Chapter Nine
Pesanan Gue
POV: Evelyn
Pagi itu aku datang ke kelas dengan kepala berat dan kesabaran yang lebih tipis dari biasanya.
Dia tidur lewat pukul dua karena revisi presentasi. Alarm berbunyi tiga kali. Kopi di kos habis. Jalan menuju kampus macet.
Ketika duduk, dia menjatuhkan tas ke kursi sebelah dan menyandarkan dahi ke meja.
Tara datang lima menit kemudian.
“Pagi.”
“Jangan.”
“Gue cuma bilang pagi.”
“Paginya juga jangan.”
Tara duduk. “Kurang tidur?”
aku mengangkat satu jari tanpa membuka mata.
“Kalau pertanyaan berikutnya nggak penting, simpan.”
“Galak.”
“Normal.”
Dosen masuk. Dua jam berikutnya berjalan lambat.
Begitu kelas selesai, aku masih merapikan laptop ketika Tara menunjuk pintu.
“Kurir lo datang.”
“Apaan?”
Reza berdiri di luar sambil memegang dua gelas.
aku langsung tahu salah satunya miliknya.
Bukan karena tulisan nama.
Dari warna minumannya saja.
Dia keluar kelas.
“Ngapain?”
Reza menyerahkan gelas. “Nih.”
aku melihat label.
Es kopi susu, gula setengah, tanpa tambahan sirup.
Persis.
“Gue nggak minta.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Muka lo tadi pagi kelihatan kayak mau menggugat dunia.”
“Lo lihat gue tadi pagi?”
“Lewat parkiran.”
aku menerima gelas itu.
Dingin menempel di telapak tangannya.
Dia membaca label lagi.
“Lo hafal?”
“Hafal apa?”
“Pesanan gue.”
Reza menyeruput Americano miliknya. “Iya.”
“Ngapain?”
Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari biasanya.
Reza mengangkat bahu.
“Karena itu lo.”
aku terdiam.
Jawaban sederhana.
Tidak terdengar seperti rayuan.
Justru itu masalahnya.
Kalau Reza menjawab karena gue calon pacar yang perhatian, aku bisa membalas. Kalau dia bercanda, aku punya seratus kalimat untuk menjatuhkannya.
Tapi Reza hanya mengatakan karena itu lo.
Seolah menghafal pesanan aku sama normalnya dengan menghafal jalan pulang.
aku memasukkan sedotan.
“Kurang kerjaan.”
“Nah, balik lagi.”
“Apanya?”
“aku normal.”
“Gue dari tadi normal.”
“Lima detik tadi nggak.”
“Reza.”
“Iya?”
“Pergi.”
Reza tertawa.
Mereka berjalan menuju tangga. Tara sudah pergi lebih dulu untuk menemui kelompok tugas.
aku minum.
Rasanya tepat.
Tidak terlalu manis.
“Enak?” tanya Reza.
“Biasa.”
“Kalau nggak enak balikin.”
aku langsung menjauhkan gelas.
Reza tertawa. “Katanya biasa.”
“Udah dikasih jangan diminta lagi.”
“Berarti enak.”
“Berarti pelit.”
Mereka turun satu lantai.
aku melirik gelas Reza.
“Lo selalu Americano?”
“Hampir.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Pahit.”
“Gue suka.”
aku mengangguk.
Mereka berjalan lagi.
Beberapa langkah kemudian Reza menoleh.
“Lo nanya pesanan gue?”
“Enggak.”
“Barusan?”
“Gue nanya kenapa orang sengaja beli minuman pahit.”
“Beda tipis.”
“Beda jauh.”
Reza tersenyum.
aku mendecak, tetapi informasi itu tersimpan begitu saja.
Americano.
Tanpa gula.
Di lantai dasar, Reza harus berbelok ke gedung sebelah.
“Gue kelas.”
“Ya.”
“Minumnya habisin.”
aku menatap gelas. “Lo nyuruh?”
“Nyaranin.”
“Pergi sana.”
Reza mundur sambil berjalan. “Sama-sama, Vel.”
aku tidak menjawab sampai Reza berbalik.
“Za.”
Reza menoleh.
aku mengangkat gelas sedikit.
“Makasih.”
Reza tersenyum.
Bukan senyum kemenangan. Tidak menggoda.
“Sama-sama.”
Lalu pergi.
aku berdiri beberapa detik sebelum melanjutkan langkah.
Dia tidak suka betapa mudahnya Reza membuat dua kata sederhana terasa memalukan.
Siang harinya, Tara melihat gelas kosong di meja.
“Beli kopi?”
“Dikasih.”
“Siapa?”
aku menatap.
Tara tertawa. “Oke. Pertanyaan bodoh.”
“Emang.”
“Dia hafal lagi?”
“Iya.”
“Sweet.”
“Creepy.”
“Tapi diminum habis.”
“Gratis.”
“Kalau racun juga diminum?”
“Kalau lo yang kasih, mungkin.”
Tara terkekeh.
Sore hari, aku pergi ke minimarket kampus membeli air mineral. Di rak minuman dingin, matanya berhenti pada kaleng Americano.
Dia mengambilnya.
Kemudian berhenti.
Buat apa?
Dia tidak suka kopi hitam.
Kaleng itu dikembalikan.
Dua detik kemudian diambil lagi.
Kasir memindai barang.
“Dua puluh satu ribu.”
aku membayar.
Keluar minimarket, dia memandang kaleng di tangan.
“Bego.”
Tetapi dia tidak mengembalikannya.
Reza sedang duduk di bangku taman dekat gedung Sistem Informasi bersama Dion. Laptop terbuka di pangkuan.
aku mendekat.
Dion melihatnya lebih dulu.
“Wah.”
“Kenapa ‘wah’?”
“Nggak.”
Reza menutup laptop sedikit. “Ada apa?”
aku melempar kaleng pelan ke arahnya.
Reza menangkap.
“Apa nih?”
“Minuman.”
“Gue tahu.”
“Ya udah.”
Reza melihat label.
Kemudian menatap aku.
“Buat gue?”
“Di sini yang minum Americano siapa?”
Dion mengangkat tangan. “Gue juga.”
aku menoleh datar. “Sekarang enggak.”
Dion langsung menurunkan tangan.
Reza tertawa.
“Kenapa tiba-tiba?”
aku memasukkan tangan ke saku jaket. “Tadi lo beliin gue.”
“Terus?”
“Gue nggak suka utang.”
“Ini bukan utang.”
“Sekarang lunas.”
Reza memutar kaleng itu di tangannya.
“Lo hafal pesanan gue.”
“Baru tadi lo bilang.”
“Tetap hafal.”
“Memori gue masih sehat.”
Dion melihat Reza, lalu aku, lalu memilih berdiri.
“Gue kayaknya mau beli makan.”
“Laptop lo?” tanya Reza.
“Titip.”
Dion pergi terlalu cepat.
aku menatap punggungnya. “Temen lo kenapa?”
“Punya insting bertahan hidup.”
“Lebay.”
Reza membuka kaleng.
“Thanks.”
“Ya.”
Dia minum.
aku belum pergi.
Reza menatapnya.
“Apa?”
“Rasanya benar?”
Reza hampir tersenyum.
aku langsung menambahkan, “Kalau salah gue nggak mau beli lagi.”
“Benar.”
“Bagus.”
“Duduk?”
aku melihat bangku. Ada ruang di sebelah Reza.
Dia duduk.
Mereka diam sebentar.
Reza bekerja lagi. aku membuka ponsel.
Anehnya, diam bersama Reza tidak terasa canggung.
Setelah beberapa menit, Reza berkata tanpa melihatnya, “Gue seneng.”
aku menoleh. “Karena kopi dua puluh ribuan?”
“Karena lo inget.”
aku memandang profil wajahnya.
“Jangan geer.”
“Iya.”
“Gue cuma balikin.”
“Iya.”
“Besok jangan berharap.”
“Iya.”
aku menyipit. “Kenapa nurut banget?”
Reza akhirnya menoleh. “Kalau gue bantah, lo kabur.”
“Pinter.”
“Jadi gue nikmatin aja.”
aku hendak membalas, tetapi Reza sudah kembali ke laptop.
Dia melihat kaleng Americano di tangan Reza.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Selama ini Reza selalu tahu hal-hal kecil tentang dirinya. Pesanan minum, jadwal kelas, kebiasaan setelah perpustakaan, bahkan kapan dia sedang terlalu capek untuk benar-benar marah.
Sementara aku baru hari ini tahu minuman favorit Reza.
Ketimpangan itu tiba-tiba terasa nyata.
“Za.”
“Hm?”
“Lo suka makan apa?”
Reza berhenti mengetik.
“Kenapa?”
aku langsung berdiri.
“Udah. Nggak jadi.”
Reza tertawa dan menahan ujung tasnya.
“Eh, bentar.”
“Lepas.”
“Gue jawab.”
“Gue udah nggak nanya.”
“Terlambat.”
aku menatap tangan Reza yang masih memegang tali tasnya.
“Lepas dulu.”
Reza melepas.
“Bakso.”
“Basic.”
“Katanya nanya.”
“Gue cuma komentar.”
“Lo?”
“Kenapa?”
“Kan gantian.”
aku berpikir. “Sushi.”
“Gue tahu.”
aku menatap tajam. “Tentu aja lo tahu.”
Reza tersenyum.
aku duduk lagi dengan kesal yang tidak sepenuhnya kesal.
Mungkin dia memang harus mulai memperhatikan sedikit.
Bukan karena apa-apa.
Cuma supaya tidak kalah telak.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue reading
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue