Chapter Seven
Bagus Kalau Dia Nggak Ada
POV: Evelyn
Tara menatap aku selama hampir sepuluh detik tanpa berkedip.
aku akhirnya menutup laptop.
“Apaan?”
“Gue lagi observasi.”
“Observasi monyet sana.”
“Subjek gue lebih menarik.”
Mereka duduk di meja pojok perpustakaan. aku sedang menyelesaikan bahan presentasi, sementara Tara sejak tadi lebih banyak memperhatikan pintu daripada membaca jurnal.
Atau, menurut aku, memperhatikan aku yang memperhatikan pintu.
“Lo dari tadi lihat pintu enam kali,” kata Tara.
“Terus?”
“Reza belum datang.”
“Hubungannya?”
Tara mengangkat alis.
aku membuka laptop lagi. “Gue lihat orang lewat.”
“Enam kali?”
“Gue punya mata. Bebas.”
“Biasanya jam segini dia muncul.”
Jari aku berhenti di trackpad.
Hanya sebentar.
“Bagus kalau dia nggak ada.”
“Bagus?”
“Tenang.”
Tara menahan senyum. “Oh.”
“Kenapa ‘oh’ lo nyebelin?”
“Enggak. Gue setuju. Kalau Reza berhenti datang, hidup lo pasti lebih damai.”
“Jelas.”
“Nggak ada yang nunggu depan kelas.”
“Bagus.”
“Nggak ada yang bawain minum.”
“Gue bisa beli.”
“Nggak ada yang chat malam-malam.”
“Lebih bagus.”
“Nggak ada yang ngajak makan.”
aku mengetik lebih keras. “Tara.”
“Iya?”
“Kerjain tugas lo.”
Tara terkekeh lalu akhirnya menunduk.
Lima menit kemudian pintu perpustakaan terbuka.
aku tidak menoleh.
Dia benar-benar tidak menoleh.
Sampai suara kursi di samping meja bergeser.
“Permisi.”
aku mendongak.
Bukan Reza.
Seorang mahasiswa yang tidak dikenalnya menunjuk kursi kosong di meja mereka.
“Boleh duduk?”
“Boleh,” jawab Tara.
Cowok itu duduk.
aku kembali ke layar.
Entah kenapa konsentrasinya justru memburuk.
Pukul tiga lewat dua puluh, mereka selesai. Saat keluar perpustakaan, Tara menerima telepon dan berjalan beberapa meter di depan.
aku baru saja memasukkan laptop ke tas ketika seseorang mengambil tali tas itu dari tangannya.
“Berat.”
Dia menoleh.
Reza.
“Balikin.”
“Laptop doang?”
“Sama buku.”
“Pantes.”
“Tangan gue masih berfungsi.”
“Gue tahu.”
“Terus kenapa diambil?”
Reza memasang tas aku di bahunya bersama tas sendiri. “Karena gue baik.”
“Menurut siapa?”
“Nyokap gue.”
“Nyokap lo bias.”
Reza tertawa.
Tara menutup telepon, melihat mereka, lalu menatap aku dengan senyum menyebalkan.
aku langsung tahu.
“Jangan.”
“Gue belum ngomong.”
“Muka lo udah.”
Reza menunjuk dirinya sendiri. “Kok gue pernah dibilang gitu juga?”
“Karena kalian sama-sama punya muka bermasalah.”
Tara pamit karena ada rapat organisasi. aku otomatis mengulurkan tangan meminta tasnya kembali.
Reza malah berjalan.
“Za.”
“Iya?”
“Tas.”
“Nanti.”
“Kenapa nanti?”
“Gue mau ke kantin.”
“Terus?”
“Lo juga.”
“Siapa bilang?”
Reza berhenti dan menunjuk botol minum aku yang kosong di saku samping tas.
“Lo biasanya beli es teh habis perpustakaan.”
aku memandang botol itu, lalu Reza.
“Lo merhatiin banget.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Reza tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya sedikit berubah. Bukan senyum jahil. Lebih sederhana.
“Iya.”
aku mendadak merasa salah memilih topik.
Dia merebut tali tasnya.
“Udah, sini.”
Reza menyerahkannya tanpa protes.
Mereka berjalan ke kantin.
aku tidak tahu kenapa satu kata barusan terasa lebih mengganggu daripada sepuluh rayuan Reza.
Di kantin, Reza membeli kopi sementara aku membeli es teh. Mereka berdiri di sisi konter menunggu pesanan.
“Jadi tadi lo ke mana?” tanya aku.
Reza menoleh. “Tadi?”
“Biasanya jam dua lo nongol di perpustakaan.”
Reza tersenyum perlahan.
aku langsung menyesal.
“Kenapa senyum?”
“Lo tahu jadwal nongol gue?”
“Karena ganggu.”
“Tapi lo hafal.”
“Kalau tiap hari ada alarm kebakaran bunyi jam dua, orang juga hafal.”
“Berarti gue alarm kebakaran?”
“Kurang lebih.”
“Penting dong. Menyelamatkan nyawa.”
“Bikin pusing.”
Pesanan mereka datang.
Reza menyerahkan es teh kepada aku sebelum mengambil kopinya sendiri.
“Gue tadi ada asistensi dosen,” katanya.
aku membuka sedotan. “Gue nggak nanya alasan.”
“Barusan nanya gue ke mana.”
“Itu beda.”
“Bedanya?”
“Gue cuma memastikan kampus aman.”
Reza mengangguk. “Oh, jadi kalau gue nggak ada kampus aman?”
“Lebih kondusif.”
“Kalau gue beneran nggak datang lagi?”
aku menusukkan sedotan ke tutup gelas.
Pertanyaan itu persis seperti yang Tara lempar tadi.
Dia menjawab tanpa berpikir lama.
“Bagus.”
Reza menatapnya.
aku minum.
“Serius?”
“Kenapa nggak?”
“Nggak kangen?”
aku hampir tersedak, tapi berhasil menahannya.
“Pede banget hidup lo.”
“Jawab aja.”
“Nggak.”
“Sedikit?”
“Nggak.”
“Setengah persen?”
“Reza.”
“Iya?”
“Minum kopi lo.”
Reza menurut sambil tersenyum.
Mereka duduk di bangku luar karena kantin penuh. Udara sore membawa bau tanah dari taman yang baru disiram.
Beberapa mahasiswa lewat dan menyapa Reza. Dia membalas santai. aku memperhatikan tanpa sengaja bahwa Reza mengenal banyak orang dari jurusan berbeda.
“Lo kenal semua orang?”
“Enggak.”
“Dari tadi lima orang.”
“Gue ramah.”
“Pamer.”
“Lo juga kenal banyak.”
“Bedanya gue nggak senyum ke semua orang.”
“Nah, itu.”
“Apa?”
Reza menatapnya. “Makanya kalau lo senyum ke gue rasanya spesial.”
aku diam.
Lalu menendang ujung sepatu Reza pelan.
“Ngaco.”
“Barusan lo senyum.”
“Enggak.”
“Ada.”
“Halusinasi.”
“Gue lihat.”
“Periksa mata.”
Reza tertawa lagi.
aku membuang pandangan ke taman.
Dia memang sempat tersenyum.
Sedikit.
Dan lebih menyebalkan lagi karena Reza menangkapnya.
Saat hendak pulang, Reza mengantar aku sampai tempat ojek daring biasa menjemput.
Motor aku masih tujuh menit lagi.
“Gue tunggu,” kata Reza.
“Ngapain?”
“Ya nunggu.”
“Pulang aja.”
“Bentar.”
“Gue bukan anak TK.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
Reza memasukkan tangan ke saku. “Pengen aja.”
aku tidak punya jawaban yang cukup tajam tanpa terdengar berlebihan, jadi dia diam.
Mereka berdiri berdampingan.
Anehnya, Reza juga diam.
Tidak menggoda.
Tidak mencari topik.
Hanya berdiri.
Ketika motor tiba, aku memakai helm lalu naik.
“Vel.”
“Apa?”
“Hati-hati.”
aku mengangguk kecil. “Lo juga.”
Motor mulai bergerak.
Baru setelah beberapa meter, aku sadar dia baru saja menjawab dengan normal.
Tidak ada tambahan jangan geer, tidak ada pulang sana, tidak ada serangan balik.
Dia menoleh sekilas.
Reza masih berdiri di tempat semula.
Malamnya Tara menelepon.
“Jadi,” katanya tanpa salam, “tadi siapa yang katanya bagus kalau nggak ada?”
aku memejamkan mata.
“Lo masih bahas itu?”
“Reza datang, muka lo langsung nggak kayak orang kehilangan charger.”
“Analogi lo jelek.”
“Tapi benar.”
“Enggak.”
“Vel.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari dia beneran berhenti, lo bakal seneng?”
aku menatap langit-langit kamar.
Pertanyaan itu seharusnya mudah.
Reza berisik. Reza terlalu sering muncul. Reza terlalu mudah masuk ke jadwalnya tanpa diundang.
Harusnya jawabannya tetap sama.
“Ya,” kata aku. “Bagus.”
Tara diam sebentar.
“Oke.”
Telepon berakhir beberapa menit kemudian.
aku membuka chat.
Nama Reza berada dekat bagian atas.
Tidak ada pesan baru.
Pukul sepuluh lewat empat.
Biasanya ada.
Dia meletakkan ponsel.
Dua menit kemudian mengambilnya lagi.
Tidak ada.
Bagus kalau dia nggak ada.
Kalimatnya sendiri muncul di kepala.
aku mengunci layar dan membalik ponsel.
“Bagus,” gumamnya.
Pukul sepuluh lewat tujuh, ponselnya bergetar.
Reza: Besok kelas pagi?
aku membaca pesan itu terlalu cepat.
Dia menunggu tiga puluh detik sebelum membalas.
aku: Iya. Kenapa?
Reza: Nanya aja.
aku mendecak.
aku: Nggak guna.
Balasan datang.
Reza: Selamat tidur juga, aku.
aku menatap layar.
Lalu, tanpa sadar, tersenyum kecil.
“Ganggu.”
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada reading
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue