← 5 Confessions

Chapter Seven

Percobaan Keempat

Aku berlatih sepanjang minggu.

Di depan cermin kos, di dalam bus, di sela shift—aku melatih wajahku, suaraku, kalimatku. Aku memperlakukannya seperti ujian, karena memang itu ujian, ujian terberat yang pernah kususun untuk diriku sendiri: cara menolak seseorang dengan cukup dingin supaya dia berhenti, tanpa cukup kejam supaya aku bisa hidup dengan diriku setelahnya.

Aku membawa jaketnya. Terlipat rapi di dalam tas, di atas buku catatan uang, bukti sebulan kelemahan yang akan kukembalikan hari ini bersama pertahananku.

Rabu sore. Bangku ketapang. Aku sudah menyiapkan diri untuk kerumunan, untuk ponsel, untuk Gilang. Tapi minggu ini taman itu lebih sepi—gosipnya sudah basi, taruhannya sudah lama dipasang, dan orang-orang mulai bosan menonton adegan yang mereka pikir sudah tahu akhirnya. Cuma ada beberapa yang nongkrong jauh, setengah merhatiin.

Rafa sudah di sana. Dan begitu aku melihatnya, seluruh latihanku hampir buyar.

Karena dia terlihat lelah. Bukan lelah fisik—lelah yang lain, yang kukenal karena aku memakainya sendiri tiap hari di balik senyum-seragam. Dia tetap tersenyum saat melihatku. Tapi senyumnya sekarang butuh usaha, dan aku bisa melihat usahanya, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia tidak tersenyum sama sekali.

“Percobaan keempat,” katanya.

Dan candaan itu—nada ringan yang dia pakai untuk membungkus semuanya—terdengar tipis sekarang. Seperti kertas yang dipakai berulang kali, hampir tembus. Dia tidak bercanda karena ini lucu baginya. Dia bercanda karena itu satu-satunya cara dia bisa terus berdiri di sini dan mengucapkannya tanpa hancur. Nomor itu adalah tamengnya. Dan aku, yang datang membawa pisau, tahu persis di mana tamengnya paling tipis.

“Aku suka kamu, Zea. Kamu boleh nolak—”

“Berhenti.”

Aku mengucapkannya dengan suara yang kulatih. Rata. Dingin. Suara mematikan lampu.

Senyumnya goyah. “...Zea?”

“Ini udah keempat kali, Rafa.” Aku mengeluarkan jaket dari tas dan mengulurkannya, dan aku menjaga tanganku tidak gemetar dengan seluruh kekuatan yang kupunya. “Ini jaketmu. Maaf lama. Dan tolong—berhenti. Bukan ‘nanti’. Bukan ‘antre lagi’. Berhenti.”

Dia tidak mengambil jaketnya. Dia menatapnya, lalu menatapku, dan aku melihat sesuatu bergeser di wajahnya—kesadaran perlahan bahwa hari ini berbeda, bahwa aku tidak sedang menolak dengan lembut seperti biasa.

“Kamu selalu bilang ‘maaf’ sebelumnya,” katanya pelan. “Sekarang enggak.”

Bagus. Latihanku berhasil. Aku menghapus “maaf”. Aku menghapus segala yang selama ini bocor lewat celah “tidak”-ku dan membuatnya mendengar “nanti”. Aku berdiri di sana, dingin dan rata dan sempurna, dan aku membenci diriku lebih dari yang pernah kubenci apa pun.

“Karena aku pikir kamu bakal ngerti kalau aku halus,” kataku. Setiap kata dipilih untuk memutus, bukan melukai—garis yang begitu tipis. “Ternyata enggak. Jadi aku jelasin lugas: aku nggak akan pernah bilang iya, Rafa. Kamu buang waktu. Cari orang yang bisa ngasih kamu balik. Aku nggak bisa. Aku nggak punya apa-apa buat siapa-siapa.”

Itu bukan kebohongan, sebenarnya. Itu bagian yang membuatnya sanggup kuucapkan. Aku memang tidak punya apa-apa untuk diberikan; setiap keping diriku sudah punya nama orang lain di atasnya—Bunda, Dema, beasiswa, utang yang tak berujung. Yang kubohongi cuma satu: bahwa aku tidak menginginkannya.

Rafa diam lama sekali.

Lalu, pelan, dia mengambil jaketnya. Untuk pertama kalinya dalam sebulan, dia menerima kembali sesuatu yang dia berikan.

“Oke,” katanya. Suaranya tenang, tapi ada yang berbeda di dalamnya—sesuatu yang lebih hati-hati, seperti orang yang baru menyadari lantai yang dia pijak lebih rapuh dari dugaannya. “Makasih udah balikin.”

Dia tidak marah. Bahkan sekarang, bahkan ini, dia tidak marah. Itu membuat segalanya lebih tak tertahankan. Seorang cowok yang lebih buruk akan menyalahkanku, dan aku bisa membenci cowok yang lebih buruk, dan membenci akan jauh lebih mudah ditanggung daripada ini.

“Satu hal,” katanya, sudah setengah berbalik. Dia berhenti. Tidak menatapku. “Kamu bilang kamu nggak punya apa-apa buat siapa-siapa.” Jeda. “Aku pernah lihat kamu ngasih risoles ke kucing pincang jam setengah enam pagi pas dompetmu hampir kosong, Zea. Jadi itu bagian yang aku nggak percaya.”

Lalu dia pergi.

Dan aku berdiri di bangku ketapang, di taman yang hampir kosong, memegang tas yang kini terlalu ringan tanpa jaket di dalamnya, sambil menyadari bahwa dia baru saja memberitahuku, dengan sangat lembut, bahwa dia melihatku—melihat aku, bukan wajahku, bukan kedinginan yang kupasang—sejak jam setengah enam pagi berbulan-bulan lalu.

Aku menunggu sampai bus. Aku menunggu sampai bus itu penuh dan gelap dan tak ada yang menoleh padaku. Lalu aku menunggu sampai kos, sampai pintu tertutup, sampai lampu mati.

Baru kemudian aku pecah.

Aku menangis di lantai kamar kos, dengan cara yang tidak kubiarkan siapa pun lihat, dengan cara yang bahkan tidak kubiarkan diriku lihat di cermin, karena aku takut kalau aku melihat wajahku sedang menangis aku akan mengenalinya—wajah Bunda, dua puluh tahun lalu, di lantai dapur, patah karena mencintai orang yang salah.

Kecuali Rafa bukan orang yang salah. Itu bagian yang membuatku menangis paling keras. Dia orang yang paling benar yang pernah datang ke hidupku, dan aku baru saja mengusirnya dengan tanganku sendiri, dan aku melakukannya bukan karena aku tidak mencintainya—

—tapi karena aku terlalu mencintainya untuk membiarkan dia terikat pada perempuan yang seluruh hidupnya sudah dijanjikan pada orang lain.

Jaket itu tidak lagi di gagang pintu.

Kamar itu terasa lebih dingin daripada seharusnya untuk kehilangan sepotong kain.

Aku bilang pada diriku sendiri ini yang terbaik. Ini kebaikan. Aku membebaskannya. Rabu depan tidak akan ada percobaan kelima, dan itu berarti aku berhasil, itu berarti aku melindunginya, itu berarti aku menang.

Aku belum tahu betapa aku akan menyesali kata “menang”.

Aku belum tahu bahwa Rabu depan akan tetap ada percobaan kelima—yang terakhir—dan bahwa kali itu, akulah yang tidak akan sanggup berdiri.