← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Two

Kursi Lain Mati Semua?

POV: Evelyn

Aku baru memasukkan sedotan ke es teh ketika sebuah nampan mendarat di meja.

Aku bahkan tidak perlu melihat siapa pemiliknya.

“Enggak.”

Reza menarik kursi.

“Gue belum ngomong.”

“Gue juga belum nanya.”

Dia duduk tepat di depanku.

Aku melihat sekeliling kantin.

Ada tiga meja kosong.

Bukan satu.

Tiga.

Aku menunjuk meja terdekat. “Kursi lain mati semua?”

Reza menoleh ke sana.

“Kayaknya sehat.”

“Duduk sana.”

“Kenapa?”

“Karena kosong.”

“Yang ini juga tadi kosong.”

“Sekarang nggak.”

“Iya. Ada gue.”

Aku menatapnya.

Reza membuka bungkus sendok.

Aku sudah belajar bahwa berdebat soal hal semacam ini hanya memberi dia hiburan gratis.

Jadi aku kembali melihat laptop.

Tara yang duduk di sebelahku menutup mulut dengan tangan.

“Lo kenapa?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kalau mau ketawa, ketawa.”

“Nanti ditinggal.”

“Bagus. Masih punya insting hidup.”

Reza mendorong satu gelas ke arahku.

Aku melihat labelnya.

Es teh tawar.

Es sedikit.

Persis.

“Gue udah punya.”

Reza melihat gelas di tanganku.

Lalu gelas yang baru dia bawa.

“Wah.”

“Makanya jangan sok tahu.”

“Biasanya lo beli setelah makan.”

“Hari ini gue beli dulu.”

“Kesalahan strategi.”

Aku mengangkat alis.

Reza mengambil gelas tambahan itu dan menaruh di sampingnya.

“Buat nanti.”

“Siapa bilang gue mau?”

“Kalau nggak mau gue minum.”

“Lo minum Americano.”

“Bisa dua.”

Aku kembali ke laptop.

Tiga menit kemudian, es teh pertamaku habis.

Aku menatap gelas kedua.

Reza sedang makan.

Tara sedang membalas chat.

Aku mengambil gelas itu.

Reza tetap makan.

Tidak ada komentar.

Aku sedikit menghargai kemampuan bertahan hidupnya.


“Jadi,” kata Tara setelah Reza pergi mengambil saus, “dia hafal pesanan lo.”

“Bukan informasi rahasia.”

“Es teh tawar, es sedikit.”

“Dia sering lihat.”

“Lo sendiri tahu pesanan dia?”

Aku melirik Americano di tempat Reza.

“Americano.”

“Gula?”

“Nggak.”

“Makanan?”

“Bakso.”

“Selain itu?”

Aku menatap Tara.

“Kenapa gue harus tahu?”

Tara mengangkat kedua tangan.

“Nggak harus.”

“Bagus.”

Reza kembali.

“Apa yang nggak harus?”

“Evelyn tahu makanan favorit lo,” kata Tara.

Aku menoleh tajam.

“Gue nggak bilang favorit.”

Reza duduk.

“Lo tahu?”

“Bakso.”

“Betul.”

“Semua orang juga tahu. Lo makan itu terus.”

Reza tersenyum. “Berarti lo merhatiin.”

“Berarti mata gue berfungsi.”

Tara tertawa.

Aku menyikut lengannya.


Setelah makan, aku masih harus menyelesaikan revisi presentasi.

Reza seharusnya pergi karena dia punya kelas pukul satu.

Seharusnya.

Tapi dia malah membuka laptop di depanku.

“Lo nggak pergi?”

“Masih empat puluh menit.”

“Terus?”

“Kerja di sini.”

Aku melihat layarnya.

Kode.

Entah apa.

“Jangan ganggu.”

“Gue diam.”

Lima menit pertama, dia benar-benar diam.

Lima menit berikutnya juga.

Aku mulai lupa dia ada.

Sampai seseorang dari meja belakang memanggil.

“Za!”

Reza menoleh.

Seorang cowok tinggi yang kukenal sebagai Dion mengangkat tangan.

“Ke sini, anjir—” Dia berhenti saat melihatku, lalu memperbaiki, “ke sini, woy.”

Reza menggeleng. “Nanti.”

Dion melihat aku.

Kemudian Reza.

Ekspresinya berubah menjadi sangat paham.

Aku tidak suka.

“Temen lo manggil,” kataku.

“Iya.”

“Pergi.”

“Gue lagi kerja.”

“Bisa di sana.”

“Di sini colokan enak.”

Aku melihat kabel charger.

Colokan yang dia pakai juga tersedia di meja Dion.

“Bohong yang niat.”

Reza tertawa kecil.

“Ketahuan.”

“Kenapa maksa duduk sini?”

Dia berhenti mengetik.

“Karena gue suka nemenin lo.”

Aku menghela napas.

“Reza.”

“Iya?”

“Kalau tiap hari ngomong begitu capek nggak?”

“Enggak.”

“Gue yang capek dengernya.”

“Oke.”

Dia kembali mengetik.

Aku menatap layar presentasi.

Anehnya, setelah itu Reza tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dia cuma ada.

Suara keyboard-nya pelan.

Sesekali dia minum.

Sesekali menggeser kabel agar tidak mengenai tasku.

Tidak mengganggu.

Ini justru lebih aneh.

Aku melirik.

Reza langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Enggak.”

“Lo lihat gue.”

“Geer.”

“Gue duduk depan lo.”

“Makanya ganggu pandangan.”

Dia tersenyum.

Aku kembali bekerja.


Pukul dua belas lewat empat puluh, Reza menutup laptop.

“Gue kelas.”

“Ya.”

Dia memasukkan charger.

Aku tetap melihat layar.

“Vel.”

“Apa?”

“Besok mau makan apa?”

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Biar gue tahu.”

“Gue bisa beli sendiri.”

“Gue nggak bilang mau beliin.”

“Terus?”

“Penasaran.”

Aku memikirkan jawabannya.

“Belum tahu.”

“Kalau tahu kabarin.”

“Ngapain?”

“Biar gue ikut.”

Aku mendecak.

Reza berdiri.

Dion sudah menunggu di ujung kantin.

Sebelum pergi, Reza menunjuk gelas es teh kedua yang hampir habis.

“Katanya nggak mau.”

Aku melihat gelas.

Lalu dia.

“Gue haus.”

“Gue nggak bilang apa-apa.”

“Muka lo bilang.”

“Pergi.”

Reza tertawa dan berjalan ke Dion.

Aku kembali ke laptop.

Tara yang sedari tadi pura-pura fokus pada ponsel akhirnya bersuara.

“Vel.”

“Jangan.”

“Gue cuma mau bilang—”

“Jangan.”

“Lo sekarang udah tahu suara langkah dia.”

Aku berhenti mengetik.

“Apa?”

“Tadi sebelum dia naruh nampan, lo langsung bilang enggak.”

“Parfumnya.”

“Dia datang dari belakang.”

Aku terdiam.

Tara tersenyum.

“Menarik.”

“Lo banyak waktu kosong, ya?”

“Lumayan.”

Aku menutup laptop.

“Mau ke kelas.”

“Masih setengah jam.”

“Gue mau jalan.”

Tara ikut membereskan barang.

Kami keluar kantin.

Di lorong, tanpa sengaja aku melihat Reza dan Dion di lantai bawah.

Reza sedang bicara sambil tertawa.

Dion mengatakan sesuatu, lalu menunjuk ke arah kantin.

Reza memukul bahunya pelan.

Aku tidak tahu mereka membicarakan apa.

Tidak peduli.

Sungguh.

“Lo lihat apa?” tanya Tara.

“Jalan.”

“Jalan ada di bawah?”

Aku mempercepat langkah.

“Berisik.”


Malamnya, pukul sembilan lewat dua belas, ponselku berbunyi.

Reza: Besok ayam geprek?

Aku menatap pesan.

Evelyn: Kenapa tiba-tiba?

Reza: Tadi lo bilang belum tahu mau makan apa.

Aku bahkan sudah lupa percakapan itu.

Evelyn: Gue nggak bilang mau makan sama lo.

Balasan datang cepat.

Reza: Gue juga nggak bilang lo bilang.

Aku mendecak.

Evelyn: Ribet banget jadi orang.

Reza: Jadi ayam geprek?

Aku mengetik tidak.

Menghapus.

Mengetik terserah.

Menghapus lagi.

Akhirnya:

Evelyn: Level 2.

Tiga titik muncul.

Reza: Gue tahu.

Aku menatap layar.

Lalu membalas:

Evelyn: Jangan geer.

Reza: Belum sempat.

Aku meletakkan ponsel.

Senyum kecil sempat muncul sebelum kusadari.

Langsung kuhapus dari wajah.

Besok dia pasti duduk di depanku lagi.

Kursi lain jelas tidak mati.

Tapi rupanya Reza memang tidak peduli.