← 5 Confessions

Chapter Twenty One

Punya Aku

Namanya Sasa. Teman satu lab Rafa. Anak Teknik Informatika juga, pintar, ngerti semua yang Rafa ngerti, bisa ketawa sama Rafa soal hal-hal yang buatku terdengar seperti bahasa alien—“segfault”, “race condition”, “kernel panic”—sambil aku duduk di pojok lab pura-pura ngerti.

Dan aku, yang menghabiskan sepuluh tahun tidak pernah cemburu pada siapa pun karena tidak pernah cukup peduli untuk cemburu, menemukan diriku sendiri, pada usia dua puluh, mengembangkan kemampuan baru yang mengerikan.

“Kamu ngeliatin Sasa dari tadi,” bisik Nadia, di kantin, saat Rafa dan Sasa lewat sambil mendiskusikan entah apa dengan tangan bergerak-gerak.

“Enggak.”

“Zea. Sendokmu udah bengkok.”

Aku menatap sendokku. Bengkok.

Inilah yang tidak pernah diberitahukan orang tentang jatuh cinta: bahwa ia membangunkan bagian-bagian dirimu yang tidak kau tahu ada. Aku selalu bangga dingin. Tak tersentuh. Aku menolak seluruh kampus tanpa kedip. Dan sekarang aku duduk di kantin dengan sendok bengkok karena seorang perempuan bisa membuat pacarku tertawa dengan lelucon soal kernel yang tidak akan pernah kupahami.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang masuk akal.

Aku menandai wilayah.

Aku mulai mengantar makan siang Rafa ke lab—setiap hari, tepat saat Sasa biasanya di sana. Aku duduk di pangkuannya sambil dia coding, lengan melingkar posesif di lehernya, menyuapinya di depan seluruh lab. “Aaa, sayang. Buka mulut. Anak baik.” Aku mencium pipinya, keningnya, sudut bibirnya, dengan frekuensi yang bahkan aku tahu berlebihan.

Rafa, tentu saja, salah tingkah setengah mati. “Zea—Sasa di sini—orang—”

“Aku tahu Sasa di sini.” Aku tersenyum manis ke arah Sasa. “Hai, Sasa. Suapin nggak, Fa? Aku suapin, ya. Kamu suka yang aku bawa, kan? Aku hafal kamu suka telur setengah mateng.” Kulirik Sasa lagi, senyum ramah yang berbahaya. “Kamu tahu dia suka telur setengah mateng, San?”

Sasa berkedip. “...Enggak?”

“Oh.” Senyumku melebar. “Aku tahu.”

Nadia, kelak, menyebut periode ini “Perang Dingin Telur Setengah Mateng” dan tidak pernah berhenti menertawakannya.


Yang membuatku malu adalah bagaimana ini berakhir.

Sasa menghampiriku sendiri, suatu sore, di luar lab. Aku sudah bersiap perang. Aku salah.

“Zea,” katanya, dan wajahnya bukan wajah rival, “aku mau ngomong. Karena kayaknya kamu salah paham dan itu bikin kamu nggak nyaman, dan aku nggak mau.”

“...Oke.”

“Aku emang naksir Rafa. Dulu.” Dia jujur, dan kejujurannya melucutiku. “Semester satu, dua. Dia satu-satunya cowok di lab yang nggak pernah bikin aku ngerasa bego karena aku cewek di jurusan cowok. Dia bantuin aku tanpa ngerendahin. Gampang naksir orang kayak gitu.” Sasa mengangkat bahu. “Tapi aku tembak dia—diam-diam, nggak kayak dia yang heboh nembak kamu—dan dia tolak dengan cara paling baik yang pernah aku alamin. Dia bilang dia sayang aku sebagai temen, dan dia nggak mau kehilangan itu dengan pura-pura ngerasa lebih. Itu dua tahun lalu, Zea. Kita temen sejak itu. Beneran temen.”

Aku merasa sendok imajiner di tanganku membengkok ke arah yang berlawanan.

“Terus,” lanjut Sasa, dan sekarang dia tersenyum, “aku ngeliat cara dia ngeliat kamu. Zea. Dia nggak pernah ngeliat aku kayak gitu. Dia nggak pernah ngeliat siapa pun kayak gitu. Kamu tahu dia ngapain tiap kali kamu masuk lab? Dia berhenti ngoding. Rafa. Yang bisa ngoding sambil kebakaran. Berhenti. Cuma buat mastiin dia nggak ketinggalan lihat kamu masuk.” Dia menggeleng, geli. “Aku nggak akan pernah bisa saingan sama itu, dan aku nggak mau. Aku cuma mau kamu berhenti bikin telur setengah mateng jadi senjata. Kasian telurnya.”

Aku tertawa. Tawa yang malu dan lega dan tulus.

“Maaf,” kataku. “Aku... aku baru pertama kali punya sesuatu yang aku takut kehilangan. Aku nggak pinter cemburu. Aku baru belajar.”

“Kelihatan.” Sasa menepuk bahuku, dan begitu saja, dengan martabat yang membuatku hormat, dia mundur dari ruang yang bahkan tidak dia perebutkan. “Jaga dia. Dia orang langka. Tapi kamu udah tahu itu.”


Malam itu aku menceritakan seluruh drama pada Rafa, termasuk Perang Dingin Telur, dan dia tertawa sampai hampir menangis.

“Kamu cemburu,” katanya, terpukau, seolah menemukan spesies baru. “Kamu, yang nolak setengah kampus tanpa kedip, cemburu sama Sasa.”

“Diem.”

“Zea Lovatta cemburu.” Dia menarikku ke pangkuannya sekarang—membalikkan posisi, untuk sekali dia yang berani—dan menyandarkan dahinya ke dahiku. “Kamu tahu nggak kamu nggak perlu?”

“Aku tahu. Sekarang. Sasa udah jelasin.” Aku memainkan kerah bajunya, malu. “Aku cuma... dia ngerti duniamu, Fa. Dia bisa ketawa sama kamu soal kernel-kernel itu. Aku cuma bisa duduk di pojok pura-pura ngerti. Aku takut kamu bakal mau seseorang yang—yang sepadan sama otakmu. Yang nggak butuh kamu jelasin semuanya.”

Rafa terdiam. Lalu dia mengangkat wajahku dengan satu jari di bawah daguku.

“Zea. Aku ngabisin hidup sama orang-orang yang ngerti kernel,” katanya pelan. “Lab penuh sama mereka. Mereka ngerti semua yang aku ngerti, dan nggak satu pun dari mereka pernah bikin jantungku lupa caranya diam.” Dia mencium keningku. “Aku nggak butuh seseorang yang ngerti kernel. Aku butuh seseorang yang, pas dia masuk ruangan, bikin aku lupa kernel itu ada. Itu kamu. Cuma kamu. Kamu nggak sepadan sama otakku, Zea—kamu sepadan sama hal di dadaku yang jauh lebih penting dari otakku.”

Dan aku menciumnya—dalam, lambat, tangan di rambutnya—di kos yang sempit dengan lampu temaram, dan untuk beberapa menit yang panjang tidak ada Sasa, tidak ada kernel, tidak ada telur setengah mateng, cuma dia dan aku dan jarak yang terus kami tutup.

Saat kami melepas, ponselku bergetar di meja. Aku meliriknya secara refleks.

Dari Dema: Kak, Bunda batuk darah lagi tadi malem. Bunda larang aku bilang ke Kakak. Tapi aku takut, Kak.

Aku merasakan seluruh kehangatan malam itu membeku di dadaku.

“Ada apa?” tanya Rafa, membaca wajahku—dia selalu membaca wajahku.

Dan aku, yang baru saja belajar cemburu, yang baru saja belajar mengaku takut kehilangan, belum belajar hal yang satu ini: cara membiarkan seseorang ikut memikul.

“Nggak ada,” kataku, mematikan layar. Senyum-seragam, refleks lama. “Dema, nanyain PR. Sini, cium aku lagi.”

Dan Rafa menciumku lagi, tidak tahu bahwa di balik ciuman itu aku sudah mulai menghitung—bus malam ke rumah, saldo yang tersisa, klinik mana yang buka—sendirian, seperti selalu, di tempat yang tidak kubagi dengan siapa pun.

Bahkan dengan cowok yang, saat ini juga, sedang diam-diam menghitung hal yang sama.