Chapter Seventeen
Bidadari
Aku duduk di atap gedung parkir sampai langit habis warnanya.
Zea sudah pergi—turun tangga tanpa menoleh, meninggalkan seluruh kebenarannya di tanganku seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dipegang dengan tangan gemetar. Dan aku memegangnya. Dan aku memutar ulang setiap kata sampai aku hafal, sampai aku mengerti apa yang baru saja dia berikan padaku.
Dia tidak cuma minta maaf. Dia membongkar seluruh dirinya—kerangkeng, ayah yang pergi, ibu di lantai dapur, janji sepuluh tahun—dan menunjukkan padaku bahwa setiap “tidak” yang mematahkanku sebenarnya adalah “iya” yang dia cekik supaya keluarganya tidak jatuh. Bahwa kalimat yang menghancurkanku di bangku ketapang justru bukti dia mencintaiku, karena dia hanya bisa menemukan lukaku setelah lama, diam-diam, mencari tahu segalanya tentangku seperti orang yang jatuh cinta.
Aku salah selama ini. Aku bukan yang tidak dipilih.
Aku yang dipilih diam-diam, oleh seseorang yang terlalu takut untuk mengucapkannya keras-keras.
Sepanjang hidupku aku memberi supaya orang tinggal. Aku tidak pernah, sekali pun, membiarkan diriku dipilih tanpa membayarnya lebih dulu—karena dipilih tanpa membayar terasa seperti hutang yang akan ditagih, seperti kesalahan yang akan dikoreksi. Zea baru saja berdiri di atap ini dan menawariku hal itu persis: dipilih untuk diriku sendiri, tanpa tagihan, tanpa syarat.
Dan lalu dia melakukan hal yang paling tidak kuduga. Dia tidak menyeretku. Dia melangkah mundur dan menyerahkan pilihan padaku—karena dia tahu, entah bagaimana dia tahu, bahwa seorang anak yang seumur hidup cuma diberi peran “yang memberi” perlu, untuk sekali, jadi orang yang memilih.
Aku menghabiskan bertahun-tahun memperhatikan orang lain begitu telitinya sampai lupa menanyakan satu hal pada diriku sendiri: apa yang aku mau?
Malam itu, di atap, aku menanyakannya. Dan jawabannya sudah ada di sana sejak jam setengah enam pagi berbulan-bulan lalu, sejak kucing pincang dan risoles dan receh yang dihitung dua kali.
Aku mau dia. Bukan untuk kuselamatkan. Bukan untuk kuperbaiki. Cuma dia.
Aku bangkit. Kakiku tahu ke mana sebelum kepalaku memutuskan.
Rabu berikutnya, jam empat sore, aku berdiri di bangku ketapang.
Aku memilih tempat ini dengan sengaja. Di sinilah aku gagal lima kali. Di sinilah aku mengucapkan “aku suka kamu” ke perempuan yang selalu bilang tidak, sampai aku menyerah dan berjalan pergi tanpa menoleh. Kalau aku akan memilih—benar-benar memilih, dengan seluruh diriku, sebagai diriku—aku akan melakukannya di tempat yang sama dengan semua kekalahanku, dan aku akan mengubahnya jadi sesuatu yang lain.
Kabar tersebar cepat di kampus ini. Saat Zea datang—dipanggil oleh pesan singkat berbunyi cuma “bangku ketapang, jam 4”—sudah ada kerumunan. Tentu saja ada. Gilang di barisan depan, ponsel terangkat, wajahnya sudah basah padahal belum terjadi apa-apa. Nadia di belakang Zea, tangan menutup mulut. Bahkan Oskar ada, bersandar di pohon, pura-pura tidak peduli dengan cara yang berarti sangat peduli.
Persis seperti hari pertama. Kerumunan yang sama. Bangku yang sama. Cahaya keemasan yang sama.
Cuma satu yang terbalik: kali ini akulah yang berdiri di sini dengan pilihan, dan dialah yang menunggu jawaban.
Zea menembus kerumunan dan berhenti di depanku, dan untuk sesaat taman menahan napas—jeda setengah detik yang sama, tapi kali ini bukan karena wajahnya. Karena mereka semua tahu apa ini.
“Kamu manggil aku ke sini,” katanya pelan, cuma untukku, walau seluruh kampus mendengar. Suaranya gemetar. “Ke bangku ini.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya. Perempuan yang seluruh kampus panggil bidadari, yang cahaya pun menoleh saat dia lewat. Tapi aku tidak melihat itu. Aku tidak pernah melihat itu. Aku melihat tangan yang menghitung receh dua kali. Aku melihat orang yang menyisihkan risoles untuk kucing pincang saat dompetnya sendiri hampir kosong. Aku melihat seseorang yang menahan seluruh dunia di bahunya sambil berpura-pura bahunya tidak lelah.
“Karena aku milih,” kataku.
Dan aku melihat kata itu mendarat di dirinya—milih—kebalikan dari kalimat yang dia pakai untuk menghancurkanku, dan aku menggunakannya dengan sengaja, karena aku ingin menimpa kenangan itu untuk selamanya.
“Kamu bongkar semuanya di atap,” kataku. “Kamu kasih aku pilihan. Jadi ini pilihanku, Zea Lovatta, dan aku milih sadar-sadar, bukan karena kasihan, bukan karena kamu ngejar, bukan karena aku takut sendirian.” Aku mengambil napas, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku meminta sesuatu untuk diriku sendiri tanpa membayarnya lebih dulu. “Aku milih kamu. Bukan buat aku selametin. Bukan buat aku benerin. Aku milih kamu buat aku sayangi, dan aku milih buat, buat sekali seumur hidup, biarin seseorang sayang aku balik tanpa aku harus jadi berguna dulu.”
Air matanya jatuh. Dia tidak menghapusnya.
“Dan satu hal lagi,” kataku, lebih pelan, cuma untuk kami berdua sekarang, kerumunan menghilang. “Mereka semua manggil kamu bidadari. Aku denger itu di hari pertama, dari mulut orang yang cuma lihat wajahmu. Aku nggak pernah manggil kamu gitu. Karena buat mereka, ‘bidadari’ artinya wajahmu.” Aku mengangkat tanganku, ragu, lalu menyentuh pipinya—dingin, basah oleh air mata. “Tapi buat aku, bidadari itu bukan wajahmu. Bidadari itu orang yang ngasih makanannya ke yang lebih lapar pas dia sendiri lapar. Itu kamu. Kamu bidadariku bukan karena cantik, Zea. Kamu bidadariku karena kamu baik pas nggak ada yang lihat.”
Dan Zea Lovatta—perempuan yang menghabiskan seluruh hidupnya dilihat wajahnya bukan dirinya, yang membangun senyum-seragam karena tidak seorang pun peduli pada apa yang ada di baliknya—Zea Lovatta pecah, benar-benar pecah, di depan seluruh kampus, karena untuk pertama kalinya seseorang memanggilnya cantik dan yang dia maksud adalah jiwanya.
“Rafa,” bisiknya, dan tangannya mencengkeram bajuku seperti orang yang takut terjatuh. “Aku cinta kamu. Aku cinta kamu, aku cinta kamu—aku udah cinta kamu dari percobaan kedua, pas kamu bilang risolesnya selamat itu yang penting hari ini. Aku cinta kamu dan aku capek banget nyekik itu—”
“Aku cinta kamu juga,” kataku, dan mengucapkannya terasa seperti meletakkan beban yang kubawa seumur hidup. “Zea. Aku cinta kamu. Nggak ada percobaan lagi. Yang ini beneran.”
Lalu aku menciumnya.
Bukan ciuman pertama yang malu-malu. Bukan yang ragu. Setelah lima penolakan dan tujuh minggu kejaran dan sepuluh tahun kerangkeng untuk kami berdua, tidak ada ruang tersisa untuk ragu. Aku menariknya ke arahku, satu tangan di pipinya yang basah dan satu di punggungnya, dan aku menciumnya seperti orang yang akhirnya, akhirnya sampai—dan dia menciumku balik dengan tangan naik ke tengkukku, jinjit, menutup jarak yang terakhir, seluruh tubuhnya berkata iya yang tak pernah dia izinkan keluar dari mulutnya selama berbulan-bulan.
Taman itu meledak.
Sama seperti hari pertama—“CIEEE!” dan sorakan dan ponsel—tapi kali ini Gilang benar-benar menangis, menggerung malah, “TARUHANNYA HARUSNYA MASIH BUKA WOY,” sambil ditepuk-tepuk Oskar yang untuk sekali tersenyum. Nadia berteriak sesuatu yang tak jelas dan penuh cinta. Seluruh kampus yang dulu menonton kekalahanku sekarang menonton hal yang lain, dan aku tidak peduli pada satu pun dari mereka, karena bibir Zea di bibirku dan tangannya di rambutku adalah satu-satunya hal di dunia yang pernah kuminta untuk diriku sendiri.
Saat kami akhirnya melepas—dahi ke dahi, napas bercampur, dua orang yang terlalu lama menahan diri—Zea tertawa, tawa yang basah dan utuh dan sama sekali tidak dipasang.
“Percobaan keenam,” bisiknya, nakal, di antara napas. “Ternyata ada, ya.”
“Enggak.” Aku mencium keningnya. “Yang tadi bukan percobaan. Yang tadi jawaban.”
Dan di bangku ketapang tempat aku gagal lima kali, di bawah langit keemasan yang sama, aku memegang bidadariku—bukan wajahnya, orangnya—dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung apa yang harus kuberikan sebagai balasannya.
Aku cuma menerima. Aku cuma dicintai.
Ternyata itu diizinkan.
Ternyata, selama ini, itu selalu diizinkan.
- 1 Percobaan Pertama
- 2 Yang Selalu Ngasih
- 3 Percobaan Kedua
- 4 Jangan Jatuh
- 5 Percobaan Ketiga
- 6 Menghitung
- 7 Percobaan Keempat
- 8 Retak
- 9 Nggak Ada Percobaan Keenam
- 10 Menang
- 11 Tembok
- 12 Malaikat yang Tidak Ngasih Tahu
- 13 Berharap
- 14 Kamu Boleh Capek
- 15 Sepadan
- 16 Giliranmu
- 17 Bidadari reading
- 18 Salah Tingkah
- 19 Rumah
- 20 Jatuh
- 21 Punya Aku
- 22 Tanpa Nanya
- 23 Ikut Megang
- 24 Yang Nggak Pernah Diurus
- 25 Bukan Karena Berguna
- 26 Berdua