Chapter Sixteen
Giliranmu
Ada satu hal yang belum pernah kuberikan pada siapa pun—bukan Nadia, bukan Bunda, bukan diriku sendiri di depan cermin. Kebenaran utuh. Bukan potongan yang aman, bukan versi yang sudah kusaring supaya tidak melukai. Semuanya.
Aku memutuskan Rafa layak mendapatkannya. Karena kalau aku memintanya percaya bahwa aku memilihnya, dia harus tahu dari apa aku memilihnya—harus tahu betapa dalam kerangkeng tempat aku mengucapkan setiap “tidak” itu.
Aku mengajaknya ke atap gedung parkir, tempat sepi yang cuma kutahu karena aku dulu menitipkan dagangan di sana. Sore. Langit mulai jingga. Di bawah kami kampus berdengung, tak tahu apa-apa.
“Aku mau cerita kenapa aku nolak kamu lima kali,” kataku. “Yang sebenernya. Dan ini bakal lama, dan nggak ada bagian yang bikin aku keliatan bagus. Tapi kamu berhak tahu.”
Rafa tidak berkata apa-apa. Dia cuma duduk di sebelahku, di lantai beton yang masih hangat dari matahari, dan menunggu—memberiku waktu, seperti selalu.
Jadi aku bercerita.
Aku menceritakan ayah yang pergi saat aku enam tahun, yang tidak pernah menoleh ke belakang. Aku menceritakan Bunda di lantai dapur, berbulan-bulan berpura-pura kuat lalu patah dalam satu malam, dan aku, sepuluh tahun, menyaksikan perempuan terkuat yang kukenal hancur karena pernah mengizinkan seseorang masuk. Aku menceritakan kalimat yang Bunda ucapkan malam itu—jangan pernah taruh hidupmu di tangan orang lain, Zea—dan bagaimana aku, anak yang ketakutan, mengubahnya jadi ayat. Jadi hukum. Jadi seluruh diriku.
“Aku memutuskan cinta itu jebakan,” kataku, menatap kota di bawah alih-alih menatapnya. “Bahwa aku nggak boleh jatuh sampai semua orang yang aku sayang aman. Tapi mereka nggak pernah aman, Rafa. Bunda sakit. Dema masih sekolah. Beasiswaku selalu di ujung tanduk. Antreanku buat ‘aman’ nggak pernah maju. Jadi giliranku buat hidup—buat pengin sesuatu buat diriku sendiri—nggak pernah dateng.”
Aku menarik napas. Bagian tersulit berikutnya.
“Terus kamu dateng. Dan tiap kali kamu nembak, aku makin suka, dan tiap kali aku suka, aku makin takut, karena kamu adalah persis hal yang aku janji nggak akan aku izinin. Cinta yang aman. Cinta yang nggak nuntut apa-apa. Yang paling berbahaya dari semua, karena yang itu—yang itu bisa bikin aku lupa jaga-jaga.”
Aku menoleh padanya akhirnya.
“Percobaan ketiga, aku hampir bilang iya. Kamu lihat itu; aku tahu kamu lihat. Aku narik ‘iya’ itu balik bukan karena aku nggak mau. Tapi karena aku takut jatuh cinta dari keputusasaan kayak Bunda, di titik terlemahku, terus bayar seumur hidup.” Suaraku mulai tidak rata, dan aku berhenti mencoba membuatnya rata. “Dan di bangku itu—percobaan kelima—pas kamu buka semua tameng dan berdiri di sana tanpa apa-apa buat sembunyi, aku panik. Karena aku ngerasa ‘iya’ naik lagi, lebih kuat, dan aku tahu kalau aku bilang iya di situ aku bakal ngehancurin kita berdua. Jadi aku milih kalimat yang paling bisa bikin kamu berhenti.”
Aku memaksa diri menatap matanya saat mengucapkan yang berikutnya, karena dia berhak melihat wajahku saat aku mengakuinya.
“Aku tahu di mana nusuknya, Rafa. Aku tahu kamu takut nggak pernah dipilih. Kamu tahu gimana aku tahu?” Air mata jatuh sekarang; kubiarkan. “Karena aku merhatiin kamu. Berminggu-minggu. Sama telitinya kayak kamu merhatiin aku. Aku merhatiin kamu kayak orang yang jatuh cinta. Kekejamanku itu bukti aku sayang kamu—aku cuma bisa nemuin luka itu karena aku udah lama banget nyari tahu segalanya tentang kamu. Aku ngambil hal paling aku tahu tentang kamu, dan aku pake buat nyakitin kamu. Itu yang paling nggak bisa aku maafin dari diriku sendiri.”
Rafa diam. Matanya basah juga sekarang, tapi dia tidak memotong, tidak menyela dengan penghiburan. Dia membiarkanku selesai. Karena dia tahu, entah bagaimana, bahwa aku butuh mengucapkan semuanya sampai habis.
“Jadi ini kebenarannya,” kataku, pelan sekarang, kosong dan bersih setelah mengeluarkan semuanya. “Setiap ‘tidak’ yang aku kasih ke kamu adalah ‘iya’ yang aku cekik. Aku nggak pernah nggak mau kamu. Aku cuma udah janji sama diriku sendiri sepuluh tahun sebelum aku ketemu kamu, dan aku terlalu takut buat ngelanggarnya, sampai aku ngelanggar kamu sebagai gantinya.”
Angin sore lewat. Di bawah, seseorang menyalakan klakson, dunia berjalan.
“Aku udah antre buat kamu, Rafa,” kataku. “Aku udah muncul tiap hari. Aku udah rawat kamu. Aku udah buka semua yang aku sembunyiin dari semua orang seumur hidup. Aku udah ngasih kamu segala yang aku punya.”
Aku bangkit. Aku memberinya ruang. Karena inilah bagian yang paling penting, bagian yang membuatku berbeda dari sekadar mengulang apa yang dia lakukan padaku.
“Tapi aku nggak akan maksa kamu,” kataku. “Aku nggak akan nyeret kamu ke ini cuma karena aku ngejar cukup keras. Kamu udah dikejar. Kamu udah dirawat. Sekarang kamu harus milih—bukan karena kasihan, bukan karena aku persisten, bukan karena aku nangis di atap. Karena kamu mau. Karena kamu, Rafa Elvano, buat sekali seumur hidupmu, milih sesuatu buat dirimu sendiri, bukan ngasih sesuatu ke orang lain.”
Aku mundur ke arah tangga.
“Aku udah lakuin bagianku. Sisanya bukan kejaran lagi. Sisanya pilihan. Dan itu—” suaraku pecah di kalimat terakhir, “—itu harus punyamu.”
Aku meninggalkannya di atap, di bawah langit jingga, dengan seluruh kebenaranku di tangannya dan pilihannya sepenuhnya miliknya sendiri.
Itu hal paling sulit yang pernah kulakukan—memberikan semuanya, lalu berjalan pergi tanpa jaminan.
Tapi aku sudah belajar sesuatu dari cowok yang menembakku lima kali: bahwa cinta yang sebenarnya tidak menuntut balasan. Ia cuma berdiri di sana, terbuka, dan membiarkan orang lain bebas untuk datang—atau tidak.
Aku turun tangga dengan jantung di tenggorokan.
Dan aku tidak menoleh ke belakang untuk memeriksa apakah dia mengikuti—karena kalau dia tidak, aku tidak sanggup melihatnya, dan kalau dia iya, aku ingin dia sampai padaku karena dia memilih, bukan karena aku menunggunya.
Aku sudah selesai antre.
Sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup Rafa, giliran dia yang harus melangkah.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu reading
- 17 Bidadari
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua