa, armor lama itu sudah mulai membangun dirinya kembali, batu demi batu.

Dan aku takut—lebih takut dari apa pun soal uang atau paru-paru atau beasiswa—bahwa saat tekanan cukup besar, aku akan melakukan pada Rafa persis hal yang kulakukan di bangku ketapang.

Aku akan mendorongnya pergi. Demi kebaikannya. Dengan tanganku sendiri.

Dan kali ini, dia mungkin benar-benar pergi.