← 5 Confessions

Chapter Five

Percobaan Ketiga

Ada hari-hari di mana hidupku terasa seperti gelas yang kupegang di ujung jari, dan semua yang perlu terjadi untuk memecahkannya cuma satu dorongan kecil.

Rabu itu, dorongannya datang jam dua siang, dalam bentuk telepon dari Dema.

“Kak.” Suaranya yang biasanya cuek terdengar kecil. “Bunda pingsan tadi di dapur. Bentar doang, udah sadar lagi, tapi... batuknya sekarang ada darahnya dikit, Kak. Bunda nggak mau ke dokter. Katanya mahal.”

Aku sedang di balik konter kedai. Antrean mengular. Espresso mendesis. Dan lantai di bawah kakiku, untuk satu detik, seperti miring.

“Kakak pulang,” kataku.

“Shift kakak sampai jam berapa?”

Dan di situlah pertanyaan itu—pertanyaan adik kelas dua SMA yang sudah terlalu paham cara kerja dunia—menghantamku lebih keras dari kabar pingsannya. Karena jawabannya adalah: aku tidak bisa pulang sekarang. Kalau aku pergi di tengah shift, aku kehilangan bayaran hari ini, mungkin kehilangan pekerjaan ini, dan bayaran hari ini adalah bagian dari uang yang seharusnya membawa Bunda ke dokter yang tidak mau dia datangi.

Aku terjebak di balik konter kopi sementara ibuku batuk darah di rumah, dan yang menahanku di sana adalah uang yang kubutuhkan justru untuk menyelamatkannya. Tidak ada logika yang lebih kejam dari kemiskinan.

“Jam lima, Dem,” kataku, dan suaraku, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tidak mau rata. “Jaga Bunda. Kakak transfer buat taksi ke klinik. Sekarang.”

Aku menutup telepon dan mentransfer uang yang membuat saldoku tinggal angka yang tak berani kubaca ulang, lalu kembali menghadap antrean, memasang senyum yang benar, dan membuat kopi untuk orang-orang yang mengeluh terlalu lama menunggu.

Aku bertahan sampai jam lima dengan cara yang tak kuceritakan pada siapa pun. Aku menghitung ubin. Aku menghitung napas. Aku menghitung apa saja asalkan bukan menghitung betapa aku gagal, betapa tak cukupnya aku, betapa seluruh hidupku disusun dari sen demi sen yang tak pernah menjadi cukup pada saat yang tepat.

Jam lima kurang, tanganku gemetar saat menuang, dan aku menumpahkan sekaleng biji kopi ke lantai. Berhamburan. Dan untuk alasan yang tidak masuk akal—bukan Bunda, bukan uang, tapi biji kopi di lantai—mataku panas dan aku tahu aku akan pecah, di sini, di depan semua orang, dan itu satu-satunya hal yang tak boleh terjadi.

Aku menunduk. Kupunguti biji-biji itu supaya tak ada yang lihat wajahku.

Sepasang tangan lain ikut memunguti.

Aku tak perlu mendongak untuk tahu. Aku sudah hafal caranya bergerak—cepat, tenang, tanpa banyak tanya.

“Mas Yudi udah aku bilangin kamu izin lima menit,” kata Rafa, pelan, cuma untukku. “Sini biar aku.”

“Aku nggak—”

“Zea.” Dia mengumpulkan biji-biji terakhir ke telapaknya. “Kamu megang gelas kayak mau pecah dari tadi. Aku merhatiin dari pojok.” Jeda. “Ada apa?”

Dan itu—ada apa—diucapkan seperti dia punya waktu, seperti jawabanku adalah hal terpenting di ruangan ini, meruntuhkan sesuatu yang sudah kutahan sejak jam dua.

Aku menceritakannya. Tidak semua. Tapi cukup. Bunda. Batuk. Darah. Dokter yang tak mampu. Aku menceritakannya dengan suara paling rendah, di pojok kedai, sambil pura-pura menata gelas, dan Rafa mendengarkan tanpa sekali pun memasang wajah kasihan yang paling kubenci dari orang.

Saat aku selesai, dia diam sebentar. Lalu, alih-alih menawarkan uang—yang akan membuatku mati berdiri—dia berkata, “Klinik Sari Medika di Jalan Kenari buka sampai jam sembilan. Dokter parunya bagus, dan mereka nerima cicilan buat rontgen, adminnya temen kakak sepupuku. Aku bisa telepon, dikasih slot malam ini, kamu bayarnya pas gajian. Kamu tinggal bawa Bunda ke sana.”

Bukan sedekah. Sebuah jalan. Dia memberiku sebuah jalan yang bisa kulewati dengan kakiku sendiri, dengan harga diriku utuh, dan entah bagaimana dia tahu itu persis yang kubutuhkan alih-alih uang.

Aku menatapnya. Kacamata melorot. Kaus polos. Wajah yang tak akan diingat siapa pun di kerumunan. Dan untuk satu detik yang panjang dan mengerikan, seluruh pertahanan yang kubangun sejak umur sepuluh tahun berayun di engselnya.


Dia menemaniku ke halte. Sudah Rabu sore. Langit keemasan lagi, seperti tiga minggu lalu, seperti dua minggu lalu.

Di dekat bangku ketapang, dia berhenti. Aku tahu apa ini. Bahkan hari ini, bahkan setelah semua, dia akan tetap—

“Percobaan ketiga,” katanya.

Tapi tidak ada senyum main-main. Tidak ada nada ringan yang dia pakai untuk kerumunan. Kali ini dia mengucapkannya seperti orang yang tahu persis apa yang dia pertaruhkan dan melakukannya juga.

“Aku suka kamu, Zea.” Pelan. Retak sedikit di ujungnya, dan kami berdua mendengarnya. “Kamu boleh nolak. Aku antre lagi. Tapi—” dia menunjuk ke arah halte, ke arah rumahku, ke arah Bunda, “—apa pun jawabanmu, aku tetap telepon kliniknya. Yang itu bukan bagian dari nembak. Yang itu karena kamu lagi susah dan aku bisa bantu. Dua hal beda.”

Dua hal beda.

Dia memisahkan cintanya dari kebaikannya, supaya aku tidak perlu merasa berutang cinta demi ditolong. Supaya “tidak”-ku tidak membuatnya menarik pertolongan. Supaya aku aman untuk menolaknya dan tetap ditolong.

Tidak ada seorang pun, seumur hidupku, yang pernah mencintaiku dengan cara yang tidak menuntut apa-apa.

Dan di sinilah, di bangku ketapang, Rabu sore, dengan ibuku sakit dan saldoku kosong dan seluruh dunia miring—kata itu naik ke tenggorokanku. Iya. Sederhana. Cuma dua huruf. Iya, Rafa. Iya. Aku capek menolak. Aku capek kuat. Iya.

Aku membuka mulut.

Dan lalu aku melihatnya—diriku, mengucapkan iya di titik terlemahku, jatuh ke pelukan seseorang justru karena aku sedang hancur. Persis. Persis seperti Bunda, dua puluh tahun lalu, jatuh cinta pada seorang laki-laki di saat dia paling butuh dipegang, lalu menghabiskan sisa hidupnya membayar untuk kelemahan satu malam itu. Cinta yang lahir dari keputusasaan bukan cinta. Itu tenggelam yang berpura-pura jadi berenang.

Aku menutup mulut.

“Nggak bisa,” bisikku. Dan kali ini suaraku pecah di tengah, dan aku benci itu, karena pecahnya memberitahunya segalanya. “Maaf, Rafa. Nggak bisa.”

Dia menatapku lama. Terlalu lama. Dan aku tahu—aku tahu dari matanya—bahwa dia melihat betapa dekatnya aku tadi. Dia melihat “iya” yang hampir keluar. Dan alih-alih membuatnya berharap, itu justru membuat wajahnya, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, terlihat seperti sesuatu yang sakit.

“Oke,” katanya lirih. “Oke, Zea.”

Dia tetap menelepon klinik itu malam itu. Bunda dapat slot. Rontgen dicicil. Dan aku pulang naik bus dengan jaket abu yang masih belum kukembalikan tersimpan di tasku seperti rahasia, memikirkan bahwa aku baru saja menolak satu-satunya orang yang mencintaiku tanpa meminta apa-apa—

—dan bahwa menolaknya, hari ini, terasa persis seperti biji kopi yang berhamburan di lantai: sesuatu yang kutumpahkan sendiri, dengan tanganku sendiri, karena tanganku terlalu gemetar untuk memegang hal yang berharga.