← 5 Confessions

Chapter Twenty Three

Ikut Megang

Aku butuh tiga hari untuk mengerti kenapa bantuan Rafa membuatku semarah itu.

Bukan karena dia salah membantu. Bantuan dokter spesialis itu, kalau aku jujur, adalah hal terbaik yang terjadi pada Bunda dalam berbulan-bulan; kontrolnya berikutnya menunjukkan perbaikan yang tidak akan pernah kami capai di jalur gratis. Rafa benar bahwa Bunda butuh itu. Rafa benar tentang hampir semuanya.

Yang membuatku marah adalah apa yang bantuan itu sentuh di dalam diriku.

Sepuluh tahun aku memegang. Ayahku pergi, dan aku memutuskan—sepuluh tahun, di lantai dapur—bahwa aku tidak akan pernah bergantung pada siapa pun, karena bergantung berarti bisa ditinggalkan, berarti bisa hancur seperti Bunda hancur. Aku membangun seluruh diriku menjadi orang yang memegang, tidak pernah dipegang. Mandiri sampai ke tulang. Dan Rafa, dengan kebaikan yang tulus, tanpa sengaja mencabut satu-satunya hal yang membuatku merasa aman: kendali.

Kalau aku membiarkan seseorang ikut memegang, dan lalu dia pergi, aku akan jatuh dari tempat yang lebih tinggi.

Aku menjelaskan ini pada Nadia, di kamar kos, hari ketiga.

“Ze,” katanya, hati-hati, “boleh aku tanya sesuatu yang mungkin bikin kamu nggak nyaman?”

“Kamu selalu nanya gitu terus tetep nanya.”

“Bener.” Dia duduk lebih dekat. “Janji yang kamu pegang. ‘Jangan pernah taruh hidupmu di tangan orang lain.’ Kamu bilang Bunda yang ngomong, pas kamu sepuluh tahun, di lantai dapur.”

“Iya.”

“Kamu yakin itu yang Bunda maksud?”

Aku mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Maksudku,” kata Nadia pelan, “kamu sepuluh tahun. Kamu lagi nonton ibumu hancur. Anak sepuluh tahun yang ketakutan bisa denger satu kalimat dan ngebangun seluruh agama di atasnya—agama yang mungkin bukan yang dimaksud pengucapnya.” Dia menyentuh tanganku. “Kamu pernah nanya Bunda? Sebagai orang dewasa? Apa dia beneran maksud ‘jangan pernah jatuh cinta, jangan pernah biarin siapa pun masuk’? Atau dia maksud sesuatu yang lain, dan kamu—anak kecil yang lagi trauma—nerjemahinnya jadi hukuman seumur hidup?”

Aku membuka mulut untuk menjawab. Lalu menutupnya.

Karena aku tidak pernah menanyakannya. Dalam sepuluh tahun, aku tidak pernah sekali pun kembali ke Bunda dan bertanya apa yang sebenarnya dia maksud. Aku mengambil kalimat itu, di malam terburuk hidup kami, dari mulut perempuan yang sedang patah, dan aku menjadikannya undang-undang tanpa pernah memeriksa apakah itu benar-benar undang-undang yang dia tulis.

“Aku...” Suaraku hilang. “Aku nggak pernah nanya.”

“Mungkin nggak apa-apa.” Nadia mengangkat bahu, ringan, tapi matanya tidak ringan. “Mungkin dia emang maksud gitu. Tapi mungkin juga enggak, Ze. Dan kamu udah ngejalanin sepuluh tahun kesepian berdasarkan terjemahan yang belum pernah kamu cek. Aku cuma... mikir kamu berhak tahu apa yang beneran dia maksud. Sebelum kamu ngebiarin itu ngerusak satu-satunya hal baik yang akhirnya kamu izinin masuk.”

Aku tidak menjawab. Tapi kalimat itu—seperti kalimat Nadia yang lain, di hari-hari lain—menempel, dan tidak mau lepas.


Aku menemui Rafa hari itu juga.

Kami duduk di bangku ketapang—tempat semuanya dimulai—dan aku memberitahunya apa yang kupahami. Tentang kendali. Tentang sepuluh tahun memegang. Tentang kenapa bantuannya, yang seharusnya kusyukuri, malah terasa seperti tanah longsor di bawah kakiku.

“Aku nggak minta kamu berhenti baik,” kataku. “Kebaikanmu itu... itu salah satu hal yang bikin aku cinta kamu. Aku cuma minta satu hal. Nanya dulu. Sebelum kamu benerin. Bahkan kalau kamu yakin banget aku butuh. Terutama kalau kamu yakin banget. Karena hidupku harus tetap kerasa kayak hidupku, Fa. Bahkan pas kamu bantu megang.”

“Aku janji,” katanya, dan dia mengucapkannya dengan kesungguhan yang membuatku percaya. “Nggak ada lagi diam-diam. Nggak ada lagi ngambil alih. Aku bakal nanya. Dan aku bakal belajar nerima ‘tidak’ kamu, walau susah, karena kamu berhak bilang tidak ke bantuanku sama kayak aku berhak bilang tidak ke bantuan orang.” Dia menautkan jarinya dengan jariku. “Tapi Zea—boleh aku minta satu hal balik?”

“Apa?”

“Biarin aku ikut megang. Beneran ikut. Bukan gantiin, bukan ngambil alih—ikut.” Dia menatapku. “Kamu ngabisin sepuluh tahun megang semuanya sendiri karena kamu takut kalau kamu biarin orang bantu, terus mereka pergi, kamu jatuh lebih jauh. Aku ngerti takut itu. Tapi aku mau kasih kamu tawaran yang sama kayak yang kamu kasih aku: aku nggak bisa janji selamanya, karena selamanya bikin kita berdua takut. Tapi aku bisa janji hari ini. Aku ikut megang hari ini. Terus besok aku dateng lagi dan janji lagi. Sampai suatu hari kamu berhenti ngitung kapan aku bakal pergi—sama kayak aku, pelan-pelan, berhenti ngitung kapan kamu bakal sadar aku nggak berguna terus ninggalin.”

Aku menatap cowok ini—cowok yang menyerap setiap pelajaran yang kuberikan dan mengembalikannya padaku saat aku paling membutuhkannya—dan aku merasakan sepuluh tahun pertahanan bergeser, sedikit, cukup.

“Oke,” bisikku. “Ikut megang. Hari ini.”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membiarkan seseorang memegang ujung dari beban yang selalu kupikul sendirian—cuma satu ujung, cuma untuk hari itu—dan langit tidak runtuh, dan tanganku tidak lepas dari kemudi, dan bebannya, dibagi dua, terasa seperti sesuatu yang mungkin bisa kutanggung tanpa patah.

Aku menciumnya di bangku ketapang, lama, dan dia menciumku balik dengan tangan di pipiku, dan seorang maba yang lewat berbisik “itu yang di video confession lima kali, ya?” dan kami berdua tertawa ke dalam ciuman itu tanpa berhenti.


Malam itu, sebelum tidur, aku menatap ponselku lama sekali.

Pesan Dema masih di sana. Bunda batuk darah lagi. Perbaikan dari dokter spesialis Rafa nyata, tapi Bunda belum sepenuhnya aman—TB yang terlambat ditangani meninggalkan jejak, dan tubuh Bunda, yang sudah tiga puluh tahun diperas, tidak sekuat dulu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menyimpan kekhawatiran itu sendirian.

Aku mengetik pesan ke Rafa. Fa. Aku takut soal Bunda. Boleh cerita?

Titik-titik muncul hampir seketika, seolah dia menunggu.

Selalu boleh. Aku di sini. Ceritain semuanya, sayang.

Dan aku bercerita. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku membiarkan seseorang ikut menanggung ketakutanku alih-alih menguburnya di balik senyum-seragam.

Aku tidak tahu, malam itu, betapa aku akan membutuhkan bahu itu.

Aku tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu, “Bunda batuk darah lagi” akan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang akan menguji setiap pelajaran yang baru saja kami pelajari, dan menyeretku kembali, keras, ke perempuan berarmor yang mendorong pergi semua orang yang dia cintai.

Tapi malam itu, aku cuma tahu satu hal, dan itu cukup:

Aku tidak lagi memegang sendirian.

Dan itu, ternyata, adalah hal paling menakutkan dan paling melegakan yang pernah kuizinkan terjadi padaku.