Chapter Thirteen
Berharap
Zea Lovatta tidak mengejar seperti yang kubayangkan orang mengejar.
Aku menyiapkan diri untuk gestur besar. Untuk bunga di depan lab, untuk pengumuman di kantin, untuk sesuatu yang bisa kutolak dengan bersih karena terlalu ramai untuk dipercaya. Aku ahli menolak yang ramai. Itu keahlianku yang baru.
Yang dia lakukan malah ini:
Senin, aku datang ke lab dan kursi patah yang sudah tiga minggu kubiarkan—karena aku selalu memperbaiki barang orang lain sebelum barangku sendiri—sudah dibetulkan. Bautnya dikencangkan. Rapi. Tidak ada catatan.
Rabu, ada kotak makan di mejaku. Nasi, telur, tumis. Hangat. Tidak ada nama, tapi aku tahu, karena tidak ada orang lain yang tahu aku selalu lupa makan siang saat sedang menyolder.
Jumat, laptopku—yang layarnya sudah lama berkedip dan tidak pernah kuurus—kembali dari “entah siapa yang minjem” dengan engsel yang sudah dikencangkan dan baterai yang sudah dikalibrasi ulang. Pekerjaan yang rapi. Pekerjaan yang butuh waktu. Pekerjaan yang dilakukan seseorang yang belajar caranya, khusus, untuk ini.
Dia tidak sekali pun menyebutnya. Dia tidak muncul sambil berkata lihat, aku ngurus kamu. Dia melakukannya seperti aku melakukannya untuk orang lain selama bertahun-tahun: diam-diam, tanpa tanda tangan, lalu pergi sebelum bisa berterima kasih.
Dia mengejarku dengan bahasaku sendiri. Dan itu—bukan bunga, bukan pengumuman—itu yang membuat tembokku mulai runtuh baris demi baris, dan aku membencinya, karena aku tahu ke mana runtuhnya membawaku.
Hari Senin berikutnya, aku tidak tahan lagi.
Dia baru saja meninggalkan termos teh hangat di lab—untuk semua orang, katanya pada Oskar, tapi Oskar tidak minum teh dan kami berdua tahu itu—dan sudah setengah keluar pintu saat aku memanggilnya.
“Zea. Berhenti.”
Dia berbalik. Menunggu.
“Kenapa kamu ngelakuin ini.” Suaraku tidak setenang yang kumau. “Kursi. Makanan. Laptop. Kenapa.”
“Karena kamu selalu ngurus semua orang,” katanya pelan, “dan nggak ada yang pernah ngurus kamu.”
Dan di situ temboknya jebol, dan yang keluar bukan air—yang keluar adalah ketakutan yang sudah kusimpan begitu lama sampai aku lupa itu ketakutan, kukira itu cuma bentuk diriku.
“Berhenti,” kataku lagi, dan kali ini suaraku pecah. “Please. Karena aku tahu apa yang kamu lakuin. Kamu ngerasa bersalah, jadi kamu baik, dan kalau aku biarin—kalau aku mulai percaya—aku bakal berharap lagi, Zea. Dan aku nggak bisa berharap lagi. Aku baru selesai. Aku baru bisa napas.”
“Rafa—”
“Kamu tahu yang paling aku takutin?” Aku tidak berencana mengatakannya. Itu keluar sendiri, dari tempat yang tidak pernah kubuka untuk siapa pun. “Bukan kamu bilang tidak. Aku udah selamat dari kamu bilang tidak lima kali. Yang aku takutin adalah kamu bilang iya.”
Dia terdiam.
“Karena aku tahu gimana ini jalannya,” kataku. Tanganku gemetar; aku tidak menyembunyikannya lagi, terlalu lelah menyembunyikan. “Kamu bilang iya karena kasihan. Terus aku percaya, karena aku pengin banget percaya. Terus aku mulai ngasih—karena itu satu-satunya cara aku tahu buat dicintai—dan aku ngasih, dan ngasih, sampai suatu hari kamu lihat aku jelas dan sadar aku ini cuma anak TI yang benerin router, dan kamu—kamu yang bisa milih siapa aja, yang cahaya aja nengok pas kamu lewat—kamu sadar kamu bisa dapet yang lebih. Dan kamu pergi. Dan aku...”
Aku berhenti. Menelan.
“Aku bisa selamat dari nggak pernah dipilih, Zea. Aku udah latihan seumur hidup. Yang aku nggak bisa selamat adalah dipilih, terus ditinggalin. Itu bakal ngerusak aku dengan cara yang nggak bisa dibenerin. Jadi tolong—kalau kamu baik—jangan bikin aku berharap cuma buat ngerasa dirimu udah nebus salah. Biarin aku di tembok ini. Di sini aman.”
Taman di luar jendela lab senyap. Oskar sudah lama menyelinap keluar, memberi kami ruangan.
Aku menunggu Zea melakukan apa yang orang lakukan saat dihadapkan ketakutan setelanjang itu—menyangkal terlalu cepat, berjanji terlalu besar, “aku nggak akan pergi kok” yang murah dan tak bisa dijamin siapa pun.
Dia tidak melakukan itu.
Dia berjalan mendekat—pelan, seperti orang mendekati sesuatu yang mudah kabur—dan dia tidak menyentuhku, tidak memelukku, tidak melakukan apa pun yang bisa kutuduh sebagai gestur. Dia cuma berdiri cukup dekat sampai aku bisa mencium bau kopi dari shift-nya, dan dia berkata, dengan suara yang untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya sama sekali tidak rata:
“Aku nggak akan janji aku nggak akan pergi. Kamu nggak akan percaya itu, dan kamu bener nggak percaya.” Dia menarik napas. “Tapi aku bisa janji satu hal yang lebih kecil. Aku nggak akan pergi hari ini. Dan besok, aku bakal balik lagi, dan aku janji lagi yang sama—cuma buat hari itu. Sekali. Tiap hari. Selama yang kamu butuh buat berhenti ngitung kapan aku bakal pergi.”
Aku menatapnya.
“Kamu ngasih semua orang selamanya,” katanya lirih. “Aku nggak bisa ngasih kamu selamanya, karena selamanya itu yang bikin kamu takut. Tapi aku bisa ngasih kamu hari ini. Terus hari ini lagi. Sampai semua hari ini numpuk jadi sesuatu yang kamu berani sebut.”
Dan itu—bukan janji besar, tapi janji sekecil yang bisa kupercaya—melakukan sesuatu pada dadaku yang belum pernah dilakukan janji besar mana pun.
Karena dia mengerti. Dia mengerti bahwa selamanya menakutkanku. Dia mengerti bahwa aku tidak bisa percaya jaminan, cuma bisa percaya kehadiran yang berulang. Dia mengambil ketakutanku dan alih-alih menepisnya, dia membangun sesuatu yang cukup kecil untuk muat di dalamnya.
Aku tidak mengatakan iya. Aku tidak bisa. Aku belum bisa.
Tapi aku juga tidak menyuruhnya berhenti lagi.
Dan saat dia pergi malam itu, meninggalkan termos teh yang tak seorang pun di lab ini minum kecuali aku, aku duduk sendirian dan melakukan hal paling berbahaya yang pernah kulakukan sejak bangku ketapang.
Aku membiarkan diriku, cuma untuk hari ini, cuma sekali—
—berharap.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap reading
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua