Chapter Fourteen
Akhirnya Tenang
POV: Reza
Aku bangun dan hampir mengirim pesan kepada Evelyn.
Jempolku sudah berada di atas kolom chat ketika aku ingat percakapan kemarin.
**Ganggu, Za.**
Aku menutup WhatsApp.
Ternyata menghentikan kebiasaan lebih sulit daripada memulainya.
Selama berbulan-bulan, aku selalu punya alasan kecil untuk menghubunginya. Tanya kelas. Kirim meme. Ingatkan makan. Komentar soal dosen. Kadang cuma mengetik namanya untuk mendapatkan balasan “apa” yang ketus.
Pagi ini tidak ada alasan yang cukup penting.
Dan setelah kemarin, aku tidak mau menciptakan alasan.
Di kampus, kakiku otomatis mengarah ke gedung Manajemen setelah kelas pertama.
Aku berhenti di persimpangan koridor.
Dion yang berjalan di sampingku ikut berhenti.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Biasanya belok kiri.”
“Sekarang kanan.”
Dia menatapku sebentar, lalu mengikuti ketika aku berbalik.
Kami makan di kantin fakultasku sendiri. Aneh. Selama ini aku sering menyeberang dua gedung hanya untuk duduk di meja yang sama dengan Evelyn, sampai kantin sendiri terasa seperti tempat baru.
Dion membuka botol air.
“Berantem?”
“Enggak.”
“Lo sama Evelyn.”
“Enggak berantem.”
“Terus?”
Aku menusuk nasi dengan sendok.
“Dia minta gue berhenti ngejar dia.”
Dion berhenti mengunyah.
“Serius?”
“Iya.”
“Terus lo?”
“Berhenti.”
Dia menatapku seperti menunggu punchline.
Tidak ada.
“Za.”
“Hm?”
“Lo oke?”
Aku tertawa pendek. “Harusnya.”
“Jawaban jelek.”
“Pertanyaan lo juga.”
Dion tidak memaksa.
Itu salah satu alasan aku berteman dengannya.
Selesai makan, aku membuka ponsel. Ada beberapa notifikasi grup, satu pesan dosen, dua video dari Dion yang sebenarnya sedang duduk di depanku.
Tidak ada Evelyn.
Bagus.
Aku sendiri tidak tahu kenapa kata itu terasa pahit.
Sore hari aku harus mengembalikan buku ke perpustakaan. Jalur tercepat melewati gedung Manajemen. Aku sempat mempertimbangkan jalan memutar, lalu merasa bodoh.
Menghormati batas bukan berarti harus kabur kalau berada di area yang sama.
Aku berjalan melewati lobi.
Evelyn berdiri dekat pilar bersama Tara.
Aku melihatnya.
Dia juga melihatku.
Refleks pertamaku adalah mendekat.
Aku menahan kaki.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Hai.”
Evelyn tidak langsung menjawab.
“Hai.”
Aku terus berjalan.
Setelah beberapa meter, tubuhku terasa seperti melakukan sesuatu yang salah.
Padahal justru ini yang benar.
Dia meminta jarak. Aku memberikannya.
Sesederhana itu.
Setidaknya seharusnya sesederhana itu.
Di perpustakaan, aku duduk bersama Dion. Lima belas menit kemudian dia menutup laptop.
“Lo baca halaman yang sama dari tadi.”
“Bagus. Berarti hafal.”
“Lo mau nyamperin dia?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Aku menatapnya.
Dion mengangkat kedua tangan. “Gue nggak bilang harus.”
Aku mengembuskan napas.
“Gue pengen.”
“Nah.”
“Tapi gue nggak akan.”
Dion mengangguk.
Aku memutar pulpen di antara jari.
“Kalau orang bilang ganggu, ya ganggu.”
“Bisa jadi dia lagi emosi.”
“Bisa.”
“Bisa jadi dia nyesel.”
“Bisa.”
“Bisa jadi—”
“Di.”
Dia diam.
Aku menatap meja.
“Gue nggak mau bikin keputusan berdasarkan tebakan yang paling enak buat gue.”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Dion tidak punya jawaban.
Aku melanjutkan, lebih pelan.
“Kalau dia bilang berhenti, gue berhenti. Kalau ternyata dia nggak bermaksud begitu, dia bisa ngomong lagi.”
Aku tidak mengatakan bagian yang paling tidak nyaman.
Aku berharap dia ngomong lagi.
Malamnya, tanganku kembali membuka chat Evelyn.
Aku membaca beberapa percakapan lama.
**Vel.**
**Apa.**
**Makan.**
**Nyuruh-nyuruh.**
**Iya.**
**Ribet.**
Lalu dua puluh menit kemudian dia mengirim foto mangkuk kosong.
Aku tersenyum tanpa sengaja.
Ada begitu banyak hal kecil yang selama ini kuanggap kemajuan. Dia mulai membalas lebih cepat. Kadang menghubungiku duluan. Menyimpan kursi. Membawakan kopi. Menunggu ketika aku terlambat.
Aku sempat berpikir mungkin aku tidak sendirian lagi dalam semua ini.
Kemarin membuktikan aku tidak boleh menganggap apa pun.
Ponselku bergetar.
Aku langsung melihat layar.
Grup kelas.
Aku tertawa pada diri sendiri.
“Parah,” gumamku.
Aku menaruh ponsel jauh dari jangkauan.
Besok aku tidak akan menunggu di depan kelasnya.
Tidak akan membelikan minum.
Tidak akan bertanya apakah dia sudah makan.
Bukan karena marah.
Bukan karena ingin membuatnya kehilangan aku.
Justru sebaliknya.
Kalau aku benar-benar menyukainya, perasaanku tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan satu kalimat yang sudah dia ucapkan dengan jelas.
Aku boleh kecewa.
Aku boleh kangen.
Aku bahkan boleh berharap dia suatu hari mencari aku.
Tapi semua itu urusanku.
Batasnya urusan dia.
Sebelum tidur, aku mengambil ponsel sekali lagi. Tidak ada pesan.
Aku membuka chat Evelyn, menatap kolom kosong, lalu menutupnya.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidak mengucapkan selamat malam dengan caraku sendiri.
Hari berikutnya aku membuktikan keputusan itu pada hal-hal kecil. Ketika melewati kedai kopi, aku hampir memesan dua gelas. Aku berhenti setelah menyebut Americano dan mengoreksi pesanan menjadi satu. Ketika kelas selesai lebih cepat, aku tidak mengecek jadwal Evelyn. Ketika hujan turun tipis, aku tidak bertanya apakah dia membawa payung. Setiap tindakan yang tidak kulakukan terasa aneh karena selama ini perhatian kepadanya sudah menjadi gerakan refleks. Aku baru sadar mengejar seseorang bukan hanya soal menunggu di depan kelas. Ia bisa berubah menjadi puluhan keputusan kecil yang bahkan tidak lagi terasa seperti keputusan.
Dion sempat bertanya apakah aku akan berhenti menyukai Evelyn juga. Aku menjawab tidak tahu, lalu langsung mengoreksi diri. “Enggak. Bukan gitu cara kerjanya.” Dia mengangguk. Aku menatap halaman kampus dari jendela. Aku tidak bisa mematikan perasaan hanya karena diminta berhenti mengejar. Yang bisa kulakukan adalah memastikan perasaan itu tetap berada di tempat yang seharusnya: di dalam diriku, bukan menjadi beban di pundaknya.
Ada bagian egois dalam diriku yang ingin melihat apakah Evelyn akan mencariku. Aku mengakuinya karena berpura-pura bagian itu tidak ada hanya akan membuatku lebih munafik. Tapi aku tidak boleh menjadikan jarak ini permainan. Aku tidak sedang menghilang supaya dia panik. Aku tidak sedang menguji apakah dia peduli. Kalau seminggu, sebulan, atau sampai semester berakhir dia tidak pernah datang, aku tetap harus menerima bahwa permintaannya berarti apa yang dia katakan. Harapan tidak boleh menyamar sebagai strategi.
Malam semakin larut. Aku mengambil sticky note dari catatan kuliah yang dia berikan kemarin dan membaca lagi tulisan singkatnya tentang kuis. Benda kecil itu membuatku tersenyum sekaligus sesak. Aku memasukkannya kembali ke map. Besok aku akan bertemu banyak orang, mengerjakan tugas, tertawa bersama Dion, dan menjalani kampus seperti biasa. Aku tidak perlu terlihat sengsara untuk membuktikan bahwa aku serius menyukainya. Mungkin justru bentuk paling serius dari perasaan itu sekarang adalah melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan: memberi ruang.
Dan untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa berhenti mengejar seseorang ternyata tidak sama dengan berhenti ingin berada di dekatnya.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang reading
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue