← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Ten

Masih Hidup?

POV: Evelyn

Hari Senin biasanya Reza muncul sebelum aku sempat mengeluh tentang hari Senin.

Pukul sembilan lewat sepuluh, tidak ada Reza.

Pukul sebelas, masih tidak ada.

aku baru menyadarinya ketika keluar kelas dan secara otomatis melihat ke sisi kanan lorong.

Kosong.

Dia langsung mengalihkan pandangan.

Tara yang berjalan di sampingnya menangkap gerakan itu.

“Nyari siapa?”

“Papan pengumuman.”

“Papan pengumuman di kiri.”

aku berhenti sepersekian detik. “Gue mau lihat tembok.”

“Oh.”

“Jangan ‘oh’.”

Tara menahan senyum.

Mereka turun ke kantin. aku membeli makan, lalu memilih meja biasa.

Kursi di depan kosong.

Dia tidak menaruh tas di sana.

Tidak perlu.

Reza mungkin kelas.

Atau ada tugas.

Atau sedang makan di tempat lain.

Bukan urusannya.

Dua puluh menit kemudian kursi itu masih kosong.

“Reza nggak masuk?” tanya aku akhirnya.

Tara yang sedang minum hampir tersedak.

“Kenapa?”

“Gue nanya.”

“Gue tahu. Gue cuma terharu.”

“Jawab.”

“Nggak tahu.”

“Lo kan kenal Dion.”

“Kenal bukan berarti gue punya akses absensi Reza.”

aku menusuk ayam dengan garpu.

“Ya udah.”

Tara membuka ponsel.

“Gue tanya?”

“Ngapain?”

“Katanya pengen tahu.”

“Gue cuma nanya doang.”

“Oke.”

Tara meletakkan ponsel lagi.

aku menatap.

“Kenapa nggak jadi?”

“Lo bilang cuma nanya.”

aku menarik napas.

“Tar.”

“Iya?”

“Lo hari ini nyebelin.”

“Baru hari ini?”

aku memilih diam.

Sore hari, tidak ada pesan dari Reza.

Biasanya setidaknya ada satu hal tidak penting: foto kucing kampus, keluhan dosen, meme buruk, atau pertanyaan apakah aku sudah makan.

Pukul tujuh malam, aku membuka chat mereka.

Pesan terakhir dari kemarin.

Reza: Besok jangan lupa file presentasinya.

aku: Gue nggak pikun.

Reza: Baik, Bu aku.

aku: Tua lo.

Tidak ada setelah itu.

aku menutup chat.

Membuka Instagram.

Menutup.

Membuka chat lagi.

Tidak ada.

“Kenapa sih?”

Dia meletakkan ponsel di meja.

Lima menit kemudian mengambilnya lagi.

Kali ini dia membuka profil Reza.

Tidak ada story baru.

aku mengernyit.

Reza hampir selalu mengunggah sesuatu.

Dia mengetik pesan.

Lo ke mana?

Dihapus.

Terlalu peduli.

Dia mengetik lagi.

Nggak masuk?

Dihapus.

Masih terdengar seperti mencari.

Akhirnya:

Masih hidup?

Dia membaca dua kali.

Cukup aku.

Kirim.

Tanda centang dua muncul.

Tidak langsung dibalas.

Satu menit.

Tiga menit.

Lima.

aku meletakkan ponsel terbalik.

Kenapa gue nunggu?

Dia membuka laptop dan mencoba mengerjakan tugas.

Ponsel bergetar.

Tangannya langsung bergerak.

Reza: Masih. Sayangnya.

aku mengembuskan napas yang tidak sadar ditahan.

aku: Tumben nggak kelihatan.

Reza: Demam. Dari semalam.

aku duduk lebih tegak.

aku: Berapa?

Balasan tidak datang secepat biasanya.

Reza: Tadi 38,4. Sekarang nggak tahu.

aku: Udah ke dokter?

Reza: Belum.

aku mengernyit.

aku: Kenapa?

Reza: Kayaknya flu biasa.

aku: Kalau besok masih segitu periksa. Jangan sok kuat.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Reza: Khawatir?

aku langsung mendecak.

Nah.

Reza yang dia kenal kembali.

aku: Geer. Gue cuma nggak mau kampus kehilangan satu manusia dan bikin administrasi ribet.

Reza: Terharu gue.

aku: Tidur sana.

Reza: Iya, Bu.

aku: Jangan panggil Bu.

Reza: Iya, aku.

Percakapan berhenti.

aku menatap layar beberapa detik.

Aneh.

Setelah tahu penyebabnya, rasa tidak nyaman sejak pagi sedikit berkurang.

Dia membuka grup kelas, mencari file catatan dari mata kuliah yang kebetulan juga diambil Reza sebagai lintas program. Ada materi yang tadi dibagikan dosen.

aku mengunduhnya.

Jarinya berhenti di tombol share.

Dia bisa minta sendiri.

Namun dia mengirim.

aku: [file]

aku: Tadi dosen bahas ini.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Reza: Makasih.

Kemudian:

Reza: Lo baik juga ternyata.

aku membalas cepat.

aku: Gue hapus filenya nih.

Reza: Jangan. Gue tarik ucapan.

aku tersenyum kecil.

Besoknya Reza masih tidak masuk.

aku tidak bertanya ke Tara.

Dia langsung mengirim pesan saat makan siang.

aku: Suhu?

Reza: 37,7.

aku: Makan?

Reza: Udah.

aku: Obat?

Reza: Udah, dokter.

aku: Gue block.

Reza: Jangan, nanti pasiennya telantar.

aku mematikan layar sambil menahan senyum.

Tara yang duduk di depannya menyipit.

“Siapa?”

“Nggak ada.”

“Lo senyum ke nggak ada?”

“Gue lagi baca sesuatu.”

“Reza?”

aku menatap.

Tara mengangkat tangan. “Oke.”

Setelah kelas, aku mampir ke tempat fotokopi. Dia mencetak dua lembar catatan tambahan.

Satu untuk dirinya.

Satu lagi—

Dia berhenti.

“Kenapa dua, Kak?” tanya penjaga fotokopi.

aku melihat lembar kedua.

“Buat orang sakit.”

Kalimat itu terasa terlalu jelas.

Dia memasukkan kedua salinan ke map.

Hari Rabu, Reza akhirnya muncul.

aku sedang duduk di bangku luar kelas ketika melihatnya dari ujung lorong.

Langkah Reza lebih lambat dari biasanya. Wajahnya masih agak pucat, tetapi dia tersenyum ketika melihat aku.

“Pagi.”

aku menatap dari kepala sampai kaki.

“Harusnya lo di rumah.”

“Udah mendingan.”

“Kalau pingsan jangan depan gue.”

“Kenapa?”

“Berat. Gue males angkat.”

Reza duduk di sampingnya.

“Gue kira lo bakal bilang kangen.”

aku menyerahkan map.

“Nih.”

Reza menerimanya.

“Apa?”

“Catatan.”

Reza membuka.

“Lo cetakin?”

“Sekalian.”

“Dua hari gue nggak masuk, lo berubah jadi perhatian banget.”

aku menoleh tajam. “Gue ambil lagi.”

Reza langsung memeluk map ke dada. “Nggak.”

“Balikin.”

“Punya gue.”

“Barusan gue kasih.”

“Berarti sah.”

aku mendecak.

Reza melihat catatan lagi. Ada beberapa bagian yang diberi tanda stabilo dan tulisan kecil di pinggir.

“Ini tulisan lo?”

“Iya.”

“Lo jelasin juga?”

“Biar lo nggak nanya gue nanti.”

Reza tersenyum.

aku tahu senyum itu.

“Jangan.”

“Gue belum ngomong.”

“Muka lo.”

“aku.”

“Apa?”

“Makasih.”

Kali ini tidak ada godaan setelahnya.

aku mengalihkan mata.

“Ya.”

Mereka diam.

Angin lorong bergerak pelan.

Reza bersandar ke dinding.

“Dua hari kemarin sepi nggak?”

aku menjawab terlalu cepat. “Enggak.”

“Yakin?”

“Tenang banget malah.”

“Oh.”

“Produktif.”

“Bagus dong.”

“Iya.”

Reza mengangguk.

Entah kenapa respons itu membuat aku ingin menambahkan sesuatu.

Dia tidak melakukannya.

Beberapa mahasiswa lewat.

Reza batuk kecil.

aku langsung menoleh.

“Masih batuk?”

“Sedikit.”

“Minum.”

Reza mengambil botol.

“Kok nurut?” tanya aku.

“Takut.”

“Bagus.”

Setelah minum, Reza tersenyum.

“Lo nyariin gue, ya?”

aku menatap lurus ke depan.

“Siapa bilang?”

“Dion.”

Kepalanya langsung berputar. “Dion tahu dari mana?”

“Tara.”

aku memejamkan mata.

Rantai pengkhianatan.

“Gue cuma nanya lo masuk apa enggak.”

“Kenapa nanya?”

“Karena biasanya lo ganggu.”

“Terus pas nggak ada?”

aku diam sebentar.

Jawaban jujurnya terlalu berbahaya.

Akhirnya dia berdiri.

“Kelas gue mulai.”

“Masih lima belas menit.”

“Gue rajin.”

Reza tertawa.

aku baru melangkah ketika Reza memanggil.

“Vel.”

Dia menoleh.

Reza mengangkat map.

“Makasih udah nyariin.”

“Gue nggak nyariin.”

“Dan makasih udah chat duluan.”

aku menunjuknya.

“Demam lo belum sembuh kayaknya.”

Reza tersenyum.

aku berjalan pergi.

Di tikungan lorong, dia berhenti sebentar.

Dua hari.

Cuma dua hari Reza tidak muncul, dan dia sudah mengecek pintu, kursi, chat, bahkan suhu tubuhnya.

aku mengerutkan hidung.

Gue cuma kebiasaan.

Ya.

Pasti itu.

Bukan apa-apa.

Dia kembali berjalan.

Namun untuk pertama kalinya, alasan itu terdengar sedikit kurang meyakinkan.