← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Thirteen

Berhenti Ngejar Gue

POV: Evelyn

Hari itu sudah buruk bahkan sebelum Reza muncul.

Presentasi kelompokku berantakan karena satu file tidak bisa dibuka. Printer dekat kampus mati saat aku perlu mencetak revisi. Driver yang kupesan membatalkan dua kali. Dosen mengganti deadline tanpa peringatan. Dan ketika kelas terakhir selesai, kepalaku terasa penuh oleh suara orang.

Aku cuma ingin diam.

Aku keluar dari ruangan tanpa menunggu Tara.

“Vel!”

Aku terus berjalan.

Tara menyusul. “Lo mau ke mana?”

“Bawah.”

“Makan?”

“Nggak.”

“Lo belum makan dari—”

“Tar.”

Dia berhenti bicara.

Aku tahu nadaku terlalu tajam. Aku juga tahu Tara cukup mengenalku untuk tidak tersinggung.

“Gue mau sendiri bentar.”

“Oke.”

Aku turun lewat tangga darurat karena tidak mau masuk lift yang penuh. Di bordes lantai tiga, aku duduk di anak tangga dan menyandarkan kepala ke dinding.

Sunyi.

Akhirnya.

Ponselku bergetar.

Reza.

**Lo di mana?**

Aku tidak membalas.

Satu menit kemudian:

**Tara bilang lo belum makan.**

Aku mengunci layar.

Aku tahu dia bermaksud baik. Pada hari lain, mungkin aku akan membalas “ngurusin banget” lalu tetap menerima makanan yang dia bawa.

Hari ini bahkan notifikasi terasa seperti seseorang mengetuk pintu yang sudah kukunci.

Aku menutup mata.

Pintu tangga darurat terbuka beberapa menit kemudian.

Aku tahu siapa yang datang bahkan sebelum dia bicara.

“Vel?”

Aku membuka mata.

Reza berdiri dua anak tangga di atasku. Di satu tangan ada kantong kertas makanan, di tangan lain es teh.

“Ngapain lo ke sini?”

“Tara bilang—”

“Gue nanya ngapain lo ke sini.”

Dia terdiam sebentar.

“Ngasih makan.”

“Gue nggak minta.”

“Iya. Gue tahu.”

Kalimat itu biasanya membuatku ingin mendengus. Hari itu, entah kenapa, justru terasa seperti sesuatu yang menekan bagian kepalaku yang sudah terlalu penuh.

Reza turun satu anak tangga.

“Gue taruh sini aja kalau lo mau sendiri.”

“Za.”

“Hm?”

“Bisa nggak sih lo berhenti?”

Dia mengerutkan kening. “Berhenti apa?”

Aku berdiri.

Semua yang sebenarnya bukan salahnya keluar menuju satu orang yang kebetulan selalu ada.

“Berhenti ngejar-ngejar gue.”

Wajahnya tidak langsung berubah.

Aku melanjutkan, terlalu lelah untuk menyaring kata-kata.

“Gue capek. Tiap keluar kelas ada lo. Mau makan ada lo. Chat ada lo. Gue sakit dikit ditanya. Gue belum makan dicariin. Sekali-kali bisa nggak lo nggak ngurusin gue?”

Reza memegang kantong makanan lebih erat.

Aku tahu aku seharusnya berhenti.

Aku tidak berhenti.

“Ganggu, Za.”

Sunyi di tangga darurat mendadak terasa jauh lebih keras daripada sebelumnya.

Reza menatapku beberapa detik.

Tidak ada senyum.

Tidak ada lelucon.

Tidak ada “gue kan cuma nemenin.”

Hanya satu anggukan kecil.

“Oke.”

Aku menunggu kalimat berikutnya.

Tidak ada.

“Oke apaan?”

“Gue berhenti.”

Jawabannya terlalu cepat.

Dadaku terasa aneh.

Reza menaruh kantong makanan dan gelas di anak tangga di sampingku.

“Ini udah kebeli. Makan kalau mau.”

“Za—”

“Sorry.”

Dia mundur satu langkah.

“Gue kira selama ini lo masih oke karena lo selalu bilang kalau ada yang bener-bener bikin lo nggak nyaman, lo bakal ngomong.”

Aku teringat percakapan di minimarket saat hujan.

Dia memang pernah bilang begitu.

Dan sekarang aku baru saja mengatakannya.

“Gue nggak bermaksud—”

Aku berhenti.

Aku sendiri tidak tahu kalimat itu akan berakhir seperti apa.

Tidak bermaksud apa? Menyuruhnya berhenti? Menyebutnya gangguan? Melampiaskan hari buruk padanya?

Reza tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Nggak apa-apa.”

Aku benci kalimat itu.

“Gue lagi capek.”

“Iya.”

“Bukan berarti—”

Lagi-lagi aku tidak bisa menyelesaikannya.

Reza tidak membantuku.

Dan mungkin memang bukan tugasnya untuk menerjemahkan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mau mengakuinya.

“Gue duluan,” katanya.

Dia membuka pintu.

“Reza.”

Dia menoleh.

Aku punya kesempatan untuk menarik kembali semuanya.

Yang keluar justru, “Makanan lo.”

“Buat lo.”

Pintu menutup.

Aku berdiri sendiri.

Lima menit kemudian Tara masuk.

Dia melihatku, lalu melihat makanan di tangga.

“Reza?”

“Udah pergi.”

Tara duduk di samping kantong makanan.

“Apa yang terjadi?”

Aku ikut duduk.

“Gue bilang dia ganggu.”

“Terus?”

“Gue suruh berhenti ngejar gue.”

Tara tidak langsung menjawab.

Aku menatap lantai.

“Gue lagi capek.”

“Gue tahu.”

“Dia datang pas timing-nya jelek.”

“Gue tahu.”

Aku menoleh. “Terus kenapa muka lo begitu?”

“Gue lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Tara menyandarkan siku ke lutut.

“Lo tadi beneran nggak nyaman sama Reza?”

Pertanyaan itu membuatku kesal.

“Gue bilang gue capek.”

“Bukan itu yang gue tanya.”

Aku diam.

Tara melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Kalau lo memang nggak nyaman sama dia, bagus lo ngomong. Reza harus berhenti.”

Aku menelan ludah.

“Tapi kalau lo cuma lagi penuh sama semua hal dan dia kebetulan orang yang paling gampang lo dorong…”

“Jangan ceramah.”

“Gue nggak ceramah.”

“Terus?”

“Gue cuma pengen lo tahu bedanya.”

Aku membuka kantong makanan.

Nasi ayam. Sambal dipisah.

Seperti biasa.

Es tehnya tawar.

Seperti biasa.

Mendadak aku kehilangan selera makan.

Malam itu tidak ada pesan dari Reza.

Jam delapan lewat tiga belas, aku membuka WhatsApp.

Tidak ada.

Jam sembilan, aku mengecek lagi.

Tidak ada.

Jam sepuluh kurang, aku membuka chat kami tanpa alasan.

Pesan terakhir darinya dikirim sore tadi.

**Tara bilang lo belum makan.**

Aku mengetik:

**Udah makan?**

Lalu menghapusnya.

Mengetik lagi:

**Tadi gue—**

Hapus.

Aku meletakkan ponsel.

Lima menit kemudian mengambilnya lagi.

Tetap tidak ada pesan.

Seharusnya itu yang kumau.

Aku sendiri yang menyuruhnya berhenti.

Jadi ketika malam terasa terlalu sunyi, aku tidak punya siapa pun untuk disalahkan.

Aku akhirnya makan beberapa suap karena Tara duduk diam di sampingku sampai aku melakukannya. Setiap suap membuat rasa bersalah semakin jelas. Reza bahkan memilih makanan yang gampang kumakan saat sedang tidak mood. Tidak terlalu pedas, sambal dipisah, minuman tanpa gula. Perhatian yang lima belas menit lalu kusebut gangguan kini tergeletak di depanku dalam bentuk yang terlalu konkret. “Gue keterlaluan?” tanyaku akhirnya. Tara tidak buru-buru menyelamatkanku. “Lo punya hak buat minta jarak,” katanya. “Cara lo ngomongnya? Itu yang harus lo nilai sendiri.” Aku menatap kantong kertas di tanganku. Jawaban itu lebih tidak nyaman daripada kalau dia langsung menyalahkanku.

Sepanjang perjalanan pulang, aku beberapa kali menyusun kalimat permintaan maaf. Masalahnya, setiap versi terdengar seperti aku ingin menarik kembali batas yang baru saja kubuat. Aku sendiri belum tahu apakah aku memang ingin Reza berhenti atau hanya ingin dunia berhenti menuntut sesuatu dariku selama satu jam. Ketidakjelasan itu membuatku tidak mengirim apa pun. Aku berpikir besok kami bisa bicara. Besok Reza pasti masih ada seperti biasanya. Pikiran itu terasa sangat masuk akal sampai keesokan harinya membuktikan bahwa aku terlalu terbiasa menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang otomatis.

Termasuk Reza.