Chapter One
Percobaan Pertama
Ada satu hal yang aku pelajari sejak semester pertama: kalau aku berjalan cukup cepat, orang tak sempat menoleh.
Hari ini aku gagal.
Koridor Fakultas Ekonomi ramai jam sembilan pagi, dan begitu aku melintas, ramai itu melakukan hal yang selalu aku benci. Ada jeda kecil — setengah detik saja — ketika suara-suara tersendat, ketika satu-dua kepala menoleh lebih lama dari yang sopan, ketika seorang mahasiswa baru menabrak pintu kaca karena matanya tidak di depan. Di dekat mading, seseorang berbisik, tidak cukup pelan, “Anjir, kayak bidadari nyasar ke kampus negeri.”
Aku menunduk sedikit dan mempercepat langkah. Aku tahu bisikan itu pujian. Aku juga tahu tak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa semalam aku tidur tiga jam, bahwa tas selempangku berat karena berisi dua kotak dagangan titipan, bahwa dalam empat puluh menit aku harus sudah berdiri di balik konter kedai kopi di seberang gerbang dengan senyum yang benar. Mereka melihat wajah. Wajah itu, entah kenapa, sudah cukup untuk membuat mereka merasa mengenalku.
“Zea!” Nadia menyusul, napasnya putus-putus. “Printer ruang baca mati semua. Formulir beasiswamu belum masuk?”
Perutku jatuh. “Batas terakhir jam sepuluh.”
“Ya udah mati semua. Antre mengular. Kiamat kecil.”
Kami berlari. Ruang baca sudah jadi pasar: mahasiswa berjejal di sekitar dua printer yang berkedip merah, satu dosen menggedor mesin seakan itu akan membuatnya insaf, dan seorang petugas TU mengangkat tangan tanda menyerah. Aku menyelinap ke depan, memegang flashdisk erat-erat seakan benda itu bisa menyelamatkan hidupku. Karena, dalam artian tertentu, memang bisa.
“Nggak akan kekejar,” gumamku. Suaraku rata. Aku melatih suaraku bertahun-tahun supaya tetap rata di saat-saat begini.
“Coba yang di lab TI,” kata seseorang di belakang kami. “Yang jaga sana bisa benerin.”
Aku menoleh, tapi yang bicara sudah pergi. Dan di sinilah, kalau ada yang mencatat, awal segalanya: aku melewati koridor sayap timur, ke ruang yang jarang kudatangi, dan mendorong pintu lab yang setengah terbuka.
Seorang cowok jongkok di belakang deretan komputer, kepala nyaris hilang di antara kabel. Kaus abu polos. Punggung yang membungkuk seperti sudah lama akrab dengan posisi itu. Dia tidak menoleh saat aku masuk — dan itu, anehnya, adalah hal pertama yang membuatku benar-benar melihatnya. Semua orang menoleh. Dia tidak.
“Maaf,” kataku. “Printer di sini nyala?”
“Nyala.” Suaranya pendek, tidak buru-buru. “Bentar. Jangan yang kiri, itu lagi ngambek.”
Dia bangkit, dan aku sempat menangkap wajahnya sekilas — biasa saja, jenis wajah yang tak akan diingat siapa pun di kerumunan, kacamata sedikit melorot — sebelum matanya turun ke flashdisk di tanganku, lalu ke tanganku sendiri.
“Kamu megangnya kayak mau diselametin,” katanya.
Aku berkedip. “...Formulir beasiswa. Batas jam sepuluh.”
Cowok itu tidak berkata “wah cantik banget,” tidak menatap terlalu lama, tidak melakukan apa pun yang biasa dilakukan orang. Dia cuma mengambil flashdisk itu, menancapkannya, dan menekan beberapa tombol dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ditiru. Mesin mendengung. Kertas keluar hangat.
“Dua lembar, kan,” katanya. Bukan tanya. Dia sudah melihat berkasnya.
“Kamu—” Aku kehilangan kata. “Makasih. Aku ganti biayanya.”
“Nggak usah.” Dia sudah kembali jongkok ke balik komputer, punggung membungkuk lagi, seolah percakapan tadi tak pernah terjadi. “Larian, keburu telat.”
Aku keluar dengan formulir hangat di dada dan perasaan aneh yang tak sempat kunamai, karena aku memang harus lari. Baru di tangga aku sadar aku tidak menanyakan namanya.
“Itu Rafa,” kata Nadia sambil setengah kuseret. “Anak TI. Yang benerin wifi UKM pas malam gala kemarin. Yang laptop dosen Marwan diselametin sehari sebelum sidang. Katanya sih kalau kampus ini punya malaikat, ya dia — cuma malaikatnya nggak pernah ngasih tahu dia yang benerin.”
“Kok kamu tahu banyak?”
“Semua tahu, Ze. Kamu aja yang jalannya terlalu cepat buat merhatiin siapa-siapa.”
Aku tidak menjawab. Tapi kalimat itu menempel, sedikit lebih lama dari yang kumau.
Formulir masuk jam sembilan lewat lima puluh dua. Shift-ku di kedai kopi lewat tanpa insiden — tiga gelas tumpah, satu bapak-bapak yang menahanku ngobrol sepuluh menit soal anaknya yang katanya “cocok sama kamu,” senyum yang benar kupasang dan kulepas seperti seragam. Sorenya, Rabu, matahari sudah miring keemasan saat aku melintasi taman fakultas menuju halte, dan di situlah kerumunan itu menungguku.
Aku tahu ada sesuatu bahkan sebelum melihat. Kerumunan punya suhu tersendiri; yang ini panas oleh antisipasi. Anak-anak berkumpul di sekitar bangku beton di bawah pohon ketapang, ponsel sudah terangkat, dan seseorang bertubuh besar dengan suara paling cempreng se-fakultas — aku pernah dengar dia dipanggil Gilang — sedang berteriak entah pada siapa, “Woy jadi nggak?! Udah, gaskeun!”
Lalu kerumunan membelah, dan di ujungnya berdiri cowok tadi. Rafa. Kaus abu yang sama. Kacamata yang sama melorot. Tangannya di saku, punggung tidak lagi membungkuk. Dia menatapku, dan untuk kedua kalinya hari itu aku merasakan hal yang jarang: ditatap tanpa dilucuti.
Kerumunan hening seperti tadi pagi — jeda setengah detik — tapi kali ini bukan karena aku. Karena mereka menunggu Rafa.
“Zea Lovatta,” katanya. Tenang. Seolah membaca nama file.
“...Iya?”
“Percobaan pertama.” Sudut bibirnya naik sedikit, main-main, seperti anak yang tahu taruhannya konyol tapi tetap ikut. “Aku suka kamu, Zea. Kamu boleh nolak — aku antre lagi.”
Sepersekian detik, taman itu diam total.
Lalu meledak.
Gilang menjerit seakan tim bolanya cetak gol. Ponsel-ponsel maju. “CIEEE!” berhamburan dari segala arah, seseorang bertepuk tangan, seseorang lain merekam sambil ketawa ngakak. “Anak TI berani juga!” “Rafa, lu waras?!” “Bidadari sama tukang servis, plot apa ini!” Seluruh kejadian berubah, dalam dua detik, dari sebuah pernyataan menjadi sebuah pertunjukan — dan aku, yang seumur hidup diajari cara bertahan hidup di dalam pertunjukan, langsung tahu peranku.
Aku tersenyum. Senyum yang benar. Yang dipasang seperti seragam.
“Lucu,” kataku, cukup keras supaya kerumunan dengar. Cukup ringan supaya tak ada yang terluka. “Taruhannya berapa, Bang Gilang?”
Taman itu makin ricuh — “DIA TAHU! DIA TAHU ADA TARUHAN!” — dan di tengah kegaduhan aku melangkah, melewati bangku, melewati Rafa, menuju halte dengan langkah yang sudah kuatur supaya tak seorang pun bisa membaca apa pun di sana. Ditolak. Selesai. Anak-anak akan lupa besok. Cowok itu akan lupa lusa.
Kecuali.
Kecuali saat aku berpapasan dengan Rafa, dalam jarak sedekat itu, aku sempat mendengar — di bawah semua sorakan, cuma untuk kami berdua — Rafa berkata pelan, tidak untuk kerumunan, tanpa senyum main-main itu lagi:
“Formulirnya masuk?”
Aku berhenti setengah langkah.
Bukan kamu cantik. Bukan kasih nomormu dong. Bukan apa pun yang biasa diucapkan orang yang cuma melihat wajah. Dari semua hal yang bisa dia tanyakan di depan puluhan ponsel, cowok yang baru saja kutolak di depan umum ini menanyakan formulir beasiswaku.
“...Masuk,” jawabku, nyaris tak terdengar.
Rafa mengangguk. Seolah cuma itu yang penting hari ini. Lalu dia berbalik ke kerumunan dan membiarkan mereka menepuki punggungnya seperti pahlawan yang kalah, dan aku melanjutkan langkah ke halte sebelum wajahku sempat mengkhianatiku.
Di dalam bus, di antara penumpang yang untuk sekali ini tidak menoleh padaku karena hari sudah gelap, aku membuka tas dan menemukan formulir yang tadi pagi. Hangat sudah lama hilang. Tapi di pojok kertas, dengan tinta yang tipis, ada sesuatu yang tak kutulis. Angka. Nomor antrean fotokopi, mungkin, yang tercetak otomatis.
01.
Aku menatapnya lama sekali.
Lalu aku menyelipkan kertas itu ke tempat paling dalam di tasku, di mana biasanya aku menyimpan hal-hal yang tak ingin kuakui bahwa aku simpan, dan menatap ke luar jendela, dan berkata pada diriku sendiri — dengan suara yang bahkan di dalam kepalaku sudah kulatih supaya tetap rata — bahwa itu tadi cuma bercanda.
Cuma percobaan pertama.
Dan percobaan pertama, seperti semua hal pertama dalam hidupku, adalah sesuatu yang harus segera kulupakan sebelum sempat berarti apa-apa.
Aku belum tahu cowok itu tidak pernah main-main soal antre.
- 1 Percobaan Pertama reading
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua