← 5 Confessions

Chapter Three

Percobaan Kedua

Hujan turun tanpa permisi hari Rabu itu, jenis hujan yang di Jakarta artinya kiamat kecil bagi siapa pun yang hidupnya digantung pada barang yang tidak boleh basah.

Dan hidupku, sore itu, digantung pada dua kardus risoles.

Aku sedang di emperan gedung parkir, tempat aku biasa menitipkan dagangan sampai jam pulang, ketika langit ambruk. Air masuk dari samping, menyapu miring, dan kardus paling bawah—yang dasarnya sudah kubuat dari bekas dus mi—mulai melunak di sudut. Aku berjongkok, memeluk kedua kardus itu ke dada seperti orang bodoh, menghitung dengan panik: kalau ini basah, aku rugi berapa, aku harus ganti ke Bu Rina berapa, minggu ini aku makan pakai apa.

“Geser dikit.”

Aku menoleh. Rafa. Basah kuyup dari lari, kacamata penuh titik air, membawa—entah dari mana—selembar terpal plastik biru yang biasa dipakai tukang. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia cuma membentangkan terpal itu di atas kardus-kardusku, menyimpulnya ke tiang dengan gerakan cepat yang sama seperti waktu dia menyelamatkan formulirku, lalu menggeser kedua kardus ke titik paling kering di emperan itu, satu titik yang bahkan tak kusadari ada.

Dalam dua puluh detik, daganganku aman. Dan dia berdiri di sana, basah seluruhnya, karena satu-satunya bagian kering yang tersisa cuma cukup untuk kardus, bukan untuk kami berdua.

“Kamu—” Aku berdiri. “Kamu bisa basah.”

“Udah, kok.” Dia melepas jaketnya—jaket parasut abu yang sudah setengah basah di bagian luar tapi masih kering di dalam—dan menyodorkannya. “Kamu yang jangan. Bibirmu udah biru.”

“Aku nggak—”

“Zea.” Pelan saja. “Ambil jaketnya.”

Aku mengambilnya. Aku tidak tahu kenapa aku mengambilnya. Selama dua puluh tahun aku terlatih menolak apa pun yang tak bisa kubayar balik, dan di sini aku, memakai kehangatan yang tidak kuminta dari cowok yang seluruh kampus taruhkan akan menyerah minggu depan.

Jaketnya berbau seperti kabel yang baru disolder dan sedikit seperti hujan. Hangat dari dalam. Aku benci betapa hangatnya.

Kami berdiri di emperan sempit itu, di kedua sisi kardus yang kami selamatkan bersama, sementara dunia di luar berubah jadi tirai air. Tidak ada penonton. Tidak ada ponsel. Tidak ada Gilang, tidak ada sorakan, tidak ada taruhan yang bisa dilihat siapa-siapa. Cuma hujan, dua kardus risoles, dan dua orang yang basah dengan kadar berbeda.

Mungkin karena itulah aku tidak siap.

“Percobaan kedua,” katanya.

Aku menoleh cepat. “Rafa—”

“Aku suka kamu, Zea.” Suaranya tidak main-main seperti di taman. Tidak ada senyum yang dipasang untuk kerumunan, karena tidak ada kerumunan. Cuma dia, menatapku lewat kacamata yang berembun, mengucapkannya seperti orang menyebutkan fakta yang sudah lama dia terima. “Kamu boleh nolak. Aku antre lagi.”

Dan di sinilah armorku, untuk pertama kalinya, retak selebar rambut.

Karena aku bisa menolak lelucon. Aku ahli menolak lelucon; aku sudah menolak seluruh kampus selama bertahun-tahun dengan senyum-seragam dan langkah cepat. Tapi ini bukan lelucon. Tidak ada yang melihat. Dia tidak mendapatkan apa-apa dari mengucapkannya di sini, ke aku, di bawah hujan, dengan dagangan basah dan taruhan yang tak akan pernah tahu momen ini terjadi. Dia mengucapkannya seolah aku layak didengar bahkan saat tidak ada seorang pun yang menyaksikan dia mengatakannya.

Tak ada yang pernah menganggapku layak dari sesuatu yang tak bisa mereka pamerkan.

Perutku melakukan hal yang tidak kuizinkan. Napasku tersangkut di tempat yang salah. Dan untuk satu detik yang panjang dan berbahaya, aku hampir—

Lalu aku ingat Bunda. Aku ingat receh yang kuhitung dua kali. Aku ingat aturan yang kubuat waktu umur sepuluh tahun sambil melihat perempuan paling kuat yang kukenal hancur di lantai dapur karena satu orang. Aku ingat bahwa cinta, dalam sejarah keluargaku, selalu punya harga, dan harganya selalu dibayar oleh perempuan yang cukup bodoh untuk mengizinkannya masuk.

Aku menarik napas. Aku mengembalikan suaraku ke rata.

“Nggak bisa, Rafa,” kataku. “Maaf.”

Kutunggu dia patah. Kutunggu wajah itu berubah, seperti wajah semua cowok yang pernah kutolak, yang mendadak dingin, mendadak merasa berhak marah karena penolakan terasa seperti barang yang mereka bayar dan tak dapat.

Rafa cuma mengangguk. “Nggak apa-apa.”

“...Nggak apa-apa gimana.” Aku tak bermaksud bertanya. Kalimat itu meloncat sendiri.

Dia mengusap kacamatanya ke kaus yang sama basahnya, jadi percuma. “Kamu bilang tidak. Aku denger. Itu jawabanmu hari ini.” Dia menunjuk kardus. “Risolesnya selamat. Itu yang penting hari ini. Sisanya bisa nunggu.”

Sisanya bisa nunggu.

Seolah aku adalah sesuatu yang layak ditunggu. Seolah “tidak”-ku bukan pintu yang ditutup, cuma lampu merah yang akan berganti hijau kalau dia sabar cukup lama.

Hujan mulai reda menjelang magrib. Rafa membantuku mengangkut kardus ke ojek, menolak uang bensin dengan gelengan yang tidak memberi ruang untuk didebat, lalu berjalan pergi ke arah halte dengan seluruh tubuh basah dan jaket satu-satunya kini melekat hangat di bahuku.

Aku baru sadar aku masih memakai jaketnya saat ojek sudah setengah jalan. Terlambat untuk mengembalikan. Aku memeluknya sedikit lebih erat—untuk hangat, kataku pada diri sendiri, cuma untuk hangat—dan mencium bau solder dan hujan itu lagi, dan membenci betapa amannya rasanya.

Di rumah, Nadia menelepon, suaranya penuh gosip. “ZE. Taruhan Gilang viral. Ada yang pasang lima puluh ribu buat ‘nyerah sebelum percobaan ketiga’. Kamu masuk legenda kampus. Gimana rasanya jadi—”

“Nad.” Aku memandang jaket abu yang tergantung di gagang pintu kamar kosku, meneteskan air pelan-pelan ke lantai. “Menurut kamu, kalau orang nembak pas nggak ada yang lihat sama sekali... itu artinya apa?”

Nadia diam sebentar. Tumben.

“Artinya,” katanya akhirnya, hati-hati, seperti orang yang tahu dia memegang sesuatu yang mudah pecah, “dia nggak lagi ngejar penonton, Ze. Dia lagi ngejar kamu.”

Aku menutup telepon dan tidak mengembalikan jaket itu malam itu.

Aku bilang pada diriku sendiri besok. Besok pasti.

Aku menyimpannya, ternyata, selama sangat, sangat lama.