← 5 Confessions

Chapter Two

Yang Selalu Ngasih

Ada dua jenis orang di kampus ini: yang minta tolong ke aku, dan yang belum tahu mereka bakal butuh.

Pagi ini saja, sebelum jam sepuluh, aku sudah menghidupkan lagi proyektor ruang 304 yang katanya “mati total” (kabelnya kegigit tikus, bukan mati total), memindahkan skripsi seseorang dari flashdisk yang sekarat, dan menjelaskan ke petugas TU kenapa printer kiri di ruang baca selalu ngambek tiap Rabu (ada yang naruh dispenser air tepat di atas stopkontaknya, tiap Rabu, entah siapa). Tidak satu pun dari mereka tahu namaku. Satu bilang “makasih, Mas,” satu lagi cuma mengangguk, dan yang skripsinya kuselamatkan lupa mengucapkan apa pun karena keburu lari ke sidang.

Aku tidak keberatan. Sungguh. Ada rasa tertentu—susah dijelaskan—saat sesuatu yang rusak jadi jalan lagi di tanganku. Seperti kampus ini bernapas sedikit lebih lega dan aku satu-satunya yang tahu kenapa.

Oskar bilang itu penyakit.

“Lu tuh,” katanya sore itu, kaki di atas meja lab, “kayak colokan universal. Semua nyolok, nggak ada yang nanya colokannya sendiri butuh apa.”

“Colokan nggak butuh apa-apa.”

“Nah. Itu masalahnya.”

Aku tidak sempat menjawab, karena saat itulah pintu lab didobrak—secara harfiah didobrak, engselnya sudah kucatat untuk kuperbaiki nanti—oleh Gilang, membawa selembar kertas seperti membawa proklamasi kemerdekaan.

“REKOR BARU,” teriaknya. “Bung Rafa. Sejarah. Duduk yang manis.”

Dia menempelkan kertas itu ke papan tulis. Sebuah tabel. Rapi, mengerikan, dibuat dengan cinta.

5 CONFESSIONS — RESMI DIBUKA Berapa kali Rafa (TI) nembak Zea Lovatta sebelum: (a) jadian, (b) nyerah, (c) dilaporkan ke satpam?

Di bawahnya ada kolom taruhan. Nominal. Nama-nama. Sudah ada belasan yang ikut. Odds “nyerah sebelum percobaan ketiga” dipasang paling tinggi.

“Odds jadian berapa?” tanyaku, penasaran secara teknis.

Gilang menepuk dadanya. “Segini kecilnya, Bang, sampai kalkulatorku nangis. Lu nembak bidadari. BIDADARI. Yang senior-senior tajir aja mundur teratur. Terus lu, yang hobinya ngobrol sama router—”

“Aku ngobrol sama orang juga.”

“—muncul dari balik kabel, terus bilang ‘aku suka kamu’ kayak ngelaporin wifi down.” Gilang menggeleng dengan hormat yang tulus. “Itu bukan cinta, Bung. Itu keberanian militer.”

Anak-anak lab ketawa. Aku ikut, sedikit. Aku tahu bagaimana ini kelihatan dari luar. Aku tahu tabel itu ada karena semua orang menganggap ini lelucon—cowok tak kasat mata jatuh cinta pada perempuan yang bahkan cahaya pun menoleh saat dia lewat. Lucu. Mustahil. Bahan taruhan.

Yang mereka tidak tahu: aku tidak sedang bertaruh apa-apa. Aku cuma antre.

“Ren,” kata Oskar—dia satu-satunya yang manggil aku begitu, entah dari mana—setelah lab sepi. Kakinya masih di meja. “Serius, deh. Kenapa dia?”

Aku bisa saja jawab yang gampang. Bisa saja bilang karena wajahnya, dan Oskar akan mengangguk, dan percakapan selesai, karena itu jawaban yang semua orang harapkan dan tak seorang pun perlu tanya lagi.

Tapi bukan itu.

“Bulan lalu,” kataku pelan, “aku ke kampus jam setengah enam pagi. Benerin server sebelum jam sibuk. Gerbang masih setengah tutup. Dan dia udah di sana—Zea—jongkok di depan kedai kopi yang belum buka, nyusun kotak-kotak dagangan titipan. Risoles, kayaknya. Tangannya dingin, dia tiup-tiup. Terus dia ngitung uang receh, dua kali, karena yang pertama salah. Terus—” Aku berhenti. “Ada kucing kampus yang pincang lewat. Yang biasa diusir orang. Dia sisihin satu risoles. Padahal dia lagi ngitung receh, Os. Padahal dia sendiri belum tentu sarapan.”

Oskar tidak bilang apa-apa.

“Nggak ada yang lihat. Nggak ada yang perlu dia tunjukin ke siapa-siapa. Jam setengah enam pagi, nggak ada penonton.” Aku mengangkat bahu. “Semua orang lihat wajahnya terus mikir mereka udah kenal dia. Aku lihat dia ngasih risoles ke kucing pincang pas dia sendiri lagi susah, terus aku mikir—oh. Jadi orang kayak gitu beneran ada.”

Lab hening. Di luar, seseorang menendang mesin fotokopi yang, besok, pasti akan berakhir di mejaku.

“Itu,” kata Oskar akhirnya, “cheesy banget.”

“Kamu nanya.”

“Iya.” Dia menurunkan kakinya. Menatapku agak lama, seperti sedang membaca kode yang error-nya belum ketemu. “Ren. Boleh aku jujur? Lu tuh selalu ngasih. Ke semua orang. Router, laptop, skripsi orang, kucing kampus, terserah. Dan aku belum pernah, sekali pun, lihat lu minta apa-apa balik.”

“Aku nggak butuh—”

“Nah.” Dia menunjuk ku, persis seperti tadi. “Sekarang lu minta. Satu hal. Satu orang. Dan seluruh kampus masang taruhan lu bakal gagal.” Dia mengambil tasnya. “Aku cuma nggak mau, pas lu akhirnya minta sesuatu, jawabannya bikin lu berhenti minta selamanya.”

Dia pergi sebelum aku sempat menjawab, yang bagus, karena aku tidak punya jawaban.

Aku duduk sendiri di lab yang mulai gelap, di antara benda-benda yang kuperbaiki untuk orang-orang yang tak tahu namaku, dan memikirkan hal yang tidak pernah kuakui pada siapa pun, bahkan pada Oskar, bahkan pada diriku sendiri kalau lampunya cukup terang.

Bahwa aku ngasih karena itu satu-satunya cara yang kutahu supaya orang tidak pergi. Kalau kamu berguna, kamu dipertahankan. Itu logika yang kupelajari terlalu dini dan terlalu dalam untuk dicabut. Router tidak meninggalkanmu selama kamu memperbaikinya. Orang, beda cerita.

Kertas taruhan Gilang masih menempel di papan. Nyerah sebelum percobaan ketiga. Odds paling tinggi. Paling banyak yang pasang.

Aku bangkit, mematikan lampu, dan memutuskan satu hal dengan ketenangan seorang yang sudah menghitung semua kemungkinan dan menerima semuanya: mereka salah soal aku.

Aku bukan orang yang nyerah di percobaan ketiga.

Aku orang yang antre. Itu beda. Nyerah artinya berhenti berharap. Antre artinya kamu tahu gilirannya mungkin tak pernah datang, dan kamu berdiri di sana juga, karena berdiri di dekat seseorang yang ngasih risoles ke kucing pincang—diam-diam, jam setengah enam pagi, saat dompetnya sendiri hampir kosong—rasanya lebih baik daripada duduk nyaman di tempat lain.

Rabu depan. Percobaan kedua.

Aku sudah tahu dia akan bilang tidak.

Aku cuma belum tahu bahwa, mulai kali kedua, “tidak”-nya akan mulai terdengar seperti sesuatu yang dia paksakan—dan bahwa itu akan jauh, jauh lebih sulit ditanggung daripada tidak yang biasa.