← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Three

Tangan Gue Masih Dua

POV: Evelyn

Kesalahan pertama hari itu adalah setuju menjadi orang yang membawa sampel produk kelompok.

Kesalahan kedua adalah mengira tiga kotak besar masih masuk kategori “bisa gue bawa sendiri.”

Aku baru keluar dari gedung ketika kotak paling atas bergeser.

“Jangan jatuh,” gumamku.

Sangat membantu.

Kotak itu bergeser lagi.

Sebuah tangan tiba-tiba menahannya.

Aku berhenti.

Reza muncul di sampingku.

“Tangan gue masih dua,” kataku.

“Iya.”

“Balikin.”

“Nanti.”

Dia mengambil dua kotak sekaligus.

Beban di tanganku langsung tinggal satu.

Aku seharusnya senang.

Sebaliknya aku kesal karena tubuhku memang langsung terasa lebih ringan.

“Gue bisa bawa.”

“Gue tahu.”

“Terus ngapain diambil?”

“Berat.”

“Buat lo juga berat.”

“Gue lebih gede.”

Aku melihat tubuhnya.

“Pamer?”

“Fakta biologis.”

“Ribet.”

Reza berjalan menuju parkiran.

Aku mengikuti.

“Lo tahu gue mau ke mana?”

“Gedung kewirausahaan.”

Aku berhenti.

Dia ikut berhenti.

“Kenapa lo tahu?”

“Label kotaknya.”

Aku melihat sisi kardus.

Benar.

Ada tulisan nama acara dan lokasi.

“Jangan bikin muka curiga terus,” katanya.

“Lo terlalu sering tahu hal tentang gue.”

“Yang ini literally tertulis gede.”

Aku mendecak.

Kami berjalan lagi.


Matahari Bandung siang itu terlalu terik.

Aku memindahkan kotak ke tangan kiri.

Reza melihat.

“Kasih sini.”

“Nggak.”

“Masih berat.”

“Ini ringan.”

“Vel.”

“Reza.”

Dia menatapku.

Aku menatap balik.

“Kalau lo ambil juga, gue jalan kosong.”

“Bagus.”

“Kelihatan kayak bos nyuruh kuli.”

“Gue rela.”

“Gue nggak.”

Reza tertawa.

Dia tidak mencoba mengambil lagi.

Itu salah satu hal yang aneh tentangnya. Dia bisa sangat gigih untuk hal-hal receh seperti mengajak makan, tetapi kalau aku benar-benar menolak sesuatu, dia biasanya berhenti.

Kami sampai di zebra cross.

Motor melintas cukup cepat.

Reza mengangkat tangan di depanku refleks.

Aku berhenti.

“Gue lihat.”

“Iya.”

“Jangan kayak gue anak kecil.”

“Refleks.”

Setelah jalan kosong, kami menyeberang.

Aku memegang kotak lebih erat.

“Lo emang kebiasaan ngurusin semua orang?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Lo doang.”

Aku memejamkan mata sebentar.

“Kenapa tiap percakapan harus berakhir begini?”

“Begini gimana?”

“Bikin gue pengen dorong lo ke got.”

Reza melihat saluran air di pinggir jalan.

“Dangkal.”

“Sayang.”

Dia tertawa.


Di gedung kewirausahaan, panitia menyuruh kami menaruh kotak di lantai tiga.

Tidak ada lift.

Aku menatap tangga.

Reza menatapku.

“Jangan.”

“Gue belum ngomong.”

“Tatapan lo udah ngomong.”

“Apa?”

“Kasih kotaknya.”

Aku memeluk kotak lebih erat.

“Enggak.”

Reza mengangkat bahu.

“Oke.”

Kami naik.

Lantai dua, napasku masih normal.

Lantai dua setengah, aku mulai membenci prinsip.

Reza tidak mengatakan apa-apa.

Itu lebih menyebalkan.

“Kalau mau ketawa, ketawa,” kataku.

“Gue nggak ketawa.”

“Lo senyum.”

“Karena lo keras kepala.”

Aku berhenti di bordes.

“Ambil.”

Reza langsung mengambil kotakku tanpa komentar.

Sekarang dia membawa tiga.

Aku menatapnya.

“Jangan sok kuat.”

“Kalau jatuh bantu pungutin.”

“Kalau lo jatuh gue foto dulu.”

“Baik.”

Kami sampai lantai tiga.

Kotak diletakkan di meja registrasi.

Aku mengusap telapak tangan.

Ada garis merah bekas kardus.

Reza melihat.

“Tuh.”

“Apaan?”

“Tangan lo merah.”

“Biasa.”

“Makanya tadi kasih dari awal.”

Aku menatapnya.

“Lo kalau menang jangan cerewet.”

“Siap.”

Dia tersenyum terlalu puas.

Aku menendang sepatunya pelan.


Setelah urusan selesai, kami duduk di tangga luar gedung.

Aku membeli dua botol air dari vending machine.

Satu kulempar ke Reza.

Dia menangkap.

“Wah.”

“Apa?”

“Dibeliin.”

“Lo habis jadi kuli.”

“Gue kira tangan lo masih dua.”

“Masih. Makanya bisa pencet vending machine.”

Reza tertawa.

Kami minum.

Angin lewat cukup dingin.

Untuk beberapa menit tidak ada yang bicara.

Aku tidak merasa harus mengusirnya.

Mungkin karena dia memang baru membantuku.

Atau karena aku capek.

Ya. Pasti karena capek.

“Vel.”

“Hm?”

“Besok presentasi?”

“Iya.”

“Jam?”

“Sepuluh.”

“Semangat.”

Aku menoleh.

“Cuma itu?”

Reza terlihat bingung. “Harus apa?”

Biasanya dia akan bilang akan menunggu.

Atau menawarkan kopi.

Atau mengatakan sesuatu yang mengganggu.

“Enggak.”

Aku kembali minum.

Kenapa aku malah menunggu tambahan?

Reza tersenyum kecil.

“Gue tunggu selesai.”

Nah.

Aku langsung merasa normal lagi.

“Nggak usah.”

“Gue ada kelas di gedung sebelah.”

“Terus?”

“Sekalian.”

“Alasan.”

“Ketahuan.”

Aku menggeleng.


Saat kami turun, ponsel Reza berbunyi.

Dion menelepon.

Reza mengangkat.

“Iya?”

Suara Dion terdengar samar dari speaker.

“Lo di mana? Kelas lima menit lagi.”

Reza melihat jam.

“Buset.”

Aku juga melihat jam.

Dia benar-benar punya kelas.

“Gue jalan sekarang.”

Telepon ditutup.

“Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanyaku.

“Lupa waktu.”

“Karena?”

Reza mengangkat dua bahu.

Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia bicara.

“Karena sama lo.”

Aku menatap datar.

“Lari sana.”

“Gue anter lo balik dulu.”

“Reza.”

“Iya?”

“Kelas lo lima menit lagi. Gedung lo tujuh menit kalau jalan.”

Dia mempertimbangkan.

“Kalau lari empat.”

“Pergi.”

“Yakin?”

Aku menunjuk arah gedungnya.

“Gue bisa pulang sendiri.”

Reza akhirnya mengangguk.

“Oke. Hati-hati.”

Dia mulai berlari.

Baru beberapa langkah, aku memanggil.

“Za.”

Reza menoleh sambil mundur.

“Apa?”

“Jangan jatuh. Malu.”

Dia tertawa.

“Siap.”

Aku melihatnya berlari menyeberang halaman.

Lalu baru sadar aku tersenyum.

Aku langsung berjalan ke arah berlawanan.


Malamnya, Reza mengirim foto tangannya.

Ada garis merah tipis di telapak.

Reza: Bukti kerja rodi.

Aku membalas:

Evelyn: Lemah.

Reza: Besok kompensasi.

Evelyn: Apa?

Reza: Makan sama gue.

Aku mendecak.

Evelyn: Hubungannya apa?

Reza: Gue belum mikir.

Evelyn: Tolol.

Aku berhenti.

Aku menghapus kata terakhir sebelum mengirim. Bukan karena terlalu kasar untuk Reza. Aku cuma tidak suka umpatan.

Kuganti:

Evelyn: Nggak nyambung.

Reza: Berarti makan?

Aku menatap pesan.

Besok presentasiku selesai sekitar sebelas.

Biasanya aku makan dengan Tara.

Tapi Tara ada rapat.

Bukan berarti aku butuh Reza.

Cuma kebetulan.

Evelyn: Lihat nanti.

Reza: Itu bukan nggak.

Evelyn: Jangan geer.

Reza: Siap. Selamat malam, Bos.

Evelyn: Jangan panggil bos.

Reza: Selamat malam, Evelyn.

Aku menatap namaku.

Entah kenapa lebih aneh ketika dia tidak menggoda.

Evelyn: Malam.

Setelah mengirim, aku meletakkan ponsel.

Tangan Reza merah karena membawa kotakku.

Dia telat masuk kelas karena membantuku.

Dan besok dia masih mau menunggu.

Aku tidak meminta semua itu.

Aku juga tidak mengerti kenapa seseorang mau melakukannya berulang kali.

Yang paling menyebalkan, aku mulai terlalu terbiasa membiarkannya.