← 5 Confessions

Chapter Ten

Menang

Rabu berikutnya, aku datang ke bangku ketapang.

Aku tidak tahu kenapa. Kakiku membawaku ke sana lagi, seperti tubuh yang belum diberitahu bahwa sesuatu sudah mati. Aku berdiri di ujung taman jam empat sore, di titik keemasan yang sama, dan aku menunggu—untuk apa, aku tidak berani menamai.

Bangku itu kosong.

Tidak ada Rafa. Tidak ada Gilang. Tidak ada kerumunan yang menahan napas, tidak ada ponsel, tidak ada nomor yang diucapkan pelan. Cuma bangku beton di bawah pohon, dan seorang mahasiswa asing yang duduk di sana makan bakso, tidak tahu bahwa tempat itu, selama lima Rabu, adalah satu-satunya tempat di kampus ini di mana seseorang menganggapku layak diminta.

Aku menang. Bangku kosong itu adalah trofiku.

Aku pulang dan berdiri di depan pintu kamar kos, dan di sanalah kekalahan yang sebenarnya menungguku: gagang pintu yang kosong. Tempat jaket abu itu tergantung selama sebulan. Selama sebulan aku menatapnya tiap malam dan bilang pada diriku besok akan kukembalikan. Sekarang sudah kukembalikan, dan gagang itu telanjang, dan kamarku terasa dingin dengan cara yang tidak masuk akal untuk kehilangan sepotong kain.

Aku duduk di lantai. Di tempat yang sama aku menangis setelah percobaan keempat.

Dan aku memutar ulang kalimat itu—kalimatku sendiri—untuk yang keseratus kali.

Capek, kan, ngejar orang yang nggak akan pernah milih kamu?

Aku memikirkan kenapa aku memilih justru kalimat itu. Dari semua cara menolak, kenapa yang paling tepat sasaran. Dan jawabannya, saat akhirnya kubiarkan diriku melihatnya, membuatku sakit fisik.

Karena aku memperhatikannya.

Selama berminggu-minggu, sambil berpura-pura tidak peduli, aku memperhatikan Rafa sama telitinya seperti dia memperhatikanku. Aku melihat caranya memberi ke semua orang tanpa pernah meminta. Aku melihat caranya menunduk saat dipuji, seolah pujian itu salah alamat. Aku melihat sesuatu di dirinya yang aku kenal karena aku memilikinya sendiri—keyakinan diam-diam bahwa kau hanya berharga selama kau berguna, bahwa kau tidak akan pernah dipilih untuk dirimu sendiri.

Dan saat aku butuh senjata, aku tidak mengarang. Aku menemukan luka yang paling dia sembunyikan—luka yang cuma bisa kutemukan karena aku sudah begitu lama, begitu diam-diam, mencintainya—dan aku menikamnya di sana.

Kekejamanku adalah bukti cintaku. Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung. Aku tahu di mana menusuknya justru karena aku memperhatikannya seperti orang yang jatuh cinta.

Aku tidak sekadar menolak Rafa. Aku mengambil ketakutan terdalamnya—aku nggak akan pernah dipilih—dan aku menandatanganinya. Aku memberinya bukti. Aku, dari semua orang, satu-satunya yang melihat dia sebagai lebih dari sekadar berguna, memberitahunya bahwa dia tidak lebih dari sekadar berguna.

Dan dia percaya padaku. Karena dari semua orang, aku yang paling dia percaya untuk mengatakan kebenaran.


Nadia datang malam itu tanpa kupanggil. Nadia selalu tahu.

Dia tidak bawa gorengan kali ini. Dia cuma duduk di sebelahku di lantai dan membiarkan aku bicara, dan aku bicara, semuanya, kalimat pisau dan bangku kosong dan gagang pintu yang telanjang, sampai aku kehabisan kata dan yang tersisa cuma isak yang tidak lagi kucoba sembunyikan.

“Aku ngerusak orang paling baik yang pernah aku kenal, Nad,” bisikku. “Dan aku ngelakuinnya dengan presisi. Karena aku sayang dia. Gimana bisa aku sayang dia dan ngelakuin itu?”

“Karena kamu takut,” kata Nadia pelan. “Ze, kamu nggak dibesarin buat percaya cinta itu aman. Kamu dibesarin buat percaya cinta itu jebakan. Jadi pas cinta beneran dateng—cinta yang aman, yang nggak nuntut apa-apa—otakmu manggil itu ancaman, dan kamu nyerang. Itu bukan kamu jahat. Itu kamu terluka duluan, jauh sebelum ketemu Rafa.”

Aku menyeka wajah. “Dia udah nyerah. Dia nggak akan pernah percaya aku lagi. Aku ngasih dia alasan buat nggak percaya, dan alasannya sempurna.”

Nadia diam lama. Lalu dia mengambil tanganku.

“Boleh aku tanya satu hal?” katanya. “Kalau nggak ada Bunda. Nggak ada Dema. Nggak ada janji, nggak ada beasiswa, nggak ada apa-apa yang gantung di kamu. Cuma kamu, dan Rafa, dan dunia kosong. Kamu mau apa?”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menjawab pertanyaan tentang keinginanku sendiri tanpa menyaringnya lewat siapa yang bergantung padaku.

“Aku mau dia,” kataku. Suaraku pecah di kata terakhir. “Aku mau dia, Nad. Aku mau nunggu-nunggu shift sore. Aku mau bau solder sama hujan itu tiap hari. Aku mau jadi orang yang dia sisihin roti buatnya, dan aku mau, buat sekali seumur hidup, jadi orang yang megang seseorang, bukan cuma dipegangin sama semua orang.”

“Ze.” Nadia meremas tanganku, dan matanya basah, tapi suaranya tegas—tegas dengan cara yang cuma dimiliki sahabat yang tahu kapan kelembutan justru kekejaman. “Selama sepuluh tahun kamu bilang tidak sama semua hal yang kamu mau, karena kamu pikir bilang tidak itu yang bikin kamu kuat. Tapi kekuatan bukan berhenti mau. Kekuatan itu berani ngejar hal yang kamu takutin.”

Dia berdiri, mengambil tasnya, lalu berhenti di pintu—di dekat gagang yang kosong.

“Dia ngejar kamu lima kali, Ze. Lima kali dia berdiri di depan seluruh kampus dan minta, padahal dia tahu bakal ditolak. Kamu tahu apa yang lebih berani dari itu?”

Aku menggeleng.

“Ngejar orang yang udah kamu kasih semua alasan buat lari.” Nadia tersenyum kecil, sedih. “Giliran kamu antre, Zea. Dan antreanmu bakal jauh lebih panjang dari punya dia. Karena dia mulai dari nol. Kamu mulai dari minus.”

Dia pergi.

Aku duduk sendirian di lantai, di kamar yang dingin, menatap gagang pintu yang telanjang, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku tidak menghitung siapa yang bergantung padaku atau berapa yang tersisa di saldoku atau harga dari apa yang kuinginkan.

Aku cuma memutuskan satu hal, dengan ketenangan aneh seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura tidak menginginkan apa-apa:

Aku akan mengejarnya.

Bukan karena aku pantas dimaafkan. Aku tidak. Bukan karena aku yakin bisa. Aku tidak. Tapi karena Rafa Elvano menghabiskan berminggu-minggu memberitahuku, dengan setiap cara diam yang dia punya, bahwa aku layak diminta bahkan saat aku tidak bisa memberi apa-apa balik—

—dan sekarang giliranku memberitahunya hal yang sama. Sekeras yang dibutuhkan. Selama yang dibutuhkan.

Bahkan kalau butuh seluruh sisa hidupku. Bahkan kalau dia tidak pernah menoleh.

Aku belum tahu betapa dia sudah memutuskan untuk tidak menoleh.

Aku cuma tahu, malam itu, bahwa untuk pertama kalinya aku menginginkan sesuatu cukup untuk berhenti melindungi diriku dari menginginkannya.

Dan itu, ternyata, adalah percobaan pertamaku sendiri.