← 5 Confessions

Chapter Eleven

Tembok

Hal yang tidak dikatakan orang tentang menyerah adalah betapa rapinya rasanya.

Selama berminggu-minggu aku hidup dengan harapan, dan harapan itu berantakan—selalu ada sudut yang tidak terikat, selalu ada “mungkin”, selalu ada Rabu berikutnya yang harus kupikirkan. Setelah bangku ketapang, semua sudut itu terikat. Tidak ada Rabu berikutnya. Tidak ada mungkin. Aku kembali ke router dan kabel dan benda-benda yang rusak dengan cara yang bisa kuperbaiki, dan untuk pertama kalinya dalam sebulan aku tidur nyenyak, dengan tidur mati orang yang tidak lagi menunggu apa-apa.

Aku bilang pada diriku itu kedamaian. Oskar bilang itu mati rasa. Kami berdua sebagian benar.

“Lu tau yang lucu?” kata Gilang, suatu siang di lab, dengan nada yang tidak lucu sama sekali. “Taruhannya udah gue tutup. Nggak ada yang menang. Karena lu nggak jadian, tapi lu juga nggak ‘nyerah di percobaan ketiga’—lu bertahan sampe kelima, terus baru berhenti. Nggak ada yang nebak kombinasi itu.” Dia menggeleng. “Semua orang salah, Bung. Termasuk gue.”

“Termasuk aku,” kataku, dan kembali ke solderku.

Aku pikir itu akhir ceritanya. Cowok yang menembak bidadari, gagal lima kali, lalu pulang ke kabel-kabelnya. Bab yang bersih. Bab yang selesai.

Lalu hari Kamis, Zea Lovatta masuk ke lab TI.

Aku hampir menjatuhkan solder. Bukan karena wajahnya—aku sudah lama berhenti membiarkan wajahnya melakukan apa pun padaku—tapi karena dia tidak pernah, sekali pun, datang ke wilayahku. Selama ini akulah yang datang ke wilayahnya: kedai kopi, bangku ketapang, koridornya. Lab ini tempatku. Dan dia berdiri di ambang pintunya, di antara kabel dan bau solder, terlihat asing dan bertekad dan sedikit takut.

“Rafa,” katanya. “Bisa ngobrol?”

Seisi lab membeku. Oskar mengangkat alis tanpa mengangkat kepala. Gilang, di pojok, mengeluarkan suara seperti tersedak.

“Lagi sibuk,” kataku. Rata. Datar. Aku terkejut betapa mudahnya suara itu keluar—ternyata bertahun-tahun memperhatikan orang mengajariku juga cara meniru mereka, cara memasang nada kosong yang biasa dipakai orang untuk menutup pintu.

“Sebentar aja.”

“Proyektor Fakultas Hukum error. Deadline.” Aku bahkan tidak mendongak. “Ada yang bisa Oskar bantu?”

Dari sudut mataku, aku melihatnya berkedip. Melihat sesuatu bergeser di wajahnya—kaget. Dia tidak menyangka tembok. Selama ini aku selalu jadi pintu yang terbuka; dia datang mengetuk mengharapkan pintu, dan menemukan dinding.

Bagus, kata sesuatu di dalam diriku yang lelah dan terluka. Biar dia tahu rasanya.

Aku benci bagian diriku yang berkata begitu. Tapi aku membiarkannya bicara, karena bagian itu satu-satunya yang menjaga tanganku tetap stabil.

“Aku salah, Rafa,” kata Zea, pelan, dan aku bisa mendengar betapa mahalnya kata itu untuknya—perempuan yang tidak pernah, dalam ingatanku, mengakui salah pada siapa pun. “Yang aku bilang di bangku itu. Aku nggak—”

“Nggak apa-apa.” Aku memotongnya, karena aku tidak sanggup mendengar sisanya. “Kamu jujur. Itu yang aku minta. Kamu ngasih aku kejujuran, aku berterima kasih, kita udahan. Beneran, Zea. Nggak ada dendam.”

“Itu bukan jujur.” Suaranya naik sedikit, putus asa. “Itu bohong. Aku bohong biar kamu berhenti, dan aku milih kalimat yang paling—”

“Zea.” Aku mendongak akhirnya, dan aku menatapnya dengan tatapan paling kosong yang bisa kususun, tatapan yang butuh seluruh kekuatanku untuk dipertahankan. “Please. Aku baru selesai. Aku baru bisa tidur lagi. Jangan bikin aku mulai berharap cuma buat kamu bisa ngerasa nggak bersalah. Itu—” suaraku hampir goyah; kujaga; “—itu nggak adil buat aku.”

Dia terdiam. Karena itu menghantam sesuatu yang benar, dan dia cukup jujur untuk mengenalinya.

“Kalau kamu beneran nyesel,” kataku, lebih pelan, “cara paling baik nunjukinnya adalah biarin aku pergi. Kamu udah dapet yang kamu mau di bangku itu. Ambil kemenangannya. Jangan balik lagi buat mastiin aku baik-baik aja. Aku nggak butuh kamu buat itu.”

Aku kembali ke solder. Tanganku, secara ajaib, tidak gemetar.

Di ambang pintu, Zea berdiri lama sekali. Aku menunggu suara langkahnya menjauh—suara yang kuhafal, suara yang selama berminggu-minggu berarti dia datang, dan sekarang akan berarti dia pergi, dan aku memberitahu diriku sendiri bahwa aku ingin mendengarnya pergi.

Langkah itu tidak datang.

Aku mengangkat kepala.

Dia masih di sana. Dan alih-alih wajah kaget yang tadi, alih-alih perempuan yang biasa mematikan lampu dan pergi—klik, selesai—dia menatapku dengan sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajahnya sebelumnya. Sesuatu yang keras. Sesuatu yang bertekad.

“Oke,” katanya pelan. “Kamu nggak butuh aku buat mastiin kamu baik-baik aja. Aku denger.” Dia mengangguk, sekali, pada dirinya sendiri lebih dari padaku. “Tapi aku nggak dateng ke sini buat ngerasa nggak bersalah, Rafa. Aku dateng karena aku salah, dan aku mau benerin, dan aku tahu itu bukan hakku lagi. Jadi aku nggak akan minta kamu percaya aku hari ini. Atau minggu depan.”

Dia mundur satu langkah ke ambang pintu. Berhenti.

“Kamu antre lima kali buat aku,” katanya. “Aku bahkan nggak tahu itu kata yang tepat sampai sekarang. Antre.” Sesuatu di suaranya patah dan pulih dalam satu tarikan napas. “Sekarang giliran aku. Dan aku nggak akan buru-buru. Aku nggak akan maksa. Aku cuma... nggak akan pergi. Sekalipun kamu bilang tidak. Lima kali. Enam. Berapa pun.”

Lalu dia pergi—dan langkah yang kudengar menjauh itu, untuk alasan yang tidak kupahami dan tidak kuizinkan diriku periksa, terdengar bukan seperti akhir.

Aku duduk sendirian di lab dengan solder mendingin di tanganku dan sesuatu yang sudah lama kubuat mati rasa mulai, dengan menyakitkan, terasa lagi.

“Ren,” kata Oskar dari mejanya, tanpa menoleh. “Tembok lu retak.”

“Enggak.”

“Retak,” katanya lagi, lembut, hampir sedih. “Dan lu tau bagian paling nyebelinnya? Gue nggak yakin lu pengin tembok itu tahan.”

Aku tidak menjawabnya.

Karena aku juga tidak yakin. Dan ketidakyakinan itu—setelah berminggu-minggu tidur mati orang yang tidak menunggu apa-apa—adalah hal paling menakutkan yang dia bawa masuk ke lab hari itu.

Zea Lovatta baru saja mengambil satu-satunya kalimat yang selalu jadi milikku—aku antre lagi—dan mengembalikannya padaku dari sisi yang salah.

Dan aku sudah tahu, dengan ketakutan tenang seseorang yang selalu bisa membaca akhir sebuah kode dari baris pertamanya, bahwa aku sedang dalam masalah besar.