Chapter Fifteen
Kursi Kosong
POV: Evelyn
Hari kedua setelah aku menyuruh Reza berhenti mengejarku, kursi plastik di kantin mendadak punya kemampuan mengganggu suasana hati.
Aku masuk bersama Tara dan langsung melihat meja ujung. Empat kursi. Tiga kosong. Satu kursi yang paling dekat dinding biasanya ditempati Reza.
Hari ini semuanya sama-sama kosong, tapi mataku berhenti di kursi itu.
“Duduk sana?” Tara menunjuk meja.
“Terserah.”
Kami berjalan mendekat. Tara menarik kursi yang biasa dipakai Reza.
“Jangan.”
Tangannya berhenti.
Aku juga ikut berhenti.
Tara menggoyangkan kursinya. “Kenapa?”
“Goyang.”
Kursinya tidak goyang.
Tara menatapku.
“Apaan?”
“Gue belum ngomong.”
“Muka lo udah ngomong.”
Aku mengambil tas Tara dan meletakkannya di kursi lain. “Duduk situ.”
“Siap.”
“Jangan senyum.”
“Gue takut.”
Aku duduk dan membuka kotak makan. Kursi di sebelahku tetap kosong.
Seharusnya menyenangkan. Tidak ada orang yang mengambil kentangku tanpa izin. Tidak ada yang bertanya kenapa aku hanya makan setengah. Tidak ada suara Reza memanggil “Vel” cuma untuk mengatakan hal yang sebenarnya bisa dikirim lewat chat.
Tenang.
Bukankah itu yang kuminta?
Aku menyuap nasi.
Tiga menit kemudian aku melihat pintu kantin.
Tidak ada Reza.
Aku makan lagi.
Dua menit berikutnya aku melihat lagi.
Tara akhirnya meletakkan sendok. “Kalau leher lo sakit nanti jangan salahin gue.”
“Kenapa leher gue?”
“Dari tadi nengok pintu.”
“Gue lihat orang.”
“Orangnya tinggi, pakai kacamata, anak SI?”
Aku menunjuk sendok ke arahnya. “Makan.”
Tara menurut.
Tak lama Dion masuk bersama dua mahasiswa lain. Reza tidak ada. Aku tidak bertanya.
Aku bahkan bangga karena tidak bertanya.
Kebanggaan itu bertahan sampai kami keluar kantin dan melihat Reza di depan perpustakaan.
Dia berdiri bersama Dion dan seorang perempuan dari kepanitiaan kampus. Laptop terbuka di tangan perempuan itu. Reza menunjuk sesuatu di layar lalu tertawa.
Biasa saja.
Dia terlihat biasa saja.
Ada rasa tidak enak yang langsung muncul dan membuatku kesal pada diri sendiri. Aku tidak ingin dia sedih. Aku juga tidak berharap dia duduk di pojokan sambil menyesali hidup hanya karena aku menyuruhnya berhenti.
Tapi melihat dia tetap bisa tertawa membuat satu bagian kecil dalam diriku bertanya apakah keberadaanku selama ini memang tidak sepenting yang kubayangkan.
Pikiran itu memalukan.
Reza menoleh.
Tatapan kami bertemu.
Biasanya dia akan langsung mendekat.
Sekarang dia hanya memberi senyum kecil.
“Hai, Evelyn.”
Evelyn.
Bukan Vel.
“Hai.”
Dia kembali ke laptop.
Aku masuk perpustakaan.
Tara menyusul tanpa bicara.
“Ngomong aja.”
“Gue nggak ngomong.”
“Itu lebih ngeselin.”
“Kalian tadi sopan banget.”
Aku menatapnya.
Tara mengangguk serius. “Kayak kenalan satu kepanitiaan.”
“Bagus.”
“Iya.”
Aku membenci cara dia menyetujui semua jawabanku hari ini.
Kami duduk di lantai dua. Aku membuka laptop, tetapi setelah sepuluh menit aku masih membaca paragraf yang sama.
Ponselku sunyi.
Biasanya Reza tahu kalau aku di perpustakaan.
**Lantai berapa?**
Lalu beberapa menit kemudian dia muncul dengan kopi atau alasan bodoh untuk meminjam charger yang sebenarnya dia punya sendiri.
Hari ini tidak ada.
Aku membuka chat kami.
Scroll.
Hampir setiap percakapan dimulai olehnya.
**Vel.**
**Udah makan?**
**Kelas selesai jam berapa?**
**Gue di bawah.**
**Mau nitip minum?**
**Hujan. Bawa payung?**
Aku membalas semuanya dengan variasi tingkat keramahan yang menyedihkan.
Kadang hanya “apa”.
Kadang “ngapain”.
Kadang “gue bisa sendiri”.
Tapi aku tetap membalas.
Aku terus scroll sampai menemukan percakapan waktu Reza sakit. Itu salah satu sedikit percakapan yang kumulai.
**Masih hidup?**
Setelah itu aku menanyakan demamnya, obatnya, makanannya.
Aku mengernyit.
Tara menutup buku. “Lo baca chat dia?”
“Kenapa semua dimulai dia?”
“Karena dia ngejar lo?”
Jawabannya terlalu sederhana.
Aku mengunci layar.
Sore itu aku mencoba duduk di meja lain. Dari tempat baru, kursi ujung masih terlihat.
Aku akhirnya sadar masalahnya bukan kursi.
Terlalu banyak tempat di kampus yang sudah terhubung dengan Reza.
Sisi kiri pintu kelas adalah tempat dia menunggu. Kedai dekat perpustakaan adalah tempat dia hafal es teh tawarku. Koridor menuju parkiran adalah tempat dia biasanya berjalan di sampingku. Bahkan bunyi notifikasi tertentu membuat tanganku otomatis mencari ponsel.
Aku kesal.
Reza tidak melakukan apa-apa.
Itulah masalahnya.
Dia benar-benar melakukan persis yang kuminta. Tidak ada sindiran. Tidak ada status menyedihkan. Tidak ada usaha membuatku merasa bersalah. Dia hanya mundur.
Aku tidak punya alasan untuk marah kepadanya.
Jadi semua rasa tidak nyaman ini kembali kepadaku.
Malamnya aku membaca chat kami lagi.
Ada foto kucing tidur di jok motor.
Ada meme dosen.
Ada foto makanan dengan pesan:
**Makan. Jangan sok sibuk.**
Aku ingat membalas:
**Nyuruh-nyuruh.**
Lalu tetap makan.
Ada pesan setelah presentasiku:
**Tadi bagus. Jangan geer, gue objektif.**
Aku tersenyum kecil saat membacanya.
Senyum itu hilang ketika melihat tidak ada pesan baru di bawahnya.
Aku menekan kolom ketik.
**Za.**
Tiga huruf.
Jempolku menggantung di tombol kirim.
Aku menghapusnya.
Bukan karena aku tidak ingin bicara.
Justru karena aku ingin.
Aku ingin dia mengirim sesuatu yang tidak penting. Aku ingin dia bertanya sudah makan atau belum. Aku ingin keluar kelas dan menemukan dia berdiri di tempat biasa.
Aku meletakkan ponsel.
“Kebiasaan,” gumamku.
Kata itu terdengar semakin tipis.
Dua hari lalu aku merasa Reza terlalu banyak hadir.
Sekarang dia tidak hadir sama sekali, dan aku malah menghitung ruang kosong yang ditinggalkannya.
Aku belum siap menyebutnya rindu.
Besoknya, refleks itu belum hilang. Selesai kelas aku hampir mengirim pesan menanyakan Reza ada di mana. Jempolku sudah membuka chat sebelum logika menyusul. Aku menutupnya lagi. Yang membuatku paling tidak nyaman bukan karena aku tidak bisa menghubunginya. Aku bisa. Reza tidak memblokirku, tidak menghindar secara dramatis, dan kemarin masih menyapaku. Aku hanya tidak tahu apakah aku punya hak untuk memanggilnya kembali setelah akulah yang meminta dia mundur.
Di depan lift, Tara bertanya apakah aku menyesal. Aku menjawab terlalu cepat, “Gue menyesal cara ngomongnya.” Dia mengangguk. “Bukan pertanyaan gue.” Pintu lift terbuka dan menyelamatkanku. Aku masuk lebih dulu. Sepanjang turun empat lantai, pertanyaannya ikut masuk bersamaku. Apakah aku menyesal meminta Reza berhenti? Kalau jawabannya iya, berarti aku harus mengakui kenapa. Dan aku belum berani sampai sana.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku juga tidak benar-benar percaya ketika menyebutnya cuma kebiasaan.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong reading
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue