← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Four

Jangan Chat Gue Terus

POV: Evelyn

Pukul sebelas malam, Reza mengirim foto seekor kucing oren yang tidur di atas jok motor.

Reza: Lo kalau kelas pagi.

Aku membalas kurang dari satu menit.

Evelyn: Hapus.

Reza: Kenapa? Mirip.

Evelyn: Gue blok.

Reza: Selamat malam juga.

Aku meletakkan ponsel.

Dua puluh detik kemudian layar menyala lagi.

Reza: Udah makan?

Aku mendecak.

Evelyn: Lo nggak punya kerjaan?

Reza: Ada. Lagi ngerjain.

Evelyn: Kerjain.

Reza: Sambil chat bisa.

Evelyn: Jangan chat gue terus.

Tiga titik muncul.

Reza: Oke.

Aku menunggu.

Tidak ada pesan lagi.

Bagus.

Aku kembali membaca materi.

Tiga menit kemudian aku membuka chat.

Masih tidak ada.

Aku mengunci layar.

Kenapa dicek?

Karena memastikan dia benar-benar berhenti.

Tentu.


Kebiasaan chat Reza dimulai tanpa izin.

Awalnya cuma pesan soal tugas umum kampus.

Lalu foto makanan.

Meme.

Keluhan tentang dosen.

Pertanyaan tidak penting.

Reza: Kalau ayam bisa ngomong, menurut lo suaranya berat atau cempreng?

Evelyn: Tidur.

Atau:

Reza: Gue baru lihat orang pake sandal beda warna.

Evelyn: Terus?

Reza: Pengen cerita ke lo.

Aku selalu membalas.

Tidak cepat.

Tidak selalu panjang.

Tapi membalas.

Malam itu, setelah aku menyuruhnya berhenti, Reza benar-benar tidak mengirim apa pun lagi.

Aku belajar sampai hampir pukul satu.

Sebelum tidur, aku membuka chat sekali lagi.

Pesan terakhir tetap:

Reza: Oke.

Aku tidak tahu kenapa kelihatannya menyebalkan.


Besoknya dia normal.

Menunggu di depan kelas.

Membawa kopi.

Mengganggu.

Aku merasa sedikit lega.

Bukan karena menunggunya.

Karena berarti dia tidak tersinggung.

“Lo tidur jam berapa?” tanyanya.

“Satu.”

“Pantes.”

“Pantes apa?”

“Muka lo.”

Aku menatap tajam.

Reza tertawa. “Cantik.”

“Gue tinggal.”

“Belum selesai.”

“Nggak perlu.”

Kami berjalan ke kantin.

Aku tidak membahas chat.

Dia juga tidak.

Malamnya, pukul sepuluh, ponselku berbunyi.

Reza: Ini termasuk chat terus nggak?

Aku tersenyum kecil.

Evelyn: Iya.

Reza: Berarti gue pergi.

Aku menatap.

Lalu mengetik:

Evelyn: Mau ngomong apa?

Balasannya cepat.

Reza: Tadi ada dosen jatuhin spidol terus nyalahin gravitasi.

Aku tertawa.

Benar-benar tertawa.

Evelyn: Nggak lucu.

Reza: Lo ketawa.

Aku berhenti.

Evelyn: Sok tahu.

Reza: Feeling.

Percakapan lanjut hampir satu jam.


Hari berikutnya Reza tidak chat pukul sepuluh.

Aku tidak sadar.

Setidaknya sampai pukul sepuluh lewat tujuh.

Aku sedang berbaring sambil menonton video pendek.

Pukul sepuluh lewat dua belas, aku membuka WhatsApp.

Tidak ada.

Aku kembali menonton.

Pukul sepuluh lewat dua puluh tiga, kubuka lagi.

Tidak ada.

Mungkin dia sibuk.

Kenapa aku peduli?

Aku membuka chat Tara.

Evelyn: Besok kelas jadi jam 8?

Tara membalas:

Tara: Jadi. Kenapa tiba-tiba nanya, bukannya udah tau?

Aku mengabaikan.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh sembilan.

Masih tidak ada Reza.

Aku membuka profilnya.

Online.

Aku langsung kesal.

Online tapi tidak chat.

Kemudian aku lebih kesal karena merasa berhak kesal.

“Apaan sih.”

Ponsel dilempar ke samping.

Dua menit kemudian kuambil lagi.

Aku mengetik:

Evelyn: Tugas SI banyak?

Kursor berkedip.

Aku menghapus.

Tidak.

Aku tidak akan memulai percakapan hanya karena dia terlambat mengganggu.

Pukul sebelas kurang lima, pesan masuk.

Reza: Maaf baru muncul.

Aku langsung membuka.

Terlalu cepat.

Sial.

Aku menunggu tiga puluh detik sebelum membalas.

Evelyn: Siapa yang nunggu?

Reza: Nggak ada. Gue cuma laporan.

Evelyn: Nggak penting.

Reza: Tadi rapat. HP tinggal.

Aku membaca.

Rasa kesal yang tadi ada langsung hilang.

Lebih menyebalkan lagi.

Evelyn: Terus?

Reza: Mau bilang selamat malam.

Aku menatap layar.

Evelyn: Cuma itu?

Reza: Sama mau tanya udah makan belum.

Evelyn: Udah.

Reza: Bagus.

Evelyn: Lo?

Aku baru sadar setelah pesan terkirim.

Tiga titik muncul.

Reza: Wah.

Evelyn: Apa?

Reza: Evelyn nanya balik.

Evelyn: Gue hapus.

Reza: Udah makan. Jangan dihapus. Bersejarah.

Aku mendecak.

Tapi tersenyum.


Besok di kampus, Tara menatapku ketika aku menguap.

“Tidur jam berapa?”

“Setengah satu.”

“Ngapain?”

“Chat.”

“Siapa?”

Aku membuka laptop.

“Orang.”

Tara mendekat.

“Reza?”

“Kenapa harus dia?”

“Karena muka lo defensif.”

“Gue selalu begini.”

“Betul juga.”

Aku hendak membalas ketika Reza muncul di pintu kelas.

Dia tidak masuk.

Cuma mengangkat satu gelas dari luar.

Aku melihat jam.

Kelas mulai lima menit lagi.

Aku keluar.

“Apaan?”

“Es teh.”

“Gue belum minta.”

“Gue tahu.”

Aku menerima.

Reza tersenyum.

“Tidur?”

“Setengah satu.”

“Kenapa?”

Aku menatapnya.

“Karena ada orang yang chat terus.”

Reza mengangkat kedua tangan.

“Gue udah tanya izin.”

“Lo nanya setelah chat.”

“Teknis.”

“Pergi. Gue mau kelas.”

Reza mundur.

“Siap.”

Dia berjalan pergi.

Aku kembali masuk.

Tara menatap gelas.

“Katanya ganggu.”

“Emang.”

“Tapi diminum.”

“Gue haus.”

“Katanya jangan chat terus.”

“Emang.”

“Tapi dibales.”

Aku menaruh gelas lebih keras.

“Tara.”

“Oke.”

Dia membuka laptop sambil tersenyum.


Malam itu aku menunggu tanpa mau mengaku sedang menunggu.

Pukul sepuluh.

Tidak ada.

Pukul sepuluh lewat lima.

Tidak ada.

Aku meletakkan ponsel terbalik.

Pukul sepuluh lewat sebelas, getaran terdengar.

Aku langsung mengambil.

Bukan Reza.

Notifikasi marketplace.

Aku kesal pada marketplace.

Pukul sepuluh lewat tujuh belas, akhirnya namanya muncul.

Reza: Hari ini gue tepat waktu.

Aku tersenyum.

Evelyn: Siapa yang bikin jadwal?

Reza: Perasaan.

Evelyn: Jijik.

Reza: Tapi dibales cepet.

Aku melihat waktu.

Tujuh detik.

Sial.

Evelyn: Kebetulan pegang HP.

Reza: Tentu.

Evelyn: Jangan geer.

Reza: Nggak. Takut diancam blok.

Aku berbaring lebih nyaman.

Percakapan lanjut.

Reza mengirim meme.

Aku bilang jelek.

Dia mengirim satu lagi.

Aku bilang lebih jelek.

Dia bertanya makan malam.

Aku menjawab.

Aku bertanya tugasnya selesai atau belum tanpa sadar.

Saat jam hampir dua belas, Reza mengirim:

Reza: Tidur. Besok kelas pagi.

Aku membalas:

Evelyn: Lo juga.

Reza: Selamat malam, Vel.

Jari-jariku berhenti.

Kemudian:

Evelyn: Malam.

Layar dimatikan.

Kamar jadi gelap.

Aku pernah bilang jangan chat terus.

Masalahnya, sekarang kalau Reza tidak chat, malamku terasa seperti ada sesuatu yang belum dimulai.