Chapter Fifteen
Sepadan
Masalah dengan membiarkan diri berharap adalah kau juga membiarkan masuk semua hal yang bisa menghancurkan harapan itu.
Aku tertidur di bahu Zea di lantai lab, dan bangun dengan lehernya sebagai bantal dan server yang selamat, dan selama beberapa hari setelahnya aku hidup di tempat yang tidak kukenal—tempat di mana seseorang membawakanku makan siang dan aku tidak langsung menghitung cara membalasnya, tempat di mana “kamu boleh capek” mulai terasa mungkin dan bukan cuma kalimat baik.
Lalu, hari Selasa, aku melihatnya.
Aku sedang menyeberang dari lab menuju kedai kopi—ke kedainya, untuk pertama kalinya sejak bangku ketapang, karena aku akhirnya berani—saat aku melihat Zea di teras fakultasnya. Dan dia tidak sendiri.
Bram Nararya. Aku tahu wajahnya seperti seluruh kampus tahu wajahnya. Senior, aktivis, anak dosen, jenis cowok yang biografinya sudah rapi sebelum umur dua puluh dua. Ganteng dengan cara yang tidak perlu berusaha. Berdiri terlalu dekat dengan Zea, tertawa dengan gigi putih yang lurus, menyerahkan sesuatu—map, dokumen organisasi, entah apa—dan Zea tersenyum padanya. Senyum yang sopan. Tapi dari jarak ini, aku tidak bisa membedakan senyum sopan Zea dari senyum yang lain, karena Zea terlalu ahli memasang wajah, dan aku, untuk semua kemampuanku membaca orang, tiba-tiba buta.
Dan sesuatu di dalamku, yang baru saja berani berharap, mengeras kembali dalam sekejap.
Itu. Kataku pada diriku sendiri. Itu yang sepadan sama dia.
Bukan anak TI yang tidur di lantai lab. Bram Nararya. Seseorang yang bisa memberi Zea dunia yang tidak perlu dia hitung sen per sennya. Seseorang yang, kalau berdiri di sebelah Zea dalam foto, tidak akan membuat orang bertanya “kok bisa.”
Aku berbalik sebelum mereka melihatku, dan aku membawa pulang pengerasan itu seperti membawa pulang penyakit.
Selama tiga hari aku menarik diri.
Aku tidak kasar. Aku tidak pernah bisa kasar. Aku cuma... mundur. Kotak makan Zea kubalas dengan “makasih” yang datar. Saat dia datang ke lab, aku sibuk—benar-benar sibuk, kupastikan aku benar-benar sibuk, supaya tidak terasa seperti bohong. Aku membangun temboknya lagi, batu bata demi batu bata, dan bata paling bawah adalah pikiran yang selalu jadi fondasi seluruh diriku:
Kamu nggak sepadan, Rafa. Kamu nggak pernah sepadan. Kasih dia jalan ke orang yang sepadan sebelum dia sadar sendiri dan pergi—setidaknya kalau kamu yang ngasih jalan, itu masih pemberian, masih sesuatu yang berguna, bukan penolakan.
Aku bahkan mulai merencanakannya. Cara mundur yang mulia. Cara membuat Zea percaya aku tidak apa-apa supaya dia bebas memilih Bram tanpa merasa bersalah. Memberi, sampai akhir, bahkan memberikan kepergianku sendiri sebagai hadiah.
Hari Jumat, Zea datang ke lab dan menutup pintu di belakangnya.
“Oke,” katanya. Tidak marah. Tenang, tapi tenang yang berbeda—tenang orang yang sudah memutuskan sesuatu. “Cerita. Tiga hari ini kenapa.”
“Aku sibuk—”
“Rafa.” Dia melangkah maju. “Aku ngabisin sepuluh tahun bikin suaraku rata biar orang nggak bisa baca aku. Aku hafal semua triknya. Jadi jangan pake trikku ke aku.” Dia menatapku lurus. “Kamu narik diri. Aku mau tahu kenapa, dan aku nggak akan pergi sampai kamu bilang. Aku bawa bekal. Aku bisa di sini semalaman.”
Dan karena aku terlalu lelah untuk membangun tembok di depan satu-satunya orang yang tahu cara kerja temboknya, aku bilang.
“Aku lihat kamu sama Bram.”
Sesuatu bergerak di wajahnya—bukan rasa bersalah, kusadari kemudian, tapi pemahaman.
“Selasa. Di teras,” lanjutku, dan sekali mulai, aku tidak bisa berhenti. “Dan aku sadar sesuatu yang harusnya udah aku sadari dari awal. Dia yang sepadan sama kamu, Zea. Orang kayak dia. Bukan aku. Dan aku—aku mendingan ngasih kamu jalan ke sana sekarang, mulia-mulia, daripada nunggu kamu sadar sendiri terus pergi. Aku lebih tahan ngasih daripada ditinggal. Aku selalu lebih tahan ngasih.”
Aku menunggu Zea membantah cepat-cepat. Bram cuma temen organisasi, kok. Bantahan yang benar, mungkin, tapi terlalu kecil untuk melawan sesuatu sebesar keyakinan seumur hidup.
Dia tidak membantah kecil. Dia melakukan sesuatu yang lebih.
Dia berjalan sampai di depanku, dekat sekali, dan dia tidak menyentuhku tapi dia tidak memberiku ruang untuk mundur, dan dia berkata:
“Bram nembak aku semester satu. Ngasih bunga tiap Senin selama dua bulan. Anak dosen, tajir, ganteng, sepadan—kata semua orang. Aku nolak dia tanpa kedip, Rafa. Klik. Selesai. Karena aku nggak ngerasa apa-apa.”
Dia mengambil napas.
“Terus dateng anak TI yang benerin printer terus nanyain formulir beasiswaku di depan puluhan HP. Dan aku nolak dia lima kali, dan tiap kali aku nolak, aku nangis di lantai kos. Lima kali, Rafa. Kamu tahu kenapa aku bisa nolak Bram tanpa kedip tapi nolak kamu sampai hancur?”
Aku tidak bisa bicara.
“Karena Bram nggak pernah bikin aku ngerasa apa-apa. Dan kamu bikin aku ngerasa segalanya.” Suaranya pecah, dan dia membiarkannya pecah, dia yang tidak pernah membiarkan suaranya pecah. “Kamu pikir ‘sepadan’ itu soal tajir, soal ganteng, soal biografi rapi. Sepadan itu soal siapa yang bikin jantungmu lupa caranya diam. Dan itu kamu. Cuma kamu. Sepadan itu KAMU, dasar cowok bego yang benerin server orang lain sampai jam sepuluh malam tapi nggak bisa lihat nilai dirinya sendiri.”
Dia menunjuk dadaku, tepat di tengah, satu ketukan.
“Aku nggak butuh dunia yang nggak perlu aku hitung, Rafa. Aku udah ngitung seluruh hidupku. Aku butuh orang yang bilang aku boleh capek. Dan dari semua orang di kampus ini—dari semua orang di dunia—cuma satu yang pernah ngasih aku itu.”
Tembokku tidak runtuh batu demi batu kali ini.
Tembokku ambruk sekaligus.
Dan yang tersisa di baliknya adalah anak yang sejak kecil yakin dia cuma layak dicintai selama dia berguna, berdiri di depan perempuan yang baru saja memberitahunya—dengan suara pecah, dengan mata basah, tanpa satu pun gestur untuk penonton karena tidak ada penonton—bahwa dia dipilih untuk dirinya sendiri.
“Aku takut,” kataku. Karena itu satu-satunya kejujuran yang tersisa di dadaku yang kosong. “Zea. Aku takut banget.”
“Aku tahu.” Dan akhirnya, akhirnya, dia menyentuhku—tangannya di pipiku, dingin dari udara lab, dan aku bersandar ke sana seperti orang yang haus. “Aku juga takut. Aku takut sepuluh tahun. Tapi aku lebih takut ngabisin sisa hidup nyium bau solder sama hujan dari jaket yang udah aku balikin.”
Aku menutup mataku.
Dan untuk pertama kalinya sejak bangku ketapang—sejak sebelum bangku ketapang, sejak sebelum aku belajar bahwa memberi adalah satu-satunya cara supaya orang tinggal—aku membiarkan seseorang memegangku tanpa menghitung apa yang harus kuberikan sebagai balasannya.
Di luar jendela, hari sudah gelap. Bram Nararya, kudengar kemudian, mundur dengan anggun begitu tahu—bahkan menepuk bahuku suatu hari dan berkata “jaga dia baik-baik, dia layak,” karena ternyata dia memang orang baik, cuma bukan orang yang tepat, dan cerita ini tidak butuh penjahat untuk membuat hatiku hampir pecah.
Yang dibutuhkan cerita ini cuma dua orang yang sama-sama yakin mereka tidak layak dicintai, akhirnya berdiri cukup dekat untuk membuktikan satu sama lain salah.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan reading
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua