Chapter Twenty Five
Bukan Karena Berguna
Ada satu Sabtu, di tengah semuanya, yang akan kusimpan seumur hidup sebagai bukti bahwa aku pernah sepenuhnya bahagia.
Zea menginap di kosku—alasannya “biar aku bisa mastiin kamu makan”, walau kami berdua tahu itu bukan alasannya. Hujan turun sejak sore, jenis hujan yang mengurung dua orang di satu kamar sempit dan membuat dunia di luar terasa seperti rumor. Kami tidak punya uang untuk pergi ke mana-mana. Kami tidak butuh.
“Fa.” Zea berbaring melintang di kasur, kepala menggantung di tepi, rambut jatuh, menatapku terbalik saat aku duduk di lantai memperbaiki—entah kenapa, kebiasaan—kipas angin kos yang sudah lama berbunyi aneh. “Berhenti benerin barang. Sini.”
“Bentar, tinggal—”
“Rafa Elvano.” Dia menggunakan nama lengkapku, yang berarti bahaya. Dia bangkit, merangkak ke tepi kasur, dan menarik obeng dari tanganku, lalu melemparnya ke suatu tempat yang tidak akan kutemukan sampai besok. “Kipasnya boleh berisik. Kamu udah libur. Tugasmu Sabtu ini cuma satu: dimanjain. Nggak ada yang boleh kamu benerin kecuali suasana hati aku, dan itu gampang, tinggal cium aku.”
Aku tertawa. “Itu—”
Dia menciumku sebelum aku selesai. Dan bukan yang ringan. Tangannya di rahangku, menarikku naik dari lantai ke kasur, dan aku membiarkannya, karena aku sudah belajar—pelan, dua bulan ini—bahwa membiarkan Zea memanjakanku bukan kelemahan. Itu hadiah yang dia butuhkan untuk memberi sama besarnya dengan hadiah yang kubutuhkan untuk menerima.
Aku ahli memberi. Zea sedang mengajariku hal yang jauh lebih sulit: cara berbaring diam dan dicintai tanpa mengangkat satu jari pun untuk pantas.
“Kamu tahu nggak,” bisiknya di antara ciuman, dahi ke dahi, napas bercampur, “kamu selalu ngelakuin sesuatu. Selalu. Bahkan pas peluk aku, tanganmu suka gerak, kayak nyari yang bisa dibenerin.” Dia menangkap tanganku, menautkan jarinya, menahannya diam di antara kami. “Malam ini nggak ada yang perlu dibenerin. Nggak ada yang perlu kamu kerjain. Kamu nggak harus berguna buat ada di sini. Kamu cuma harus... ada. Sama aku. Itu aja. Itu udah lebih dari cukup.”
Dan sesuatu di dadaku—simpul yang sudah kubawa sejak umur sembilan, sejak kamar demam yang tak seorang pun masuki—mulai, pelan, terurai.
Karena selama ini, di setiap pelukan, ada bagian kecil diriku yang bertanya: apa yang bisa aku kasih? kenapa dia mau aku kalau aku nggak ngasih apa-apa? Dan Zea, dengan cara yang cuma dimiliki orang yang punya luka persis sama, mendengar pertanyaan itu bahkan saat aku tidak mengucapkannya, dan menjawabnya sebelum aku sempat malu memilikinya.
Kamu nggak harus berguna buat ada di sini.
Aku menciumnya kembali—bukan buru-buru sekarang, lambat, seperti orang yang punya seluruh malam dan seluruh hidup—dan untuk pertama kalinya aku menciumnya tanpa sebagian diriku menghitung apa pun. Tanpa mencari yang bisa kuperbaiki. Tanpa bertanya-tanya apa yang harus kubayar. Aku cuma ada. Aku cuma dicintai. Aku cuma mencintai balik.
Hujan menutup dunia di luar. Kami tidak butuh dunia di luar.
Yang kuceritakan berikutnya, aku ceritakan seperlunya, karena beberapa hal milik dua orang saja dan bukan untuk halaman.
Kami menutup jarak yang terakhir malam itu—pelan, hati-hati, dua orang yang sama-sama belajar bahwa disentuh untuk diri sendiri, bukan untuk apa yang bisa diberikan, adalah bentuk penyembuhan yang tidak dimiliki kata-kata. Zea, yang seumur hidup diinginkan orang untuk wajahnya, disentuh malam itu sebagai orangnya. Dan aku, yang seumur hidup dicintai sebagai fungsi, dicintai malam itu tanpa satu pun fungsi yang perlu kutunaikan.
Kami menyerahkan pada satu sama lain hal yang paling tidak pernah kami izinkan diberikan pada siapa pun: diri kami sendiri, tanpa syarat, tanpa tagihan, tanpa jaring pengaman.
Setelahnya, dalam gelap, dengan hujan masih turun dan Zea melingkar di dadaku, dia berbisik, “Aku cinta kamu, Rafa. Dan aku nggak cinta kamu karena kamu benerin apa-apa buat aku. Aku cinta kamu justru pas kamu nggak ngapa-ngapain. Pas kamu cuma... kamu.”
Aku menutup mataku, dan air mata—yang tidak kutunjukkan, yang cuma dia rasakan menetes ke rambutnya—jatuh, karena itulah kalimat yang kutunggu sejak umur sembilan.
“Aku cinta kamu juga,” kataku. “Dan kamu tahu apa yang paling aku syukurin?”
“Apa?”
“Bahwa aku ditolak lima kali.” Aku merasakannya menegang, protes sudah di ujung lidah, dan aku mengeratkan pelukan sebelum dia bisa. “Beneran. Kalau kamu bilang iya di percobaan pertama, aku bakal masih jadi cowok yang mikir dia harus berguna buat dicintai. Aku bakal ngasih ke kamu sampai habis kayak ke semua orang, dan aku nggak akan pernah belajar berbaring diam dan dicintai gini. Lima penolakanmu, terus kejaranmu, terus semua yang kita lewatin—itu yang ngajarin aku, Ze. Aku nggak akan nuker itu sama ‘iya’ yang gampang.”
Zea terdiam lama. Lalu aku merasakan pipinya basah di dadaku.
“Kamu bikin hal paling nyakitin yang pernah aku lakuin—nolak kamu lima kali—jadi kayak hadiah,” bisiknya. “Gimana kamu bisa selalu ngelakuin itu?”
“Karena,” kataku, mencium puncak kepalanya, “kamu ngajarin aku. ‘Sisanya bisa nunggu.’ Inget? Percobaan kedua, di bawah hujan. Kamu nolak aku dan aku bilang risolesmu selamat, itu yang penting hari ini, sisanya bisa nunggu.” Aku tersenyum ke dalam gelap. “Aku nyimpen semua yang kamu kasih, Zea. Bahkan penolakanmu. Terutama penolakanmu. Karena bahkan pas kamu nolak, kamu ngelakuinnya dengan cara yang ngajarin aku sesuatu tentang sabar.”
Kami tertidur seperti itu, terjalin, hujan sebagai selimut, dua orang yang akhirnya belajar bahwa mereka layak dicintai dengan tangan kosong.
Aku ingin bisa berhenti di sini. Aku ingin ini jadi akhirnya—hujan, dan dua orang yang sembuh, dan tidak ada lagi yang bisa merampasnya.
Tapi aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa hujan selalu reda, dan bahwa hidup, yang selama beberapa minggu ini begitu murah hati pada kami, menyimpan tagihannya sendiri.
Dua hari kemudian, Zea menerima telepon jam tiga pagi.
Dan semua yang kami bangun—setiap pelajaran, setiap “kamu boleh capek”, setiap “aku ikut megang”—akan diuji dengan cara yang tidak kami siapkan.
Tapi malam itu, di kosku, dengan hujan dan Zea dan simpul di dadaku yang akhirnya terurai, aku bahagia.
Sepenuhnya. Tanpa syarat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Aku bersyukur aku sempat memilikinya, malam itu, sebelum badai.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna reading
- 26 Berdua